
“Apapun yang terjadi, aku mohon jangan beritahukan tentang kehamilanku ini pada siapapun!”
Bukannya menjawab, Kiran malah memohon pada kedua dokter itu untuk tetap merahasiakan tentang kehamilannya.
Ketika Dr. Aiden tetap bersikeras dan ingin memberitahu bahwa sebenarnya Reksa sudah mengingat semuanya, tiba-tiba Dr. Zara memotong dan menyuruh Dr. Aiden agar tidak terlalu ikut campur dnegan kehidupan pribadi pasiennya.
“Tapi sebenarnya, _....”
“Dr. Aiden, sebaiknya anda mengetahui batasan sebagai seorang Dokter. Tolong hargai kehidupan pribadi pasien anda dengan tidak terlalu ikut campur,” potong Dr. Zara penuh penegasan.
“Haaah, … Aku heran dengan kalian berdua! Tampak jelas kalian pasangan serasi, tapi kenapa saling menyakiti seperti ini! Seharusnya setiap masalah di bicarakan baik-baik, karena komunikasi yang baik adalah kunci dari setiap permasalahan yang ada,” ujar Dr. Aiden yang kesal sendiri melihat pasangan yang satu ini.
“Baiklah, aku tidak akan memberitahu mereka tentang kehamilanmu ini,” imbuhnya yang kemudian berjalan keluar dari ruangan untuk memberitahukan tentang keadaan Kiran kecuali tentang kehamilannya.
“Anda tenang saja, Nyonya Kiran! Dr. Aiden pasti akan menepati apa yang dia ucapkan,” ujar Dr. Zara yang menyadari kekhawatiran yang tampak jelas di wajah Kiran.
“Terima kasih, Dokter!” ucap Kiran.
Tak lama kemudian, Papah Ibnu dan lainnya yang sejak tadi menunggu kabar tentang kondisi Kiran segera masuk ke dalam ruangan itu dengan perasaan khawatir.
Melihat keluarga pasien yang memenuhi ruangan rawat Kiran, Dr. Zara pun memutuskan untuk pergi dari sana.
Meski dengan lantang Anya mengatakan bahwa Kiran yang mendorongnya jatuh ke danau, tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mempercayainya.
Bahkan terlihat jelas dengan raut wajah mereka yang hanya mengkhawatirkan tentang Kiran. Tanpa perlu bertanya atau memastikan apa yang terjadi ketika di danau, mereka sudah bisa mengetahui bahwa Kiran ‘lah korban sebenarnya dari Anya.
Setelah memastikan keadaan Kiran baik-baik saja, Papah Ibnu dan Mamah Syifa terpaksa harus pulang karena Kiran bersikeras ingin di temani oleh kedua sahabatnya saja.
Keduanya kembali dengan di antar oleh Seno, sekaligus untuk menuntut penjelasan dari Reksa lebih jauh.
Selepas kepergian kedua orang tua dan adik Reksa, kini Kiran pun hanya di temani oleh Alka dan Dira. Sejenak Kiran hanya terdiam dan hanyut dalam pemikirannya sendiri, sehingga Alka dan Dira juga hanya bisa diam dan menunggu sampai Kiran siap mengungkapkan perasaan yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
“Dira, apa kau membawa surat perceraiannya?” tanya Kiran tiba-tiba.
“Tentu saja, bukankah kau sendiri yang tadi menyuruhku untuk mengambilnya,” jawab Dira sembari memberikan map coklat dimana Kiran langsung menerima dan menandatanganinya.
“Kau yakin akan tetap bercerai dengan Reksa tanpa memberitahukan tentang kehamilanmu ini?” tanya Alka yang merasa bahwa keputusan Kiran saat ini tidak tepat.
“Bukankah kau bersedia untuk menjadi ayah pengganti dari anak ini? Apakah kau sekarang sudah berubah pikiran?” cecar Kiran yang menatap Alka dengan penuh kepedihan.
“Perkataanku tidak akan pernah berubah, Kiran! Namun aku tahu kau mengambil keputusan ini, _....”
“Bawa aku dan anakku pergi sejauh mungkin dari hidup Mas Reksa! Aku mohon pada kalian? Jika kalian tidak mau membantuku, maka aku terpaksa harus menghilang tanpa mengabari siapapun,” potong Kiran dengan nada putus asa.
“Jangan lakukan hal seperti itu, Kiran! Jika kau memang ingin pergi, maka kami yang harus menemanimu!” ujar Dira yang langsung memeluk sahabatnya itu.
“Baiklah, kemana kau ingin pergi!”
Pada akhirnya Alka juga tidak bisa mencegah keputusan Kiran lagi dan hanya bisa membantu serta selalu menemani disisinya. Sebelum Kiran benar-benar menghilang tanpa memberitahu siapapun arah dan tujuannya dalam keadaan hamil muda seperti ini.
“Mari lakukan sesuai keinginanmu, Kiran! Kami akan mengurus semuanya selama kau memulihkan diri disini,” ujar Dira.
“Benar, Kiran! Demi kebaikanmu dan anak di dalam perutmu itu, maka apapun siap kami lakukan agar kau bahagia,” imbuh Alka yang kini tidak mengharapakan balasan cinta dari Kiran lagi. Cukup melihatnya bahagia saja kini seperti sudah cukup untuk dirinya.
“Terima kasih, kalian berdua sudah mau membantuku!” ucap Kiran penuh dengan ketulusan.
Setelah mengatakan keputusannya, Dira pun segera pergi untuk menyerahkan restorannya pada orang yang telah dia percayai. Serta mengemasi semua barang-barang Kiran yang ada di rumahnya, mengambil passport dan lain sebagainya. Sehingga Dira mempercayakan Alka untuk menjaga dan menemani Kiran di rumah sakit.
Namun, karena Kiran yang tidak menyukai makanan rumah sakit. Akhirnya Alka terpaksa harus meninggalkan Kiran sendirian untuk membeli beberapa makanan untuk dirinya juga.
Belum lagi permintaan khusus Kiran yang menginginkan buah jeruk, hingga Alka membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus membeli di tempat yang berbeda.
...****************...
__ADS_1
Disaat Kiran sedang berada sendirian di kamar rawatnya, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakan kehadiran Reksa yang ingin memastikan secara langsung keadaannya.
Kiran hanya melihatnya sekilas, kini tatapan Kiran untuk Reksa berubah dingin dan penuh kekecewaan yang begitu mendalam.
“Kiran!” panggil Reksa lirih.
“Ambil ‘lah! Aku sudah menandatanganinya surat perceraian itu seperti yang kau minta!” ujar Kiran tanpa mau menatap mata Reksa lagi.
“Didalamnya juga sudah ada kartu yang kau berikan padaku dulu, rumah itu dan posisi Ceo akan aku kembalikan semuanya padamu! Dan seperti yang kau inginkan juga, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu dan Anya.” Lanjut Kiran penuh penekanan.
“Aku hanya membutuhkan surat perceraiannya! Selain itu, semua ini adalah milikmu sekarang maka aku tidak akan mengambilnya lagi. Terserah kau, _....”
“Aku tidak membutuhkan semuanya itu! Dan jangan berpura-pura lagi untuk tidak mengetahui apapun. Jika kau memang benar-benar tidak menginginkan keberadaan kami, maka katakan saja dengan jelas. Maka aku akan segera menjauh darimu sejauh yang aku bisa,” tukas Kiran yang tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya lagi kepada Reksa.
“Hiks, … Kau tidak perlu melakukan sejauh ini, Mas! Kau bisa langsung memintaku pergi selamanya dari hidupmu, jika itu yang kau inginkan!” imbuh Kiran dengan deraian air mata.
“Kiran, apa yang kau bicarakan sebenarnya?” tanya Reksa yang hanya bisa kebingungan dengan apa yang Kiran bicarakan.
“Sudahlah, Mas! Ambil semuanya dan segera pergi dari sini, karena aku tidak ingin melihatmu lagi!” usir Kiran yang tidak sanggup lagi menghadapi Reksa, karena bisa saja hatinya kembali berharap seperti sebelumnya.
“Kiran, aku butuh penjelasan lebih darimu! Setidaknya jelaskan apa maksud perkataanmu barusan?” desak Reksa yang entah mengapa ingin meluruskan semua itu.
“Aku bilang pergi!” teriak Kiran frustasi.
Bersambung, .....
__ADS_1