
Ini hanyalah sebuah karya fiksi. Nama, tokoh, cerita/peristiwa merupakan unsur fiktif belaka, yang diciptakan oleh "saya" selaku penulis cerita.
Warning! Cerita ini dibuat hanya sebagai sarana hiburan, tidak untuk dipraktikkan atau pun dicontoh beberapa unsur di dalamnya.
Noted: Berdasarkan banyak alasan saya mengubah seluruh isi cerita dari yang pernah diterbitkan sebelumnya. Terima kasih
...Judul : Janji...
...Tema : Jari...
...
...
Keana mengacungkan jari kelingkingnya, menatap lamat lalu mendesah kecewa.
[Aldric, sialan!]
Keana terus memaki dalam hati. Mengesalkan sekali. Ia sudah dibohongi.
"Al, apa salahku?" rintihnya pilu.
Tubuh ringkih itu merosot ke lantai. Kedua kakinya ditarik pelan untuk kemudian direngkuh guna sembunyikan tangis penyesalan.
Keana menyesal. Kenapa ia bisa menaruh percaya pada cowok seberengsek Aldric?
Mungkin karena wajah rupawanya? Atau karena kepandaian Aldrich dalam membodohi dirinya?
Apa pun itu, Keana sangat marah.
"Akan kubalas," sumpah Keana.
__ADS_1
...***...
"Aldric janji, ya, enggak boleh ninggalin Keana."
Keana memasang wajah manis andalannya yang sukses membuat cowok bernama Aldric itu gemas lalu mengusap rambut pendek Keana. Senyum yang menjadi candu bagi Keana tersungging di wajah tampan itu.
Aldric mengacungkan jari kelingkingnya. " Janji," katanya.
Menautkan jari mungilnya, Keana berseru gembira, "Janji!"
Kala itu Keana merasa dunia adalah miliknya. Berada dalam genggamannya karena janji tidak kokoh milik Aldric hadis di sana.
Keana merasa dunia sangat tidak adil. Saat ia jatuh cinta, menaruh kepercayaan pada hati seseorang, yang didapatkan selalu saja penghianatan.
Ke mana perginya karma yang mereka sebut-sebut itu? Keana bosan menunggu. Tidak sabar untuk balas menyerang. Karena itu, semalaman Keana tidak tidur. Memikirkan berbagai cara agar segalanya berjalan sesuai rencana. Menyusun setiap bagian agar menjadi misi yang sempurna dan misi Keana ....
Sudah Keana jalankan.
Sempurna.
[Aku memang hebat.]
Sekarang tinggal menunggu cowok itu sadar dari obat bius.
Keana menunggu dengan sabar.
"Eungh~"
Keana tersenyum samar.
Perlahan cowok itu membuka matanya. Butuh beberapa detik sampai ia menyadari di mana ia berada dan sosok gadis di depannya yang tersenyum dengan lebarnya.
__ADS_1
"Pagi, Al," sapa Keana, manis.
Membulatkan mata cowok itu bergerak panik.
"Apa yang kaulakukan. Lepaskan aku!" Aldric memberontak, mencoba melepaskan diri dari tali tambang besar yang melilitnya. Namun, bukannya lepas tali itu malah mengikatnya kian kuat.
Keana meringis. Itu pasti sakit sekali.
"Jangan bergerak, Al. Sakit," kata gadis itu prihatin.
Dengan napas menggebu, Aldric menatap Keana tajam. "Lepaskan. Dasar sakit jiwa!"
Mendengar bentakkan Aldric bibir Keana maju ke depan. "Aldric jahat."
Aldric tak acuhkan Keana, terus mencoba melepaskan diri meskipun sia-sia. Cowok itu mulai mengumpat.
Keana mendekat. "Al enggak perlu marah gitu, kok," senyum manisnya tersungging. Keana memang mudah sekali berubah. "aku cuman mau minta janji kamu."
"Janji? Lo bilang janji?" Aldric marah-marah. "Lepasin gue berengsek!"
"Al, gak baik marah-marah terus. Kamu mesti tenang." Keana membelai wajah Aldric. "Lagian aku gak minta kamu tepatin janji buat gak ninggalin aku. Aku cuman mau kamu batalin janji yang busuk itu.
Aldric mulai panas dingin melihat Keana mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.
Gunting besi.
Apa yang gadis itu coba lakukan? Aldric ketakutan.
"Siniin kelingking kamu. Aku mau potong biar janjinya batal."
.
__ADS_1
...Sel, 30821...