Madness

Madness
Chapter 60


__ADS_3

Selama seminggu kedepan, Nate dan Marcus menemani Johan melakukan napak tilas di kepulauan Lofoten. Pria tua itu terlihat gembira saat mengenang masa lalunya bersama rekan-rekannya saat itu.


Dan meski kondisi tubuhnya semakin hari semakin memburuk, tapi pria tua itu tampaknya sudah lebih dari siap menyambut hari kematiannya yang semakin dekat.


Setiap hari, Nate akan menghubungi isterinya dan bukannya menghapuskan rasa rindunya, tapi pria itu malah semakin tersiksa setiap harinya.


Ia sudah tidak bisa tidur lagi, dan memilih untuk bergadang bersama Marcus untuk membahas pekerjaan daripada harus menghabiskan kesendiriannya di kamar tidur yang dingin tanpa kehadiran isterinya, membuat bawah matanya perlahan menghitam kembali.


Hal yang sama pun terlihat terjadi pada Felix, karena pria itu semakin lama terlihat semakin pendiam. Tidak seperti Felix yang biasanya dapat bersikap ramah pada semua orang.


Satu-satunya yang terlihat stabil dalam rombongan itu hanyalah Marcus, yang sepertinya tetap dapat memusatkan konsentrasinya untuk bekerja selama ia tidak menjaga Johan.


Sedangkan Rosaline masih tetap bersemangat dalam menjamu para tamunya, dan wanita itu pun memiliki kesibukan lain untuk mengelola toko kue yang dimilikinya di salah satu kaki gunung di Lofoten.


Sampai suatu pagi yang masih gelap, mereka sedang melakukan rutinitas yang telah dilakukan selama beberapa hari ke belakang ketika Johan tiba-tiba terjatuh dari kursi rodanya.


"Master Johan!"


"Ayah!"


Nate dan Marcus dengan segera membantu pria tua itu kembali duduk ke kursinya.


Tubuh Johan semakin lama semakin ringkih, membuatnya semakin kesulitan untuk bernafas dengan baik.


"Nathanael..." Suara Johan yang lemah membuat Nate menoleh padanya.


"Nathanael... Tolong antarkan aku ke padang rumput yang kemarin... Aku ingin melihatnya sekarang..."


"Ayah?"


"Tolong... Sekarang, Nathanael... Antarkan aku..."


Nate memandang Marcus yang berdiri di depannya. Keduanya sangat sadar mengenai hal yang akan segera terjadi di depan.


"Baik. Aku akan mengantarmu kesana sekarang. Ayah jangan khawatir."


Dengan segera, Nate mengatur posisi Johan agar pria tua itu berada dalam kondisi yang aman, mengingat tubuhnya yang sudah sangat lemah. Ia juga memasangkan selimut tebal di tubuh Johan yang kian kurus.


Perlahan, pria itu mendorong kursi Johan dan mereka bertiga pun melangkah ke padang rumput yang ingin dituju pria tua itu sebagai peristirahatan terakhirnya.


Sampai di sana, cuaca masih sedikit gelap dan berkabut. Udara di sekitar cukup segar sekaligus hangat. Matahari tampak mulai mengintip di sela-sela awan, membuat suasana pagi yang gelap mulai berubah menjadi lebih terang.


Angin berhembus sepoy-sepoy, menggoyangkan ilalang yang tumbuh dengan liar di sepanjang padang rumput yang luas itu. Banyak terlihat bunga-bunga mulai bermekaran di sekitar mereka bertiga.


"Nathanael... Marcus..."


Sebagai jawaban, kedua pria muda itu meletakkan tangan mereka di sisi kanan dan kiri bahu pria tua itu. Keduanya saling meremas lembut bahu yang ringkih itu.


"Terima kasih... Sudah menjadi anak-anakku yang baik... Aku sangat puas dengan kehidupanku di dunia ini... Tidak ada yang aku sesali lagi..."


Marcus menutup kedua matanya yang mulai memanas. Ia menggertakan giginya.


Sedangkan Nate terlihat menengadahkan kepalanya, berusaha mencegah air matanya untuk turun. Kedua matanya melihat pada matahari, yang secara perlahan mulai mengarahkan sinarnya pada mereka bertiga.

__ADS_1


Melihat cahanya yang terang itu, perlahan tangan Johan naik dan berusaha meraihnya.


"Lorencia..."


Dalam kesadarannya yang mulai menipis, Johan melihat sosok Lorencia, pasangan hidupnya yang telah meninggalkan dirinya dulu tepat di tempat yang sama.


Hampir saja pria itu menyusul pasangannya ketika wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya, sampai ia mendapat pencerahan mengenai tujuan hidupnya untuk datang ke bumi saat itu.


Hal ini membuatnya bisa bertahan untuk hidup, dengan sangat lama, sampai akhirnya ia memutuskan memiliki keturunan langsung dari manusia.


Tidak pernah setitik pun Johan pernah menyesali keputusan yang diambilnya dalam hidupnya. Ia telah puas menjalani hidup, dan kepuasan itu membuatnya ingin segera bertemu kembali dengan pasangannya.


Pria tua itu terlihat tersenyum, ketika ia merasa jari-jari tangannya menyentuh kehangatan di depannya. Dalam bayangannya, ia dapat menyentuh jari-jari pasangannya yang tampak menyambut kedatangannya sambil tersenyum.


"Lorencia..."


Nate dan Marcus mulai tergetar, ketika menyaksikan jari-jari Johan perlahan mulai berubah menjadi abu berwarna perak mengkilat dan diterbangkan angin di depan mata mereka.


Secara perlahan, sosok Johan semakin menghilang, meninggalkan bubuk-bubuk yang bercahaya, seiring semakin cerahnya matahari yang menerangi mereka dari langit.


Saat sosok Johan benar-benar telah menghilang dengan sempurna, tubuh Marcus luruh ke tanah. Pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan bahunya tampak bergetar.


Nate masih dalam posisinya semula. Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan menutup kedua matanya erat. Air matanya turun di salah satu pipinya.


Kedua pria itu, kini, sama-sama telah kehilangan sosok ayah dan juga atasan yang selama ini mereka kagumi untuk selama-lamanya.


Dari kejauhan, terlihat Rosaline yang mencengkeram roknya yang panjang. Kedua matanya tampak berair dan nanar melihat pemandangan di depannya.


Kenapa mereka semua ingin mati di tempat yang sama?


Menghela nafas dalam, wanita itu berbalik dan terkejut ketika melihat Felix ternyata telah berdiri di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Suara Rosaline terdengar dingin. Baru kali ini Felix mendengarnya.


"Sama seperti yang kau lakukan tadi."


Pria itu berkata pelan. Matanya telihat penuh emosi yang tidak bisa dimengertinya.


Muka Rosaline terlihat muram, dan wanita itu pun mulai melangkah meninggalkan Felix.


Ia berhenti, ketika lengan atasnya tiba-tiba dicengkeram oleh pria itu.


"Lepaskan, Felix." Rosaline sama sekali tidak mau memandang Felix.


Kepala Felix sedikit menoleh, memandang wajah wanita di sampingnya.


"Kau akan benar-benar melakukan ini, Ine? Tidak mengacuhkan aku?"


"Aku hanya melakukan, apa yang seharusnya sudah aku lakukan dari dulu."


Kening Felix mengernyit mendengar kata-kata yang terdengar seperti tuduhan itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


Perlahan, Rosaline menolehkan kepalanya menghadap pria di sampingnya. Raut wajahnya datar. Tidak menampilkan ekspresi apapun.


"Kau sebenarnya sama sekali tidak pernah membutuhkan aku, Felix. Kau hanya menganggapku sahabat, karena akulah satu-satunya orang yang mau mendengarkan dirimu. Kau kira, aku tidak tahu itu?"


Emosi dalam hatinya, membuat Rosaline ingin membalas perilaku Felix pada dirinya.


Pria itu sedikit mundur dan melepaskan pegangannya. Ia benar-benar kaget dengan tuduhan dari wanita itu. Kepalanya terlihat menggeleng berkali-kali.


"Tidak. Itu tidak benar. Kau tahu itu, Ine. Kau telah mengenalku selama ratusan tahun. Kau tahu kalau aku bukan pria seperti itu."


"Justru karena aku telah mengenalmu sejak lama, maka aku bisa mengatakan ini."


"Tapi, aku tidak-"


"Kalau kau benar-benar menganggapku sahabatmu Felix, kau tidak hanya datang padaku saat akan mengantarkan kematian seorang The Master atau ketika kau sedang menghadapi masalah. Pernahkah kau datang padaku, hanya karena kau ingin bertemu denganku?"


Pandangan Felix terlihat nanar memandang Rosaline. Ia sama sekali tidak bisa mengatakan, kalau hanya itulah alasan satu-satunya yang bisa membuatnya memiliki keberanian untuk dapat bertemu dengan wanita itu.


Kepala pria itu menunduk memandang tanah. "Kau tahu kalau itu tidak benar, Ine."


Wanita itu akhirnya menghela nafas pelan. Ia memang sama sekali tidak bisa berbohong. Bagaimana pun marahnya Rosaline pada seseorang, ia tidak akan pernah bisa mengatakan kebohongan hanya untuk menyakiti orang itu. Dan, ia juga sudah sangat mengenal pria ini.


"Tentu saja aku tahu kalau itu tidak benar."


Jawaban itu membuat wajah Felix berubah sedikit cerah. Ia kembali memandang Rosaline dengan sinar pengharapan.


"Apapun alasanmu, sekarang itu tidak penting lagi. Karena informasi itu tidak akan berpengaruh apapun dalam hubungan kita."


"Tapi setidaknya, kita masih bisa berteman bukan?"


"Tidak."


"Tidak? Tapi, kenapa?"


Raut wajah Rosaline berubah. Matanya terlihat berkaca-kaca memandang pria di depannya.


"Karena aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan terlalu kejam padaku, Felix. Jika kau memang tidak akan pernah menerimaku, maka lepaskanlah aku. Jangan biarkan aku terikat dan berharap padamu."


Setelah mengatakan itu, setetes air mata jatuh ke pipi mulus Rosaline. Pemandangan ini membuat Felix membeku. Baru kali ini, ia melihat wanita itu menangis dalam hidupnya.


Menghapus air matanya dengan kasar, Rosaline mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tolong lupakan saja aku. Lupakan kalau kau pernah mengenal diriku. Dan jangan pernah mencariku lagi kalau kau datang kesini. Aku hanya minta itu darimu, Felix. Ini benar-benar menjadi permintaanku yang terakhir padamu."


Rosaline segera melangkahkan kakinya, meninggalkan Felix yang masih terpaku di tempat.


Wajah pria itu mengernyit. Ia terlihat seperti kesakitan ketika memandang langkah kaki Rosaline yang semakin lama, semakin menjauhi dirinya. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Felix merasa disakiti dan ditinggalkan oleh wanita yang sama.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu, Ine? Bagaimana bisa kau berharap aku akan bisa melakukan itu?"


Pria yang selama ini dikenal berotak brilian itu, baru kali mengakui kebodohannya yang sudah gegabah dalam bertindak. Hal ini membuatnya terancam kehilangan satu-satunya wanita, yang telah berhasil merebut dan memiliki hatinya.

__ADS_1


__ADS_2