
Dalam kamar tidur yang tidak terlalu luas tersebut, tampak empat orang yang sedang mengelilingi tempat tidur yang diisi oleh seorang pria tua. Salah satu tangan pria itu tampak tertusuk oleh sebuah jarum yang mengalirkan darah transfusi dari kantong yang tergantung.
Meski sakit, tapi mata pria itu memancarkan sinar yang bisa membuat semua orang segan dan menaruh hormat padanya.
"Apa yang kalian semua lakukan di sini?"
Suara Johan terdengar serak, tapi mengandung sindiran yang kuat.
Felix perlahan maju ke depan. Raut mukanya menunjukkan permintaan maaf.
"Maaf Master Johan, tapi Nathanael dan Marcus ingin bertemu dengan Anda hari ini. Tentu saja, Nathanael akan mengajak Nona Alina sebagai isterinya dan juga puteri Anda."
Penjelasan itu membuat Johan mendengus dan memalingkan kepalanya.
Melihat itu, Lin pun tidak enak dan dengan cepat menghampiri ayahnya.
"Ayah..."
Tangan Lin dengan lembut memegang tangan Johan dan meremasnya.
"Kami semua mengkhawatirkan dirimu, ayah. Saat mendengar berita dari Tuan Felix, Nate langsung meminta kami semua untuk menjengukmu pagi ini."
Pandangan Johan mengarah pada tangan Lin yang sedang menggenggam tangannya. Pria tua itu mengusap-usap tangan anaknya dan meremasnya lembut. Matanya sedikit berkabut, tapi kabut itu langsung menghilang ketika ia menatap mata Lin.
"Lin, ayah ingin bicara dengan mereka berdua. Boleh kamu keluar dulu sebentar?"
Permintaan itu sedikit membuat Lin terkejut, tapi wanita itu langsung tersenyum maklum.
"Tentu. Aku akan menunggu di ruang tamu. Ayah bisa memanggilku nanti."
Setelah itu, Lin dan Felix pun keluar ruangan, meninggalkan Johan bersama dengan kedua orang pria yang masih belum mengatakan apapun itu.
Kamar tidur itu sejenak terasa hening dan sedikit mencekam. Tidak ada yang saling berbicara.
"Nathanael. Marcus."
Johan akhirnya memecah keheningan yang menyesakkan itu.
"Master."
Nate maju menghampiri tempat tidur Johan, diiringi dengan Marcus yang akhirnya mengambil tempat di seberangnya. Kedua pria itu berada di sisi kanan dan kiri pria tua itu.
"Anak tidak tahu sopan santun! Seharusnya kamu memanggilku dengan sebutan 'ayah'."
Mata Nate mengerjap cepat mendengar teguran itu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Johan akan pernah memintanya memanggilnya dengan sebutan itu.
Sudah sangat lama sejak pria itu memanggil seseorang dengan sebutan 'ayah'. Sejak ayahnya meninggal dalam peperangan, tidak pernah ada lagi sosok laki-laki pengganti kecuali Johan yang menjadi mentor dan atasannya sejak pria itu kecil.
__ADS_1
Meski demikian, hubungan mereka tampak terbatas pada hubungan atasan-bawahan, dan permintaan pria tua itu membuat Nate sedikit canggung ketika harus merubah sapaannya.
"Maaf, a- a- ayah."
Kepala pria tua itu mengangguk sekali, dan ia mengalihkan pandangannya pada Marcus yang masih menatapnya dalam diam.
"Marcus."
"Master."
Tidak disangka, tiba-tiba pria tua terbatuk-batuk, membuat kedua pria muda di sampingnya kaget dan segera meraihnya.
"Master! Anda tidak apa-apa?" Suara Marcus terdengar sedikit panik.
Secepat datangnya, secepat itu pula batuk Johan terhenti.
Pria tua itu terlihat sedikit sulit bernafas. "Air..."
Nate segera meraih gelas berisi air putih di samping meja dan memberikannya pada Johan. Ia membantu pria tua itu untuk meminumnya lewat sedotan.
Tangan bebas pria tua itu sedikit terangkat, membuat kedua pria di depannya memberikan perhatian lebih padanya. Tangan itu terlihat jauh menua dibanding dua bulan yang lalu dan tampak gemetar.
Hati Nate tergetar melihat kondisi Johan yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya. Pria itu meraih tangan tua itu dan menggenggamnya erat.
"Ayah..."
Panggilan itu membuat kepala Johan menoleh pelan dan memandang Nate. Kedua mata pria tua itu terlihat berair. Ia pun perlahan merebahkan kepalanya kembali ke bantal.
Johan sedikit terkekeh ketika mengatakannya. Pria tua itu kembali memandang ke depan.
"Karena waktuku tidak lama lagi, sepertinya aku memang harus mengatakan apa yang ingin kukatakan dari dulu. Pada kalian berdua."
Pandangan Nate pada Johan terlihat kalut ketika ia mendengar kata-kata pria tua itu.
"Aku minta maaf Nathanael kalau tindakanku di masa lalu, membuatmu harus hidup menderita selama ini. Tapi ketahuilah, aku tidak pernah menyesalinya. Aku tidak akan pernah menyesalinya, jika hal itu bisa membuatku melihatmu bahagia seperti sekarang ini."
Perkataan Johan membuat mata Nate memanas. Ia sama sekali tidak pernah menyangka pengakuan ini akan datang dari mulut pria tua itu.
"Aku selalu menganggapmu anakku, Nathanael. Hal ini membuatku egois. Aku tidak rela melihatmu mati dan meninggalkan dunia tanpa pernah mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Aku akan menyesal seumur hidup bila sampai membiarkanmu mati saat itu."
Nafas Johan mulai terdengar berat dan pendek-pendek. Tapi pria tua itu tetap melanjutkan perkataannya.
"Saat aku memutuskan untuk memiliki keturunan dari seorang manusia, betapa aku berdoa bahwa keturunanku adalah seorang perempuan. Aku benar-benar berharap agar pencipta dunia yang maha kuasa mengabulkan doaku, membuatku dapat memberikan pasangan yang terbaik untukmu, Nathanael."
Tanpa dapat ditahannya, salah satu mata Nate mengalirkan sedikit air mata. Pria itu tidak mampu berkata-kata mendengar penjelasan Johan.
"Betapa bahagianya aku ketika mengetahui kalau kamu dan puteriku ternyata sudah bersama. Dan betapa kesalnya aku melihatmu belum melakukan apapun padanya, untuk membuatnya menjadi milikmu."
__ADS_1
Ternyata inilah alasan pria tua itu mengeluarkan kata-kata penolakan padanya saat itu.
"Aku tidak akan pernah menyesali sudah menukar hidupku sendiri untuk kebahagiaan anak-anakku. Aku selalu menyayangi kalian, dan itu termasuk dengan dirimu Marcus."
Tangan Johan yang terinfus memegang erat tangan Marcus.
"Jangan pernah menganggap kalau kamu bukanlah anakku, Marcus. Kamu adalah anakku juga. Kalau tidak, mana mungkin aku akan mau merubahmu hanya karena permintaanmu."
Informasi itu membuat Nate membelalakkan matanya. Ia memandang ke arah asistennya.
"Marcus?"
Kepala Johan kembali menoleh pada Nate, bibir pria tua itu terlihat tersenyum samar.
"Kamu tidak tahu, Nathanael? Anak ini, Marcus. Sejak kecil, dia selalu memujamu. Menganggapmu sebagai pahlawannya. Kamu kira, kenapa dia mau berada di sisimu sampai selama ini? Ketika tahu kamu mau melepaskan diri dariku, dia memintaku untuk merubahnya agar dapat mengikutimu sampai batas usianya nanti."
Mata Nate mengerjap memandang Marcus, yang saat itu hanya menunduk menatap Johan.
Apa yang telah dilakukannya selama ini? Seumur hidupnya ia pernah berniat untuk mati, tanpa pernah mengetahui bahwa ada orang-orang yang mencintainya di sekelilingnya. Yang menginginkan agar ia dapat terus hidup, dan juga bahagia.
Hal ini membuat hati Nate merasa sangat bersalah. Betapa egoisnya dirinya selama ini.
"Aku..."
Perkataan pria tua itu terputus ketika ia kembali terbatuk-batuk.
"Master, lebih baik Anda beristirahat dulu."
Terdengar surat serak Marcus yang terdengar tercekat dan tidak seperti biasanya.
Tapi permintaan pria dingin itu hanya dibalas dengan gelengan pelan dari Johan.
"Waktuku tidak banyak. Nathanael, Marcus. Aku hanya punya satu permintaan pada kalian."
Pria tua itu mulai terengah-engah, membuat kedua pria muda di depannya sangat khawatir.
"Katakan ayah, apa keinginanmu?" Nate yang menjawabnya, dan suaranya sedikit gemetar.
Kedua tangan Johan yang memegang jari-jari Nate dan Marcus terasa mengencang, menandakan pria tua itu menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Tolong bawa aku ke Lofoten, di Norwegia."
Bola mata Marcus membesar. "Itu adalah tempat..."
Senyum samar muncul di bibir Johan.
"Aku pernah menceritakannya padamu, Marcus. Itu adalah tempat yang sangat indah. Tempat aku pertama kali menginjakkan kaki di bumi. Dan juga tempat aku kehilangan pasangan hidupku untuk selamanya."
__ADS_1
Kedua mata pria tua itu memejam erat. Meski masih terlihat terengah-engah, tapi pola nafasnya mulai terdengar teratur.
"Pertama kali aku muncul di sana, dan untuk terakhir kalinya juga aku ingin mati di sana. Tolong penuhi permintaan terakhirku ini."