
Flashback 3 tahun yang lalu.
Situasi tampak rusuh di departemen FA. Semua orang tampak sibuk dan semuanya tegang. Telah terjadi situasi yang genting dan dapat mengancam keberlangsungan hidup mereka di perusahaan.
Kebocoran aliran dana kali ini benar-benar besar, dan setiap personil yang terlibat dalam pembuatan laporan keuangan kemungkinan besar akan menjadi saksi atau jika tidak beruntung, akan menjadi gelandangan dalam kurun waktu kurang dari 5 jam lagi.
Tim audit eksternal benar-benar menggunakan otoritasnya yang maksimal, yang telah diberikan langsung oleh petinggi perusahaan.
Satu-satunya yang terlihat tidak kalut hanyalah seorang karyawan junior bernama Alina Johan. Wanita itu tampak mengendap-endap keluar ruangan sambil membawa sesuatu.
Perlahan, ia mengarahkan langkahnya menuju lift dan menekan tombol untuk menuju ke atas. Segera setelah pintu lift terbuka, ia pun masuk dan menekan tombol menuju lantai 60.
Sampai di sana, Lin menuju ke petugas yang ada di sana.
"Selamat siang."
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"
Sedikit ragu, Lin pun akhirnya memantapkan dirinya.
"Apakah Anda bisa mengantarkan saya ke ruangan asisten Presdir?"
Petugas itu mengernyitkan keningnya. Ia sedikit curiga.
"Ada perlu apa Anda ke sana?"
"Ada dokumen penting yang harus saya serahkan padanya."
"Anda bisa menitipkannya pada saya."
Memeluk dokumen itu di dadanya, Lin menggeleng tegas.
"Saya harus menyerahkannya sendiri."
"Baiklah. Tapi, saya harus memeriksanya dulu."
"Maaf. Saya tidak bisa membiarkan Anda untuk membacanya, jadi saya hanya bisa menunjukkannya saja."
__ADS_1
Mengatupkan mulutnya rapat, petugas itu akhirnya mengalah dan mengangguk.
"Baik. Silahkan Anda tunjukkan pada saya."
Membuka amplopnya, Lin pun mengeluarkan setumpuk dokumen yang dibawanya. Semua lembarannya menghadap ke belakang, membuat petugas itu sama sekali tidak dapat mengetahui isinya.
Petugas itu mengangguk kembali dan mempersilahkan Lin untuk masuk.
"Silahkan ikut dengan saya."
Perlahan, wanita itu mengikuti petugas itu yang akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan 'Marcus C. - Assistant President Director'.
Pria itu mengetuk pintunya pelan dan menunggu. Ia beberapa kali melakukannya dan akhirnya tatapannya beralih pada wanita di belakangnya.
"Pak Marcus sepertinya sedang tidak di tempat."
Kali ini, Lin mulai tampak gelisah. Ia harus segera menyerahkan dokumen ini karena jika tidak, banyak orang tidak bersalah yang akan menjadi korban.
"Saya harus menyerahkannya sekarang juga. Bolehkah saya meletakkannya di dalam?"
Ragu-ragu, petugas itu akhirnya dengan pelan membuka pintu ruangan Marcus.
"Anda dapat meletakkan di meja kerja beliau di sana."
Sedikit berlari kecil, Lin langsung mengarah ke sana dan meletakkan dokumen penting itu di atas meja. Selesai melakukan tugasnya, wanita itu dengan segera menghampiri petugas itu.
"Anda yakin beliau akan menerimanya, kan? Tidak akan ada yang dapat mengambil dokumen itu dari ruangan ini?"
Petugas itu menunjuk pada CCTV yang terletak di ujung ruangan.
"Anda jangan khawatir. Ruangan ini dilengkapi dengan CCTV dan hanya beliau yang dapat mengaksesnya."
Menghela nafas lega, wanita itu pun akhirnya tersenyum.
"Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Baru saja ia melangkah menuju keluar, petugas itu tiba-tiba memanggilnya.
__ADS_1
"Nona. Siapa nama Anda? Siapa tahu beliau menanyakannya."
"Alina Johan."
Setelah itu, Lin pun segera menuju lift dan tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria tinggi yang baru keluar dari lift.
Menundukkan kepalanya, wanita itu meminta maaf dengan tanpa mengangkat kepalanya. Ia pun langsung masuk ke dalam lift, dan sama sekali tidak mengetahui siapa pria yang telah ditabraknya tadi.
Sementara itu, pria yang tadi ditabraknya tampak masih tertegun di tempatnya. Ekspresinya terlihat aneh dan ingin tahu, ketika memandang wanita yang baru pergi tadi.
Saat pria itu masih terdiam, petugas yang tadi di dalam baru kembali ke posnya dan melihat pria yang baru datang itu.
"Oh. Selamat siang, Pak Marcus."
"Siapa wanita yang baru pergi tadi?"
"Wanita? Oh ya, tadi ada wanita yang menitipkan dokumen di ruangan Anda, Pak."
"Siapa namanya?"
"Alina Johan."
"Dari bagian apa?"
"Maaf Pak Marcus. Saya tadi tidak menanyakannya."
Menganggukkan kepalanya dengan kaku, Marcus pun melangkah ke ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, pria dingin itu menemukan sebuah amplop tebal di atas mejanya. Penasaran, ia pun membukanya dan membaca isinya.
Tidak lama, pria itu duduk di kursi kerjanya dan menelepon seseorang.
"Hendrich, tolong kamu bawa berkas karyawan bernama Alina Johan ke ruanganku."
Menutup teleponnya, ia kembali menghubungi seseorang.
"Greyson. Ada yang perlu saya diskusikan denganmu. Tolong datang ke ruanganku sekarang juga. Dan bawa Robertus denganmu."
__ADS_1
FIN
****