Madness

Madness
Chapter 73


__ADS_3

Saat Marcus selesai bercerita, Lin terpaku di duduknya.


"Jadi, Nate memberikan darahnya pada saya? Tapi bagaimana bisa?"


"Seperti yang saya jelaskan tadi, Nyonya. Kaum V bisa memberikan darahnya pada orang lain. Meski kami tidak bisa menghasilkan ciptaan seperti para The Masters, tapi darah seorang kaum V dapat membantu mempercepat kesembuhan seseorang."


Pria dingin itu menatap pada pintu kamar tidur yang masih terbuka.


"Tuan telah beberapa kali membantu mereka yang sedang sakit, dengan mencampurkan sedikit darahnya dalam kantong transfusi orang tersebut. Hanya saja, kali ini ia memberikan darahnya langsung pada Anda tanpa mencampurkannya dulu dengan darah manusia."


"Sejauh mana efeknya bagi Nate?"


Marcus menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak tahu berapa kantong yang sudah Tuan berikan pada Anda, Nyonya. Tapi melihat kondisinya, sepertinya ia telah memberikan keseluruhan darahnya untuk Anda."


Wanita itu membeku mendengar perkataan dari Marcus. Nate telah memompa habis seluruh darahnya untuk diberikan pada dirinya? Apa yang akan terjadi pada suaminya kalau begitu?


"Saya hanya bisa bersyukur melihat Tuan ternyata sudah mengkonsumsi seluruh kantong darah yang disimpannya di lemari pendingin. Tapi efek dari 'makan'nya baru akan terlihat segera setelah Tuan selesai berhibernasi."


Kepala wanita itu tertunduk ketika ia bertanya kembali dengan suara pelan.


"Berapa lama lagi baru ia akan terbangun?"


"Yang saya tahu, Tuan telah mengkonsumsi 7 kantong yang tersimpan di lemari. Biasanya, beliau akan butuh 6-7 hari untuk berhibernasi. Tapi masalahnya..."


Pria itu terdiam dan raut mukanya terlihat khawatir seperti semula.


"Masalahnya adalah, Tuan telah kehilangan banyak darah saat ini dan itu terjadi sebelum beliau melewati masa hibernasinya setelah 'makan'. Hal ini membuat tubuhnya tidak berada dalam kondisi prima dan jauh lebih lemah dari biasanya. Bahkan sangat lemah saat saya melihat keadaannya tadi."


"Tapi kita tetap bisa memberikan transfusi darah pada Nate, kan?"


Lin tidak mau untuk menyerah dulu. Ia akan mencoba apapun yang bisa menolong suaminya agar bisa pulih lebih cepat.


Harapannya melayang jauh ketika melihat kepala Marcus yang menggeleng pelan. Pria itu terlihat masih memandang kamar, tempat atasannya sedang tertidur pulas.


"Kita tidak bisa memberikan transfusi darah atau apapun itu pada seorang V yang sedang berhibernasi. Kalau tadi Anda sempat memegang Tuan, kondisi tubuhnya dalam situasi yang statis. Karena dalam masa pemulihan, maka sistem pelindung tubuhnya bekerja maksimal. Hal ini membuat seluruh permukaan tubuhnya menjadi keras."


Kedua mata Lin berkaca-kaca ketika menatap Marcus.


"Perkiraan, Pak Marcus. Berapa lama perkiraan Anda bagi Nate untuk pulih, dan bangun dari tidur hibernasinya?"


Marcus menolehkan kepalanya pada Lin. Kedua mata pria itu pun terlihat berkaca-kaca, sama seperti wanita itu.


"Sejujurnya, saya sama sekali tidak tahu, Nyonya. Saya pernah mengetahui seorang V yang telah dikuras habis darahnya, sama sekali tidak pernah bangun lagi dari tidurnya sampai masa usianya habis. Dia mati di saat sedang dalam kondisi tidak sadar."


Pria dingin itu akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi. Kedua matanya tanpa malu-malu mengalirkan air mata di hadapan wanita itu.


"Saya tidak bisa menjawab kapan Tuan akan bangun, atau apakah beliau akan pernah bangun lagi dari tidur panjangnya. Karena saya sama sekali tidak tahu, Nyonya."


Dunia Lin saat itu terasa runtuh di kakinya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan, akan pernah hidup di dunia tanpa suaminya di sampingnya.


Wanita itu pingsan.


Hampir 6 bulan kemudian.


Lin sedang berada di area kubikalnya. Wanita itu tampak dengan tenang membereskan barang-barang yang akan segera dibawanya pulang ke rumah.


Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di perusahaan dan tadi siang, rekan-rekannya telah membuat pesta perpisahan sederhana untuknya. Mengingat hal itu membuat Lin tersenyum.


Meski tidak lama, tadi ternyata ia telah menjalin dan memiliki lingkup pergaulan yang cukup menyenangkan di sini.


"Alina."


Sapaan itu membuat Lin menoleh. Tampak Pak Robertus berjalan mendekatinya. Pria itu telah menenteng tas kerjanya, bersiap untuk pulang.


Pria baya itu mengulurkan tangannya pada Lin dan tersenyum.


"Terima kasih banyak Alina, atas kerja kerasmu selama ini. Saya akan sangat kehilangan seorang pegawai yang kompeten seperti dirimu."


Mendengar itu, Lin terkekeh.


"Anda berkata seolah-olah tidak akan pernah bertemu dengan saya lagi, Pak Robertus. Bagaimana dengan profesi saya saat ini sebagai konsultan lepas bagi perusahaan?"


Mantan atasannya pun tertawa renyah.


"Kamu benar. Tapi tetap saja, bekerja dalam satu tim yang sama dengan bekerja sebagai sebuah tim, tentu akan memberikan nuansa yang berbeda." Pria itu terlihat sedih.


Tersenyum maklum, Lin menyambut uluran tangan pria baya itu dengan erat.


"Apapun profesi saya nanti, Pak Robertus. Saya akan tetap menganggap NAMAC Inc. sebagai keluarga saya, sampai kapanpun itu."


Setelah itu, pria baya itu pun berpamitan untuk pulang dan meninggalkan wanita itu sendirian dalam kubikalnya.

__ADS_1


Menghela nafas, Lin memandang ke sekeliling ruangan yang mulai gelap itu. Pandangan matanya terlihat sedikit sedih, ketika mengingat kalau ia tidak akan pernah kembali lagi ke ruangan yang telah ditempatinya selama hampir 4 tahun ini.


Puas telah membereskan bekas meja kerjanya, Lin pun beranjak keluar dari ruangan dengan hanya membawa sebuah kotak kecil di tangannya.


Ia baru saja akan melangkahkan kakinya ke dalam lift ketika mendengar panggilan Lucy.


"Lin!"


"Hai, Luce. Masuklah."


Melihat tombol lift yang mengarah ke atas, Lucy pun enggan untuk masuk.


"Kamu mau ke atas?"


"Aku mau berpamitan pada Pak Marcus. Kamu mau naik?"


Tersenyum, Lucy menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik tidak. Aku hanya ingin berpamitan denganmu, Lin."


Wanita itu pun memeluk tubuh Lin, sedikit menekan perutnya yang sudah membuncit.


Terkekeh, Lucy mengusap perut temannya yang telah membesar itu.


"Kapan rencana lahirnya?"


"Dua minggu lagi." Lin menjawabnya sambil tersenyum.


Lucy pun berjalan mundur, keluar dari lift yang masih terbuka itu.


"Kalau begitu, semoga proses kelahirannya berjalan lancar."


"Terima kasih, Luce."


Lin pun dengan pelan menekan tombol yang mengarahkannya ke lantai 60.


"Oh ya, Lin." Lucy tiba-tiba menahan pintu lift yang bergerak menutup dengan tangannya.


Kepala Lin yang tadinya tertunduk, menengadah kembali untuk melihat temannya.


"Salam untuk suamimu, dan semoga dia cepat sembuh dari sakitnya."


Lin tersenyum mendengar perkataan temannya yang terdengar tulus itu.


"Sampai jumpa lagi, Lin. Dan terima kasih, telah menjadi temanku selama ini. Kamulah yang membuatku sadar, betapa berartinya Scott dalam hidupku."


Kata-kata Lucy membuat Lin maju dan memeluk wanita itu. Masuk kembali ke dalam lift, Lin tersenyum dan melambaikan tangannya. Pintu lift akhirnya menutup, meninggalkan Lucy yang masih tertinggal dan menatap pintu yang tertutup rapat itu.


Wanita itu menghela nafasnya dalam. Setelah menunggu sebentar, ia pun akhirnya menekan tombol untuk turun ke bawah.


Memasuki lift yang kosong, Lucy pun menyenderkan tubuhnya ke dinding lift. Wanita itu merasa kasihan dengan temannya.


Lin memutuskan resign dari pekerjaannya karena akan melahirkan sedangkan suaminya sendiri sedang sakit parah, membuatnya harus berobat ke luar negeri.


Mengingat wajah pria tampan yang menjadi suami temannya, Lucy masih tidak percaya kalau pria yang tampak bugar itu bisa sampai sakit parah. Tapi berkaca pada kejadian dulu saat di ruang tunggu lift, membuat Lucy berfikir ulang mengenai identitas pria itu.


Tidak mungkin suami Lin adalah pemilik perusahaan jika pria itu sedang sakit parah saat ini. Karena pada kenyataannya, perusahaan tetap berjalan seperti biasanya tanpa ada isu apapun. Tidak ada yang berubah dari rutinitas yang sudah berlangsung selama ini.


Bahkan, Marcus terlihat biasa-biasa saja ketika Lucy melihatnya beberapa hari yang lalu. Jika memang suami Lin sepenting itu bagi Marcus, tentu pria itu akan terlihat panik dan tidak tenang saat ini. Mungkin suami Lin orang penting, tapi tidak sepenting itu untuk perusahaan.


Bisa saja dulu, ia salah mendengar Marcus menyebutnya 'Tuan'.


Lucy kembali menarik nafasnya dalam.


Seperti kata Lin dulu, ia memang sebaiknya mulai melupakan obsesinya tentang owner perusahaan ini. Sepertinya tidak mungkin orang yang bernama N. Axelle benar-benar ada di dunia. Mungkin nama itu hanyalah mitos yang dibuat oleh perusahaan saja.


Ia baru tersadar dari lamunannya ketika ponselnya berdering.


"Halo. Ya. Aku sedang turun. Kita bertemu di lobi, ya. Sampai ketemu."


Tersenyum, Lucy menutup ponselnya. Ia pun bergegas keluar dari lift, segera setelah pintunya terbuka dengan lebar.


Wanita itu sedikit berlari-lari kecil ke arah lobi. Dan ketika melihat sosok yang sedang menunggunya, ia pun melambaikan tangannya dengan ceria.


"Nick!"


Pria yang dipanggilnya berbalik dan tersenyum dengan sangat lebar. Keduanya pun berpelukan di lobi yang mulai kosong itu.


Memeluk bahu Lucy, Nick pun bertanya sambil menuntun wanita itu menuju area parkiran.


"Besok jadi menonton pertandingan Scott? Aku janji membawakannya kaos bola."


Kepala Lucy mengangguk dan wanita itu melingkarkan lengannya ke pinggang Nick.

__ADS_1


"Besok kita berangkat dari rumahku saja. Kamu mau?"


"Tentu, baby. Aku akan menginap dengan kalian malam ini."


Nick pun mencium bibir Lucy cepat dan keduanya sambil tersenyum masuk ke dalam mobil pria itu yang sedang terpakir di sana.


Sementara itu di lantai 60, Marcus tampak menyambut Lin dari dalam lift.


"Anda terlambat, Nyonya." Tegur pria dingin itu.


"Jangan terlalu marah, Pak Marcus. Tadi saya harus berpamitan lagi dengan Pak Robertus dan juga Lucy."


Marcus menatap Lin yang tampak santai mengarahkan dirinya ke lantai teratas dari gedung, menuju landasan helipad di gedung tersebut. Pria itu menggelengkan kepalanya, merasa kasihan dengan atasannya yang harus menghadapi wanita ini tiap harinya.


"Oh ya, Pak Marcus. Bagaimana dengan persiapan yang saya minta pada Anda beberapa waktu lalu?"


"Anda tenang saja, Nyonya. Saya sudah mempersiapkan semuanya. Nanti, saya sendiri yang akan mengantar Anda ke RS. Saya juga telah menugaskan salah satu dokter yang terpercaya di sana untuk langsung menangani Anda."


Kepala mungil wanita itu mengangguk. Tampak senyum di wajahnya.


"Saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda selama ini, Pak Marcus. Tanpa Anda, saya tidak tahu bagaimana cara saya melewatinya."


Kali ini, Marcus yang terlihat menggelengkan kepalanya. Ekspresi pria itu terlihat datar.


"Jangan pernah merasa sungkan pada saya, Nyonya. Anda adalah isteri Tuan. Tentu saja saya juga akan melayani Anda, seperti saya telah melayani Tuan selama ini."


Kedua mata Lin sedikit berkabut mendengar hal itu. Ia pun memalingkan kepalanya dan menatap helikopter yang telah siap untuk membawanya pergi.


"Nate pasti akan senang sekali mendengar perkataan Anda, Pak Marcus. Kalau begitu, saya permisi lebih dulu. Selamat malam."


Lin sedikit menundukkan kepalanya pada Marcus, dan dengan mantap melangkah mendekati helikopter yang akan membawanya untuk pulang ke rumah.


Sesampainya di penthouse, wanita itu tidak menyalakan lampu di ruang tengah, melainkan langsung menuju kamar tidurnya.


Memasuki kamarnya, Lin dapat melihat sosok suaminya yang tertidur dengan tenang di sana. Ia hanya menyalakan lampu remang-remang di kamar ini tiap meninggalkan rumahnya.


Wanita itu menyalakan lampu utama kamarnya, membuat kamar tidur itu terang benderang. Perlahan, ia menutup tirai untuk menutupi jendela besar yang ada di kamar itu.


Ia pun langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Tidak lama, wanita itu kembali keluar dan duduk di kursi rias yang ada di kamar itu. Ia membuka ikatan rambutnya dan mulai menyisir rambutnya dengan lambat-lambat.


Puas dengan penampilannya, wanita itu pun berjalan pelan ke tempat tidurnya dan memasuki selimut. Ia meletakkan tangannya di atas tangan suaminya yang masih terdiam.


Semakin bersingsut, Lin menempelkan tubuhnya pada tubuh suaminya dan mendekap erat dada bidang pria itu. Perutnya yang buncit sedikit menghalangi gerakannya.


"Bagaimana kabarmu hari ini, sayang? Hari ini adalah hari terakhirku bekerja di tempatmu. Mulai besok, aku akan menjadi pengangguran dan kamu yang harus bertanggungjawab untuk membiayai hidupku."


Terkekeh pelan, tangan wanita itu terangkat untuk mengusap-usap pipi pria itu. Usapannya perlahan berhenti saat ia menyadari sesuatu.


Bertopang pada salah satu tangannya, Lin mengamati lebih detail tubuh suaminya.


Warna kulit pria itu sudah tidak sepucat biasanya. Gurat-gurat urat yang tadinya berwarna kelabu gelap terlihat memudar menjadi kelabu muda. Bibir pria itu yang tadinya berwarna keunguan pun perlahan mulai kembali ke warna aslinya.


Dan yang paling membuat wanita itu terkejut adalah suhu tubuh suaminya, yang terasa lebih hangat dibanding kemarin malam. Suhunya hampir mendekati suhu normal.


Meski mulai ada harapan, tapi Lin sama sekali tidak pernah tahu kapan suaminya akan terbangun saat ini. Hal ini membuat hatinya merasa nyeri.


Memegang pipi suaminya, wanita itu menatap wajah tampan suaminya dengan lekat. Kedua matanya mengalirkan air mata.


Dengan lembut, Lin mencium bibir Nate yang kaku dan masih terasa dingin. Ia pun lanjut mengecup kedua mata pria itu, dan dengan cukup lama meletakkan bibirnya di kening suaminya. Air matanya jatuh ke salah satu pipi pria yang masih betah terdiam itu.


Jari-jari Lin mengelus alis tebal suaminya, dan sedikit menarik-nariknya.


"Sampai kapan kamu mau tertidur, sayang? Tidakkah kamu mau melihat anak kita lahir?"


Sadar kalau suaminya tidak akan terbangun, wanita itu kembali menyentil hidung bangir Nate.


"Kamu tidak mau dengar aku mengucapkan kata cinta padamu?"


Ia kembali membaringkan tubuhnya di samping suaminya.


Bibirnya mendekati telinga Nate dan meniupnya pelan.


"Aku rindu padamu, Nate. Kamu yakin tidak mau aku perkosa lagi?" ia berbisik merayu.


Lengan Lin semakin memeluk dada suaminya, dan wanita itu menyurukkan kepalanya di leher suaminya yang kaku. Terdengar sedikit isakan dari mulutnya.


"Bangunlah, Nate. Tolong bangunlah. Aku membutuhkanmu."


Jemari wanita itu meremas kaos tidur suaminya dengan putus asa.


"Kamu harus bangun, sayang. Karena aku sangat mencintaimu."


Malam itu, Lin kembali tertidur sambil memeluk tubuh suaminya dengan erat. Sama seperti malam-malam sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2