
Di dalam kamar Johan, terlihat Lin yang menunggu di ruang tamu. Ia menunggu ayahnya yang sedang berada di kamar mandi bersama Felix.
Sambil menunggu, Lin bolak-balik mengecek ponselnya dan berkali-kali pula harus merasa kecewa ketika tidak menemukan adanya notifikasi apapun dari pria yang ditunggunya.
"Dia sama sekali tidak menghubungimu?"
Terdengar suara serak ayahnya, yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi dan sedang menghampiri Lin. Terlihat Felix berada di belakang Johan, mendorong kursinya.
Lin sedikit melemparkan ponselnya di atas meja. Pandangannya mengarah pada ayahnya.
"Memang aku sedang menunggu siapa, yah?"
Lin tahu yang dimaksud oleh ayahnya, tapi ia tidak mau mengakuinya. Setidaknya saat ini.
Mendengar jawaban itu, Johan tersenyum samar. Ia menengadah ke arah Felix.
"Terima kasih Felix. Apakah bisa tinggalkan kami berdua? Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Lin. Pembicaraan antara ayah dan puterinya."
Felix hanya tersenyum simpul. Ia sangat maklum dengan permasalahan yang sedang terjadi.
"Tentu Master. Panggil saja saya bila Anda membutuhkan bantuan."
Setelah Felix keluar dari ruangan, Johan mendorong kursinya ke arah puterinya.
Pria tua itu meraih tangan anaknya dan menggenggamnya dalam pangkuannya.
"Ayah senang kamu mau datang hari ini, Lin. Tapi ayah tahu, kamu pasti ingin mengetahui sesuatu dari ayah. Tanyakanlah apa yang ingin kamu ketahui. Sebisa mungkin, ayah akan menjawabnya."
Lin menunduk. Sejujurnya, ia cukup malu kalau ternyata motifnya terlihat jelas oleh ayahnya.
Mengangkat kepalanya, Lin menatap ayahnya tepat di kedua matanya. Hari ini, ia harus mengetahui hal yang telah disembunyikan darinya. Sorot mata Lin sama seperti Johan ketika pria itu sudah memiliki tekad.
"Mengenai Nate. Aku tahu kalau ayah adalah penciptanya. Apa yang ayah bisa ceritakan mengenai dia?"
Mendengar informasi ini, bibir Johan menyunggingkan senyum puas. Hubungan mereka ternyata lebih dalam dari perkiraannya.
Melepaskan tangan anaknya, Johan mengarahkan kursinya ke jendela besar yang ada di ruangan itu. Matahari sore mulai berwarna merah, tanda bahwa malam sebentar lagi tiba.
"Nathanael Axelle."
Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, Johan tersenyum sedih.
"Apa saja yang sudah ia ceritakan padamu, Lin?"
Lin memandang tangan di pangkuannya. Ia meremas-remasnya.
"Nate hanya bilang kalau ia pernah menjadi seorang prajurit. Dia juga pernah berkeluarga, tapi mereka meninggal terbunuh. Aku tahu mengenai dirinya baru sebatas itu."
Ia masih belum mau mengungkapkan tentang Dominic dan kejadian kemarin.
Terdengar kekehan Johan dari arah jendela. "Ternyata dia sama sekali tidak berubah."
Mata Lin mengerjap. Ia sama sekali tidak mengerti. "Apa maksud ayah?"
Johan berbalik dan memandang puterinya.
"Nathanael Axelle adalah Jendral besar perang di kesatuannya dulu. Latar belakangnya adalah bangsawan D' Axelle. Keluarga bangsawan terkaya saat itu, tapi dia sama sekali tidak pernah mempergunakan priviledge-nya untuk kepentingannya sendiri."
Mata Lin membulat. Ternyata benar dugaannya, kalau Nate berasal dari kalangan bangsawan. Tampang dan pembawaan pria itu sama sekali tidak bisa menipu dari mana asalnya.
Jantung Lin mulai berdebar-debar, menanti ayahnya menceritakan sejarah tentang pria yang mulai memenuhi relung hatinya.
"Pada saat ayah bertemu dengannya, anak itu baru berusia 6 tahun. Sedari kecil, ia sudah dilatih dan dididik dengan keras untuk dapat menggantikan ayahnya yang tewas di medan perang. Ketika melihatnya, apa kamu tahu yang ada di pikiran ayah, Lin?"
Lin hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak membayangkan kalau Nate ternyata memiliki masa lalu yang keras seperti itu.
"Ayah merasa kasihan padanya. Di saat anak lain masih sempat untuk bermain, bocah kecil itu sudah harus menanggung beban berat di pundaknya sendirian. Tidak ada satu pun dari keluarganya yang memberikan dukungan moril padanya. Semua hanya menganggapnya sebagai alat untuk mempertahankan eksistensi nama besar bangsawan mereka."
Johan menarik nafas berat saat melanjutkan.
"Ketika akhirnya ia menikah, pasangannya pun adalah orang yang keluarganya pilih. Keluarga yang terpandang. Nathanael sama sekali tidak memiliki hak untuk dapat memilih seseorang yang ia sukai apalagi yang berasal dari status sosial yang berbeda."
Pandangan Johan kembali mengarah pada Lin.
"Anak itu baru merasa memiliki hak untuk melakukan sesuatu ketika puteranya lahir. Ia menginginkan agar keturunannya tidak mengalami hal yang sama seperti dirinya. Ia ingin agar mereka lebih bebas bereskpresi dan dapat memilih jalan hidupnya sendiri."
Pria tua itu terlihat mengerjapkan matanya yang sedikit basah.
"Saat mereka dibantai dengan alasan yang tidak jelas, yang ada di pikirannya adalah untuk menyusul keluarganya ke alam baka. Pertama kali dalam hidupnya ia dapat merasakan memiliki hak untuk sesuatu, semuanya tiba-tiba direnggut dengan paksa dari tangannya."
Menarik nafasnya panjang, Johan menengadahkan kepalanya. Ia masih mengingat ketika Nate menangis dan berteriak putus asa saat mengetahui kalau ia telah sebatang kara di dunia.
"Kesalahan terbesar ayah adalah dengan merubah anak itu. Ayah tahu kalau ayah salah, tapi ayah tidak akan pernah menyesal melakukannya."
Johan sangat menyayangi Nate, seperti anaknya sendiri. Ia tidak rela pria muda itu pergi begitu saja meninggalkan dunia dengan cara yang sia-sia.
"Lin."
Johan memanggil puterinya yang terlihat menundukkan kepalanya.
Ketika akhirnya Lin mengangkat kepala dan memandang dirinya, Johan melanjutkan.
__ADS_1
"Lin. Ayah ingin anak itu memperoleh kesempatan kedua dalam hidupnya. Ayah ingin anak itu bisa mengecap kebahagiaan yang sama sekali belum pernah dirasakannya. Ayah benar-benar ingin melihatnya lepas kontrol. Apakah kamu bisa memberikan itu padanya?"
Perkataan ayahnya entah mengapa membuat air mata Lin menetes dengan sendirinya.
Lin menatap Johan dengan pandangan yang nanar dan berkaca-kaca. Saat ini, ia tiba-tiba mulai mempertanyakan kembali mengenai eksistensi hidupnya.
"Ayah... Sebenarnya apa tujuanku dilahirkan ke dunia ini?"
Senyum sedih Johan tampak terbentuk di bibirnya. Ia sangat tahu apa yang dipikirkan oleh Lin dan merasa kalau puterinya memang berhak untuk tahu mengenai asal-usulnya.
Perlahan Johan menghampiri Lin yang tampak meneteskan air matanya. Raut muka puterinya tidak terlihat sedih, melainkan bertanya-tanya.
Dengan lembut, Johan menghapus air mata yang jatuh ke pipi Lin yang mulus.
"Lin. Ayah ingin menceritakan sesuatu, dan cukup panjang. Ini mengenai asal-muasal ayah, dan juga dirimu. Apakah kamu mau mendengarnya?"
Berusaha untuk menenangkan emosinya, Lin mengangguk pada ayahnya.
Lin harus mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya, yang sebelumnya selalu ia kemukakan pada dirinya sendiri selama bertahun-tahun.
Johan menunduk dan meraih tangan anaknya. Pria tua itu meremasnya dengan lembut.
Ia kemudian menatap ke satu titik di ujung ruangan. Tampak berusaha memusatkan konsentrasinya pada satu hal.
"Ayah sebenarnya berasal dari tempat yang jauh, Lin. Sangat-sangat jauh dari sini. Kami datang ke bumi karena planet asal ayah sedang menuju kepunahan."
Lin mengerjapkan matanya. Berarti benar seperti cerita Nate waktu itu, bahwa The Masters sebenarnya bukan berasal dari bumi.
"Awalnya kami berjumlah 10 orang, tadi dua diantara kami akhirnya tidak bisa bertahan dengan kondisi atmosfer di bumi yang memang sangat berbeda. Dan salah satunya adalah pasangan hidup ayah."
Johan menutup kedua matanya. Ia membayangkan kembali perjuangannya dan rekan-rekannya ketika berusaha beradaptasi dengan kehidupan bumi dulu.
"Meski teknologi kami lebih maju, tapi tetap saja kami harus bisa bertahan hidup dengan kondisi seadanya. Beruntung, susunan sel dalam darah manusia hampir mirip dengan kami dan juga ternyata bisa menjadi substitusi dari 'makanan' planet asal kami."
"Jadi, 'makanan' kalian memang darah?" Lin bergidik ngeri.
"Benar. 'Makanan' utama kami adalah darah. Tapi di tempat asal ayah, darah tersebut berasal dari sumber yang berbeda. Dan itu telah diproses dan dikemas secara khusus, membuatnya lebih representatif dan terlihat seperti makanan yang cukup normal."
Setelah meremas tangan Lin kembali, Johan menarik tangannya dan meletakkannya di pegangan kursinya. Ia mengarahkan kursinya ke jendela dan menarik nafas panjang.
"Dan seperti mahluk pada umumnya, kami punya naluri untuk bertahan hidup dan juga untuk mengembangkan keturunan."
Pasangan hidupnya dulu adalah satu-satunya wanita di rombongan mereka yang tersisa. Matanya sedikit berair ketika mengingat bahwa ia telah kehilangan belahan jiwanya saat itu.
"Dengan meninggalnya pasanganku, maka harapan kami untuk berkembang biak dan menghasilkan keturunan murni pun ikut musnah. Kami bisa menciptakan kaum V yang berasal dari darah, tapi sayangnya sel-sel dalam tubuh manusia ternyata tidak bisa menyatu sempurna dengan DNA kaum kami, menyebabkan mereka tidak bisa bereproduksi."
"Ya. Aku pernah mendengar sedikit tentang ini dari Nate."
"Nate juga bilang, kalau kaum V tidak bisa menghasilkan anak dari seorang wanita manusia."
Lin melihat ayahnya mengangguk. Kepala pria tua itu terlihat tertunduk sedih.
"Benar. Setelah mengetahui kalau mereka tidak bisa bereproduksi, kami juga segera menyadari kalau benih kaum V yang berasal dari darah, ternyata tidak akan pernah dapat berkembang dalam rahim wanita manusia."
"Sebetulnya apa yang terjadi kalau kaum V membuahi manusia?" Lin cukup penasaran mengenai hal ini sebenarnya.
"Lin, 'makanan' utama kami adalah darah. Apa yang bisa kamu bayangkan, kalau dalam rahim seorang manusia telah tumbuh mahluk yang 'makanannya' adalah darah?"
Muka Lin memucat. Hal ini sama sekali tidak terpikirkannya. "Maksud ayah...?"
"Bayi tidak berdosa itu akan menyerap darah ibunya, sampai menyebabkan kematian. Seorang wanita manusia tidak akan dapat bertahan lebih dari 2 minggu sejak embrio kaum V berkembang dalam rahimnya."
"Oh Tuhan..." Lin menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Karena itu, kami pun sepakat menerapkan aturan yang cukup ketat. Sebagai mahluk asing, kami tidak mau sampai mengganggu tatanan hidup manusia. Kami berusaha sebisa mungkin agar keberadaan kaum V tidak diketahui oleh manusia secara luas."
"Tunggu sebentar. Kalau kaum V tidak bisa menghasilkan anak, tapi kenapa ayah bisa?"
Pertanyaan itu membuat Johan membalikkan badannya dan menatap anaknya.
"Itu masih menjadi rahasia alam, Lin. Ayah juga tidak bisa menjawabnya. Yang bisa ayah katakan adalah mungkin karena kami keturunan murni dan bukan berasal dari darah, membuat kami memiliki keistimewaan untuk itu meski..."
Mata Lin berair dan menatap nanar pada ayahnya. "Meski itu harus dibayar dengan mahal."
Sambil tersenyum sedih, Johan mengangguk pelan.
"Benar. Tapi ayah tidak akan pernah menyesalinya."
Kepala Lin menggeleng-geleng pelan. Ia mengerjapkan matanya, berusaha menghilangkan kesedihannya. Masih banyak hal yang belum dimengertinya.
"Aku masih belum mengerti. Kalau ayah bisa membuahi manusia, kenapa sampai harus mengorbankan masa hidup ayah?"
"Kamu harus ingat, kami bukan manusia, Lin. Proses pembuahan yang kami lakukan cukup berbeda dari kalian. Mungkin kalau diibaratkan di dunia kedokteran, kami melakukan pembuahan dengan menggunakan inseminasi dan bukan cara yang tradisional."
"Inseminasi?"
"Kaum pria harus mengeluarkan benihnya lebih dulu di luar, dan memberikan esensi hidup mereka secara langsung untuk memastikan benih itu jadi. Baru setelah itu, menanamkannya pada pasangan hidup mereka."
"Jadi kalian tidak pernah...?"
Lin memperagakan pertemuan kedua jari telunjuknya dengan pandangan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Bisa dikatakan tidak, Lin. Kaum kami tidak memiliki ketertarikan seperti itu. Kami yang memiliki pasangan akan memilih mereka berdasarkan aroma tubuh dan juga darah."
Johan mengingat kalau ia dan rekan-rekannya cukup terkejut ketika mengetahui kalau manusia ternyata memiliki kebutuhan kuat untuk terlibat secara fisik dengan pasangannya. Hal ini membuat manusia menjadi objek penelitian yang cukup menarik bagi kaumnya.
"Proses yang cukup rumit ini membuat banyak di antara kaum kami akhirnya memilih untuk tidak berpasangan dan mengembangkan keturunan dengan mempergunakan darah, seperti yang kami lakukan pada manusia sekarang."
"Kemudian apa hubungannya dengan kurangnya umur karena memberikan esensi hidup?"
"Sekali lagi kamu harus ingat Lin, bahwa kami bukanlah manusia. Meski manusia memiliki susunan sel yang mirip, tapi mereka tetap berbeda. Hal ini membuat kami harus memberikan energi yang lebih besar, termasuk saat melakukan pembuahan pada manusia."
"Berarti ayah sudah tahu resikonya saat melakukan itu?"
"Ayah sudah tahu resikonya, meski tidak tahu bagaimana tepatnya hal ini akan berdampak pada tubuh ayah sendiri karena belum pernah ada yang melakukan sebelumnya."
Menghela nafasnya dalam, Lin memandang ayahnya dan kembali bertanya.
"Apakah ayah benar-benar menginginkan aku?"
Pertanyaan itu membuat Johan merasa sedih. Dengan perlahan, pria tua itu memeluk anaknya erat. Ia merasa sangat bersalah telah meninggalkan puterinya sekian lama tanpa kasih sayang yang nyata.
"Lin. Yakinkan dirimu, kalau ayah benar-benar menyayangimu. Kamu adalah puteriku satu-satunya. Meski ayah mati, ayah tidak akan pernah menyesal telah memilikimu."
Kedua mata Lin tertutup erat. Ia berusaha menyerap perkataan Johan ke dalam otaknya yang selama ini tertanam kenangan-kenangan negatif dari ibunya sendiri.
Setelah beberapa lama, Johan melepas pelukannya dan mengusap-usap rambut anaknya.
"Ada hal lain yang ingin ayah katakan Lin. Dan ini adalah keinginan terakhir ayah. Apakah kamu mau mendengarnya?"
Mendengar permintaan Johan, tentu membuat Lin mengangguk mantap.
"Apa keinginanmu, yah?"
"Ketika ayah akhirnya memiliki keberanian untuk memiliki keturunan dan tahu kalau kamu adalah seorang perempuan, ayah jadi punya tujuan lain Lin"
Kedua ayah-anak itu saling bertatap-tatapan. "Tujuan lain? Apa itu?"
"Ayah ingin memberikan kamu sebagai pasangan untuk Nathanael."
Jawaban tidak terduga ini membuat mata Lin melotot. "Pasangan untuk Nate?"
"Seperti yang ayah bilang di awal tadi. Ayah mengubah Nathanael karena ingin dia memiliki kesempatan kedua dalam hidupnya. Dan ayah ingin agar kamu yang memberikan padanya."
"Tapi kenapa harus aku, dan juga kenapa harus Nate?"
"Ayah menyayangi Nathanael seperti putera ayah sendiri. Ayah telah melihatnya tumbuh dan berkembang menjadi seorang pria dewasa. Dan ayah menyayangimu Lin, karena kamu adalah bagian langsung dari diri ayah."
Kata-kata ayahnya membuat jantung Lin berdebar kencang.
"Apakah salah kalau ayah menginginkan agar kalian dapat bersama?"
Pertanyaan Johan membuat Lin terdiam dan sedikit menunduk.
"Nathanael adalah pria yang baik dan bertanggungjawab. Ayah tahu pasti latar belakang keluarganya dan sepanjang mengenalnya, Nathanael belum pernah mengecewakan ayah satu kali pun. Yang ayah sayangkan, selama hidupnya anak itu selalu hidup dalam ikatan kontrol yang terlalu kuat. Belum pernah ayah melihatnya tertawa dan hidup dengan bebas."
Johan memegang kedua bahu puterinya dengan erat.
"Dan ayah tahu, kalau kamu juga sudah mengalami perjuangan hidup yang berat selama ini. Kamu berhak untuk bahagia Lin. Kamu berhak untuk keluar dari kesedihanmu selama ini. Adalah wajar bagi seorang ayah untuk dapat memberikan pasangan yang terbaik bagi putera-puterinya. Sekarang pertanyaannya, bagaimana perasaanmu pada anak itu, Lin?"
Kedua tangan Johan yang memegang bahu Lin semakin mengerat.
"Apakah kamu menyukainya?"
Setelah terdiam sebentar, Lin mendongak dan menatap ayahnya. Ia menelan ludahnya.
"Ya. Aku menyukainya."
"Sebagai seorang pria?"
Dengan muka memerah, Lin mengangguk. "Sebagai seorang pria."
"Apakah kamu ingin bersamanya?"
"Ya ayah. Aku ingin bersama dengan Nate. Aku ingin selalu ada di dekatnya."
Johan mengangguk. Ia cukup puas dengan jawaban puterinya.
"Kalau dari pembicaraan ayah dengan anak itu kemarin, sepertinya ia juga memiliki perasaan khusus padamu, Lin. Sudah sampai mana hubungan kalian?"
Tersenyum sedih, Lin hanya bisa menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus terang, sekarang aku tidak yakin lagi. Mungkin perasaan Nate padaku sudah berubah."
Tangan Johan memegang dagu puterinya, memaksanya dengan lembut agar menatapnya.
"Memangnya, apa yang terjadi?"
Menarik nafasnya panjang, Lin akhirnya memutuskan untuk bersikap jujur pada ayahnya. Ia juga membutuhkan jawaban yang pasti saat ini.
"Apakah ayah pernah mendengar tentang Dominic?"
Mendengar nama itu, membuat Johan mengernyitkan dahi dan memicingkan matanya secara refleks. Kebencian pria tua itu tampak berkobar di kedua matanya.
__ADS_1
"Dominic?"