Madness

Madness
Chapter 54


__ADS_3

"Kamu terlambat, Marc."


Saat itu, Nate sedang memandang Marcus yang akhirnya tiba di kantor pada jam 18.00. Asistennya seharusnya telah selesai meeting jam 14.00 dan dapat kembali 45 menit kemudian, karena lokasinya yang memang tidak terlalu jauh.


"Apa yang terjadi?"


Atasannya terlihat santai ketika bertanya, tapi membuat tubuh Marcus menjadi sangat kaku. Pria dingin itu merasa telah gagal menjalankan tugasnya.


"Saya minta maaf Tuan. Tadi, ada kecelakaan cukup parah di jalan. Saya sudah mencoba mencari alternatif lain, tapi-"


Tangan Nate tiba-tiba terangkat. Pria itu membuka kacamata bacanya dan tampak tersenyum menatap asistennya.


"Kamu tidak perlu menjelaskannya dengan detail, Marc. Aku sudah cukup mengerti."


"Saya tidak akan mengulanginya lagi, Tuan. Saya benar-benar minta maaf mengenai ini."


Nate sebenarnya tidak mempermasalahan hal ini. Lagipula, keterlambatan Marcus membawa berkah untuknya dan isterinya. Mereka dapat 'bermain' lebih lama tadi siang dan melakukan hal-hal yang menyenangkan.


Tapi tetap saja, akan selalu memuaskan bila bisa sedikit membalas dendam.


Mata Nate terlihat berkilat ketika menatap asistennya dengan tajam. Pria itu tertawa keras dalam hati. Akhirnya ia dapat mengembalikan perkataan asistennya dulu.


"Selalu ada yang namanya 'pertama kali' Marc. Kamu jangan terlalu khawatir."


Mendengar hal itu, Marcus terdiam seribu bahasa. Ia sangat tahu apa yang dimaksud oleh atasannya itu dan merasa sangat malu.


"Baik Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Sebentar Marc. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


Perlahan, pria dingin itu berbalik dan menatap Nate kembali dengan kaku.


"Tuan Felix tadi menelepon dan mengatakan kalau kondisi Master Johan makin memburuk. "


Informasi itu membuat mata Marcus sedikit melebar.


Atasannya memandang Marcus penuh arti.


" Aku dan Lin berencana akan menemui pria tua itu besok pagi dan sebenarnya, aku ingin agar kita bertiga dapat menemuinya bersama-sama. Apakah kamu bersedia untuk ikut, Marc?"


Flashback 4 jam lalu.


Lin merapihkan pakaiannya dan tangan suaminya membantu isterinya menurunkan roknya yang sedikit tersingkap. Mereka baru saja saling membersihkan diri di kamar mandi.


Nate sedang mengancingkan lengan kemejanya ketika ponselnya terdengar berbunyi dari arah meja kerjanya.


"Halo." Pria itu langsung mengangkatnya tanpa melihat ID si penelepon.


"Tuan Felix. Aku baru saja mau menghubungimu lagi."


Ia tersenyum pada Lin yang saat ini sedang membantunya memasangkan dasi di lehernya. Tangan pria itu otomatis mengusap rambut panjang isterinya yang masih tergerai.


Wanita itu baru saja selesai memasangkan dasi dan mengancingkan rompi suaminya, ketika merasakan tangan Nate yang berhenti mengusap rambutnya dan berada di area punggungnya dengan sedikit meremas.


Dengan heran, Lin menengadahkan kepalanya dan melihat raut wajah Nate yang terlihat kaku. Perlahan, mata suaminya mengarah ke dirinya dan pandangannya tampak kalut.


"Baik. Aku mengerti. Tolong atur untuk besok pagi. Terima kasih banyak, Felix."


Suaminya menutup teleponnya dengan alis yang berkerut dalam.


"Ada apa, Nate? Terjadi sesuatu dengan ayah?"


Jantung Lin berdebar. Ia sudah mulai bisa menduga berita yang akan didengarnya.


Mengangguk, Nate langsung mengarahkan mereka ke sofa. "Lebih baik kita duduk dulu."


Setelah keduanya duduk, pria itu langsung mengambil lengan isterinya dan meremasnya di pangkuannya. Matanya menatap dalam.


"Lin. Ayahmu mengalami serangan tadi malam dan sempat pingsan. Saat ini, kondisinya sudah cukup stabil dan ia juga sudah sadar. Tapi Tuan Felix menyarankan agar kita dapat menemuinya kalau ada waktu."


Mendengar berita buruk itu, kedua mata Lin langsung terlihat merah dan berair.


"Ayah benar sudah tidak apa-apa?"


Salah satu tangan Nate mengusap pipi isterinya lembut.


"Kata Felix, kondisinya sudah mulai membaik. Tapi seperti yang kita tahu, usianya mungkin tidak akan lama lagi. Kita akan menemui ayahmu besok pagi. Kamu mau kan?"


Dengan mata yang nanar, Lin pun hanya bisa mengangguk. "Kenapa tidak sekarang?"


Pertanyaan itu membuat suaminya menghela nafas berat.


"Karena aku ingin mengajak Marcus, Lin."


Alis Lin mengernyit mendengarnya. "Apa hubungannya Pak Marcus dengan ayahku?"


Tangan Nate semakin meremas jari-jari isterinya.


"Karena Marcus sama denganku Lin. Ayahmu adalah pencipta dari Marcus juga."


Mata isterinya mengerjap cepat. Ia memandang suaminya tidak percaya.


"Pak Marcus termasuk kaum V?"

__ADS_1


Nate mengangguk pelan. "Benar."


Isterinya tampak masih belum bisa percaya informasi ini. Ia sudah menduga bahwa Marcus bukan orang biasa, tapi sama sekali tidak menyangka kalau pria dingin itu adalah kaum V juga.


"Apakah sebegitu mengagetkannya berita ini, Lin?"


Kepala Lin mengangguk-angguk cepat. "Sejujurnya ya."


"Maksudku, Pak Marcus terlihat seperti manusia biasa. Ia terlihat biasa saja ketika bersama dengan para karyawannya. Sama sekali tidak ada yang aneh dari dirinya, kecuali..."


Lin tiba-tiba teringat saat pertama kali bertemu dengan pria dingin itu di lift. Ia memang merasakan ada aura yang berbeda dari pria itu, yang membuatnya merasa takut.


Kedua alis Nate terangkat, menunjukkan kalau ia masih menunggu kelanjutan perkataan isterinya. "Kecuali...?"


"Yah sebenarnya, pertama aku bertemu dengannya, dia memang sedikit menakutkan. Aku cukup takut berada dekat dengannya."


"Kalian bertemu dimana memangnya?" Nate menyenderkan tubuhnya di sofa.


"Di dalam lift. Kamu tahu? Aku berniat bertemu dengannya untuk melaporkanmu tahu?"


Mata Lin memicing ketika menoleh pada suaminya.


Pandangan isterinya membuat Nate malah terkekeh.


"Ya. Marcus pernah sedikit bercerita kalau dia bertemu denganmu. Tapi kalau kamu mau tahu, dari dulu aura Marcus memang sudah seperti itu. Sama sekali tidak ada yang berbeda dari dirinya, baik sebelum atau setelah dia berubah menjadi seorang V."


Tubuh Lin pun menyender di sofa, mengikuti suaminya. Melihat itu, tangan Nate otomatis memeluk bahu isterinya dan mengusapnya.


"Apakah kalian sudah lama saling mengenal?"


Lin menoleh pada Nate yang terlihat sedang melamun.


"Cukup lama sebenarnya. Aku telah mengenalnya lebih dari 400 tahun yang lalu. Bahkan sebagian dari perusahaan ini pun, tadinya merupakan miliknya."


Kedua mata isterinya yang membola membuat suaminya tersenyum. "Benarkah?"


"Ya. Tapi entah mengapa, Marcus menjualnya padaku. Aku pun tidak pernah menanyakan alasannya. Apa kamu mau tahu singkatan dari NAMAC Inc.?"


"Jangan katakan kalau nama NAMAC itu benar-benar dari..."


"Nathanael Axelle dan Marcus Corentin. Konyol ya?"


Pria itu tertawa. Jika mengingat-ingat lagi saat mereka menentukan nama perusahaan, Marcus terlihat sama sekali tidak ambil pusing.


Isterinya melingkarkan tangan ke perut suaminya. Ia sangat menyukai tawa Nate dan merasakan tubuh pria itu sedikit bergetar karena suara yang dikeluarkannya.


Suasana kembali hening dan Nate mencium kening isterinya lembut. Ia pun sedikit menarik tubuhnya menjauh dan menatap isterinya.


"Aku tidak tahu alasan ayahmu merubahnya, Lin. Aku juga bahkan tidak pernah tahu alasannya merubah diriku. Tapi yang jelas, hanya kami berdua-lah kaum V yang pernah diciptakannya melalui darah."


"Kalau memang usia beliau tidak lama lagi, setidaknya aku ingin agar kami berdua mendapat kesempatan untuk menanyakan hal tersebut padanya. Tadinya aku tidak pernah mau tahu tapi sekarang, aku benar-benar ingin tahu alasannya."


Lin sebenarnya tahu alasan ayahnya menciptakan Nate dan dirinya, tapi ia tidak mau menceritakan hal ini dan ingin agar suaminya dapat mendengar langsung dari ayahnya.


"Jadi, bolehkah kalau aku mengajak Marcus ikut dengan kita untuk menemui ayahmu?"


Sebagai jawaban, isterinya menyurukkan kepalanya ke dada suaminya dan mencium aromanya dalam. Kedua tangannya semakin memeluk erat tubuh Nate yang besar.


"Tentu Nate. Tidak masalah."


Tiba-tiba ponsel Nate yang berada di atas meja berdering nyaring. Sedikit menunduk, salah satu tangan pria itu meraih ponselnya sambil tetap memeluk isterinya erat.


"Dari siapa?"


"Marcus." Suaminya menjawab sambil menatap ID di ponselnya.


Lin melihat suaminya sama sekali tidak mengangkat ponselnya sampai deringnya mati. Pria itu terlihat tersenyum ketika beberapa saat kemudian tedengar notifikasi pesan masuk.


Meletakkan ponselnya di meja, pria itu menatap isterinya kembali. Kedua matanya perlahan mulai menghitam, membuat Lin mengerjapkan matanya bingung.


"Kamu masih sedih, sayang?"


Isterinya mengangguk. Wajahnya terlihat muram.


"Tadi sebenarnya sudah tidak. Tapi berita tentang ayah membuatku sedih lagi."


Suaminya mengelus pipi Lin dan perlahan, tangannya turun ke leher jenjang isternya dan mengusap bagian depan dadanya. Jari-jarinya yang berkuku pendek membuka salah satu kancing kemeja isterinya.


"Marcus bilang akan terlambat. Mau 'main' sebentar lagi? Supaya kamu tidak sedih lagi?"


Sebelah mata suaminya mengedip seksi dan salah satu tangannya sudah menyelinap memasuki kemeja Lin, memainkan salah satu dada isterinya dan meremasnya lembut.


Menarik nafas tajam, Lin menarik rambut suaminya. "Oke."


Kembali ke masa sekarang.


"Jadi, bagaimana Marc? Apakah kamu mau ikut dengan kami?"


Nate kembali menanyakannya karena Marcus sama sekali belum menjawab pertanyaannya.


"Nyonya tahu mengenai saya?"


Pertanyaan asistennya yang kaku membuat Nate tersenyum. Ia menyenderkan punggungnya ke kursi dan kemudian bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Pria itu menghampiri Marcus dan menepuk pundaknya.


"Duduklah di sofa, Marc. Aku akan membuatkan sesuatu untukmu."


Kata-kata itu membuat mata Marcus mengerjap cepat. "Tidak Tuan. Jangan. Biar saya yang-"


Mata Nate menyorot tajam. "Aku memintamu untuk duduk, Marc."


Menghela nafas, pria dingin itu pun akhirnya mengalah dan mengambil posisi di sofa panjang. Ia melihat atasannya sedang meracik sesuatu di pantry kecilnya dan tidak lama membawa dua buah cangkir yang mengepulkan asap tebal.


Tidak seperti biasanya, Nate mengambil posisi duduk di sebelah Marcus. Pria itu pun menyorongkan cangkir yang dibawanya tadi ke hadapan asistennya di atas meja.


"Cobalah. Aku yakin selama ini kamu pasti penasaran bagaimana rasanya."


Ragu-ragu, pria dingin itu mengambil cangkir di depannya dan perlahan menyesapnya.


Rasa pahit yang cukup kuat menghantamnya, tapi kemudian menghilang dan menyisakan aroma yang segar di sekitar mulutnya.


Nate memperhatikan raut muka Marcus yang terlihat takjub dengan perubahan rasa ini.


"Bagaimana menurutmu?"


"Menyegarkan."


Akhirnya asistennya paham kenapa Nate selalu ingin meminum teh hijau di saat pria itu lapar. Cairan ini dapat menghilangkan rasa asam di mulut dan menenangkan perut yang sedang bergejolak.


Atasannya terlihat meminum isi di cangkirnya sendiri dengan khidmat sebelum akhirnya meletakkan di meja. Pria itu menumpangkan kakinya dengan rapih.


"Dulu, satu-satunya yang akan menemaniku minum teh hanyalah Dominic."


Ia memandang Marcus yang masih menatapnya. Bibirnya tersenyum samar.


"Tapi sekarang, ada kamu dan juga Lin di sampingku."


Kata-kata Nate membuat Marcus terdiam.


"Aku sebenarnya cukup penasaran Marc, kenapa kamu tetap bertahan untuk berada di sisiku sekian lama? Kamu bisa saja menjadi independen dan melepaskan diri dariku. Dan sampai sekarang, kamu masih saja memanggilku dengan sebutan 'Tuan'."


Nate melihat kepala Marcus sedikit tertunduk, dan pria itu belum menjawab pertanyaannya.


"Apakah kamu mau menjelaskannya, Marc?"


Tanpa melihat atasannya, Marcus menjawab Nate dengan mengarahkan pandangannya ke arah depan. Profil samping pria itu terlihat sangat kaku.


"Apakah itu menggangu Anda, Tuan? Dengan kehadiran saya, maksudnya?"


Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Hal ini membuat Nate terkekeh kecil.


"Tidak juga. Bahkan terus terang, aku merasa sangat terbantu dengan adanya dirimu."


Atasannya akhirnya menepuk pundak Marcus pelan dan beranjak dari duduknya. Ia terlihat kembali duduk di balik meja kerjanya dan memakai kacamatanya, bersiap untuk memulai pekerjaannya yang tadi sempat ditinggalkannya.


Melihat Nate tidak memaksanya, membuat pria dingin itu justru merasa tidak enak.


"Apakah jawaban saya memang penting, Tuan?"


Nate berhenti dari aktivitasnya dan menatap ke arah asistennya yang masih belum mau memandangnya.


"Aku hanya tidak mau kalau kamu merasa terjebak berada di sampingku, Marc. Jika kamu memang ingin pergi, maka aku tidak akan pernah menghalangimu."


"Tapi saya yang tidak mau pergi."


Jawaban tegas Marcus membuat Nate termangu di duduknya.


"Apakah aku boleh tahu kenapa, Marc?"


Perlahan pria dingin itu menolehkan kepalanya. Ia akhirnya menatap atasannya. Kedua mata cokelatnya menyorot tajam.


"Karena saya masih ingin berada di sisi Tuan. Saya akan pergi saat saya sudah memiliki tujuan lain. Tapi untuk saat ini, tujuan hidup saya adalah berada di sisi Tuan Axelle."


Jawaban Marcus membuat Nate merasa terharu. Pria itu menutup kedua matanya. Kesetiaan asistennya tidak pernah ia ragukan selama ini.


"Aku hanya bisa berterima kasih atas kesetiaanmu selama ini, Marc. Aku tidak akan pernah melupakannya."


"Tidak perlu, Tuan. Justru saya yang harus berterima kasih karena sudah diperkenankan untuk berada di sisi Tuan selama ini."


Kepala Nate mengangguk sekali. Kedua pria itu pun saling terdiam. Asistennya kembali memandang kejauhan, tampak memikirkan sesuatu.


Nate akhirnya memutuskan untuk mengatakan yang ada di pikirannya.


"Aku telah menceritakan sekilas mengenai dirimu pada Lin. Dan sejujurnya, aku ingin agar kita bertiga dapat langsung menemui pria tua itu. Karena hanya kita bertigalah, orang yang pernah diciptakannya selama masa hidupnya yang panjang."


Punggung Nate kembali menyentuh belakang kursi kerjanya. Ia menghela nafas pelan.


"Ada beberapa hal yang juga ingin aku tanyakan padanya. Hal yang tadinya tidak penting bagiku, tapi sekarang membuatku cukup penasaran."


Perkataan Nate membuat Marcus menolehkan kepalanya. Ia menatap muka atasannya yang terlihat termenung.


"Apa itu?"


"Aku ingin tahu kenapa dia merubahku. Dan aku ingin tahu, kenapa dari sekian miliyar manusia yang ada di bumi, ia hanya menciptakan kita bertiga. Pria tua itu tidak seperti The Masters lainnya, yang mungkin bisa menciptakan ratusan kaum V selama mereka hidup."


Perlahan, mata Nate naik dan menatap asistennya tajam.

__ADS_1


"Tidakkah kamu juga ingin tahu, Marc?"


__ADS_2