
Tidak lama, keduanya pun sudah berada dalam mobil yang dibawa oleh Nate.
Melirik wanita di sampingnya, pria itu melihat Lin sedang berkutat dengan seat belt-nya. Tanpa sadar, Nate mengulurkan tangan dan membantu memasangkan sabuk pengamannya ke sisi kiri wanita itu.
Sejenak keduanya saling memandang dengan diam. Wajah Nate perlahan semakin mendekat, dan pandangannya mulai turun ke mulut wanita di depannya.
Ketika hampir menyentuh bibir Lin, Nate merasa dadanya di tahan.
Wanita di depannya berdehem pelan dan mengalihkan pandangan ke luar jendela. Pipinya terlihat memerah.
"Hem. Sebaiknya kita segera pergi Nate, kalau tidak mau terlambat datang."
Pria itu mengerjapkan mata dan mulai mundur ke posisinya semula.
"Ya. Kamu benar." Hampir saja ia tidak mampu mengontrol dirinya lagi.
Setelah itu, Nate pun mulai mengarahkan kendaraannya menuju tempat pertemuannya dengan Felix nanti.
Menempuh 20 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai pada sebuah gedung klasik yang tampaknya masih terlihat baru direnovasi. Gedung berlantai 20 tersebut tampak sangat megah, dan dihiasi dengan interior yang berkelas dan terkesan mahal.
Saat keduanya baru akan mendekati bagian resepsionis, mereka ternyata langsung disambut oleh seseorang yang datang dari arah dalam.
Pria yang menyambut mereka terlihat berkelas dan cukup ramah.
"Selamat malam. Anda dengan Tuan Nathanael dan Nona Alina?"
"Benar." Nate menganggukkan kepalanya.
Otomatis, tangannya merangkul pinggang Lin untuk lebih mendekat padanya.
Pria berjas itu menganggukkan kepalanya sekali. "Silahkan ikut dengan saya."
Mereka mengikuti pria itu yang ternyata mengarahkannya pada salah satu ruangan meeting yang berada di lantai 8.
"Silahkan menunggu di sini. Saya akan segera memanggil Tuan Felixander untuk menemui Anda berdua."
Selesai berpamitan, pria berjas itu kemudian menutup pintu ruangan. Meninggalkan mereka berdua untuk berada di ruangan yang besar dan mewah itu.
Merasakan wanita di yang dipeluknya sedikit gemetar, Nate bertanya dengan pelan.
"Kamu mau duduk dulu, Lin?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Ia terlihat menarik nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar kencang.
"Lebih baik aku berdiri, Nate. Tolong pegang tanganku saja."
Menuruti permintaannya, Nate pun menggenggam tangan Lin di tangannya yang besar. Pria itu sedikit meremasnya untuk memberikan kekuatan untuknya.
Tidak lama, pintu ruangan yang besar itu terbuka dengan perlahan.
Ternyata pria berjas itu yang membukanya, dan ia membukanya dengan cukup lebar.
Perlahan, tampaklah pemandangan seorang pria tua yang sedang duduk di kursi roda. Di belakangnya terlihat sosok seorang pria tinggi berambut pirang, yang membantu pria di depannya untuk mendorong kursi yang sedang didudukinya.
Memastikan bahwa semua tamu telah hadir, pria berjas itu menundukkan badannya sedikit dan secara perlahan mundur untuk menutup pintu di depannya.
Keempat orang yang telah hadir di ruangan sejenak tampak terdiam. Masing-masing saling memandang dan menilai satu sama lain.
Melangkah maju, pria yang berambut pirang mengulurkan tangannya pada pria berambut hitam di depannya.
"Tuan Nathanael." Sapanya sambil tersenyum.
"Tuan Felixander." Nate menyambut uluran tangannya dengan hangat.
Bola mata Felix yang berkilat mulai mengarah ke wanita asing yang berada di hadapannya.
Ia mengulurkan tangannya kembali pada wanita itu sambil tersenyum.
"Dan ini pasti Nona Alina Johan. Perkenalkan, nama saya Felixander Osborne. Anda boleh memanggil saya dengan Felix."
Sedikit ragu, Lin menyambut uluran tangan pria itu. Ketika kulit mereka saling bersentuhan, wanita itu dapat merasakan kehangatan terpancar dari telapak Felix, membuatnya merasa lebih tenang.
"Selamat malam Tuan Felix. Anda bisa memanggil saya Alina." Ujar Lin sopan.
Lin dapat merasakan bahwa pria di depannya ini memiliki aura keanggunan yang sangat kuat, membuat orang di sekitarnya merasa terpesona dengan dirinya.
Setelah mereka saling bersalaman dan memperkenalkan diri, Felix beralih menatap pada pria yang duduk di kursi roda.
Nate melihat, bahwa Johan telah jauh bertambah tua. Dari sisi kerutan mungkin tidak signifikan, tapi aura kehidupan tampak mulai memudar dari sekelilingnya.
"Nona Alina Johan. Perkenalkan..." Felix memulai perkenalannya.
Felix menatap Lin tepat di kedua matanya. Tangannya berada tepat di kedua bahu pria tua yang sedang duduk itu.
"Tuan Alexander Johan. Beliau adalah ayah kandung Anda."
Pandangan Lin mengarah pada pria tua di depannya.
__ADS_1
Usia pria itu tidak lebih dari 60 tahun, namun perawakan dan auranya yang terlihat sakit membuatnya tampil jauh lebih tua.
Hal yang mungkin masih belum berubah adalah sorot matanya yang tajam, dan ketika melihat wanita muda di depannya, matanya terlihat berkilat dan mulai bersinar.
Secara perlahan, pria tua itu mencoba bangkit dari duduknya dengan gemetar. Melihat itu, Felix langsung menopang kedua lengannya dari belakang.
Saat merasa sudah berada dalam posisi stabil, salah satu tangan Johan terangkat, meminta Felix untuk melepaskan pegangannya.
"Terima kasih Felix." Ia berkata pelan.
Mengangguk, Felix mundur dari posisinya dan menunggu.
Pandangan Johan beralih pada Lin. Matanya sedikit bersinar.
"Kemarilah." Suara pria tua itu terdengar serak dan lirih.
Mendengar instruksi itu, Lin menengadahkan kepalanya memandang Nate. Pria itu meremas tangan Lin dan melepaskannya, mendorongnya untuk menghampiri pria tua di depannya.
Lin mulai melangkah pelan ke hadapan pria tua di depannya, dan berhenti ketika jarak mereka hanya tinggal selengan lagi.
"Lebih mendekatlah, Lin." Tangan Johan terulur.
Kata-kata pria itu membuat mata Lin membesar. Di benaknya mulai berkelebat ingatan-ingatan samar, dengan suara seseorang yang memanggil nama kecilnya.
Mengerjapkan matanya, wanita itu pun kembali mendekati pria tua itu.
Setelah sampai di hadapannya, Johan menangkupkan kedua tangannya di pipi Lin.
Sentuhan pria tua itu, tiba-tiba membuat tubuh Lin bergetar. Benaknya mulai dibanjiri dengan kilasan-kilasan ingatan saat ia masih berada dalam kandungan ibunya.
Namamu adalah Alina Johan. Kamu adalah anakku, darah dagingku. Lin. Lin.
Kamu adalah anakku. Aku menyayangimu, anakku. Cepatlah lahir ke dunia.
Suara-suara seorang pria yang saling berseliweran di otaknya, membuat mata Lin tiba-tiba berair. Tanpa diinginkannya, air mata mengalir menuruni pipinya.
Sama dengan Lin, mata pria tua di depannya pun mengeluarkan air mata. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.
Johan merasa sangat bahagia karena ia masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan puteri semata wayangnya, sebelum ia meninggalkan dunia.
"Lin, anakku..."
Perkataan selanjutnya dari Johan, membuat Lin melangkahkan kakinya dan langsung memeluk pria tua di depannya dengan sangat erat.
"Ayah..."
Beberapa saat kemudian setelah pertemuan yang mengharukan itu, pasangan ayah-anak itu terlihat bergenggaman tangan.
Mereka belum berbicara, hanya saling memandang. Masing-masing masih mencoba untuk mencerna situasi yang sedang terjadi.
Melihat bahwa situasinya sudah cukup kondusif, Felix pun mengajak Nate untuk keluar dari ruangan sejenak.
Setelah menutup pintu ruangan meeting dengan rapat, pria berambut pirang itu berbalik untuk memandang pria lainnya yang tampak sedang melamun.
Felix menepuk bahu Nate dan mengajaknya ke suatu tempat.
"Mari Nate. Kita bicara di tempat lain."
Felix mengajaknya ke lantai teratas dari gedung itu, yang ternyata adalah ruangan kantor pribadinya sendiri.
"Masuklah."
Saat masuk, Nate melihat beraneka ragam karya seni yang terhampar di seluruh ruangan. Semua benda yang ada di ruangan itu tidak ternilai harganya, yang sebagian besar di dapat Felix dari hasil pembayaran jasanya selama ini.
"Aku tidak tahu kalau kau punya tempat kerja lain."
"Aku berencana untuk pindah ke sini suatu saat nanti."
Alis Nate berkerut. "Bagaimana dengan club-mu nanti?"
Kedua bahu Felix tampak terangkat santai. "Entahlah. Kita lihat saja nanti."
Pria bermata biru itu berjalan ke kabinet pendingin dan mengeluarkan sebuah botol anggur.
Berbalik, ia mengangkat botol anggur itu dan tersenyum pada Nate. "Minum?"
Pria berambut hitam itu hanya menggeleng pelan.
Terkekeh, Felix pun kembali membelakangi Nate dan terdengar suara pelan cairan kental yang dituangkan ke sebuah gelas tinggi.
Samar-samar, mulai tercium wangi disertai dengan bau amis yang khas. Bau darah.
Mencium bau yang tidak disukainya, membuat Nate hanya terdiam di tempatnya. Ia menyimpan kedua tangan di saku celananya dan memandang Felix.
Dengan membawa gelas tinggi yang berisi cairan berwarna merah gelap, Felix duduk di meja kerjanya yang sangat besar.
"Duduklah, Nate." Ia mempersilahkan tamunya untuk duduk di depannya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh duduk di sini saja?" Nate melirik sofa di depannya.
Mendengar hal itu, Felix tertawa keras. Kepalanya sampai menengadah ke kepala kursinya yang besar.
"Kau benar-benar unik, Nate. Baru kali ini, aku bertemu dengan kaum V yang sama sekali tidak menyukai bau 'makanannya' sendiri."
Nate hanya tersenyum penuh ironi. Ia kemudian duduk di salah satu sofa, ketika Felix mengayunkan tangan, mempersilahkannya untuk duduk.
Setelah tamunya duduk dengan nyaman, Felix pun perlahan menyesap minumannya.
Pria itu menutup kedua matanya dan tampak menikmati cita rasa cairan ketal yang memasuki tenggorokannya.
Masih menutup matanya, Felix terlihat menarik nafas pelan dan mendesah.
"AB negatif. 50 tahun. Benar-benar sangat nikmat."
Saat kedua matanya membuka, warna birunya terlihat berkilat terang. Ia sangat puas.
Nate menoleh pada pria itu sambil menyilangkan kakinya dengan rapih. Pria itu terlihat anggun, tidak kalah dari Felix.
"Aku harap kau menyukainya."
Meletakkan gelasnya di meja, Felix tersenyum sangat lebar.
"Terima kasih Nate. Aku sangat menyukainya."
Pria di seberangnya hanya menganggukkan kepalanya sekali.
Tidak sia-sia Marcus mencari benda itu hampir ke seluruh dunia. Benda yang langka. Hampir tidak ada duanya.
Menggoyang-goyangkan gelas di tangannya, Felix menoleh kembali pada pria di seberangnya.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"
Pertanyaan itu membuat Nate sedikit menundukkan kepalanya. Ia menatap kedua tangan yang ada di pangkuannya.
"Aku harus bicara dengan Master Johan."
Bibir Felix terangkat sedikit. "Mengenai Alina?"
Pria di depannya mengangguk kaku. "Mengenai Alina."
Mengangangkat gelas tingginya kembali, Felix menyesapnya untuk kedua kalinya.
Masih sambil menutup kedua matanya, pria itu berkata pelan.
"Kau tahu, Nate? Kalau itu aku, mungkin aku tidak akan setuju."
Perkataan Felix membuat tubuh Nate menjadi kaku. Perlahan, ia menoleh pada pria yang sedang duduk di balik meja besarnya.
"Alasannya?" Nate bertanya pelan.
Felix menatap tajam pada kedua mata Nate. Tangannya masih menggoyang-goyangkan gelas tingginya dengan perlahan di atas meja.
"Siapa yang akan mempercayai seorang pria yang tujuan hidupnya hanya ingin mati? Apalagi ia ingin mati, untuk wanita lain. Kau seorang ayah, Nate. Seharusnya kau lebih mengerti."
Nate sudah sangat paham mengenai hal itu, tapi mendengarnya dari mulut orang lain membuat pria itu merasa perutnya ditonjok dengan sangat keras.
Melihat wajah pria di depannya mulai memucat, Felix tetap melanjutkan tanpa belas kasihan.
"Belum lagi sejarah kalian yang belum selesai salama ini. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh pria, yang seumur hidupnya dihabiskan untuk membenci dirinya, pada anak gadis semata wayangnya?"
Pria berambut hitam itu mengepalkan kedua tangan di pangkuannya dengan sangat erat.
Nate sangat-sangat tahu dan sadar mengenai hal ini. Tapi perkataan Felix benar-benar menamparnya pada kenyataan sebenarnya, yang harus ia hadapi nanti.
"Aku-"
"Tapi-" Felix memotongnya. Ia pun akhirnya menenggak habis sisa cairan yang ada di gelas.
Pria tinggi itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan meja kerjanya. Ia menyenderkan tubuhnya dengan santai, sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
Tersenyum, ia memandang pria muda di depannya yang terlihat pucat.
"Yang sedang kita bicarakan adalah Master Johan."
Pandangan Nate terlihat bertanya-tanya.
"Apa kau tahu, Nate? Dia adalah salah satu The Masters yang dikenal paling bijaksana. Ada alasannya, kenapa selama ia hidup, ia hanya menciptakan dua kaum V. Dirimu dan Marcus."
Felix mengalihkan pandangannya. Ia terlihat memandang jauh ke depan. Mencoba menerawang ke masa lalu.
"Dan ada alasannya, kenapa ia sampai menginginkan seorang anak dari manusia, meski sampai harus mengorbankan masa hidupnya."
"Apa alasannya?"
Pertanyaan itu membuat pandangan Felix mengarah kembali pada Nate.
__ADS_1
"Untuk yang satu itu Nate, adalah tugasmu untuk mencari tahu." Felix tersenyum bijak.