
Beberapa jam kemudian, Stacey kembali ke dalam kabin dan menawarkan makanan pada para tamu-tamunya. Dan seperti yang diduganya, keempat pria itu hanya menggeleng dan kembali membisu.
Wanita itu baru akan berbalik dan kembali ke kokpit ketika terdengar suara Marcus yang serak dan berat. Pria itu berbicara dengan bahasa yang aneh dan sama sekali tidak dimengertinya.
Stacey mengerjapkan matanya, ketika melihat bahwa keempat pria itu ternyata merespon Marcus dengan santai mempergunakan bahasa yang sama.
Sebagai seorang pramugari yang cukup berpengalaman, Stacey mengerti beberapa bahasa. Dan meski tidak fasih, ia masih cukup dapat mengerti permintaan para tamunya bila mereka menggunakan bahasa tertentu.
Tapi kali ini, wanita itu hanya bisa terbengong mendengarkan percakapan para pria yang sama sekali tidak dipahaminya satu kata pun.
Tiba-tiba kepala Marcus menoleh pada dirinya yang masih terdiam di depan pintu kokpit.
"Stacey. Bisa kau siapkan kamar tidur di depan? Salah satu dari kami akan tidur di sana untuk beberapa jam."
Otak Stacey membutuhkan waktu beberapa detik untuk memahami pertanyaan itu.
"Stacey? Kau dengar saya?"
Nada suara Marcus yang ketus dan terdengar menegur, akhirnya membuat Stacey tersadar dan sedikit tergagap.
"Oh. Ba- baik, Pak. Kamarnya akan segera saya siapkan."
Terburu-buru, ia pun segera ke kamar depan dan telinganya masih dapat mendengar keempat pria itu yang kembali bercakap-cakap dalam bahasa asing itu.
Beberapa menit kemudian, pria yang berambut pirang tampak mendorong kursi roda pria tua di depannya. Wajah pria tua itu terlihat lelah dan sakit.
Stacey dapat melihat kalau ketiga pria yang lebih muda tampak mengkhawatirkan pria tua itu. Dan ia memperhatikan ketika pria pirang itu dengan perlahan, membaringkan pria lebih tua itu dengan sangat hati-hati di tempat tidur.
Terdengar suara pria itu yang berbicara dengan bahasa aneh, sebelum akhirnya Stacey mendengar kembali suara Nate yang dalam dan halus.
"Tolong siapkan air putih. Dengan sedotan."
"Ba- baik."
Pramugari itu mengamati kalau Nate sama sekali tidak menoleh padanya ketika berbicara. Pandangan pria itu terarah lurus pada kedua orang yang sedang di tempat tidur.
Ia juga menyadari bahwa pria itu memang tidak pernah memandang dirinya, dan lebih banyak mengalihkan kepalanya ke samping. Berbeda sekali ketika Stacey melihatnya sedang bersama dengan wanita yang tadi ada di bandara. Pria itu terlihat bern*fsu pada wanita itu.
"Apalagi yang kau tunggu?"
Teguran Marcus membuat tubuh Stacey terlonjak kaget.
__ADS_1
"Ma- maaf. Akan segera saya siapkan."
Dengan terbirit-birit, Stacey segera ke arah pantry untuk mempersiapkan pesanan tamunya.
"Lebih baik dia tidak ikut dengan kita lagi, Marc. Ganti dengan yang pria saja."
"Baik Tuan. Tadinya saya mengira orientasi seksualnya memang sudah mantap, tapi ternyata saya salah. Maafkan saya, Tuan."
"Kau jangan menyalahkan Marcus, Nathanael. Itu karena suaramu, kalau kau mau tahu."
"Suara? Apa maksudmu?"
Felix tampak menyuntikkan sesuatu ke lengan Johan yang membuat pria tua itu menjadi sedikit tenang.
"Apa yang kau suntikkan padanya?" Alis Marcus mengernyit dalam.
"Sedikit obat penenang, supaya Master bisa tidur. Perjalanan kita masih sekitar 13 jam lagi."
Perlahan, Felix bangkit dari duduknya dan tersenyum pada Nate.
"Biasanya para wanita akan terbuai dengan suara pria seperti dirimu. Jadi mulai sekarang, lebih baik kau berhati-hati ketika berbicara Nathanael. Terutama dengan para wanita."
Jari-jemari Nate mulai menekan pelipisnya yang terasa sakit. Ia baru tersadar kalau waktu 'makannya' sudah mendekat, membuatnya mulai merasa cepat lelah akhir-akhir ini. Pria itu sedikit menyenderkan tubuhnya ke dinding kamar itu.
Kepala Nate menggeleng dan menepuk bahu asistennya pelan.
"Aku tidak apa-apa, Marc. Jangan terlalu khawatir. Aku akan 'makan' sesuai dengan jadwalku seperti biasa."
Pria itu mengalihkan pandangannya pada Felix yang menatap dirinya dengan intens.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Felix. Karena hal itu tidak berlaku untuk Lin. Dan aku sama sekali tidak peduli dengan reaksi dari wanita lain."
Perkataan Nate membuat Felix terkekeh.
"Tentu saja, Nathanael. Kalau kau lupa, Nona Alina tidak seperti kita. Dia itu bukan manusia, dan juga bukan kaum V yang berasal dari darah. Isterimu itu keturunan murni, langsung dari sang Master sendiri."
Kata-kata Felix membuat Nate mengerjapkan matanya. Salah satu tangannya masih berada di pelipisnya yang saat ini terasa sangat sakit dengan tiba-tiba.
"Terus terang, kita tidak akan pernah tahu kemampuan isterimu itu Nate. Akan ada hal-hal yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh kaum V, yang mungkin bisa dilakukannya. Dan juga sebaliknya. Ia adalah keturunan campuran yang pertama di dunia ini, Nathanael."
Ketukan di pintu kamar membuat percakapan itu terputus dan ketiga pria itu terdiam. Tampak Stacey yang terlihat canggung di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Saya membawakan gelas berisi air, dan juga sedotan."
Malu-malu, wanita itu melirik ke arah Nate yang sedang bersender ke dinding. Pose pria itu yang sedang memegang keningnya, membuat Stacey gatal ingin memotretnya.
Dengan sedikit kasar, Marcus mengambil alih nampan yang sedang dipegang oleh Stacey.
"Lebih baik, kau segera kembali ke kokpit. Jangan keluar kalau tidak perlu, atau saya suruh. Kau mengerti?"
Instruksi Marcus sangat jelas menyiratkan, kalau karirnya sebagai pramugari di pesawat pribadi ini sudah tamat. Stacey benar-benar merutuki kebodohannya saat ini.
"Baik Pak. Saya mengerti. Permisi." Suara pramugari itu terdengar lemah.
Setelah memastikan kalau wanita itu sudah kembali ke dalam kokpit, Marcus pun menutup pintu kamar tidur itu dengan pelan.
"Lebih baik, kita bertiga menunggu saja dalam kamar tidur ini. Ruangan ini cukup luas dan nyaman bagi kita untuk beristirahat."
Felix akhirnya memberikan saran. Ia juga cukup tidak nyaman dengan situasi ini.
Mengangguk pelan, Nate berjalan pelan menuju salah satu sofa di sana dan membanting tubuhnya. Dalam sekejab, pria itu terlihat sudah tertidur dalam posisi duduk.
Kejadian ini membuat Felix dan Marcus saling berpandangan. Mereka cukup aneh melihat Nate yang dengan mudahnya tertidur dalam perjalanan, membuat keduanya merasa iri.
"Apakah kau iri, Marcus? Mungkin kau juga harus segera menikah."
"Ya. Untuk yang satu ini, aku memang iri padanya. Tapi untuk yang lain, entahlah."
Felix terkekeh pelan, dan ia pun kembali duduk di samping tempat tidur Johan.
"Sebaiknya kau juga beristirahat. Perjalanan kita masih sangat panjang."
"Kalau saja aku bisa."
Marcus tampak duduk di samping atasannya dan mengeluarkan laptopnya. Tidak lama, pria dingin itu terlihat fokus menatap layar yang ada di depannya.
Felix mengalihkan pandangannya pada pria tua yang sedang tertidur dengan tenang di hadapannya. Meski Johan bukanlah Master-nya, tapi lelaki inilah yang telah banyak mengajarkan mengenai kehidupan dan kebijaksanaan padanya.
Sosok Alexander Johan meninggalkan kesan untuk banyak dari para kaum V selama hidupnya, baik bagi mereka yang masih hidup atau pun yang sudah tergerus dengan usianya.
Memegang lengan tua Johan, Felix meremasnya dengan lembut.
Paling tidak, ia merasa sudah sangat beruntung dapat melayani pria tua itu di akhir hidupnya. Paling tidak, ia juga dapat mengantarkan pria tua yang baik itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir nanti.
__ADS_1
Dan di sana pulalah, Felix bertekad akan menyelesaikan urusannya dengan seseorang.