Madness

Madness
Chapter 47


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa Nate telah duduk dalam posisi aman, Marcus pun menutup pintu helikopter dan memberikan tanda jempol pada pengemudinya.


Tidak lama, burung besi itu pun melayang di udara membawa serta atasannya dan juga wanita yang saat ini sedang mendampinginya.


Menatap benda hitam yang makin lama makin menjauh itu, akhirnya Marcus menghela nafasnya berat.


Hatinya merasa iri melihat bahwa sekarang atasannya sudah ada yang mengurusnya.


Dengan murung, pria dingin itu pun kembali ke dalam gedung. Di otaknya sudah penuh dengan jadwal-jadwal meeting membosankan yang harus dihadirinya nanti.


Sementara itu di helikopter, kepala Nate menyender di bahu Lin. Ia tampak antara sadar dan tiada. Tampaknya efek kehebohan tadi pagi masih belum hilang. Badannya masih terasa dingin dan berkeringat, membuat Lin sangat khawatir.


Menggenggam tangannya erat, wanita itu mengetatkan pelukannya di pinggang Nate.


Untungnya tadi ia langsung pergi ke kantor setelah pria itu pergi. Lin tadinya berniat untuk bertemu Pak Robertus, untuk membicarakan kemungkinan pengunduran dirinya waktu itu.


Dengan kondisi yang demikian, tegakah dia untuk meninggalkan Nate di kantor sendirian?


Asistennya Marcus, juga merupakan orang yang sangat sibuk. Pria itu tidak mungkin terus-terusan berada di sampingnya. Bagaimana kalau tiba-tiba peristiwa tadi terjadi lagi?


Meski terlihat sebagai hal kecil dan tidak penting, tapi dampaknya pada kondisi Nate membuat hal ini sama sekali tidak bisa disepelekan.


Reaksi pria itu terhadap bau wanita manusia ternyata lebih parah dari perkiraan Lin.


Pria itu benar-benar seperti memiliki alergi yang berat dan akut.


Mengusap-usap punggung pria itu, Lin berbisik pelan.


"Bertahanlah Nate. Sebentar lagi kita sampai di rumahmu."


Beberapa menit kemudian, mereka pun mendarat di private helipad pria itu.


Tidak mungkin menopang beban berat tubuh pria itu sendirian, terpaksa Lin meminta pilot helikopter tadi untuk membantunya.


Cukup susah payah akhirnya mereka berhasil membawa pria besar itu ke kamar tidurnya, yang lokasinya telah diinformasikan oleh Marcus tadi.


Berterima kasih pada pilot helikopter yang baik itu, Lin pun akhirnya menutup pintu akses dan segera ke kamar tidur melihat pria yang masih pingsan itu.


Melihat pria yang sedang terbaring menyedihkan itu, Lin melihat Nate tampak tidak nyaman tidur dengan jas dan rompinya yang terlihat cukup ketat.


Ia sebenarnya ingin menggantikan baju Nate, tapi sadar bahwa tenaganya tidak cukup kuat.


Pria itu terlalu besar dan berat baginya. Ia akan butuh bantuan orang lain bila mau mengganti pakaian pria itu.


Lin membuka sepatu dan kaos kaki Nate. Perlahan ia pun akhirnya hanya membuka kancing rompi dan dasi pria itu. Ia juga membuka kancing kemeja dan ikat pinggangnya, agar pria itu dapat lebih leluasa untuk bernafas.


Memegang perut Nate, Lin merasakan tubuhnya masih berkeringat dan terasa dingin.


Mengusap-usap kepala Nate yang masih belum sadar, Lin pun mengecup keningnya lama.


Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya dan baru akan ke kamar mandi mencari handuk, ketika ponselnya berbunyi.


"Halo. Ya, Pak Robertus. Saya baru mau menghubungi Anda."

__ADS_1


Lin memandang sekilas pada tubuh pria yang masih tergeletak itu, sebelum dengan pelan ia keluar dan menutup pintunya.


Selang beberapa menit kemudian, pria yang tadinya pingsan itu mulai bergerak. Terdengar erangan lirih dari mulutnya.


Perlahan, Nate membuka kedua matanya dan langsung tersadar, kalau saat ini ia sedang berada di kamarnya sendiri.


Pelan-pelan, Nate bangkit dan bersender di kepala tempat tidurnya dengan susah payah.


Meski perutnya masih bergejolak, dan kepalanya pusing tapi setidaknya ia sudah tidak menghirup aroma yang memabukkan tadi.


Nate memegang kepalanya yang terasa sakit, dan melihat kalau kancing rompi dan kemejanya ternyata telah terbuka lebar.


Hari ini, pria itu merasa sangat konyol sekali. Padahal baru tadi pagi ia berfikir tidak akan pernah sakit, nyatanya hanya karena bau wanita manusia, ia langsung ambruk begitu saja.


Apalagi kejadian ketika teman Lin menghajarnya habis-habisan. Bisa saja saat itu Nate melawannya tapi mengingat wanita itu teman Lin, maka tidak mungkin ia bisa memukulnya.


Hari ini, pria itu merasa harga dirinya sudah jatuh-sejatuh-jatuhnya di hadapan Marcus.


Tiba-tiba, Nate mendengar suara langkah kaki dan matanya melebar, saat melihat Lin sedang masuk ke kamarnya sambil membawa sebuah gelas yang sedang mengepul.


"Nate! Syukurlah kamu sudah sadar!"


Tergesa wanita itu duduk di tepi tempat tidur dan memegang wajah Nate. Lega kalau suhunya mulai terasa normal, Lin segera menyerahkan gelas yang dibawanya tadi.


"Minumlah Nate. Ini teh hijau. Bisa mengurangi rasa mualmu."


Mata pria itu mengerjap tidak percaya. Apakah ini mimpi? Lin ada di kamarnya?


Lin menyorongkan kembali gelas yang sedang dipegangnya.


Memandang gelas yang ada di depannya, Nate pun mengambil dan menyesapnya pelan.


Racikan khusus teh hijau Lin membuat perutnya langsung merasa tenang. Dengan perlahan, pria itu pun meminumnya sampai tandas.


Menyerahkan gelas kosong itu pada wanita di depannya, pria itu tersenyum samar.


"Bagaimana perutmu? Mendingan?"


Mengangguk, pria itu tersenyum lebih lebar. "Terima kasih, Lin."


Mendengar kabar yang baik itu membuat Lin mengeluarkan nafas lega.


"Syukurlah Nate. Aku khawatir sekali tadi."


Sekali lagi Lin mengecek suhu di tubuh Nate dan merasa lega. Ia pun akan berdiri sambil membawa cangkir kosongnya ketika tangan Nate refleks menahannya. Membuat wanita itu kembali duduk di sampingnya.


"Kenapa Nate?"


Mata Lin memandang pria di depannya dengan bertanya-tanya. Rautnya polos.


"Kamu butuh sesuatu?"


Pandangan pria itu terlihat berbeda ketika menatap wanita di depannya.

__ADS_1


"Aku mau minta tolong padamu, Lin. Apakah kamu mau mengabulkannya?"


"Memangnya kamu mau minta tolong apa, Nate?"


"Katakan kalau kamu akan mengabulkannya dulu."


Kedua mata Lin mulai memicing memandang pria itu. Terkadang, ia merasa pria ini sedikit licik saat sedang merencanakan sesuatu.


"Kamu tidak akan meminta macam-macam kan?"


"Lin. Aku ini orang yang sedang sakit, memangnya aku bisa meminta apa padamu?"


Wajah Nate yang masih terlihat pucat, membuat rasa kasihan wanita itu membesar.


"Baiklah. Memangnya apa maumu?"


Tersenyum sangat lebar, Nate tiba-tiba mengambil salah satu tangan Lin yang bebas dan langsung mengarahkannya pada area pribadinya.


"Aku ingin kamu memperkosaku lagi. Kamu mau kan?"


Otak Lin sedikit lambat mencerna perkataan pria itu. Dan ketika dengan perlahan kata-kata Nate mulai masuk ke pikirannya, wajah Lin mulai memerah sampai ke telinganya.


"Nate!"


Wanita itu berusaha menarik tangannya, tapi ditahan oleh pria itu. Lin teringat kejadian yang hampir mirip minggu lalu. Pria ini memang benar-benar oportunis!


"Ayolah Lin. Aku benar-benar butuh dirimu saat ini."


Perlahan pria itu mengeluskan tangan Lin ke area pribadinya sendiri. Semakin menekannya.


Geram, Lin meletakkan gelas yang sudah kosong di meja dan ia mendorong dada pria itu dengan keras sehingga menyender kembali di kepala tempat tidur.


Ekspresi pria itu penuh antisipasi. Penampilannya yang berantakan membuatnya terlihat semakin seksi ketika bersender di tempat tidur, membuat Lin memicingkan mata.


"Kamu yang meminta Nate. Jangan salahkan aku nanti."


Dengan agresif, tangan Lin langsung bergerak dan meremas cukup kencang benda yang tadi dipegangnya, membuat Nate sedikit berteriak.


"Lin. Tolong pelan-pelan sedikit. Aku masih sakit."


Nafas pria itu mulai terengah-engah. Matanya terlihat melebar dan mulutnya sedikit terbuka. Ia cukup kaget dengan tindakan Lin yang tidak disangkanya.


Gemas melihat tampang Nate, wanita itu menggunakan kedua tangannya untuk meraup kedua ujung dada pria itu dan mencubitnya kuat, membuat pria itu kembali berteriak.


"Lin!"


Raut wajah pria itu terlihat berkerut dan terkejut tapi matanya mulai menghitam, menandakan hasratnya yang naik dengan cepat. Jantungnya bertalu-talu di dadanya dan nafasnya terdengar memburu. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


Tidak lama, kedua mata Lin pun berubah warna. "Ini kamu yang meminta sendiri, Nate."


Tidak lama kemudian, dari balik pintu kamar yang tertutup itu mulai terdengar seruan dan jeritan-jeritan pendek dari seorang pria, yang terdengar seperti mengalami penyiksaan.


Jika ada yang mendengarnya dan berfikir bahwa telah terjadi pemerkosaan terhadap seorang pria, tampaknya asumsi itu memang benar.

__ADS_1


Seruan dan jeritan itu, lama-lama berubah menjadi suara erangan yang disusul dengan teriakan dari sepasang pria dan wanita yang sepertinya telah berhasil mencapai kepuasan.


__ADS_2