
Selama beberapa jam, Lin menghabiskan waktunya untuk membersihkan bekas-bekas darah yang ditinggalkan oleh Nate di ruang tamu serta lorong apartemennya.
Ia pun akhirnya baru bisa memberikan pakaian pria itu yang cukup kering ketika waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, dan saat ini ia sudah sangat mengantuk.
Mengetuk pintu kamarnya, Lin melihat Nate yang telah duduk di tepi tempat tidur. Pria itu terlihat menunggunya.
"Ini pakaianmu, Nate. Maaf, tadi aku harus menyetrikanya dulu agar lebih kering."
Nate menerimanya masih sambil menundukkan kepala. "Terima kasih."
Menggigit bibirnya kecewa dengan sikap Nate, akhirnya Lin pun memutuskan untuk keluar.
"Aku tunggu di luar."
Lin menunggu Nate keluar sambil menyenderkan kepalanya ke sofa. Ia sebenarnya cukup lelah, tapi merasa bahwa mereka berdua harus segera berbicara. Ia ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin.
Tidak lama, ia mendengar pintu kamarnya terbuka.
Menoleh, Lin melihat bahwa Nate telah rapih dan bersih seperti saat ia datang sore tadi.
Melihat bahwa pria itu tampak ingin menghindari dirinya, Lin memutuskan untuk berbicara lebih dulu.
"Nate. Aku ingin bicara denganmu."
"Sebaiknya tidak hari ini, Lin. Sudah hampir pagi, lebih baik aku pulang sekarang."
Semakin yakin kalau Nate menghindari dirinya, Lin memberanikan diri untuk memeluk tubuh pria itu dari belakang.
"Sebenarnya ada apa, Nate? Beberapa jam lalu kamu tidak apa-apa, kenapa sekarang berubah?"
Lin menyembunyikan wajahnya di punggung hangat Nate. Ia berusaha meredam tangisnya.
Tangan Nate terasa kuat ketika memaksa jari-jemari Lin untuk membuka pelukannya.
"Tolong, Lin. Saat ini, aku butuh ruang untuk berfikir. Lebih baik kita tidak bertemu dulu untuk sementara waktu."
Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan dingin, Nate pun keluar dari apartemen dan menutup pintunya pelan.
Tersadar bahwa pria itu telah pergi, Lin pun langsung berusaha untuk menyusulnya.
Tergesa-gesa wanita itu turun ke parkiran basement, dan ia masih sempat melihat mobil Nate yang tampak terburu-buru keluar dari area gedung apartemen.
"Nate!" Meski tahu teriakannya percuma, namun wanita itu tetap melakukannya.
Setetes air mata turun ke pipinya. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada pria itu? Ia sangat bingung saat ini.
Lesu, Lin pun berjalan di lorong apartemen dan baru akan membuka pintunya ketika ia mendengar suara di belakangnya.
"Dia sudah pergi?"
Saat menoleh, Lin cukup terkejut melihat wajah Dominic yang tampak pucat seperti kekurangan darah. Urat-urat kelabunya terlihat jelas di seputar pipi dan pelipisnya.
Memutuskan untuk mencari informasi dari Dominic, Lin mulai mengajukan pertanyaan yang sejak tadi berputar di benaknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua?"
Wajah pria berambut merah itu sama sekali tidak bersahabat.
Melihat kalau wanita di depannya sama sekali tidak terkejut, Dominic baru tersadar kalau Lin ternyata tahu mengenai rahasia Nate dan dirinya.
"Kamu tanyakan sendiri padanya, apa yang telah dilakukannya padaku tadi."
Lin mengepalkan kedua tangannya. Ia yakin kalau Nate pasti memiliki alasan.
"Nate pasti memiliki alasan kuat, kenapa ia sampai melakukan itu padamu."
Meski tidak tahu secara pasti apa yang telah terjadi tapi mengingat kondisi Nate tadi, Lin yakin kalau keduanya terlibat perkelahian yang cukup berdarah. Ia hanya tidak tahu alasannya.
Sambil mendengus sinis, Dominic tertawa. "Oh ya. Dia punya alasannya."
Jika Dominic tidak bisa memiliki wanita di depannya ini, maka ia juga berniat untuk membuat agar hubungan kedua orang itu akan tidak akan pernah berjalan lancar.
Meski tahu kalau ia sudah melakukan kesalahan fatal pada Nate di masa lalu, tapi Dominic sudah menebusnya seumur hidup tanpa Nate ketahui.
Air mata Dominic telah habis meratapi nasibnya karena peristiwa berdarah yang pernah dilakukannya. Satu peristiwa, tapi telah membuat masa depan keluarganya hancur. Setidaknya keluarga Nate telah tenang di alam sana.
Perlakuan Nate padanya tadi, membuatnya sangat sakit hati dan merasa terhina. Dominic sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan atau pun membela diri.
"Aku sudah membunuh dirinya dulu. Dan juga anak-isterinya."
Informasi yang mengagetkan itu membuat Lin membeku di tempatnya. Ia tahu kalau Nate telah kehilangan keluarganya, tapi sama sekali tidak menyangka kalau mereka dibantai oleh pria di depannya ini.
__ADS_1
Tahu kalau ia telah memberikan terapi shock pada wanita itu, Dominic pun meneruskan hasutannya.
"Apa kamu tahu? Nathanael sangat mencintai isterinya. Sepanjang hidupnya selama ini, dia hanya punya satu keinginan. Apa kamu tahu apa keinginannya?"
Mata Lin bergerak-gerak memandang pria di depannya.
"Apa itu?" Suaranya terdengar pelan.
Tersenyum miring, Dominic berucap, "Menyusul isterinya. Dia bahkan sudah melakukan banyak hal untuk mencapai tujuannya itu."
Sebelum menutup pintu apartemennya kembali, pria itu masih sempat mengeluarkan satu bisanya yang paling beracun.
"Lebih baik kamu melupakan Nathanael. DIa tidak akan pernah mencintaimu. Lelaki itu hanya akan mencintai isterinya. Seumur hidupnya."
Di apartemennya, Lin berdiri di samping meja pantry. Tangannya bertumpu pada meja itu, untuk menopang tubuhnya yang terasa gemetar.
Perkataan Dominic tampak sangat menyakiti hatinya. Meski tahu kalau hal itu bisa saja hasutan, tapi tetap saja perilaku Nate tadi pagi membuatnya merasa sakit hati dan seperti mengkonfirmasi perkataan tetangganya itu.
Saat ini, Lin sudah tidak bisa mengeluarkan air matanya lagi. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Di saat baru mau membuka diri, ia dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan.
Menghela nafas berat, wanita itu akhirnya memilih untuk duduk di sofa. Ia mengusap rambutnya menggunakan kedua tangannya. Kedua matanya memerah.
Tidak. Ia tidak akan semudah itu mempercayainya. Masih ada ayahnya dan juga Felix yang masih bisa menjadi tempatnya bertanya.
Matanya terlihat penuh tekad. Ia akan berusaha mencari tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Nate. Dan apakah benar yang dikatakan Dominic tadi?
Mengenai Nate sendiri, Lin memutuskan untuk memberikan ruang bagi pria itu untuk berfikir, seperti yang dimintanya tadi.
Bagaimana pun, hubungan mereka belum memiliki status yang jelas. Bila memang hubungan ini tidak akan berhasil, maka lebih baik diakhiri sedini mungkin dibanding menyesal kemudian.
Lin sadar kalau hatinya untuk Nate sudah mulai mekar sempurna, dan apabila harus layu tiba-tiba maka ia memilih untuk segera angkat kaki dari kota ini.
Untuk sekarang, wanita itu merasa sangat rapuh bila harus menerima kenyataan, kalau Nate ternyata hanya menganggapnya tidak lebih dari sekedar pemuas hawa n*fsunya.
Menggigit bibirnya, Lin mencoba untuk mempertimbangkan beberapa hal. Setelah merasa yakin dengan keputusannya, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Keesokan harinya, Marcus terlihat memasuki ruangan atasannya di lantai 60.
"Selamat pagi, Tuan."
"Marcus. Apa yang kamu bawa?"
Aura Nate terlihat gelap. Sama sekali tidak seperti dua hari sebelumnya, ketika pria itu terlihat cerah ceria dan penuh gairah hidup. Apa yang terjadi?
"Saya ingin melaporkan investigasi mengenai Allard Corp." Marcus memulai dengan hati-hati.
Mendengar hal itu membuat Nate menghempaskan punggung ke kursi di belakangnya. Ia terdengar menghembuskan nafas dengan keras.
"Aku sudah tahu. Dominic Allard, kan?"
Mata Marcus membola. Ia kaget ketika atasannya ternyata sudah mengetahuinya lebih dulu. Pria dingin itu mengangguk dan melanjutkan.
"Lebih tepatnya buyut dari Dominic Allard. Danielle Allard adalah pemilik resminya."
"Allard memiliki buyut?"
Hati Nate merasa sakit, ketika menyadari bahwa ia telah kehilangan satu-satunya penerusnya dan juga kesempatan untuk memiliki keturunan.
"Kalau Anda masih ingat Tuan, Allard pernah memiliki seorang isteri dulu tapi ia tiba-tiba meninggalkannya tanpa kabar."
Masih menyender di kursinya, Nate mengangguk.
Setelah melakukan pembataian itu, Dominic memang tiba-tiba menghilang. Tidak ada yang tahu mengenai keberadaannya dan bahkan keluarganya pun cukup histeris saat itu.
Meski usianya beberapa tahun di bawah Nate, tapi pria itu lebih cepat menikah dan saat kejadian naas itu, Dominic telah memiliki seorang puteri yang berusia 10 tahun.
Sungguh ironi, ketika orang yang telah menjadi ayah dari seorang puteri, dengan teganya menghabisi nyawa seorang anak dari pria lain.
Melepaskan kacamatanya, Nate mengusap kedua matanya yang terasa sangat lelah saat ini.
"Apalagi?"
"Beberapa puluh tahun yang lalu, sekitar 30 tahun yang lalu, Allard tiba-tiba mengalihkan segala aset dan kepemilikannya pada keturunan langsungnya."
"Tiga puluh tahun yang lalu?" Apa yang telah terjadi 30 tahun lalu?
"Apa yang terjadi 30 tahun yang lalu, sampai Dominic tiba-tiba mengalihkan asetnya?"
Tanpa sadar Nate mengucapkan nama depan pria yang pernah menjadi sahabatnya dulu.
Marcus menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Saat ini, tidak ada yang tahu. Sepertinya kita harus meminta bantuan dari Felix bila mau mengetahui informasi yang lebih lengkap, karena ini tampaknya terkait dengan kaum V."
Pria di depannya terlihat memegang kening dan mengurutnya pelan. Kepalanya terasa sakit saat ini, padahal baru sekitar sebulan yang lalu ia 'makan' dan berhibernasi.
"Terus terang Marc, aku cukup ragu kalau Tuan Felix mau membantu kita. Saat ini, tampaknya ia tidak menginginkan apapun lagi dalam hidupnya. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan, apa yang akan dimintanya nanti untuk pembayaran jasanya."
Marcus menganggukkan kepalanya. Ia menyetujui kecemasan atasannya.
"Ya. Saya juga mengkhawatirkan mengenai hal itu."
Sambil menyender kembali, Nate mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang saat ini bersinar terang. Memperlihatkan cuaca yang cerah, tapi tidak secerah hatinya sekarang.
"Coba gali lagi dari perspektif manusia, Marc. Kalau sudah buntu, baru kita coba minta bantuan Tuan Felix mengenai hal ini."
"Baik Tuan. Saya mengerti."
Pria dingin itu pun pamit. Ketika Marcus hampir mencapai pintu keluar, tiba-tiba atasannya bertanya pelan.
"Apakah kamu sudah melihat Lin hari ini?"
Tangan Marcus sudah memegang pegangan pintu, dan ia sedikit menoleh pada atasannya. Tanpa disuruh, pria itu sudah memonitor pergerakan Alina Johan selama di kantor.
"Nona Alina memutuskan untuk mengambil cuti panjang Tuan, yang dimulai dari hari ini."
Berita ini mengejutkan Nate. Ia sangat merasa bersalah telah mengacuhkan Lin kemarin dan memutuskan untuk meminta maaf padanya.
"Kapan dia akan masuk kembali?"
"Secara tertulis, minggu depan Tuan."
Hati-hati Marcus menjawabnya. Ia tadinya mengira atasannya sudah mengetahui mengenai hal ini. Keterkejutan atasannya menunjukkan kenyataan yang sebaliknya.
"Apa maksudmu secara tertulis, Marc?"
Berbalik, Marcus akhirnya menghadap atasannya. Pria yang masih duduk itu terlihat sedikit gelisah. Tangannya mengetuk-ketukkan meja dengan irama yang cepat.
"Sepertinya ada kemungkinan kalau Nona Alina tidak akan kembali lagi, Tuan."
Gerakan tangan Nate berhenti tiba-tiba. "Dari mana kamu tahu?"
"Robertus mengatakan kalau Nona Alina mengajukan permohonan untuk bekerja dari rumah, dan selama seminggu ini ia akan melakukan serah terima pada penggantinya nanti."
Suasana yang tiba-tiba hening membuat Marcus merasa telah melakukan kesalahan berat.
"Saya kira... Saya kira Anda berdua telah membicarakannya sebelumnya."
Baru kali ini nada bicara Marcus sedikit terbata-bata. Ia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata ada masalah antara atasannya dengan wanita itu.
"Tolong tinggalkan aku, Marc."
Akhirnya Nate berkata. Ia memalingkan wajahnya dari asistennya.
Marcus menatap nanar muka atasannya yang terlihat keruh. Ia menundukkan kepalanya.
"Baik Tuan. Saya permisi."
Sepeninggal Marcus, Nate bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela besar yang memanjang sampai ke ujung ruangan.
Pandangan Nate terlihat kosong ketika memandang ke luar. Saat ini, pria itu merasa galau.
Pertemuannya dengan Dominic membuat luka lamanya terbuka kembali. Ia sendiri terkejut saat mengetahui kalau lukanya masih berdarah dan belum sembuh dengan sempurna.
Dengan kondisinya yang tidak stabil sekarang, Nate tidak tahu apakah ia dapat memulai untuk menjalin hubungan baru dengan orang lain.
Hatinya yang tadinya telah mantap untuk memilih Lin, tampak mulai goyah. Bukan karena perasaannya pada wanita itu yang berkurang, melainkan karena ia sendiri masih belum yakin sudah dapat melangkah dan berani untuk mengambil resiko baru.
Nate menyadari kalau Lin masih muda. Jalannya masih panjang. Ketertarikan Dominic pada wanita itu menunjukkan bahwa besar kemungkinan akan muncul pria-pria lain dalam kehidupan Lin nantinya.
Sebagai seorang pria, tadinya Nate cukup memiliki kepercayaan diri yang besar untuk mengklaim wanita itu menjadi miliknya. Tapi sekarang?
Apalagi dengan penolakan dari Johan yang terang-terangan menganggap pria itu tidak pantas untuk puterinya.
Sanggupkah ia mengambil resiko untuk patah hati kedua kalinya? Dan kali ini, besar kemungkinan kalau ia tidak akan pernah dapat bangkit lagi dari keterpurukannya.
Nate menengadah dan menutup kedua matanya yang terasa memanas.
Benar kata Johan kemarin, kalau ia adalah seorang pengecut.
Saat ini, Nate benar-benar merasa menjadi seorang pengecut.
Ia tenyata hanyalah seorang pria pengecut yang bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengklaim wanita pertama yang pernah dicintainya.
__ADS_1