Madness

Madness
Retak


__ADS_3

Ini hanyalah sebuah karya fiksi. Nama, tokoh, cerita/peristiwa merupakan unsur fiktif belaka, yang diciptakan oleh "saya" selaku penulis cerita.


Warning! Cerita ini dibuat hanya sebagai sarana hiburan, tidak untuk dipraktikkan atau pun dicontoh beberapa unsur di dalamnya.


Noted: Berdasarkan banyak alasan saya mengubah seluruh isi cerita dari yang pernah diterbitkan sebelumnya. Terima kasih.


..


...


🌸Retak


Hoseok diam, menatap pantulan dirinya dari cermin besar di hadapannya. Seluruh permukaan cermin itu pecah, retak parah tanpa terjatuh dari kusen yang menyangganya. Hanya ada satu potongan yang hilang dari sana, yang saat ini berada dalam genggaman Hoseok.

__ADS_1


Cairan merah  kental menetes dari ujung rambut yang basah, bahkan wajah tampan itu sudah terkotori oleh cairan yang sama. Merah. Aroma besi tercium begitu pekat, tentu, karena bukan hanya wajah saja yang kotor akibat darah, tetapi seluruh tubuh itu bersimbah darah. Kemeja putih yang Hoseok kenakan beserta celana krem pendeknya telah ternodai merah. Berubah warna dari yang seharusnya


Kendati, Hoseok sama sekali tak merasa sakit maupun tampak memiliki luka. Wajar saja, kulitnya bahkan hampir tidak memiliki goresan apa pun kecuali pelipisnya yang lecet, dan mengeluarkan darah akibat benturan yang membuat cermin besar itu retak di berbagai sisinya.


Bukan hanya sekali kepala Hoseok membenturã…¡sengaja dibenturkanã…¡pada kaca itu, tetapi berkali-kali.


Namun anehnya, tak ada sedikit pun penyesalan. Nurani yang sempat Hoseok miliki sepertinya sudah hilang! Lelaki berusia 26 tahun itu bahkan terkekeh kala menyadari perbuatannya. Rasa puas menjalari hati, membuat senyumnya berkembang semakin lebar, ia senang. Sangat, sangat, sangat senang, dan puas.


Satu penghalang sudah ia lenyapkan.


Puas dengan apa yang dilihatnya fokus Hoseok beralih ke arah lain. Senyuman manis ia kembangkan dengan bola mata yang menyipit indah.


Sungguh, jika Hoseok menyerupai malaikat dengan senyum yang seindah itu.

__ADS_1


"Jiminie."


Langkah Hoseok terselok menuju ke sudut ruangan, menghampiri Park Jimin yang meringkuk shock mendapati kekasihnyaã…¡orang yang sangat ia cintai mati mengenaskan.


Bibir penuh itu bergetar, pun tubuh dan kakinya. Persendiannya terasa lumpuh total, tidak mampu digerakan. Jangankan untuk berlari dari jelmaan monster yang berjalan ke arahnya, merangkak saja Jimin tak sanggup.


"Yoonji-yya." Hanya itu yang mampu digumamkan di antara getar ketakutan. Juga kepedihan.


"Sst ... jangan menangis." Hoseok memeluk tubuh rapuh Jimin, membenamkan kepala pemuda manis itu pada dadanya yang bidang, sementara tangan Hoseok yang lain melingkari tubuh Jimin. Mengusap-usap lembut punggung bergetar itu dengan penuh perasaan. Mencoba menenangkan.


Bak bocah manis yang polos, Hoseok sama sekali tidak menyadari ketakutan yang Jimin tunjukkan, dan bahwa lelaki bermata kecil itu gemetaran, seolah tidak terasa oleh Hoseok. Atau mungkin Hoseok hanya mengabaikan.


Entahlah.

__ADS_1


Aroma amis yang menyengat tercium pekat, Jimin merasa perutnya seperti dipilin-pilin, tapi tak berdaya untuk sekadar mendorong menjauh tubuh Hoseok yang lebih besar darinya. Daya yang ia miliki telah tersedot habis kala melihat ekspresi mati dari gadis yang ia cintai. Jimin diliputi penyesalan dan rasa bersalah karena tak mampu lakukan apa pun sementara kekasihnya dibantai habis di depan mata.


🌸Mon30****82021


__ADS_2