
Kepala Lin terasa diusap-usap dan sayup-sayup, wanita itu mendengar seseorang memanggilnya lembut.
Membuka matanya dengan lebar, wanita itu menengadah dan matanya berhadapan dengan pria bermata kelabu yang sedang tersenyum padanya.
"Kamu sudah bangun, Lin?"
Menegakkan tubuhnya, wanita itu sadar bahwa ia ternyata telah tertidur dan masih berada di atas tubuh Nate. Keduanya dalam keadaan polos seperti tadi malam.
Mata Lin menyelidiki wajah pria di bawahnya dan perlahan tangannya membolak-balikkan kepala pria itu ke kiri dan ke kanan.
"Lin?" Pria itu bertanya pelan pada wanita di atasnya.
"Kamu benar-benar sudah sadar, Nate?"
Tersenyum, pria itu mengangguk.
"Ya. Maaf, tadi aku- Ugh!"
Belum sempat Nate menyelesaikan kalimatnya, kedua tangan Lin telah meremas dadanya kencang. Wanita itu benar-benar ingin memastikan bahwa pria itu telah sadar sepenuhnya.
Mata Nate terlihat bingung dan bertanya-tanya. Salah satu tangannya refleks memegang pergelangan Lin yang masih berada di dadanya.
"Lin? Kenapa- Ah!"
Tangan wanita itu yang masih bebas, dengan cepat mengarah ke bawah, kembali memberikan rangsangan seperti yang diberikannya tadi saat pria itu tidak sadar.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini tubuh pria itu memberikan reaksi yang kuat. Pria itu terlihat sangat kaget sekaligus merasa hasratnya mulai naik dengan cepat.
Pergelangan tangan Lin yang sedang digenggamnya pun terlepas.
"O- Oh!"
Ia masih merasa bingung dengan keadaan ini, tapi terlihat tidak mampu menolak apapun yang sedang dilakukan oleh wanita itu pada tubuhnya. Benak pria itu mulai terasa berputar-putar.
"Lin... Oh!"
Masih belum puas, wanita itu mulai meremas benda di tangannya dengan cukup kencang, membuat tubuh pria di bawahnya bergetar hebat.
"Li- Lin!"
Nafas pria itu terengah-engah dan jantungnya berdebar dengan sangat kencang ketika menerima tiba-tiba rangsangan yang kuat dari wanita yang ada di atasnya tanpa aba-aba.
Kelakuan wanita ini benar-benar membuat akal sehatnya menghilang dengan sangat cepat.
Kedua tangannya pun meremas kedua pipi bokong wanita itu, dan sedikit menamparnya.
Dengan cepat, wanita itu pun memposisikan dirinya dan segera melakukan penyatuan.
Kepala Nate menengadah tinggi di tempat tidur ketika merasakan sensasi luar biasa ini, lehernya terpampang jelas di hadapan wanita itu. Pria itu merasa sangat gila sekarang.
Lin pun menyurukkan wajahnya di leher Nate dan mengulum jakun pria itu, yang terasa naik turun dengan sulit di dalam mulutnya.
"Ah! Lin...!"
Wanita itu dapat merasakan getaran di tenggorokan pria itu ketika keduanya mulai bergerak seirama dengan cepat, dan semakin cepat.
Keduanya saling memompa dengan cepat, sampai pada akhirnya pelepasan yang luar biasa kembali terjadi dan Lin pun ambruk di atas tubuh pria itu.
Saling memeluk erat, wanita itu dapat merasakan kedua tangan Nate yang meremas pipi bokongnya, perlahan mulai naik ke punggungnya. Mengelus-elusnya dengan lembut.
Wanita itu juga dapat mendengar debaran jantung pria di bawahnya yang kencang dan tidak beraturan. Alunan nafasnya pun terdengar cepat dan masih memburu.
Pria itu akhirnya menyentuhkan bibirnya ke telinga Lin.
"Lin. Apakah kamu sadar? Kamu telah memperkosaku tadi."
__ADS_1
Suara pria itu terdengar seperti *******. Tenaganya habis karena wanita nakal ini.
Mendengar bisikan di telinganya, membuat wanita itu menengadah memandang pria di bawahnya yang ternyata sedang tersenyum padanya. Kedua matanya terlihat sayu dan puas.
Kedua tangan Lin memegang sisi leher Nate dan memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa kan, Nate?"
Sadar kalau Lin benar-benar mengkhawatirkan dirinya, Nate pun mengangkat tubuh wanitanya dan berjalan pelan ke arah kamar mandi.
Berada di gendongannya, Lin melingkarkan kedua tangannya di bahu pria itu dengan erat. Kedua kakinya pun melingkari pinggang pria itu seperti koala.
Ia benar-benar merasa takut kehilangan pria yang berada di pelukannya ini.
Sampai di dalam kamar mandi, kembali mereka mengulangi kegiatan yang sama dan baru akhirnya saling membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah berpakaian dan sedang duduk di kursi pantry.
Nate tampak sedang memasakkan sesuatu untuk Lin, dan wanita itu menopangkan dagu di meja pantry.
Ia memperhatikan prianya yang bolak-balik menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Tidak lama, tampaklah beberapa sajian rumahan yang meski sederhana tapi terlihat lezat.
"Kamu bisa memasak, Nate? Aku kira kalian tidak makan masakan manusia."
Lin bertanya sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Rasanya lezat.
Membersihkan sedikit makanan dari sudut mulut Lin, Nate pun mengangguk kecil.
"Ya. Meski seleraku berubah, tapi terkadang aku juga rindu untuk memakan makanan manusia. Bagaimana pun sebelum periode 'makan', aku tetap akan membutuhkan sedikit asupan energi untuk kegiatan sehari-hari."
Penjelasan Nate membuat kepala wanita itu mengangguk-angguk, tanda mengerti.
Tangkas, ia pun segera membereskan sisa makanan dan mencuci piring bekas makan mereka. Dengan senang hati, pria itu membantunya mengeringkan piring yang telah tercuci bersih dan meletakkannya dengan rapih di rak.
Wanita itu akhirnya memandang pria di sebelahnya.
"Nate. Sebetulnya apa yang terjadi tadi? Kenapa kamu tiba-tiba seperti pingsan?"
Tersenyum, Nate pun mengambil gelas Lin dan meletakkan kedua gelas di tangannya ke atas meja yang ada di depannya.
Perlahan, pria itu mengangkat kedua kaki wanita itu ke pangkuannya dan sedikit menariknya, membuat tubuh Lin mendekat dan akhirnya menyender padanya.
Mengusap-usap punggung wanita itu pelan, Nate pun mulai menjelaskan.
"Sebenarnya kegiatan di tempat tidur merupakan salah satu cara kaum V untuk beristirahat."
Penjelasan ini membuat kepala Lin terangkat dan memandang wajah pria itu.
Mencium singkat bibir wanitanya, Nate kembali melanjutkan.
"Kaum V hampir tidak pernah tidur, Lin. Kami hanya bisa tidur ketika selesai 'makan' atau melakukan kegiatan yang tadi sudah kita lakukan."
Dahi Lin mengernyit. "Jadi, kalian tidak pernah tidur?"
Perlahan, kepala Nate menggeleng.
"Hampir tidak pernah. Karenanya bawah mata kami menghitam, kalau kamu perhatikan."
Jari-jari Lin mengusap bagian bawah mata pria itu yang memang sedikit menghitam.
"Tapi tadi kamu tidur lama sekali."
Terkekeh, pria itu menggosokkan hidungnya ke hidung mungil wanita di depannya.
__ADS_1
"Kalau kamu mau tahu, semakin seorang V menyukai pasangannya, maka waktu tidurnya pun akan semakin panjang."
Jawaban itu membuat pipi Lin merona. Wanita itu mengusap-usap pipi prianya lembut.
"Apakah sekarang kamu akan tertidur lagi?"
Ia teringat bahwa tadi pun, mereka baru saja mengulangi kegiatan yang sama.
Kepala Nate menggeleng lagi.
"Tidak juga. Selama masih tersisa energi dari istirahat sebelumnya, maka kami tidak akan membutuhkan tidur kembali dalam waktu dekat."
Jawaban itu membuat tangan Lin dengan perlahan menyusup ke area dada pria itu yang terbuka. Beberapa kancing kemejanya yang telah terlepas, membuat pria itu tidak bisa menutupi area dadanya dengan sempurna.
Jari-jemarinya telah menangkup salah satu dada liat Nate dan dengan perlahan meremasnya. Ia pun mulai memainkan ujungnya dengan gemas.
Nafas Nate mulai terdengar berat, dan tangannya yang memegang kaki Lin terasa mengerat.
"Lin..." Pria itu mendesah dan menutup matanya.
Keduanya mulai dipengaruhi kembali dengan hasrat liar mereka.
Perlahan, kepala Nate turun dan mengarah ke wajah wanita di pelukannya. Tatapannya fokus pada bibir terbuka wanita itu yang membuatnya tergila-gila.
Mulut keduanya hampir saja bertemu, ketika terdengar deringan yang memekakkan datang dari arah kamar tidur yang terbuka.
Menyatukan kening keduanya, Nate menarik nafas dalam. Pria itu mengangkat wajahnya, dan melihat muka wanitanya yang ternyata telah memerah seperti tomat.
"Aku harus mengangkatnya."
Malu, wanita itu pun mengangguk dan mengangkat kedua kakinya dari pangkuan pria itu.
Lin menatap sosok tinggi Nate yang masuk ke kamar tidurnya. Ia pun mengalihkan pandangan dan memaki dirinya, yang tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh pria itu.
Meraih gelas di meja, wanita itu pun kembali menyesap tehnya yang masih cukup hangat.
Ia baru saja menyesap tehnya beberapa kali, ketika merasakan beban berat di sofa di sebelahnya. Nate ternyata telah kembali duduk di sampingnya.
Pria itu dengan santai mengangkat kedua kaki Lin dan meletakkan di pangkuannya seperti tadi. Terlihat ponselnya yang terjepit di antara telinga dan bahunya.
"Ya Marc. Maaf, aku baru menjawabmu sekarang."
Posisi Lin ditempatkan seperti sebelumnya. Tubuhnya menyender lagi ke dada pria itu.
Selama beberapa saat, pria itu mendiskusikan masalah pekerjaan dengan asistennya di telepon. Tanpa sadar, tangan pria itu mengusap-usap naik turun di punggung wanitanya.
"Ya. Kamu boleh menjemputku sekitar 30 menit lagi, Marc."
Setelah itu, sambungan telepon pun diputuskan.
Mendengar hal itu, dahi Lin mengernyit.
"Kamu mau pulang sekarang?"
Meletakkan ponselnya di meja, tatapan Nate beralih ke wanitanya.
"Ya. Aku harus mengambil pakaianku dulu di rumah kalau mau menginap di tempatmu. Besok, aku mau berangkat langsung ke kantor dari apartemenmu. Hari ini aku sudah bolos karena kamu, Lin."
Pandangan Lin menunduk mendengarnya. Pipinya kembali merona.
"Boleh kan kalau aku menginap di sini?" Tangan Nate memegang dagu wanita itu.
Malu-malu, Lin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia kembali menyurukkan kepalanya ke leher Nate.
Pria itu sebenarnya ingin langsung memboyong Lin ke rumahnya, tapi ia khawatir kalau wanita itu masih belum siap.
__ADS_1
Nate semakin mengencangkan pelukannya ke tubuh Lin yang meringkuk di dadanya.
Pelan-pelan, ia akan mengarahkan Lin agar mau pindah ke tempatnya. Yang penting sekarang, wanita itu telah menjadi miliknya seorang dan tidak ada yang akan bisa mengklaimnya lagi.