
Malam hari, hari-H kecelakaan. Jam 18.30.
"Apakah itu benar, Nick?"
Kepala Nick mengangguk, mendengar pertanyaan dari Tom. Keduanya akhirnya bertemu kembali di kantor, setelah masing-masing saling mengumpulkan informasi dari luar.
"Kasus ini terus terang sangat aneh. Dari mulai korban yang menghilang, dan namanya yang tidak jelas. Apakah wanita itu bernama Alina Johan atau pun Alexandra Johanes. Belum lagi kaitannya dengan orang bernama Nathanael atau N. Axelle sebagai owner NAMAC Inc."
Nick menjambak rambutnya yang berwarna cokelat muda.
"Nama kedua wanita itu, Alina Johan atau Alexandra Johanes, keduanya sama sekali tidak ditemukan dalam data kita. Wanita itu seperti tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja. Sungguh kasus yang aneh."
Sedikit frustasi, Nick terlihat mengotak-atik komputer yang menyala di depannya.
"Aku juga tidak bisa menemukan data apapun terkait dengan Nathanael Axelle."
"Mungkin. Tapi aku bisa menemukan berita tentang N. Axelle."
"Apa saja yang kau temukan?"
"Di mesin pencarian, orang itu bisa dikatakan salah satu orang yang terkaya di dunia. Selain pemilik NAMAC Inc. yang tersebar di seluruh dunia, orang itu juga adalah pemegang saham di beberapa lini bisnis yang lain. Ia juga memiliki bandara dan pesawat pribadi, termasuk juga helikopter. Saking kayanya, tidak ada yang bisa menaksir kekayaannya dengan tepat."
Mata Tom membelalak. "Kau yakin, Nick?"
"Karena kau bertanya seperti itu padaku Tom, aku jadi tidak yakin lagi. Kehidupan orang ini benar-benar seperti di novel."
"Apalagi yang kau temukan?"
"Hanya satu hal yang memang aneh tentang orang itu."
"Apa itu?"
"Tidak ada yang tahu siapa orang itu. Apakah dia pria atau wanita, dan berapa umurnya. Tidak ada yang pernah melihat sosok N. Axelle yang sebenarnya, membuat nama itu seperti hanya mitos bagi sebagian besar para karyawannya dan juga kalangan pebisnis."
"Tapi artikel yang kau katakan tadi?"
"Artikel itu ditulis oleh salah satu eks karyawan NAMAC Inc., tapi dia sendiri tidak pernah mau menceritakan dengan jelas siapa itu N. Axelle. Ia hanya mau membagikan informasi mengenai perkiraan kekayaan orang itu, karena sebelumnya memegang laporan keuangannya."
NIck menyenderkan tubuhnya dengan lesu.
"Sepertinya orang yang pernah bertemu dengan N. Axelle menandatangani perjanjian khusus untuk tidak menceritakan apapun. Dan yang paling penting, si penulis artikel itu sedang dipenjara saat ini karena kasus korupsi yang dilakukannya di perusahaan itu. Hal ini membuat informasi yang ditulisnya pun menjadi tidak bisa terlalu diandalkan."
Tom mengusap keningnya. Pria itu tampak pusing saat ini.
"Kenapa jadi serumit ini? Aku hanya ingin tahu siapa nama pria berambut hitam itu agar bisa menghubunginya. Kenapa informasinya sampai sejauh ini?"
"Tapi Tom, kalau memang pria itu bernama N. Axelle atau pun Nathanael Axelle, maka kau mungkin bisa lebih tenang."
Senyuman Nick terlihat lebar, membuat Tom mengernyit memandangnya.
"Maksudmu?"
"Jika memang dia adalah pemilik NAMAC Inc., apa menurutmu dia akan melepaskan orang yang telah mencelakai isterinya? Kalau memang sekaya itu, dia dapat membuat kerajaan Matthews terutama Dave Matthews akan runtuh dengan sangat mudah."
__ADS_1
Terlihat sinar harapan dari kedua mata Tom. Ia baru saja akan berbicara ketika telepon di mejanya berbunyi dengan nyaring.
"Dengan Tom di sini."
Raut santai Tom perlahan berubah mulai menegang, membuat Nick berhenti menatap layar komputernya dan fokus memperhatikan rekannya yang sedang menerima telepon.
"Saya mengerti. Jadi, Anda akan mengirimkan bukti-buktinya sekarang?"
Baru saja Tom selesai berbicara, terlihat salah satu petugas melemparkan dokumen yang cukup tebal di mejanya dan berlalu pergi.
Tergesa, Tom membuka dokumen yang baru tiba itu dan matanya langsung membelalak melihat isi di dalamnya.
Kedua tangannya gemetar saat menyadari bahwa informasi yang diterimanya ini akan menjamin kehidupan karirnya dan juga rekannya nanti.
"Baik. Saya mengerti. Saya akan melakukannya sesuai dengan keinginan Anda. Terima kasih banyak atas bantuannya Pak Marcus."
Tom meletakkan gagang teleponnya dengan pelan. Pria itu menatap rekannya yang terlihat ingin tahu di seberang mejanya.
"Tadi itu Marcus?"
Rekannya mengangguk, nafasnya sedikit gemetar. Ia berusaha menenangkan diri saat ini. Dengan pelan, pria itu menyodorkan dokumen yang tadi telah dibacanya sekilas.
"Apa ini?"
Nick menerima dokumen itu dan dengan teliti membacanya satu demi satu. Awalnya alisnya terlihat berkerut, dan lama-lama mulutnya membuka lebar. Ia akhirnya menengadah dan memandang Tom yang memiliki ekspresi yang sama dengan dirinya. Ekspresi takjub.
"Kau dapatkan ini dari dia?"
Kepala pria itu mengangguk. Matanya terlihat berbinar.
Pria di depannya memandang Tom ingin tahu. "Apa yang dimintanya, Tom?"
"Kita sama sekali tidak menyinggung apapun terkait dengan nama N. Axelle atau pun Nathanael Axelle. Ia juga meminta kita untuk tidak mengungkit atau bertanya apa pun lagi mengenai wanita yang menjadi korban itu."
Mata Nick mengerjap cepat. Seberapa menakutkan jaringan informasi seorang pria bernama Marcus, sampai ia dapat mengetahui penyelidikan mereka sedetail itu?
"Tapi kalau permintaannya seperti itu, hal ini hanya menguatkan-"
"Benar, tapi juga sekaligus tidak benar. Kita sama sekali tidak memiliki bukti apapun terkait nama orang itu, selain dari asumsi dan potongan-potongan informasi yang kita dapatkan dari orang lain. Tidak ada informasi yang benar-benar valid dan langsung berasal dari sumbernya."
Kepala Nick mengangguk-angguk. Ia kembali menelaah salah satu dokumen di tangannya.
"Tuntutan dari Marcus pada Matthews pun, sebatas tuntutan dari perusahaan untuk perlindungan kerja terhadap karyawannya. Sama sekali tidak menyinggung hal yang membawa nama pribadi atau apapun itu."
Tom memandang mata Nick yang sedang duduk dengan bingung di hadapannya.
"Bagaimana menurutmu, Nick?"
Rekannya menghela nafas dalam. Ia membanting dokumen tebal itu ke mejanya dan menyenderkan punggungnya pada kursi di belakangnya.
"Kenapa kau bertanya padaku, Tom? Menurutku jawabannya sudah jelas."
Terlihat cengiran lebar dari mulut Tom. Pria itu mengulurkan tangan pada rekannya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita sepakat?"
Tersenyum, Nick menyambut uluran tangan itu.
"Sepakat. Lagi pula, menyelidiki tentang N. Axelle atau apapun itu, tidak akan memberikan keuntungan pada kita sebagai petugas polisi. Kita hanya akan menyelidiki sesuatu, kalau hal itu memang dapat membantu kasus yang sedang kita tangani bukan?"
"Betul sekali. Kau memang benar-benar partnerku, Nick."
Di saat yang sama, Nate menerima telepon dari Marcus yang mengabarkan kalau atasannya tidak perlu khawatir tentang pria yang telah mencelakai isterinya. Asistennya telah membereskan hal tersebut dan memastikan, kalau si penabrak akan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.
Berterima kasih pada asistennya yang memang dapat diandalkan, Nate kembali memfokuskan dirinya untuk memompa darahnya ke kantong. Ini adalah ketiga kalinya pria itu melakukannya, dan ia mulai merasakan badannya lemas dan juga pusing.
Keluar dari kamar mandi, pria itu mengganti kantong transfusi isterinya dengan yang baru. Ia juga mengkonsumsi kantong darah lain yang telah diambilnya di kamar mandi tadi.
Setelah membuang kantong yang telah kosong itu ke tempat sampah, Nate kembali memeriksa tubuh bagian bawah isterinya dan melihat kalau pendarahan Lin semakin lama semakin berhenti. Pria itu pun kembali mengganti handuk isterinya dengan handuk bersih.
Dengan perlahan, Nate membersihkan sisa-sisa darah dari kamar tidurnya dan membawa handuk-handuk kotor ke ruang laundry untuk dicuci. Ia sama sekali tidak mau isterinya terbangun dengan kondisi kamar tidur yang berbau anyir dan juga kotor.
Baru saja Nate menyetel mesin cucinya untuk bergerak otomatis, tubuh pria itu tiba-tiba oleng dan terbanting dengan cukup keras di ruang laundry itu.
Menatap langit-langit dari lantai ruang laundry yang dingin, pria itu mengingat masa lalunya ketika ia pertama kali diubah oleh Johan. Saat itu, ia juga terbaring di lantai yang dingin dan menatap langit-langit di atasnya.
Ia kembali merasakan rasa putus asa yang sama seperti yang dirasakannya ketika itu. Bedanya adalah, saat itu ia ingin mati karena tidak bisa menyelamatkan keluarganya. Tapi sekarang, Nate sedang berjuang untuk hidup agar dapat menyelamatkan isteri dan juga anaknya.
Pria itu merasa kalau ia masih punya harapan.
Pikiran itu membuat Nate memaksa dirinya untuk bangun. Dengan tertatih-tatih dan berpegangan pada dinding, pria itu menyeret tubuhnya kembali ke kamar tidur.
Dini hari, H+1 setelah kecelakaan. Jam 02.45.
Perlahan tapi pasti, Nate dapat merasakan gelenyar di kedua kakinya yang mulai mati rasa. Dengan tanpa diinginkannya, kedua kakinya bergerak merapat dan dalam posisi yang lurus.
Terengah-engah, kepala pria itu menoleh pada isterinya.
"Li- Lin. Ti-tidak. Jangan..."
Semakin lama, ia merasa semakin sulit untuk berbicara.
Pria itu mulai merasakan gelenyar itu bergerak naik ke arah sel*ngk*ngannya dan dengan cepat mengarah ke pinggangnya.
Meski ia berusaha menahannya, tapi kedua tangannya bergerak sendiri dan membentuk posisi melipat keduanya di perut dengan tangan yang memakai cincinnya berada di atas.
Ia mulai merasakan detak jantungnya melambat drastis, dan Nate masih berusaha menoleh pada Lin yang berada di sampingnya.
"Lin..."
Lehernya menegang, memperlihatkan urat-urat lehernya yang menonjol saat pria itu dengan terpaksa menengadah dan memalingkan wajahnya dari isterinya.
Nate merasakan kesemutan yang amat sangat bergerak dari arah pipinya dan juga ubun-ubunnya, menuju tengah wajahnya.
Kedua matanya membalik ke atas, memperlihatkan sisi putih dari bola matanya yang perlahan menutup. Gigi-gigi yang ada di mulutnya pun otomatis merapat, dan mulutnya menutup. Ia sudah tidak bisa berbicara dan melihat lagi. Kesadarannya pun lama-lama menghilang.
Pria itu sudah memasuki masa hibernasinya.
__ADS_1
Lin. Aku mencintaimu. Kamu harus selamat. Kamu harus selamat, sayang.