
Ini hanyalah sebuah karya fiksi. Nama, tokoh, cerita/peristiwa merupakan unsur fiktif belaka, yang diciptakan oleh "saya" selaku penulis cerita.
Warning! Cerita ini dibuat hanya sebagai sarana hiburan, tidak untuk dipraktikkan atau pun dicontoh beberapa unsur di dalamnya.
Noted: Berdasarkan banyak alasan saya mengubah seluruh isi cerita dari yang pernah diterbitkan sebelumnya. Terima kasih.
..
..
🌸 Makanan
Melangkah cepat dengan kaki yang lemas tidaklah mudah. Butuh tenaga ekstra untuk dilakukan terlebih saat kepanikan ikut menyerang.
Peluh membasahi seluruh tubuh, deru napas memburu ciptakan kesesakkan yang luar biasa menyakitkan. Diiringi suara ketukan sepatu aku melangkahă…ˇsetengah berlari, menyongsong cahaya. Pun keramaian di ujung jalan sana sepertinya akan menjadi tempat aman untukku berjalan. Tidak di gang sepi, lembab dan gelap ini. Kapok rasanya untuk lewat sini lagi. Terlebih saat aku menoleh ke belakang sepasang mata merah menyala menyorotiku tajam.
"Aku tidak akan ke sana lagi!" tekanku tanpa sadar bersuara mengundang pandangan heran dari orang-orang.
Menunduk untuk sembunyikan wajah maluku, aku ikut membaur di keramaian. Berusaha melupakan ekspresi mengerikkan dari makhluk itu.
Pagi menyambutku lebih cepat dari biasanya ini karena makhluk itu. Masuk ke kamar, aku ingin istirahat lebih lama.
"Keana, baru pulang?" tanya sebuah suara. Melirik sekilas kuputuskan untuk tidak menjawabnya. Gara-gara siapa juga aku sampai telat pulang begini.
Mengabaikan panggilannya di balik pintu kamar, mata lelah ini terpejam. Tidur di lantai sepertinya menyenangkan.
*
Guncangan pelan membuatku terjaga. Menggeser pintu di atasku dan duduk.
"Semoga bukan aku yang membuatmu terjaga." Senyum lebarnya menghiasi wajah.
Aku mendengkus. "Kenapa memasukkanku?" tanyaku, ingat pagi tadi tidur di lantai yang nyaman dan bukan tempat tidur pengapku.
Mengekor di belakang dia menjawab, "Kau harus istirahat."
Istirahat? Tcih! Yang benar saja. Dia yang membuatku lelah, bekerja sampai malam juga mencari makanan.
"Maafkan aku, Ana." Suaranya terdengar pilu. "Mulai sekarang aku yang siapkan makanan."
Keningku mengkerut. Dia tidak sedang bercanda, kan?
__ADS_1
"Kau ... yakin?" tanyaku ragu.
"Tentu saja. Buatmu apa pun kulakukan."
Buatmu, apa pun kulakukan..., kepalaku mengulang. Menatapnya takjub, aku belum pernah diperhatikan seperti ini terlebih oleh manusia yang kastanya berada jauh darikuă…ˇbagiku, mereka hanya buruană…ˇtapi mendengar yang Adrian katakan, kenapa perasaanku menghangat?
"Baguslah," aku mengangguk, mencoba kembali bersikap biasa, "mana makan malamku?" tanyaku, menatap lurus padanya.
Mendekat Adrian menarik kerah kausnya, memanjangkan leher ia sukses membuatku tertawa.
"Kenapa?" Sorot matanya menatap polos.
Memegang perut yang sakit karena tertawa, aku menjawabnya. "Tidak perlu begitu, berikan saja tanganmu."
Tangannya diangsurkan. Aku menyeringai, dia laki-laki, tapi kenapa sepenurut ini? Manis sekali.
Kudengar ia meringis saat gigi taringku terbenam di kulit lengannya. Mulai menyesap, rasa manis terkecap lidah.
"Eh!" Ia terkejut saat aku menjauhkan lengannya. Bekas gigiku terlihat di kulit putihnya, meninggalkan dua bercak merah. "Sudah?" tanyanya lagi.
Aku menyeka mulutku. "Mau dihabisi, ya?"
Ia bergidik. Aku memeluknya. "Adrian enak, gak bisa dihabisin gitu aja," gumamku, jujur.
*
Gawaiku bergerak di saku celana. Mengambilnya, kulihat beberapa panggilan tak terjawab berasal dari nomor yang sama. Adrian.
Jam menunjukkan pukul satu. Waktu kerjaku masih tersisa satu jam lagi. Kenapa dia menelepon?
"Ana?" Bahuku ditepuk dari belakang, kulihat Nana menatap heran padaku mungkin dia menyadari raut cemasku. "Kenapa?" Ia bertanya.
Memasukkan gawaku kembali, aku menggeleng. "Tak ada."
Adrian bisa menunggu, kan?
Panik. Aku pulang sepuluh menit lebih cepat, melewati gang terdekată…ˇyang kemarin berniat kuhindariă…ˇdengan berlari.
Kegelapan itu sepenuhnya menelanku. Jika saja aku manusia pasti aku tidak dapat melihat ke mana kakiku melangkah. Derap kaki setia mengiringi. Kuakui kemampuan berlariku bertambah cepat berkat Adrian. Aku bukan lagi spesies lemah sekarang. Makhluk apa pun yang kerap menggangguku di gang kecil ini akan mudah kuatasi.
Namun, hingga belokan terakhir pun tidak ada sesuatu yang kutemui. Aneh sekali.
__ADS_1
"Adrian?" Aku mengetuk pintu, tapi karena tidak ada sahutan aku menggunakan kunci cadangan untuk masuk.
Mendorong pintu, semilir angin menerbangkan aroma harum yang tadi sore kunikmati. Begitu pekat, membuat perasaanku tidak enak.
"Adrian?" panggilku seraya menyusuri koridor ke ruang tamu. "Adriă…ˇ"
Ucapanku teropong saat kudapati Adrian menatap padaku dari bawah tangga.
"La-lari, Ana." Suaranya serak nyaris tak terdengar.
Bukannya lari seperti yang Adrian pinta aku malah berlari ke arahnya. Memangku kepalanya yang terkulai lemas. Darah di mana-mana.
"Adrian, siapa yang lakuin ini?" tanyaku disertai isakan. Bibir dan tubuhku bergetar, rasa takut menekanku. Seiring dengan airmata yang menetes aku kehilangan suaraku.
Tangan hangat Adrian yang berlumuran darah mengusap wajahku. "Jangan menangis." Ia tersenyum. "Keana ... aku, uhuk! Baik-baik saja."
Tatapan Adrian kian menyayu mengundang kepanikanku untuk terus memanggilnya, melarang menutup mata. "Adrian tidak! Jangan tidur."
"Adriaann!"
Aku terlambat. Sesuatu di dalam diriku terasa seperti diremas, sakit sekali. Lebih sakit dari saat aku kelaparan. Selama ini rasa laparku terasa seperti neraka, tapi mendapati Adrian seperti ini lebih menyakitkan.
"Dia mati," celetuk sebuah suara. Tidak asing, aku kerap mendengar ledekannya tiap melewati gang untuk pulang. Itu, dia.
Perlahan kubaringkan Adrian di lantai. Aku bangun dengan tangan yang terkepal.
"Makhluk, sial!" geramku.
Aku menerjangnya, berusaha mendaratkan pukulan di bagian tubuh mana pun miliknya, tapi satu tangan itu menahanku. Dengan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi kecilnya yang tajam ia berkata, "Habiskan saja makananmu, kau tidak akan sanggup melawanku."
Dengan deru napas memburu tanganku diturunkan. Masih dengan senyum meremehkan ia arahkan padaku.
"Ghoul baik," ucapnya dengan nada meledek.
Aku diam, menekan kuat emosiku seraya melirik tubuh bersimbah darah Adrian di belakang. Kulit putihnya terkoyak dalam dan perutnya dihiasi oleh bekas cabikan. Mengenaskan sekali, lelaki baik sepertinya harus mati seperti ini.
'... buatmu apa pun kulakukan ...'
Ucapan Adrian tempo hari berputar dalam ingatan, membuat emosiku semakin teraduk-aduk minta diledakkan.
"Kenapa Ana, tidak terima ternakmu tercabik begă…ˇ" Ghoul terkutuk itu membulatkan mata saat tanganku mencengkeraman erat lehernya. Berusaha meremukkan tulang keras itu dalam satu genggaman.
__ADS_1
"Mati kau!"
......30821......