Madness

Madness
Chapter 74


__ADS_3

"Nathanael belum tersadar?"


Kepala Dominic menggeleng pelan.


Terdengar Laurent menghela nafasnya. Pria tampan itu terlihat sedih.


"Dia anak yang baik. Sayangnya, tidak ada yang pernah tahu kapan seseorang dapat terbangun dari tidur hibernasinya, di saat ia sedang kekurangan darah."


Perkataan itu membuat Dominic mengangguk dan terlihat muram.


Tidak lama, kepala Dominic terlihat celingak-celinguk di kamar yang luas itu.


"Apa yang kau cari, Dominic?"


Laurent tampak memandang pria muda di depannya dengan matanya yang berwarna putih. Ekspresi pria tampan itu tidak terbaca.


"Oh! Tidak. Tidak ada, Master."


Terkekeh pelan, Laurent membuang pandangannya ke luar jendela.


"Kalau kau mencari Felix, dia sedang tidak ada saat ini."


Mata Dominic mengerjap cepat. "Memangnya dia pergi kemana?"


Kepala Laurent menoleh dan menatap Dominic sambil tersenyum miring.


"Menurutmu?"


Salah satu tangan Dominic menepuk keningnya sendiri. "Rosaline?"


Sebagai jawaban, Laurent mengangguk. Pria tampan itu kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.


"Sepertinya saat ini, Felix sudah menetapkan hatinya."


"Saya harap juga begitu, Master. Karena saya sudah mulai bosan mendengar kalau ia menganggap wanita itu hanya sebagai sahabatnya selama 300 tahun lebih. Omong kosong macam apa itu?"


Pria tampan itu kembali memalingkan wajahnya ke arah Dominic.


"Kau sama sekali tidak percaya adanya pertemanan antara pria dan wanita, Dominic?"


Sambil terkekeh, Dominic menggelengkan kepalanya dengan tegas.


"Sama sekali tidak ada pertemanan pria-wanita dalam kamus saya, Master. Di antara pria-wanita, hanya ada yang namanya kebutuhan untuk menuntaskan n*fsu masing-masing."


"Bagaimana dengan kisah Nathanael? Bukannya dia itu sahabatmu sendiri?"


"Nathanael? Apa hubungannya hal ini dengan Nate?"


"Aku dengar dari Alexander, kalau Nathanael dan isterinya membina hubungan dari pertemanan lebih dulu, baru kemudian ia akhirnya meminta wanita itu untuk menikah dengannya. Apakah itu benar-benar hanya n*fsu?"


"Nate seperti itu karena baru kali inilah dia merasakan apa itu yang namanya dapat memiliki wanita. Selama hidupnya, ia terkekang dengan aturan. Ia sama sekali tidak punya hak untuk memilih apapun dalam hidupnya tanpa persetujuan keluarganya."


Kata-kata Dominic membuat Laurent terpekur. Pria itu memegang dagunya dan tampak serius berfikir.


"Aku kira tidak seperti itu. Aku tidak setuju denganmu. Jika memang seperti itu, berarti isterinya pun berhak untuk menolak dirinya."


Pria tampan itu menengadahkan kepalanya dan tersenyum sinis pada Dominic.


"Lagi pula, Nathanael tadinya menikahi isteri pertamanya karena kewajiban keluarga. Tapi keluarga mereka cukup harmonis saat itu. Bagaimana kau bisa menjelaskan hal itu, Dominic?"


Kedua mata Dominic mengerjap cepat mendengar bantahan itu.


"Bagaimana Anda bisa tahu tentang itu?"


"Apa kau kira para The Masters tidak saling bergosip?"


"Tapi itu tetap tidak bisa membuktikan adanya hubungan yang platonis antara pria dan wanita, Master. Saya tetap tidak percaya dan menganggapnya hanya mitos belaka."


Mendengar itu, Laurent pun tersenyum bijaksana.


"Aku tidak pernah mengatakan kalau hubungan pertemanan antara pria dan wanita tidak akan mengarah ke hal lain, Dominic. Aku hanya ingin menegaskan, kalau tidak selamanya hubungan pria-wanita hanya berkisar pemuasan n*fsu belaka. Kau sendiri sudah tahu kisah mengenai kaumku, kan?"


Bibir Dominic mencibir mendengar Laurent beradu argumentasi dengannya mengenai ini.


"Rasanya tidak adil membandingkan sesuatu yang jelas-jelas berbeda, Master."


Laurent kembali terkekeh. Anaknya yang satu ini memang unik dan keras kepala. Meski berasal dari kaum bangsawan, pria itu cenderung berandalan membuatnya terbiasa untuk hidup bebas dan tanpa aturan.


"Kalau begitu, bagaimana dengan Celine sendiri? Apakah kau menikahinya hanya karena n*fsu saat itu?"


Pertanyaan itu membuat Dominic kali ini terdiam seribu bahasa.


"Sekarang jawab aku, Dominic. Kenapa sampai sekarang kau belum mau menikah kembali? Kau sekarang malah membuka toko kue dan mengantarkan pesanan kue ke bekas perusahaanmu sendiri. Kau juga malah sibuk mengurusi buyut-buyutmu untuk mengelola perusahaan."


Tubuh Laurent menyender ke kursinya. Pria itu tersenyum lembut.


"Hal itu membuktikan Dominic, kalau dalam hubungan pria-wanita tidak hanya ada n*fsu. Ada yang lebih besar dari pada itu. Ada yang namanya cinta, dan cinta juga bermacam-macam bentuknya. Apakah kau mau menyangkalnya sekarang?"


"Saya tidak menyangkalnya, Master. Tapi kalau mengenai Felix-"


"Yah, seperti yang kau tahu. Hidup Felix selama ini lebih penuh dengan petualangan dibandingkan dengan hidupmu, Dominic. Ia telah merasakan semuanya, kalau kau mengerti maksudku."


"Ugh! Mendengarnya kembali membuatku sangat jijik! Rosaline tahu?"


"Rosaline adalah satu-satunya orang yang mengenalnya luar dalam. Akan sangat bodoh bagi Felix untuk melepaskan wanita itu."

__ADS_1


"Saya justru merasa kasihan padanya."


Laurent tertawa keras mendengar hal itu. Meski hidup dengan bebas, pria tampan itu tahu kalau Dominic sangat tidak bisa menerima sesuatu yang di luar norma-norma yang sudah ada.


"Tapi kau lihat sendiri, Felix rela melepaskan kebanggaannya hanya demi seseorang. Yang bahkan seseorang itu sama sekali belum dimilikinya."


Kedua alis Dominic berkerut. "Maksud Master?"


"Beberapa hari yang lalu, Felix menyerahkan kepemilikan club Onyx pada seorang manusia. Dia menjualnya, dan menjualnya dengan harga yang sangat murah. Dia sama sekali tidak peduli club itu akan hancur atau tidak."


Mulut Dominic ternganga lebar mendengar berita mengejutkan ini. Club Onyx adalah salah satu kebanggaan pria berambut pirang itu selama ini.


"Lebih baik kau menutup mulutmu, Dominic. Kalau tidak, kau bisa menghisap debu-debu di ruangan ini."


Kata-kata itu membuat Dominic langsung menutup mulutnya. Sampai sekarang, ia masih belum terbiasa dengan kenyataan kalau Master-nya adalah orang buta. Kalau orang buta yang bisa melihat, maka Dominic baru percaya.


"Tapi kenapa dia menjualnya? Bukannya orang itu sangat bangga dengan club itu?"


"Felix menjualnya karena Rosaline membenci tempat seperti itu. Wanita itu memang tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi Felix mengetahuinya. Menurutmu, hal yang dilakukan oleh Felix untuk Rosaline mengindikasikan perasaan apa?"


Dominic terdiam, tapi lama-lama pria itu terkekeh dan menyenderkan tubuhnya di sofa.


"Welcome to the club. Sepertinya orang itu memang telah jatuh ke lubang yang sama seperti saya dan juga Nathanael, Master."


Laurent juga tertawa mendengar perkataan Dominic.


"Akhirnya kau mau mengakuinya, Dominic. Aku hanya ingin mendengar itu darimu."


"Saya mengaku kalah, Master. Tapi, hanya untuk kali ini."


Suatu tempat di kepulauan Lofoten.


Terlihat ada sepasang pria dan wanita yang sedang berdiri di depan gedung gereja tua di atas perbukitan. Angin semilir meniup kelopak-kelopak bunga yang berguguran. Musim semi mulai datang di kepulauan itu.


"Apa yang kau lakukan di sini, Felix? Bukannya aku sudah bilang kalau kita tidak usah bertemu lagi untuk selamanya?"


Kepala pria itu menunduk dalam. Ia tampak menarik nafas dalam sebelum akhirnya memandang wanita cantik itu kembali.


"Apakah kau masih mengingat Nathanael?"


Benak Rosaline mengingat sosok seorang pria tampan berambut hitam dan bermata kelabu.


"Ya. Dia pria yang sangat tampan dan berkarisma. Bagaimana aku bisa melupakan-"


"Ya. Ya. Aku tahu kalau dia tampan. Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan denganmu."


Mendengar suara Felix yang kesal, membuat Rosaline sedikit menggigit bibirnya. Ia berusaha untuk menahan tawanya.


"Jangan menggigit bibirmu seperti itu. Kau bisa berdarah nanti."


Keduanya sejenak terdiam dalam posisi itu. Melihat Felix yang masih terpaku menatap mulutnya, Rosaline pun segera mundur ke belakang.


"Apa sebenarnya yang mau kau katakan mengenai Nathanael, Felix?"


Felix mengerjapkan matanya. Tadi pria itu sangat terpesona dengan bibir Rosaline. Hampir saja ia mencium wanita itu kembali tanpa seizinnya.


"Ya... Mengenai Nathanael. Dia telah menguras darahnya sampai habis, dan saat ini sedang berhibernasi entah sampai kapan."


Informasi itu membuat kepala Rosaline menoleh cepat pada Felix.


"Menguras darahnya sampai habis? Untuk apa?"


Cukup jarang kaum V mau menguras darah mereka sampai habis. Meski merupakan salah satu cara untuk mati, tapi tidak ada yang bisa menjamin kalau kematian pasti akan datang menjemput dalam waktu dan juga tempat yang tepat.


Beberapa kaum V yang melakukan cara ini, biasanya akan meminta rekannya untuk menguras darah mereka dan meninggalkannya di lokasi yang benar-benar aman.


Akan sangat berbahaya jika tubuh mereka sampai ditemukan oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Belum lagi waktu kematian yang sama sekali tidak jelas.


Kalau mereka beruntung, maka mereka akan mati sesuai dengan batas usianya. Tapi bagi yang tidak beruntung, mereka akan terbangun di era yang berbeda dan membuat mereka harus beradaptasi lagi dengan kehidupan baru. Hal yang justru semakin menyiksa hidup mereka.


Lagipula, cara kematian dengan menguras darah adalah cara yang dianggap tidak elegan dan pengecut di kalangan kaum V. Karena mereka memilih untuk mati di saat mereka dalam keadaan tidak sadar.


Rosaline sama sekali tidak mengerti mengapa Felix tiba-tiba mengungkit mengenai hal ini.


"Untuk menolong isterinya. Wanita itu membutuhkan asupan darah yang cukup banyak karena kehilangan banyak darah."


Kedua alis Rosaline berkerut dalam. Ada yang aneh dalam informasi yang disampaikan Felix.


"Aku masih tidak-"


Tahu hal yang akan ditanyakan Rosaline, membuat pria itu langsung memotongnya.


"Intinya. Nathanael sekarang sudah menjalani tidur hibernasinya selama hampir 6 bulan lamanya, dan belum terbangun sampai saat ini."


"Lalu apa hubungannya kau menceritakan hal ini padaku? Aku bahkan tidak terlalu mengenal Nathanael, apalagi isterinya."


Wanita itu sedikit jengkel saat ini karena tidak paham maksud Felix. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.


Felix memandang Rosaline dan mendekatinya. Ia berhenti ketika jaraknya hanya tinggal sejengkal dari wanita itu.


"Usiaku hanya kurang dari 200 tahun lagi. Aku tidak mau membuang-buang waktuku yang tersisa hanya dengan terbaring dan menunggu kematianku, sama seperti Nathanael saat ini."


Rosaline memandang pria di depannya dengan tajam.


"Apa yang kau inginkan, Felix?"

__ADS_1


Pria itu terlihat mengeluarkan kotak kecil dan menunjukkan sebuah cincin di dalamnya.


"Aku ingin menghabiskan sisa masa hidupku dengan seseorang yang berarti bagiku. Meski hanya sebentar, tapi aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai. Maukah kau menikahiku, Rosaline?"


Perkataan Felix membuat mata Rosaline berkaca-kaca. Hatinya kembali merasa sakit.


"Kau sama sekali tidak mencintaiku, Felix. Kau kembali menyakitiku saat ini."


Wanita itu berbalik dan akan pergi, ketika bahunya ditahan oleh pria di belakangnya.


Ia merasakan belakang kepalanya dicium oleh pria itu, membuatnya menutup kedua matanya dengan erat.


"Maafkan aku, Ine. Maafkan aku yang sudah menyakitimu selama ini. Maafkan kebodohanku yang membutuhkan waktu 300 tahun, untuk menyadari perasaanku sendiri."


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Aku mencintaimu."


Pandangan wanita itu mengarah ke depan. Ke lautan luas di hadapannya. Air mata yang ditahannya akhirnya meleleh di pipinya.


"Kapan kau menyadarinya?"


"Di malam hujan, saat kau akhirnya menerima penolakanku. Maafkan aku."


"Hampir satu tahun yang lalu. Dan kau baru datang sekarang?"


Kedua tangan Felix bergerak pelan untuk memeluk bahu wanita itu. Ia memeluknya dengan erat dan menundukkan kepalanya di salah satu bahu Rosaline. Wanita itu dapat merasakan tetesan air di lehernya.


"Aku takut. Aku takut kalau kau akan menolakku, seperti aku pernah menolakmu dulu."


Menarik nafas panjang, wanita itu pun akhirnya berbalik menghadap Felix.


Ia dapat melihat kedua mata pria itu yang basah. Baru kali ini, ia melihat pria itu menangis. Felix adalah pria yang penuh harga diri dan juga manipulatif. Ia tidak akan pernah menunjukkan perasaannya yang sebenarnya di hadapan orang lain.


Tapi Rosaline dapat melihat adanya kesungguhan dari kedua mata pria itu. Dan tidak ada untungnya juga Felix berbohong padanya. Apalagi pria itu pernah menolaknya dulu.


Wanita itu pun mengulurkan salah satu tangannya di hadapan pria itu.


Sedikit bingung, jari-jari Felix otomatis memegang ujung jari Rosaline.


"Kau tidak mau memasangkan cincin untukku?"


Mengerjapkan matanya, Felix segera mengeluarkan cincinnya kembali dan memasangkannya ke jari manis Rosaline. Ia tidak mau wanita itu tiba-tiba berubah pikiran.


Menengadahkan kepalanya, Rosaline bertanya lagi pada pria yang masih terdiam itu.


"Kau tidak mau menciumku?"


Pandangan Felix terlihat takjub saat ini.


"Aku boleh menciummu sekarang?"


"Tentu saja kau harus menciumku. Tapi kau harus menikahiku dulu kalau mau melakukan yang lainnya."


Akhirnya pria itu tertawa gembira, membuat wajahnya terlihat sangat tampan. Kedua tangannya memeluk pinggang ramping wanita itu dan mendekapnya erat di pelukannya.


Kembali memandang wanita itu, Felix tersenyum lembut. Tangannya menyentuh pipi Rosaline yang mulus.


"Aku mencintaimu, Ine. Sebagai seorang sahabat. Sebagai seorang wanita. Jadilah pasangan hidupku, sampai aku mati nanti."


Kata-kata cinta dari Felix membuat Rosaline tersipu malu.


"Aku juga mencintaimu, Felixander Osborne. Meski kau menyebalkan, tapi kaulah satu-satunya pria yang dapat membuat hidupku lebih berwarna."


Tangan Felix mengusap pipi Rosaline lembut, dan pria itu pun perlahan menciumnya dengan sangat lembut. Keduanya berciuman dengan penuh rasa cinta dan sayang.


Felix melepaskan pipi Rosaline dan menggenggam kedua tangannya. Keduanya tersenyum. Saling berpengangan tangan, Rosaline menatap malu-malu pada pria di depannya.


"Boleh aku menciummu lagi?"


Terkekeh pelan, Felix mengangguk. "Kau boleh menciumku kapan pun, Ine."


Sedikit berjijit, Rosaline menarik rambut pirang pria itu mendekat dan langsung menciuminya dengan agresif. Mulut Rosaline menari-nari di dalam mulut Felix, membuat pria itu tergagap dan hanya mampu berusaha mengimbangi wanita itu.


Ketika mulut mereka akhirnya terlepas, Felix memandang Rosaline dengan nanar. Terlihat sedikit sorot sakit hati dalam kedua matanya.


"Darimana kau belajar ciuman seperti itu?" Pria itu bertanya pelan.


Rosaline tersenyum malu-malu. "Kau pernah menciumku seperti itu, kalau kau masih ingat."


Felix terdiam dan ia akhirnya teringat perpisahan mereka berdua yang tidak menyenangkan di bandara, sebelum pria itu pulang ke negaranya.


Kedua tangan Rosaline melingkari pinggang Felix yang ramping. Wanita itu sedikit tertunduk malu ketika berbicara kembali.


"Sebenarnya banyak dari cerita-ceritamu dulu, yang membuatku jadi sering membayangkan untuk mencobanya denganmu. Hanya denganmu."


Perkataan wanita itu membuat jantung Felix berdebar liar dan nafasnya mulai memburu. Dengan kasar, pria itu menarik tangan Rosaline dan menyeretnya untuk turun dari bukit.


"Kau mau membawaku kemana, Felix?"


"Aku punya kenalan pendeta V di Lofoten. Kita harus menikah hari ini juga, Ine!"


Sambil tertawa, Rosaline merangkul lengan pria itu dan keduanya pun terlihat sedikit berlari menuruni bukit. Langkah mereka terasa jauh lebih ringan dibandingkan tadi ketika menaikinya.


Gereja tua yang berdiri menjulang di atas perbukitan, menjadi saksi cinta mereka berdua.

__ADS_1


Hubungan yang awalnya dimulai dengan pertemanan, akhirnya mekar dan menjadi rasa cinta yang dalam di antara keduanya.


__ADS_2