
"Nona Rosaline, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Anda selama kami di sini. Kami sudah banyak merepotkan Anda."
Nate tersenyum dan menjabat tangan Rosaline dengan erat. Mereka terlihat berada di bandara Lofoten, bersiap untuk kembali ke New York.
"Tidak usah sungkan, Tuan Nathanael. Ini juga adalah suatu kehormatan bagi saya."
Pandangan wanita itu sedikit sedih ketika ia melepaskan genggaman tangannya.
"Saya harap, Anda dapat kembali ke Lofoten dalam suasana yang lebih gembira."
Marcus pun mengulurkan tangannya untuk menjabat wanita itu.
"Terima kasih Nona Rosaline, atas jamuan Anda."
Sambil menjabat tangan Marcus, Rosaline melirik Felix yang sedang berdiri di belakang dari sudut matanya. Wanita itu masih ingin dapat membalas perlakuan pria itu selama ini.
Rosaline memandang Marcus dengan mata yang bersinar. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapih. Wanita itu benar-benar memiliki senyum yang indah dan membuat sekitarnya terlihat bercahaya.
"Sama-sama, Tuan Marcus. Kedatangan Anda akan selalu disambut baik di sini."
Karena tahu kalau Nate telah memiliki pasangan, maka Rosaline pun tidak berani untuk menggodanya. Tapi lain ceritanya dengan Marcus. Ia sangat tahu kalau pria dingin ini memiliki hubungan cinta-benci dengan Felix, membuat wanita itu ingin sedikit berbuat nakal.
Ia menarik tangan besar Marcus yang masih digenggamnya, membuat tubuh pria itu condong padanya. Mata cokelat pria itu membesar saat melihat tangan Rosaline mendarat di pundaknya yang kokoh.
"Anda dapat menghubungi saya langsung kalau memang berencana untuk berlibur di sini. Saya pribadi, yang akan melayani kalau Anda ingin mencari pertualangan yang menarik di kepulauan ini. Akan ada banyak yang-"
Sebelum wanita itu dapat meneruskan promosinya yang sebenarnya tidak perlu, tiba-tiba tubuhnya ditarik ke belakang dan membuat genggamannya pada Marcus terlepas paksa.
Saat ini, ia berada di pelukan Felix yang melingkari tangannya dengan posesif di pinggangnya.
"Sebaiknya kau masuk ke pesawat sekarang, Marcus. Ada hal yang ingin kubicarakan sebentar dengan Rosaline."
Nada suara Felix terdengar dingin, membuat salah satu alis Marcus naik sedikit.
Salah satu sudut bibir pria dingin itu terangkat naik, ketika ia melihat raut muka Felix yang menunjukkan kepemilikan dan kecemburuan. Matanya yang biru terang berkilat tajam, memperlihatkan ancaman untuk pria lain.
"Dengan senang hati saya akan menghubungi Anda, Nona Rosaline. Anda benar-benar seorang tuan rumah yang baik selama kami di sini."
Tubuh Rosaline yang sedikit condong ke depan, ditarik lagi ke belakang oleh Felix. Pria itu benar-benar memeluknya dengan erat, membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Sama-sama, Tuan Marcus."
Keduanya pun berpamitan dan Marcus segera melangkah ke pesawat, memberikan kesempatan bagi Felix untuk berdua dengan wanita itu. Sepertinya mereka punya masalah lain yang harus diselesaikan lebih dulu.
Setelah mereka benar-benar hanya berdua, Felix menyeret Rosaline ke salah satu sudut bangunan bandara yang sepi. Sepanjang jalan, wanita itu meronta-ronta untuk dilepaskan.
"Lepaskan, Felix! Lepaskan kataku!"
Dengan sedikit kasar, Felix menyenderkan tubuh Rosaline ke dinding bangunan bandara dan tanpa di sangka pula, pria itu menciumnya dengan cukup kasar.
Perlakuan Felix pada Rosaline, membuat wanita itu sangat marah. Ia sama sekali tidak menyukai ini. Hal yang dilakukan Felix padanya, membuatnya merasa sama dengan orang-orang yang berada di sekitaran pria itu selama ia menjalin hubungan bebas dengan mereka.
Sedangkan Felix sendiri, sejak ia merasakan ciuman Rosaline, ia sama sekali tidak bisa melupakannya. Bibirnya secara ganas menghisap dan menjilat apapun yang ada dalam mulut wanita itu dengan cara yang sangat agresif.
Pria itu baru sedikit melembut, ketika merasakan wanita di pelukannya tidak melawan lagi.
Felix mengelus pinggang Rosaline dengan lembut dan meremas bokongnya.
Ia benar-benar ingin dan harus memiliki wanita ini.
"Rosaline..."
Dan tanpa diduga, saat pegangannya pada wanita itu mengendur, Rosaline tiba-tiba mendorong dadanya dengan kuat, membuat Felix sedikit terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Ia juga merasakan hantaman yang cukup keras di pipi kirinya ketika wanita itu menamparnya dengan kencang.
Kejadian yang cepat ini membuat Felix tertegun di tempatnya.
Perlahan, pria itu menolehkan kepalanya untuk memandang wanita di depannya, dan hatinya kembali sakit saat melihat raut wanita itu yang tampak marah dan terlihat terhina.
"Jangan samakan aku dengan orang-orang yang bisa kau anggap sebagai pemuas nafsumu, Felix! Aku bukan wanita seperti itu, dan tidak akan pernah menjadi salah satunya sampai kapan pun! Jangan pernah menghinaku lagi!"
Meski tidak berteriak, tapi kata-kata Rosaline diucapkan dengan sangat tajam dan tegas, membuat pria itu merasa sangat bersalah. Ia telah salah langkah lagi!
"Ine. Maafkan aku. Aku-"
Rosaline memalingkan wajahnya. Ia sama sekali tidak mau memandang pria di depannya.
"Pergilah Felix. Pergilah, dan jangan pernah kembali lagi."
Pria itu tadinya masih ingin bertahan, tapi ketika melihat bahu Rosaline yang bergetar, membuatnya mengurungkan niatnya.
Perlahan, ia pun mundur dan dengan lemah melangkah menjauhi Rosaline tanpa berani berkata apapun lagi. Pria itu merasa sangat malu dan bersalah. Seumur hidupnya, belum pernah ia memaksakan kehendaknya pada seseorang seperti tadi.
Saat Felix menjauh, barulah Rosaline memandang punggung pria itu yang sedang memasuki pesawat. Ia menyenderkan tubuhnya ke dinding dan air mata mengalir dengan bebas di pipinya. Apakah ia sebegitu hinanya sehingga Felix berani melakukan itu padanya?
Meski berasal dari kalangan miskin dan sama sekali tidak tahu siapa keluarganya, tapi ia selalu berusaha menjaga kehormatan dirinya sejak ia kecil.
Selama hidupnya, Rosaline tidak memiliki apapun. Wajahnya mungkin cantik tapi di lingkungannya, memiliki muka yang cantik bukanlah suatu anugerah melainkan bencana.
Setiap hari, ia harus berjuang mempertahankan harga dirinya agar tidak dilecehkan oleh sembarang orang. Ia mungkin miskin harta, tapi ia tidak sudi jika sampai miskin harga diri.
Ia baru merasa hidup, setelah menjalani kehidupan barunya di bawah naungan Master Laurent. Pria itu membimbingnya dalam menjalani hidup yang cukup normal, membuatnya mengecap pendidikan dan merasakan kehangatan adanya seseorang yang melindunginya.
Satu-satunya orang yang pernah ia ceritakan mengenai masa lalunya selain Master Laurent, adalah Felix. Pria itu tahu dari mana ia berasal dan seperti apa kehidupannya dulu.
Perlakuan Felix padanya tadi, membuat Rosaline teringat masa lalunya yang sangat ingin dilupakannya. Hal yang dilakukan pria itu tadi, membuatnya merasa kembali menjadi seseorang yang hina dan sama sekali tidak ada harganya di mata orang lain.
Tubuh Rosaline luruh ke lantai. Wanita itu menutup wajahnya dengan salah satu tangannya. Sepertinya, ia memang tidak pernah ada nilainya di mata pria itu.
Pria itu tampak asyik memandang ponselnya, dan sesekali tersenyum dengan gila ketika ia membalas chat dari isterinya.
Bagi orang lain yang sedang patah hati seperti Felix, perilaku Nate benar-benar menyebalkan. Sangat membuat pria itu ingin melayangkan tinjunya pada wajah temannya sendiri.
Berusaha meredakan emosinya yang mulai memuncak, pria itu bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk pindah ke belakang.
"Ada apa denganmu sebenarnya?"
Tiba-tiba Marcus mendekati Felix dan duduk di sampingnya. Ia sedikit berbisik pada pria itu.
Wajah Felix terlihat menegang. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela samping kanannya.
Melihat Felix yang masih terdiam, membuat Marcus tersenyum samar. Dengan santai, pria dingin itu meraih salah satu majalah bisnis dan seolah akan membacanya.
"Omong-omong, Rosaline wanita yang sangat cantik."
Kepala Felix menoleh dengan cepat ke arah Marcus. Kedua alisnya berkerut dalam.
"Apa maksudmu?"
Mata Marcus sedikit membola dan terlihat polos.
"Apa maksudku? Justru apa maksudmu. Aku hanya mengatakan kalau Rosaline wanita yang sangat cantik. Tubuhnya juga sangat indah."
Tanpa aba-aba, Felix berdiri dari duduknya dan langsung mencengkeram kerah kemeja Marcus dan menariknya berdiri dengan paksa.
"Katakan sekali lagi, Marcus! Dan aku akan meninjumu!"
__ADS_1
Salah satu tangan pria itu terkepal dengan erat, memperlihatkan otot-ototnya yang menegang dan bersiap melayang ke wajah Marcus.
"Felix!" Tiba-tiba terdengar suara Nate yang sedikit tinggi.
Pria itu segera memegang tangan Felix yang sedang terangkat dengan erat. Ia tidak mau sampai terjadi perkelahian di dalam pesawat yang sedang terbang di udara ini. Ia masih ingin bertemu isterinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Felix! Ada apa denganmu?"
Keributan itu membuat pramugara yang tadinya ada di dalam kokpit segera keluar untuk memeriksa keadaan.
Nate yang melihatnya keluar, segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa. Kau kembali lagi saja ke dalam."
Pria muda itu awalnya terlihat ragu, tapi melihat pandangan Nate yang tajam dan juga kedua rekannya yang tampaknya siap berkelahi, membuat pramugara itu ciut dan memutuskan untuk menyelamatkan diri ke dalam kokpit.
Tamu-tamunya adalah para pria yang berbadan tinggi dan besar. Tidak mungkin ia akan mampu memisahkan mereka bila terjadi perkelahian nanti. Akan cari mati saja dia.
Tangan Nate sedikit menekan lengan Felix yang masih terangkat.
"Felix. Tenangkan dirimu." Suara Nate terdengar lembut dan menenangkan.
"Tapi dia! Dia sudah menghina Rosaline! Dia sudah menghina wanitaku!"
Kedua mata biru Felix terlihat berair. Dibanding tampak marah, ekspresi pria itu menyiratkan kesedihan dan terluka, membuat Nate dan Marcus sedikit tertegun.
"Felix, aku minta maaf kalau sudah membuatmu tersinggung. Tapi aku benar-benar hanya mengatakan kalau Rosaline adalah wanita yang sangat cantik. Tidak ada maksud apapun."
Suara Marcus terdengar pelan, dan ekspresi pria itu terlihat datar.
Wajah Felix tampak berkerut dan tangannya gemetar. Pria itu masih belum melepaskan cengkeramannya dari leher Marcus.
"Felix. Aku yakin Marcus sama sekali tidak bermaksud menghina Rosaline. Kita semua tahu kalau wanita itu adalah orang yang sangat berharga bagimu. Tidak mungkin Marcus akan mengatakan sesuatu yang dapat menyinggungmu terkait dengan Rosaline."
Kata-kata Nate perlahan mulai masuk ke dalam otak Felix, membuat pria itu akhirnya melepaskan cengkeramannya dari kerah Marcus.
Pria itu terlihat menunduk. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
"Maafkan aku, Marcus."
"Tidak. Akulah yang harus minta maaf padamu. Aku tidak akan pernah mengucapkan hal seperti itu lagi padamu, dan juga Rosaline."
Kepala Felix mengangguk sekali. "Aku ingin sendiri."
Pria itu pun akhirnya melangkah ke arah kamar tidur, dan menutup pintunya pelan.
Nate dan Marcus saling berpandangan. "Apa yang terjadi tadi?"
Marcus menggelengkan kepalanya. Ia bingung dan juga terkejut melihat reaksi ekstrim Felix.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya hanya berniat memuji wanita itu, tapi dia menerimanya dengan sangat negatif."
Tangan Nate menepuk pelan bahu asistennya. "Lebih baik, jangan ganggu dia dulu."
Kedua pria itu pun akhirnya kembali duduk di kursi masing-masing. Mereka masih terdiam dan berusaha mencerna situasi yang terjadi tadi.
Di dalam kamar tidur, Felix terlihat duduk di tempat tidur dan mencengkeram kepalanya sendiri. Pria itu menunduk dalam, dan kedua matanya mengeluarkan air.
Betapa ia merasa sangat kotor. Ia hanyalah mahluk yang hina dan sangat munafik.
Tadi, ia seolah-olah membela wanita itu, padahal ia sendirilah yang telah menghina Rosaline.
Selain dengan perilakunya tadi pada wanita itu, Felix juga masih belum melepaskan 100% club-nya yang penuh dengan tawaran kemaksiatan yang benar-benar dibenci oleh Rosaline.
__ADS_1
Pria itu meringkuk di tempat tidur seperti bola. Ia memegang erat kepalanya dan menyembunyikan wajah di kedua lengannya. Terdengar erangan pelan yang menyayat hati.
Hati Felix benar-benar hancur saat ini. Ia merasa hancur dan rasanya ingin mati.