Madness

Madness
Chapter 27


__ADS_3

Tidak lama, keduanya tampak terduduk dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri, apalagi mengingat peristiwa yang baru mereka lalui tadi.


Nate melirik wanita di sampingnya yang terlihat masih belum mau memandangnya.


Ada rasa kecewa di hatinya, ketika Lin sama sekali tidak menjawab perasaannya. Tapi untuk saat ini, Nate tidak mau terlalu memaksakan dirinya. Ia memutuskan untuk bersabar.


Ia akan menemukan waktu yang lebih tepat untuk membicarakan mengenai hal ini nanti. Tapi, tetap ada hal-hal yang tidak dapat ditunggunya dan ia akan berusaha mendapatkannya.


Lin sendiri, masih belum berani mengungkapkan isi hatinya pada pria di sampingnya.


Ia masih merasa takut, mengingat ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia mengalami ketertarikan yang cukup kuat pada seseorang. Yang membuatnya ingin terikat padanya.


Bahkan pada ibunya sendiri pun, ia tidak pernah merasakan adanya kedekatan seorang anak pada orang tuanya. Saat ini, ia masih merasa bingung.


"Sepertinya, kamu sudah bisa mengontrol naluri liarmu dengan baik, Lin."


Lin menganggukkan kepalanya pelan. "Ya. Terima kasih, Nate."


Menyadari perasaan Lin yang sedang galau, pria itu mengusap kepalanya pelan. Hal ini membuat Lin menoleh padanya, bertanya-tanya.


"Mengenai yang tadi, tidak usah kamu pikirkan dulu. Oke?" Nate tersenyum samar.


Mata Lin bergerak-gerak memandangnya, tapi akhirnya ia menundukkan kepalanya.


"Maaf, Nate. Aku-"


"Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan padamu."


Nate memotongnya dan langsung berdiri. Ia masih belum siap mendengar penolakan dari Lin.


Bersender pada meja kerjanya, Nate menghadap kembali pada wanita di depannya. Saat ini, ia akan memfokuskan diri dulu untuk membantu Lin menemukan masa lalunya.


"Aku ingin bertemu malam ini karena menyangkut pertanyaanku beberapa hari yang lalu. Jadi, apa jawabanmu, Lin?"


Beberapa saat, Lin hanya memandang kepalan tangan yang ada di pangkuannya. Namun kemudian, ia mendongak dan tatapan matanya terlihat lebih kuat.


"Apa yang kamu ketahui tentang ayahku?"


Ekspresi Nate sama sekali datar. Lin tidak tahu apa yang ada di pikiran lelaki di depannya ini.


Nate memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan mengangguk. Ia memutuskan menceritakan pada Lin mengenai hal-hal yang memang wanita itu perlu ketahui.


"Nama ayahmu adalah Alexander Johan. Biasanya kami menyebutnya sebagai Master Johan. Ia adalah salah satu dari The Masters yang menciptakan kaum V."


"The Masters? Apa itu?" Lin bertanya bingung. Ia sama sekali tidak mengerti topik ini.


"Kami sendiri tidak mengetahui mereka itu siapa, atau apa dan datang dari mana. Banyak dari kaum V menganggap mereka sebagai manusia masa depan, atau bahkan mungkin alien yang datang dari planet lain."


Nate menyilangkan tangannya di dada dan mengalihkan pandangannya pada jendela kaca yang menampilkan kegelapan pekat di luar.

__ADS_1


Selama hidup bersama Johan, Nate tidak pernah menanyakan hal ini pada pria tua itu. Ia sudah tertelan dengan keinginannya untuk mati, membuatnya tidak tertarik hal-hal lain.


Nate baru benar-benar mau mengetahui lebih dalam mengenai sejarah kaumnya sendiri, setelah pria itu berpisah dari Master-nya dan menjalani kehidupannya sendiri.


"Aku pernah menceritakan padamu mengenai pencipta kami. The Masters adalah julukan mereka. Hanya merekalah yang mampu menciptakan dan membinasakan seorang kaum V."


Nafas Lin mulai sedikit lebih cepat. Ia berusaha mencoba memahami informasi yang baru ini.


"Jadi maksudmu, aku berasal dari salah satu The Masters, dan bukan dari kaum V itu sendiri?"


"Kaum V tidak bisa bereproduksi Lin. Pria V mungkin bisa menghasilkan benih, tapi janin itu tidak akan pernah bertahan di rahim wanita V. Jika pun tetap nekad, maka mereka harus membuahi wanita manusia. Tapi itu pun tidak akan ada gunanya."


"Tidak ada gunanya?" Lin mengernyitkan dahinya saat menatap Nate.


"Pada akhirnya wanita itu pun akan mati, dengan membawa serta bayinya. Tidak ada dalam sejarahnya bahwa hal ini pernah berhasil. Dan mereka yang mencobanya pun akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih sakit dari kematian itu sendiri."


Pandangan LIn yang bertanya-tanya membuat Nate melanjutkan ceritanya.


"Kaum kami hidup dalam aturan, Lin. Dan itu cukup ketat. Jumlah kami yang sangat terbatas, membuat para The Masters akan sangat mudah memonitor pergerakan kami. Mereka dapat merasakannya dari esensi kehidupan yang sudah mereka berikan pada kaumnya."


Dalam kantongnya, Nate mengepalkan kedua tangannya.


Esensi kehidupannya yang terhubung langsung dengan Johan, membuat pria itu sangat berhati-hati ketika berhubungan dengan manusia.


Ia tidak mau sampai ada pergerakannya yang diketahui oleh pria tua itu, karenanya ia tidak mau membuat masalah apapun dalam hidupnya.


"Kamu sudah tahu bukan kalau kami memiliki masa hidup yang panjang? Hal yang bisa membuat kami mati secara langsung hanya ada dua. Masa usia yang telah habis atau esensi kehidupan yang dicabut oleh penciptanya sendiri."


"Selain dua hal itu, ada beberapa penyebab tidak langsung kematian seorang V. Salah satunya adalah kelaparan."


"Kelaparan?"


Lin pernah mendengar kalau kaum V harus meminum darah manusia secara teratur. Ia sedikit bergidik membayangkannya.


Getaran dari tubuh Lin, membuat Nate tersenyum. Ia tahu yang dibayangkan oleh wanita itu.


"Kami harus 'makan' secara rutin karena kalau tidak, tubuh kami akan melemah. Sama seperti manusia, yang juga harus menerima asupan energi dari makanan yang dikonsumsinya."


Menggigit bibirnya, Lin menoleh pada Nate. Ia tidak bisa membayangkan mulut pria itu yang berlumuran darah ketika ia dalam periode 'makan'.


Melihat ekspresi wanita di depannya, membuat Nate tertawa keras.


Tahu dirinya sedang ditertawakan, membuat muka Lin memanas.


Pria itu pun akhirnya menghentikan tawanya ketika melihat wanita di depannya terlihat tidak nyaman dan merasa malu.


"Maaf Lin. Kamu terlihat sangat lucu tadi."


Berdehem pelan, Nate melanjutkan penjelasannya.

__ADS_1


"Intinya. Kami harus 'makan' tiap beberapa bulan sekali dan menjalani masa hibernasi selama beberapa waktu. Sama seperti kelelawar atau binatang lain pada umumnya."


Merasa lelah, Nate membuka kacamata bacanya dan mengusap kedua matanya.


"Lanjut soal kelaparan tadi. Kaum V yang diketahui mencoba membuahi manusia akan mendapatkan hukuman tidak diberi 'makan' dalam periode yang sangat lama. Kamu bisa memperkirakan berapa lama, Lin?"


Mendengar pertanyaan itu, Lin hanya bisa menggeleng.


"Aku pernah mendengar, kaum V yang paling lama bisa bertahan dengan puasanya adalah 10 tahun. Yang pada akhirnya, ia pun mengering dan mati setelah menjalani siksaan yang tidak terkira sakitnya."


Lin kembali bergidik. Informasi yang disampaikan oleh pria itu, sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya.


"Selama 10 tahun masa puasanya, efeknya sama seperti manusia yang tidak makan dan minum selama 20 hari. Ia akan merasa kehausan, kelelahan, dan akhirnya menimbulkan efek halusinasi yang ujung-ujungnya adalah kematian."


Pria itu menghela nafas dan mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendala.


"Bedanya adalah dia yang mendapatkan hukuman itu, harus merasa tersiksa selama 10 tahun dulu, sebelum akhirnya dapat menemui ajalnya."


Ia pernah mencoba cara ini sebelumnya. Bahkan untuk dirinya sendiri yang memiliki dorongan untuk mati yang kuat, tetap tidak mampu bertahan dari rasa sakit itu lebih dari 18 bulan.


Ketika itu Marcus menemukannya sedang tergolek di pembaringannya sambil meracau tidak jelas. Badannya panas dan ia hampir saja mati bila tidak dipaksa untuk 'makan' saat itu juga.


Kembali diselamatkan dari kematian, sedikit membuat Nate marah pada bawahannya. Tapi ia pun tahu, bahwa Marcus masih membutuhkannya.


Pria dingin itu tidak akan memiliki tujuan hidup lagi bila atasannya pergi. Nate tidak bisa membayangkan, apa yang akan dilakukan Marcus bila ia memang benar-benar mati saat itu.


"Lalu... Bagaimana dengan ayahku?"


Pertanyaan Lin membuat pria yang sedang melamun itu menoleh.


"Seperti kataku tadi, satu-satunya yang bisa menghasilkan keturunan langsung hanyalah The Masters itu sendiri. Mereka bisa membuahi seorang manusia, dan memiliki anak."


"Jadi, ayahku benar adalah salah satu dari The Masters?"


"Ya. Dan namanya adalah Alexander Johan."


Nate akhirnya kembali duduk di samping Lin dan memegang kedua bahunya. Menarik wanita itu untuk menghadapnya.


Lelaki itu memandang wanita di depannya dengan pandangan lembut tapi serius, mencoba memberikan pengertian.


"Kamu harus tahu Lin bahwa dengan memiliki seorang anak, ada konsekuensi yang cukup berat untuk ditanggung oleh seorang The Masters."


Alis wanita itu mengerut. "Konsekuensi apa?"


"Memiliki anak dari manusia akan mengurangi masa hidup mereka secara signifikan. Hal itu karena mereka harus membagi sebagian dari esensi hidupnya secara langsung dalam proses pembuahan tersebut."


Raut muka Lin tampak menegang. Benaknya mulai bisa menangkap apa yang dimaksud oleh pria di depannya itu.


Nate meremas kedua bahu Lin dengan lembut dan berkata hati-hati.

__ADS_1


"Lin, ayahmu hanya memiliki waktu kurang dari 6 bulan lagi untuk hidup. Apakah kamu mau menemuinya buat yang pertama dan mungkin untuk terakhir kalinya?"


__ADS_2