Madness

Madness
Chapter 59


__ADS_3

Tanpa terasa, pesawat itu telah mendarat dengan mulus di salah satu bandara di kepulauan Lofoten. Setelah pesawat itu benar-benar berhenti, keempat pria itu pun segera turun dari pesawat melalui sebuah pintu khusus.


Telah ada seorang wanita cantik yang menunggu mereka di bandara. Rambut pirang wanita itu melambai-lambai terkena hembusan angin yang cukup kencang siang itu.


"Felix!"


Tangan wanita itu melambai dengan riang, terutama pada pria berambut pirang yang sedang mendorong kursi Johan.


"Rosaline."


Tanpa diduga, wanita bernama Rosaline itu melompat ke arah Felix dan memeluk pria itu dengan erat.


"Aku merindukanmu."


Kedua tangan Felix memeluk erat tubuh wanita di pelukannya.


"Aku juga merindukanmu."


Setelah puas memeluk pria tinggi itu, Rosaline menoleh pada pria tua yang sedang duduk di kursi roda itu. Ia tersenyum memandang Johan yang baru pertama kali ditemuinya.


"Maaf atas ketidaksopanan saya, Master Johan. Nama saya Rosaline. Saya yang akan menjamu selama kalian menjadi tamu di kepulauan Lofoten ini. Selamat datang di sini."


Tangan Johan menjabat erat Rosaline. Ia menyukai wanita yang memiliki energi yang besar dan tampak bersemangat ini.


Pria tua itu tersenyum, dan sedikit menelengkan kepalanya.


"Berapa usiamu, Rosaline?"


Rosaline sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ragu-ragu, ia menoleh pada Felix dan sedikit menggigit bibirnya.


Melihat itu, tangan Felix segera menyentuh mulut wanita itu.


"Jangan digigit, nanti kamu berdarah. Jawab saja pertanyaannya, Ine. Tidak apa-apa. Beliau sudah aku anggap sebagai Master-ku sendiri."


Perkataan Felix membuat mata hijau wanita itu bercahaya menyilaukan.


"Usia saya tepat 522 tahun, Master. Baru bulan lalu saya berulang tahun."


"Penciptamu Master Laurent?"


Rosaline menganggukkan kepalanya bersemangat.


"Ya. Beliau membantu saya ketika saya sedang sekarat."


"Kamu pernah sakit?"


"Ya. Kanker darah. Hanya karena saya pernah membantunya dulu, beliau merasa berhutang pada saya. Karena itu, beliau merubah saya ketika saya akan meninggal di klinik."


Johan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia cukup mengenal Adrian Laurent sebagai pria yang welas asih, membuatnya cukup rentan untuk membantu orang-orang yang sebenarnya memiliki niatan lain.


"Kamu pasangan dari Felix?"


Mata Rosaline mengerjap cepat. "Saya-"


"Lebih baik, kita segera ke kabinmu Rosaline. Master Johan sudah cukup lelah karena perjalanan panjang ini." Felix tiba-tiba memotong ucapan wanita itu.


Kepala Rosaline bergantian menatap kedua pria di depannya. Ia merasa Felix kurang sopan pada pria tua itu tapi di sisi lain, ia juga cukup tidak nyaman diinterogasi seperti ini.


Melihat kalau Felix cukup tersinggung dengan sikapnya, Johan tersenyum pada mereka.


"Aku minta maaf kalau sudah membuat kalian tidak nyaman. Hanya saja, usiaku yang tidak lama lagi, membuatku menjadi cukup penasaran mengenai hal-hal yang tadinya tidak pernah aku pedulikan."


Kata-kata Johan menyadarkan Felix. Adalah hal yang wajar kalau pria tua itu ingin tahu mengenai kehidupan orang-orang yang lebih muda darinya.


"Maafkan saya, Master. Saya sama sekali tidak bermaksud-"


Tangan Johan terangkat, menghentikan permintaan maaf Felix yang dirasanya tidak perlu.


"Tidak. Jangan seperti itu, Felix. Akulah yang harus meminta maaf di sini. Kalian tidak perlu menjelaskan apapun padaku."


Tidak lama, terlihat Nate yang berjalan ke arah mereka. Pria itu baru saja selesai menelepon isterinya dan mengambil lokasi yang sedikit terpisah dari yang lain.


"Nathanael. Perkenalkan, ini adalah Rosaline. Dia yang akan menjamu kita di sini."


Tersenyum, Nate menjabat erat tangan wanita itu yang terulur padanya.


"Nama saya Nathanael. Terima kasih atas keramahan Anda."


Wanita itu tersenyum sangat lebar, dan kedua matanya yang berwarna hijau kembali bersinar terang menyilaukan.


"Jangan sungkan begitu. Saya sangat senang dapat menjamu pria-pria tampan seperti kalian di rumahku yang sangat sederhana."


Perkataan wanita itu membuat Felix mencengkeram pinggang langsingnya dan sedikit menariknya menjauh.


"Apa yang kau lakukan?"


Meski berbisik, tapi suara Felix masih dapat terdengar oleh Nate yang bertelinga tajam.


"Memangnya, apa yang aku lakukan?"

__ADS_1


Rosaline balas berbisik dan mengangkat kedua bahunya dengan acuh.


"Kau-"


"Maaf, saya sedikit terlambat. Ada yang perlu saya urus tadi."


Suara serak Marcus menghentikan perdebatan keduanya. Rosaline pun segera melepaskan diri dari cengkeraman Felix dan mendekati pria yang baru datang itu.


"Selamat datang di Lofoten. Nama saya Rosaline."


Marcus menatap datar wanita di depannya, dan dengan perlahan membalas jabat tangannya.


Reaksi pria itu membuat Rosaline tersenyum sangat lebar, dan matanya kembali bercahaya.


"Kalau saya tidak salah, nama Anda adalah Marcus, bukan?"


Menarik tangannya pelan, Marcus menatap wanita itu dengan heran.


"Bagaimana Anda tahu?"


"Tentu saja saya tahu. Saya- Hmmh!"


Tanpa diduga, Felix membekap mulut wanita di pelukannya. Pria itu terlihat salah tingkah di hadapan tamu-tamunya.


"Jangan pedulikan dia. Urusanmu sudah beres tadi, Marcus?"


Pemandangan ini membuat Marcus sedikit terkejut. Baru kali ini, ia melihat Felix yang tampak santai dan tidak seperti biasanya. Pria itu terlihat seperti pria normal pada umumnya di hadapan wanita itu.


"Ya. Tadi aku sudah meminta agar Kevin mengganti krunya dengan yang lain. Kita tidak perlu khawatir adanya gangguan yang sama saat pulang nanti."


"Hmmh!?"


Jari-jari Rosaline mencengkeram dan menepuk-nepuk tangan Felix yang sedang membekapnya. Berusaha untuk melepaskannya dengan sia-sia.


"Lebih baik kita segera pergi. Maaf. Nathanael. Marcus. Sepertinya, aku harus meminta bantuan kalian untuk melayani Master Johan sementara waktu. Kau tidak keberatan bukan?"


Berusaha menahan senyumnya, Nate mengangguk dan segera meraih pegangan kursi Johan.


"Tentu saja. Jangan khawatir Felix."


"Oke. Mari kita segera pergi dari sini."


Sambil menyeret Rosaline yang sedang dipeluknya, Felix mengarahkan mereka berlima untuk segera menuju mobil minivan yang telah disiapkan oleh wanita itu di luar bandara.


Malamnya, ketiga orang tamunya telah berada di kamar masing-masing untuk beristirahat. Mereka berencana akan pergi ke padang rumput di ujung Reine besok pagi.


Melihat kondisi Johan yang lebih membaik, ketiganya berencana untuk mengajak pria tua itu bernostalgia lebih dulu dengan tempat ini.


Meski cuaca mulai dingin, tapi pria itu terlihat mengenakan pakaian yang cukup tipis. Angin terlihat menerbangkan helai-helai rambut pirangnya yang halus.


Menarik nafas dalam, wanita itu mengambil selimut dari sofa tempat mereka duduk tadi dan menyusul Felix ke halaman.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Suara Rosaline membuat Felix menolehkan kepalanya. Wajahnya terlihat muram.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berfikir."


Rosaline mengulurkan selimut yang dipegangnya pada pria itu.


"Cuaca mulai dingin. Sebaiknya kau memakai selimut ini."


Pria itu terkekeh pelan, tapi dia tetap menerimanya. "Terima kasih, Ine."


Sejenak keduanya terdiam dalam kesunyian. Langit di atas mereka terlihat gelap, dan hanya memantulkan beberapa bintang malam itu, menandakan bahwa cuaca cukup mendung di atas sana.


"Apa yang kau pikirkan?" Rosaline bertanya pelan setelah mereka terdiam cukup lama.


"Kita."


Jawaban Felix membuat Rosaline menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kita?"


Kepala Felix memandang wanita itu, yang cukup tinggi untuk ukurannya. Ubun-ubunnya mencapai telinga Felix.


"Usiaku hanya tersisa kurang dari 200 tahun lagi. Aku-"


Tiba-tiba wanita di depannya terkekeh pelan.


"Jangan mencari banyak alasan, Felix. Katakan saja apa keputusanmu."


"Aku rasa, lebih baik kau mencari pria lain untuk menjadi pasanganmu. Pasangan yang akan bisa lebih lama berada di sisimu nanti. Pasangan yang jauh lebih baik dari aku."


Wajah Rosaline masih menatap lurus ke depan, ke arah lautan luas. Ia sama sekali tidak memandang pria di sampingnya.


Jawaban Felix sudah lama diduganya, tapi pria itu terlalu baik untuk mengutarakan kejujurannya selama ini. Entah ini anugerah atau bencana baginya.


Tampak senyum samar di bibirnya yang indah. Ia masih belum mau memandang pria itu.

__ADS_1


"Aku mengerti."


Perkataan Rosaline yang tenang entah mengapa mulai menimbulkan rasa sakit di dada Felix. Ia tadinya menyangka kalau wanita itu akan marah dan mempertanyakan keputusannya, seperti yang biasanya ia lakukan. Reaksi yang tidak diduganya ini membuat pria itu membeku.


"Kau mengerti?" Suara Felix terdengar sedikit tercekat.


Tangan Rosaline menyelipkan helaian rambutnya yang berantakan karena tertiup angin. Ia akhirnya memandang pria di sampingnya.


"Aku sudah lama mengerti Felix, sejak dari 300 tahun yang lalu. Tanpa kau harus mencapai batas usiamu pun, aku sudah tahu bahwa tidak akan pernah ada kata 'kita' dalam kamusmu."


Untaian kata-kata Rosaline yang dikatakan dengan sangat lancar itu menusuk hati Felix.


"Rosaline-"


Kedua mata Rosaline yang biasanya bersinar menyilaukan, tampak meredup malam itu. Warnanya sedikit gelap dan tampak berair.


"Aku minta maaf sudah membebanimu selama ini, tapi kau jangan khawatir. Sejak kau memutuskan untuk datang ke sini tahun ini, aku juga sudah memutuskan untuk melepaskanmu, Felix. Aku tidak akan mengikatmu lagi."


Mata Felix menatap nanar wanita di depannya. Tanpa diinginkannya, kata-kata Rosaline mulai terasa menggerogoti hati terdalamnya yang selama ini tidak pernah disadari dimilikinya, untuk wanita itu.


"Ine-"


"Boleh aku meminta sesuatu? Untuk yang pertama, dan mungkin terakhir kalinya."


Dahi Felix mengernyit. Rosaline memang tidak pernah meminta sesuatu. "Apa itu?"


Pandangan Rosaline turun ke bibir Felix yang tipis. "Aku ingin menciummu."


Angin yang kencang tiba-tiba berhembus, membuat selimut yang sedang mereka pakai melambai-lambai.


Dalam keremangan malam, Felix dapat menatap siluet wajah Rosaline yang sangat cantik dengan rambutnya yang sedikit berantakan dalam gelungannya.


Pria itu mengangguk pelan. "Silahkan."


Perlahan, salah satu tangan wanita itu memegang bahu Felix dan ia pun mendekatkan wajahnya ke arah pria itu. Felix dapat merasakan hembusan nafasnya yang lembut dan wangi.


Dengan seringan kapas, Rosaline menyapukan bibirnya yang indah ke bibir pria itu. Dan saat itulah, Felix merasakan getaran listrik pada tubuhnya tanpa diinginkannya.


Ciuman itu sangat singkat, dan tidak bisa dikatakan sebagai ciuman. Bibir mereka hanya saling menempel tapi efeknya, membuat tubuh Felix menjadi kaku seperti papan.


Seumur hidupnya, pria itu tidak pernah menjalin hubungan yang serius. Ia adalah seorang petualang dan selalu mencari hal-hal baru dalam hidupnya, baik itu bersama dengan wanita atau pun pria.


Meski bukan seorang casanova seperti Dominic, tapi ia senang untuk bereksperimen dan tidak mau terikat. Dalam aspek apapun di kehidupannya.


Ia baru sedikit menata kehidupan personalnya ketika bertemu Rosaline 300 tahun yang lalu. Saat itu, Felix akhirnya menghentikan segala hubungan bebasnya dengan banyak orang.


Pria itu tidak pernah tahu alasan tindakannya, yang jelas ia merasa nyaman dengan kehadiran Rosaline yang ada di sisinya. Membuatnya berusaha menjadi pria yang lebih baik.


Hal inilah yang juga mendorongnya untuk membangun The Onyx dengan lini bisnis yang berbeda jauh dari club kebanggaannya selama ini. Ia ingin menghabiskan masa tuanya di sana dan mulai sedikit demi sedikit melepaskan club-nya.


Selama ini, Rosaline selalu menjadi sahabatnya yang akan dengan setia mendengarkan keluh-kesahnya mengenai klien-kliennya yang cukup unik. Wanita itu tidak pernah membocorkan satu pun rahasianya, dan hanya menganggapnya sebagai cerita pengantar tidur.


Secara konstan pun, pria itu akan mengunjungi Rosaline di kampung halamannya dan mereka akan saling berbagi kisah hidup. Keduanya menjalin hubungan yang platonis, tanpa ada kontak fisik sama sekali diantara pria dan wanita. Hubungan yang cukup aneh sebenarnya.


Pertemanan mereka sempat merenggang, ketika Rosaline akhirnya mengutarakan perasaannya pada Felix. Namun penolakan tidak langsung dari pria itu, akhirnya membuat Rosaline pun sadar dan mulai mundur dengan teratur.


Wanita itu tidak pernah mengungkit mengenai hal itu lagi, sampai suatu ketika Felix menghubunginya dan akan datang memberikan keputusannya. Dan inilah hari itu.


Ketika merasakan tubuh Felix yang kaku, hati Rosaline menjadi sangat sedih. Sebegitu tidak sukanyakah pria ini pada dirinya, sampai ia pun secara tidak sadar menolak ciumannya?


Rosaline akhirnya melepaskan pegangannya pada bahu pria itu dan ia mundur perlahan.


"Terima kasih."


Pandangan Rosaline akhirnya kembali seperti semula. Matanya terlihat berwarna hijau terang dan bersinar dalam kegelapan.


"Mulai sekarang, dirimu bebas Felixander Osborne. Lakukanlah hal yang membuatmu bahagia, dan aku pun akan selalu berdoa untuk kebahagianmu. Aku berterima kasih dan merasa beruntung, telah menjadi sahabatmu selama ini."


Pria itu masih membeku dalam posisinya. Otaknya terasa kosong dan ia pun tidak bisa berfikir. Efek ciuman itu masih membuatnya tidak mampu bergerak.


"Jadikan tahun ini sebagai kenangan indah di benakmu karena aku harap, ini adalah terakhir kalinya kau datang dan menemuiku di sini. Untuk selanjutnya, kau tidak perlu kembali untuk mencariku dan menyiksa dirimu lagi."


Angin laut kembali berhembus kencang, membuat gelungan rambut Rosaline terlepas dan membuat rambut wanita itu berkibar dengan bebas di punggungnya.


"Selamat tinggal Felixander Osborne."


Setelah mengucapkan itu, Rosaline berbalik dan melangkah dengan mantap menuju kabinnya. Meninggalkan Felix yang masih membeku di tempatnya.


Tanpa diinginkannya, tangan Felix terangkat ingin meraih sosok wanita itu yang semakin lama, semakin menjauhi dirinya.


"Ine..."


Dan malam itu, untuk pertama kali di hidupnya dalam rintikan hujan yang mulai turun, Felixander Osborne meneteskan air mata di pipinya.


Air yang keluar dari pelupuk matanya yang terbuka lebar sama sekali tidak bisa ditahannya. Makin lama makin deras mengalir di kedua pipinya.


Perlahan tapi pasti, hati Felix ternyata telah digenggam erat oleh Rosaline. Dan dengan seizinnya pulalah, wanita itu meremukkannya sampai hancur.


Kebodohannyalah yang membuatnya baru menyadari hal itu, di malam ini.

__ADS_1


Kepala pria itu tertunduk dalam dan kedua tangannya mengepal. Selama berjam-jam, Felix masih berada dalam posisinya meski hujan yang deras dan petir yang menggelegar menyirami bumi di malam yang sangat dingin itu.


Baru kali ini dalam masa hidupnya yang panjang, Felixander Osborne mempertanyakan keputusan yang telah diambilnya.


__ADS_2