Madness

Madness
Chapter 23


__ADS_3

"Apakah kamu tahu mengenai asal usulmu, Lin?"


Lin sedikit menundukkan kepalanya, berfikir. Ia tidak mau sembarangan menceritakan masa lalunya begitu saja. Ia harus tahu dulu, sejauh mana informasi yang diketahui oleh pria itu.


Mendongak, wanita itu memandang pria di depannya. Tatapan matanya tegas.


"Sebelum itu, aku justru ingin mengetahui mengenai seberapa jauh kamu mengetahui tentang diriku, Nate?"


Pria itu tersenyum miring. Ia tahu wanita di depannya ini bukanlah orang bodoh. Kalau tidak, ia tidak akan mungkin bisa membongkar kasus fraud yang telah diincar oleh Nate sejak lama.


Wanita itu juga tampak selalu berhati-hati dalam melangkah, mengingat ia sama sekali tidak pernah terlibat dengan seseorang dan juga tidak pernah menetap lama dalam satu tempat.


Pria itu kembali menyenderkan punggungnya, dan meletakkan salah satu sikunya pada kepala sofa. Kembali ia menumpangkan satu kakinya di atas kaki lainnya.


Nate merasa akan lebih baik kalau ia terbuka pada wanita itu. Meski tetap saja, ia tidak akan langsung mengungkapkan beberapa informasi penting. Ia masih ingin menyimpannya dulu.


"Aku tahu kalau kamu keturunan campuran. Kamu berpindah-pindah cukup sering dan hampir tidak pernah menetap lama dalam satu tempat. Kamu hanya memiliki ibumu dan dia sudah meninggal cukup lama."


Pria itu melirik wanita di sampingnya yang tampak cukup shock, ketika menyadari bahwa pria itu ternyata mengetahui informasi mengenai masa lalunya dengan cukup akurat.


"Dan aku tahu, kalau usia sebenarmu saat ini adalah 45 tahun."


Lin mengepalkan tangan yang ada di pangkuannya. Ia merasa cukup marah pada pria di depannya ini. Apa hak pria itu untuk menggali informasi mengenai dirinya?


"Kapan dan bagaimana kamu mengetahui semua ini?"


Lin berusaha menahan amarahnya. Pandangannya terarah pada kepalan di pangkuannya.


"Setelah pertemuan pertama kita. Aku pernah mengatakan dulu, kamu memiliki aroma yang berbeda. Jadi, aku memutuskan untuk menggali lebih jauh tentangmu."


Alasan Nate sangat masuk akal. Hal ini sedikit menyurutkan kemarahan Lin. Jika memiliki sumber, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama seperti pria itu.


Karena sama dengan alasan Nate, ia juga telah menyadari kanehan dari pria itu sejak awal mula pertemuan mereka.


"Mengenai bagaimana aku mendapatkan informasi itu, aku tidak bisa mengatakannya dulu. Yang pasti ia adalah orang yang sangat terpercaya."


Maklum, Lin menganggukkan kepalanya. "Apalagi yang kamu tahu?"


"Saat ini, aku hanya bisa memberitahumu sampai sejauh itu."


Pernyataan Nate memberikan alarm dalam benak Lin, bahwa pria itu mengetahui jauh lebih banyak mengenai dirinya daripada yang mau disampaikannya. Ia tidak heran.


Nate melirik wanita di sebelahnya. Mencoba membaca reaksinya. Ia harus cukup berhati-hati dalam memainkan kartunya dengan wanita ini.


Ia tahu jika salah mengeluarkan kartunya, maka wanita ini bisa langsung menghilang begitu saja dari hadapannya. Dan ia tidak mau itu sampai terjadi.


"Apa yang mau kamu tahu dariku?" Lin masih belum mau memandang Nate.


"Apakah kamu tahu siapa ayahmu, Lin?"


Pertanyaan itu membuat Lin menutup kedua matanya. Hatinya kembali merasa sakit, mengingat masa lalunya yang dibesarkan tanpa kasih sayang yang normal.


Wanita itu akhirnya menggeleng. Ia masih memandang tangan di pangkuannya.


"Aku tidak pernah tahu. Ibuku pun tidak pernah mau membahas mengenai dirinya."


Mendengar jawaban itu, Nate sedikit menarik nafas tajam. Ia sama sekali tidak menyangka. Lin tidak tahu kalau ayahnya adalah Master Alexander Johan?


Akhirnya ia mendapatkan konfirmasi kenapa Master Johan sampai meminta bantuan Felix untuk mencari puterinya. Pria tua itu sama sekali tidak mengetahui keberadaan anaknya, dan puterinya pun tidak pernah tahu siapa ayahnya.

__ADS_1


Kaum V tidak akan pernah mau meminta bantuan dari Felix bila memang tidak terlalu penting. Harga jasa pria bermata biru itu sangatlah mahal. Dan hal itu tidak bisa diukur dengan uang.


"Kamu sama sekali tidak memiliki gambaran tentang siapa ayahmu?"


"Sama sekali tidak. Aku juga sudah berusaha mencari dari barang-barang peninggalan ibuku, tapi sama sekali tidak menemukan apapun."


Nate sudah cukup lama mengenal Master-nya. Pria tua itu dikenal sebagai seorang yang tidak akan pernah mengabaikan orang yang sudah setia pada dirinya. Apalagi mengingat wanita yang didepannya ini adalah puteri kandungnya sendiri.


Pasti ada alasan kenapa Master Johan sampai harus terpisah dari anaknya. Dan sekian lama.


Nate memutuskan untuk mengubah pembicaraan ke sesuatu yang lebih netral. Ia akan kembali membicarakan topik sensitif itu di saat yang lebih tepat nanti.


Saat ini, ia hanya ingin mengertahui sebanyak-banyaknya tentang Lin dan itu harus keluar dari mulut wanita itu sendiri.


"Kapan kamu tahu kalau kamu berbeda?"


Perubahan topik ini membuat Lin mengerjapkan matanya. Ia akhirnya memandang Nate.


Wanita itu pun menyenderkan punggungnya ke sofa. Tubuhnya sedikit rileks saat ini. Ia sedikit merasa lega karena pada akhirnya dapat bercerita dengan bebas mengenai kisah hidupnya.


"Sebetulnya sejak kecil, aku sudah menyadari adanya keanehan di tubuhku. Dulu aku pernah kecelakaan saat bermain softball, yang membuat kepalaku terluka cukup parah. Tapi setelah sampai di Rumah Sakit, ternyata lukanya sudah sembuh. Bekasnya pun tidak ada."


Pandangan Lin mengarah ke samping, ke arah jendela yang memanjang di ruangan itu. Pemandangan di luar terlihat gelap. Hanya ada sedikit bintang dan lampu-lampu gedung yang berada di bawahnya.


"Saat itu, semua orang berfikir bahwa mungkin aku memang tidak terluka. Dan yang ada di kepalaku adalah darah orang lain. Tapi..." Wanita itu terdiam.


"Tapi?" Pancing Nate.


Wanita itu menoleh dan memandang pria di depannya.


"Tapi akulah yang merasakan ketika bola itu menghantam pelipisku dengan keras. Aku bahkan masih merasakan sakitnya saat itu. Jadi aku tahu pasti, kalau akulah yang terluka saat itu."


Mengarahkan kembali pandangannya ke jendela, Lin melanjutkan ceritanya.


"Sejak itu, aku akhirnya mulai menghindari terlalu dekat dengan orang lain. Aku takut kalau tidak sengaja melakukan sesuatu yang justru akan membuatku terlihat sebagai mahluk aneh."


"Apakah pernah ada yang mengatakan hal itu padamu?"


Lin menggeleng. "Tidak juga. Tapi semakin lama, aku mulai menyadari kalau fisikku ternyata tidak mengalami perubahan yang berarti, membuatku terpaksa harus berpindah-pindah pekerjaan sebelum ada yang memperhatikan."


Dahinya tampak mengernyit ketika mengingat tahun-tahun masa kecilnya yang juga dihabiskan dengan berpindah dari satu tempat, ke tempat lainnya.


"Sejak kecil pun, aku dan ibuku tidak pernah mau menetap dalam satu tempat terlalu lama."


Nate mengerjap. Alasan lain kenapa Master Johan menjadi lebih sulit menemukan mereka.


"Kamu tidak pernah mencoba bertanya padanya?" Alis Nate terangkat.


Lin menggelengkan kepalanya pelan. Ia kembali menunduk menatap tangannya.


"Tidak. Aku tidak berani. Kami hampir tidak pernah berkomunikasi, Nate. Seumur hidupnya ia selalu tampak ketakutan. Seolah sedang dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan."


Pria itu mengerutkan keningnya dalam. "Jadi, bagaimana kamu tahu kalau kamu campuran?"


Tampak Lin berusaha membasahi tenggorakannya yang terasa kering. Ini adalah fase yang sangat berat baginya ketika itu.


"Sesaat sebelum meninggal, ibuku menceritakan tentang asal usulku. Bahwa aku berasal dari sesuatu yang berbeda, dan bahwa ia tadinya tidak menginginkan diriku sama sekali."


Wanita itu tampak mengerjapkan matanya yang terasa berair.

__ADS_1


"Tapi sebelum sempat bercerita lebih jauh, ia sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia hanya sempat menceritakan sekilas tentang kehidupan kaum V dan bahwa mereka bukanlah mahluk yang baik. Karena itu, pengetahuanku memang sangat terbatas."


"Kapan ibumu meninggal?"


"Sudah cukup lama. Saat usiaku baru menginjak 21 tahun."


"Bagaimana kamu bisa bertahan hidup saat itu?"


"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku sudah cukup terbiasa mandiri dan menghidupi diriku sendiri, dan juga ibuku. Tapi tetap saja..."


Cerita Lin menggetarkan hati Nate. Pria itu sungguh merasa kasihan dengan wanita di depannya ini. Yang harus terus bertahan hidup dengan kebingungan karena tidak ada seorang pun yang bisa ditanya.


Berhasil mengeluarkan sesuatu yang emosional dan telah lama tersimpan di dadanya saat ini, membuat Lin merasa rapuh. Ia sebenarnya ingin menangis saat ini.


Dengan gemetar, ia mengambil cangkir di depannya dan tanpa sengaja justru mejatuhkannya serta menumpahkan isinya ke karpet putih di bawahnya.


"Oh!"


Berjongkok, Lin meraih tisu di meja dan berusaha membersihkan karpet yang ternoda itu.


"Maaf, Nate. Aku akan membersihkannya."


Pria itu segera berusaha meraih lengan atas wanita itu, mencegahnya untuk membersihkan sesuatu yang bukan menjadi tugasnya.


"Sudahlah. Tidak apa-apa, Lin. Nanti biar bagian cleaning service yang membersihkannya."


Posisi pria itu sedikit menunduk saat meraihnya, membuat wajah Lin tepat di area dadanya yang tertutup rompi tebal.


Perlahan aroma Nate yang kuat mulai terserap oleh hidung Lin, membuat mata wanita itu kembali menggelap.


Menyadari wanita di depannya belum beranjak dari posisinya, pria itu bertanya pelan, "Lin?"


Lin mengangkat wajahnya perlahan dan memandang Nate dengan intens.


Kesadaran Nate datang terlambat. Wanita di depannya mendorong pria itu untuk kembali menyender ke sofa, dan dengan lincah duduk di kedua pahanya.


Berada di pangkuan pria itu, wanita itu mulai menggerakkan tangannya. Ia mengusap-usap dada Nate yang tertutup rompi.


Pandangan Lin mengikuti gerak tangannya, yang mulai mengelus lengan atas pria itu dan mengarah ke arah leher pria di depannya.


"Lin..."


Nate mengerjapkan matanya. Dadanya berdebar dengan kencang, ketika merasakan perilaku Lin yang jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.


Apakah Lin mulai menyukainya? Dalam hati, pria itu kembali berharap.


Tampak kedua tangannya berada di pinggang dan paha wanita itu, berusaha menahannya agar tidak terjatuh dari pangkuannya.


Lin tampak masih fokus dengan kegiatannya mengusap-usap rambut tebal pria itu. Ia pun mulai mengarahkan pandangannya pada wajah pria di depannya.


Perlahan, Lin mendorong kacamata Nate ke atas kepalanya. Jari-jemarinya mengusap kedua alis tebal pria itu, ke hidung mancungnya dan mengarah pada bibirnya yang sedikit terbuka.


Wanita itu tampak terpana dengan apa yang sedang dilihatnya. Lin memberi elusan ringan pada kedua bibir Nate. Mendapatkan perlakuan yang lembut ini, mata Nate mulai menggelap.


Perlahan, pandangan kedua mata hitam Lin naik dan menatap mata Nate yang juga telah menghitam sempurna. Kedua pasang mata itu bergerak-gerak, tampak ada emosi yang tidak tersampaikan di dalamnya.


Lin mengusap-usap kedua pipi Nate yang mulai ditumbuhi bakal jenggot, dan mulai mendekatkan wajahnya pada pria itu.


"Nate..."

__ADS_1


Setelah itu, ia pun mencium bibir terbuka Nate yang disambut dengan bahagia oleh pria itu.


__ADS_2