
Marcus.
Tidak ada yang tahu pasti nama belakang anak yang kurus dan ceking itu.
Sejak berusia 12 tahun, Marcus dijual oleh orang yang mengaku sebagai orang tuanya untuk membantu di kesatuan Johan.
Saat melihat anak muda yang kurus itu, Johan sudah melihat sesuatu dalam dirinya.
Anak itu pendiam. Lebih banyak berbuat dibanding berbicara. Awalnya kelihatan sebagai anak yang pasif. Tapi saat melihat sorot matanya, tidak akan ada yang akan meragukan bahwa kedua pasang mata itu sebenarnya berbicara.
Sepanjang masa remajanya, Marcus telah mendampingi Johan di medan perang. Ialah yang akan mempersiapkan keperluan Johan sehari-hari, mulai dari pakaiannya, tempat tinggalnya sampai dengan kebutuhan 'makannya'.
Tanpa banyak tanya, anak bermata coklat gelap itu akan mencari mayat-mayat yang masih segar dan menguras darah mereka untuk diserahkannya pada Johan.
Tidak pernah satu kali pun, ia bertanya kenapa Johan menyuruhnya melakukan hal itu. Ia melakukannya, karena memang harus melakukannya.
Selama ia melayani tuannya, Marcus remaja akhirnya mengenal seseorang yang bernama Nathanael. Ia adalah seorang Jendral perang meski usianya masih terbilang cukup muda.
Sepak terjang Nathanael menarik perhatian Marcus. Anak muda itu biasanya akan berdiri di pojokan, mendengarkan Nathanael membagi strategi perangnya bersama para pasukan inti terpercayanya.
Semakin lama, kekaguman Marcus pada Nathanael semakin besar. Ia banyak belajar dalam diam. Mendengarkan berbagai banyak hal dan mencoba menerapkannya dalam kelompok kecilnya sendiri.
Banyak hal yang dipelajarinya secara tidak langsung dari Nathanael, membuat Marcus secara perlahan menjadi pimpinan di kelompok kecil anak muda yang ada di kesatuan.
Pola pikirnya lebih tajam dibanding kelompok anak seusianya. Membuatnya seringkali menang dalam pertaruhan atau pun hal lainnya.
Sampai suatu malam yang pekat, Marcus melihat Johan memangku tubuh Nathanael yang tidak berdaya dan berdarah-darah masuk ke dalam rumahnya.
Nathanael tampak sudah meninggal. Kulitnya yang pucat tampak tidak dialiri darah sama sekali. Mukanya terlihat bersih, tapi bagian dadanya dihiasi oleh warna merah yang mencolok.
Terlihat ada sebilah pisau panjang yang mencuat di dada kirinya.
Merasa ada yang memperhatikannya, Johan menoleh dan tampaklah sosok Marcus remaja yang berdiri di pojokan. Anak itu tidak terlihat takut, melainkan penasaran.
"Marcus. Kemarilah."
Perlahan, Marcus menghampiri tuannya. Ketika anak itu mendekat, kedua tangan Johan yang dinodai darah merangkul kedua bahunya dengan erat.
"Marcus. Apakah aku bisa mempercayaimu?"
Kepala Marcus mengangguk mantap.
Tersenyum, Johan mengusap kepala remaja itu.
"Bagus. Sekarang tolong kamu bersihkan tubuhnya dan pastikan kalau tidak ada orang yang tahu mengenai ini. Aku akan segera kembali."
Setelah Johan meninggalkannya, dengan perlahan Marcus membuka pakaian pria yang tampak sedang terbujur kaku di depannya.
Hati-hati ia memotong pakaian Nathanael dan segera menyelimuti tubuh polos pria itu dengan selembar kain hitam yang ada di kamar.
Anak muda itu pun mulai membersihkan darah yang ada di sekitar tubuh pria itu.
Ketika ia menyapukan kain basah di sekitar dada yang polos itu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang sedikit berdenyut.
Perlahan, Marcus meletakkan telinganya di dada Nathanael dan segera bangkit dengan terkejut. Pria ini ternyata masih hidup!
Meski lemah, tapi Marcus dengan jelas dapat mendengar detak jantung dan nafas pendek pria yang ada di depannya ini.
Jantungnya mulai berdebar keras, terutama ketika ia mendengar Johan ternyata telah masuk ke dalam kamar.
Berbalik, Marcus melihat ada sebuah mangkuk tertutup cukup besar yang dibawa oleh Johan.
Matanya mulai bertanya-tanya ketika pria tua itu mulai menempatkan dirinya di sisi pria yang masih tidak sadar itu.
Saat tangan Johan akan menyentuh Nathanael, tiba-tiba Marcus berkata.
"Tuan. Apa yang akan Tuan lakukan padanya?"
Mendengar suara serak Marcus yang sangat jarang didengarnya, membuat Johan menoleh.
Anak muda itu terlihat berdiri kaku. Wajahnya tampak marah dan kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
Pria tua itu tersenyum miring.
"Menurutmu, apa yang akan aku lakukan padanya?"
Tangan Marcus semakin terkepal erat.
"Tuan akan mengambil darahnya?"
"Apa yang akan kamu lakukan kalau aku mengambil darahnya?"
Sengaja, Johan menantang anak muda di depannya. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Marcus nantinya.
Mata Marcus terlihat bergerak-gerak. Batinnya memberontak. Ia menoleh pada pria yang sedang terbujur kaku. Pria yang sangat dikaguminya.
__ADS_1
Menatap Johan kembali, Marcus berkata mantap.
"Saya akan membunuh Anda."
Kedua alis Johan terangkat tinggi.
"Marcus. Kamu seharusnya ingat, kalau aku adalah Tuanmu. Aku sudah membelimu."
Bibir Marcus menipis mendengar pernyataan itu. Kedua matanya memicing.
"Saya akan tetap membunuh Anda, kalau Anda sampai menyakiti dia."
"Kenapa kamu memilih dia daripada aku, Marcus? Aku telah memeliharamu selama ini."
Terdiam, Marcus kembali memandang Nathanael yang masih belum bergerak. Waktunya untuk bertahan hidup semakin menipis.
Anak muda itu kembali menatap Johan.
"Dia orang baik. Orang yang baik dan cerdas. Dunia masih membutuhkannya."
Terkekeh, Johan menatap tajam anak muda di depannya.
"Jadi maksudmu, aku bukanlah orang yang baik?"
"Anda meminum darah dari para mayat. Bagaimana saya harus berfikir menurut Anda?"
Kembali tersenyum, Johan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pria tua itu menepuk bahu anak muda di depannya dan kembali berbalik menghadap Nathanael. Bersiap untuk memulai ritualnya.
Melihat kalau pria tua itu tetap pada niatannya, refleks Marcus menahan tangan Johan.
"Apa yang akan Anda lakukan!"
Kali ini, sorot mata Johan memandangnya dengan tajam.
"Kalau kamu tidak mau pria ini mati, maka bantu aku mengangkat punggungnya."
Tatapan Marcus menyelidikinya. "Anda tidak berbohong, kan?"
"Apakah aku pernah berbohong padamu, Marcus?"
Perlahan, anak muda itu melepaskan cengkeramannya. "Tidak pernah."
"Kalau begitu, cepat bantu aku."
Tiba-tiba, tangan kanan Johan menarik pisau yang tertancap di dada kiri Nathanel menyebabkan semburan darah yang cukup kencang. Hal ini pun otomatis membuat gerakan refleks di mulut Nathanael yang terlihat membuka dan mengeluarkan suara lirih.
Tanpa basa-basi, Johan langsung mengarahkan mangkuk besar yang telah dipersiapkannya tadi. ia tampak memaksakan sesuatu yang ada di dalamnya untuk tertelan masuk ke dalam tenggorokan pria muda itu.
Setelah memastikan semuanya masuk, Johan kembali memberikan perintah pada Marcus.
"Baringkan dia. Hati-hati."
Marcus pun membaringkan kembali punggung Nathanael dengan hati-hati ke tempat tidur. Tampak setetes cairan berwarna hitam mengkilat mengalir di sudut mulutnya.
Tidak lama, tubuh Nathanael mulai gemetar. Awalnya pelan tapi lama-lama getarannya mulai tidak terkendali. Secepat datangnya, secepat itu pula gejalanya berhenti tiba-tiba.
Kulit pria itu yang memang sudah pucat, perlahan terlihat lebih memucat. Jalur-jalur nadi berwarna kelabu mulai tampak lebih jelas bertebaran di tubuhnya.
Mata Marcus melotot ketika melihat luka terbuka yang ada di dada kiri pria itu dengan perlahan mulai menutup. Yang pada akhirnya tidak meninggalkan bekas apapun.
Anak muda itu menoleh kepada Johan. Matanya bertanya-tanya.
Melihat banyak pertanyaan dari anak muda di depannya, membuat Johan hanya menepuk bahunya pelan.
"Bersihkan tubuhnya. Aku akan beristirahat dulu sebentar. Saat aku bangun nanti, baru kita bicara. Bagaimana?"
Tanpa kata, anak muda itu mengangguk dan memperhatikan tuannya berlalu pergi, keluar dari kamar itu dan menutup pintunya.
Menoleh kembali pada Nathanael, Marcus kembali menempatkan telinganya ke dada pria itu.
Kali ini, ia dapat mendengar dengan jelas detakan jantungnya yang lebih kuat dan alunan nafas Nathanel yang terdengar teratur.
Wajah Marcus menunjukkan kekaguman melihat keajaiban di depannya. Dengan perlahan, ia pun mulai membersihkan sisa-sisa darah dari tubuh Nathanael.
Selesai membersihkan tubuh pria yang masih belum sadar itu, tidak sengaja kakinya menendang sebuah pisau panjang yang tadi dilemparkan Johan ke lantai.
Meletakkan mangkuk berisi air kotor di lantai, anak muda itu meraih pisau yang terlihat mahal itu. Gagangnya tampak dihiasi berbagai batu yang berharga.
Mata Marcus memicing, ketika ia melihat deretan tulisan kecil di mata pisaunya yang masih tertutupi bercak darah.
Mengambil lap basah, perlahan ia pun membersihkan mata pisau itu dan matanya melotot ketika ia akhirnya bisa membaca tulisan yang ada di sana.
Jantungnya berdentam kuat. Ia merasa sangat marah saat ini.
__ADS_1
Mengambil kembali mangkuk yang diletakkannya tadi, anak muda itu membawa serta pedang panjang itu untuk ia laporkan pada tuannya. Hal ini harus segera ditangani lebih lanjut.
Beberapa puluh tahun kemudian, di ulang tahunnya yang ke-38, Marcus menghadap Johan di tendanya. Saat itu, mereka baru memenangkan peperangan di salah satu lokasi di Eropa.
"Marcus. Masuklah."
Anak muda yang telah tumbuh dari yang tadinya kurus dan ceking, telah berubah menjadi pria kuat dengan postur yang tegap. Pria muda itu terlihat berdiri di tengah ruangan.
Pandangan Johan menatap kagum anak muda di depannya. Pria muda di depannya ini telah menjadi bayangan Nathanael. Kemampuannya dalam melakukan analisa dan strategi, tidak kalah dari mentornya sendiri.
"Apa yang kamu mau, Marcus? Seperti janjiku dulu, ini adalah peperangan terakhir kita."
Dengan kaku, Marcus mengangguk.
"Ya. Sebenarnya ada permintaan dari saya."
"Apa itu, Marcus? Katakanlah."
Marcus menatap tajam Johan. "Saya ingin mendampingi Tuan Nathanael."
Senyum terbit dari bibir Johan. Pria tua itu mengangguk sekali.
"Aku telah menduganya. Apakah kamu sudah yakin dengan keputusan ini?"
Pria muda itu mengangguk mantap. "Ya. Saya sudah memikirkannya matang-matang."
Pria tua itu menghela nafas pelan. Ia juga sudah yakin dengan anak muda di depannya ini.
"Baiklah. Kalau begitu, kita akan bertemu lagi malam nanti."
Setelah itu, Johan dan Nathanael pun menempuh jalan hidup masing-masing.
Nathanael dan Marcus kemudian berniat untuk memulai bisnis mereka dari awal. Melihat ada peluang untuk berbisnis di dunia perkapalan, keduanya pun mulai merencanakan strategi mereka dari awal.
Mereka berdua terlihat duduk di salah satu restoran yang baru buka di kota mereka tinggal saat itu.
"Jadi, menurutmu apa nama perusahaan yang paling baik buat kita?"
Nathanael bertanya pada Marcus, tangan kirinya tampak sibuk mencoret-coret sesuatu pada kertas di depannya.
Pria dingin yang ditanya tampak termenung. Ia juga masih bingung karena secara pribadi, ia pun tidak terlalu mementingkan yang namanya 'nama'.
Menyadari kalau pria di depannya tidak bersuara, Nathanael pun mengangkat mukanya.
Terdiam sejenak, akhirnya pria itu bertanya.
"Sebenarnya, apa nama belakangmu, Marc?"
Entah sejak kapan, Nathanael mulai memanggil Marcus dengan nama kecilnya.
"Corentin."
Baru kali ini, Marcus memberitahukan nama belakangnya pada seseorang. Kedua orang tuanya telah meninggal dalam peperangan, dan orang yang telah menjualnya dulu sebenarnya adalah paman tirinya.
Marcus adalah satu-satunya keturunan Corentin yang masih tersisa dalam keluarganya.
"Corentin. Nama yang bagus."
Pria di depannya mengangguk-angguk dan kembali mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Ia kemudian tersenyum.
Sambil masih tersenyum, Nathanael memperlihatkan coretan di kertasnya.
"Bagaimana kalau kita menamakannya NAMAC Inc.?"
"NAMAC Inc.?" Marcus bertanya.
Ia masih belum mengerti dari mana asal kata-kata yang terdengar sangat aneh di telinganya.
Terkekeh, pria di depannya menjelaskan dengan asal.
"Nathanael Axelle dan Marcus Corentin. Bagaimana menurutmu?"
"NAMAC Inc. Ya. Saya cukup menyukainya." Marcus mengangguk sekali.
Hatinya merasa gembira karena ternyata Nathanael menganggap dirinya sederajat dengan pria itu. Ia sama sekali tidak peduli dengan nama itu sebenarnya.
"Baik. Kalau begitu, mulai sekarang kita adalah pemilik resmi dari NAMAC Inc. Aku akan mendaftarkannya nanti. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."
Nathanael mengulurkan tangannya pada Marcus, yang kemudian disambut oleh pria dingin itu dengan sangat erat.
"Ya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Marcus tersenyum sangat samar.
Dan sejak tahun 1805, perusahaan bernama NAMAC Inc. pun resmi berdiri di kota itu. Seperti kaki gurita, dengan perlahan ia mulai merambah ke berbagai lini bisnis lain menjadikannya sebagai salah satu perusahaan raksasa di dunia, dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun.
Kedua pria itu adalah partner yang sangat solid. Keduanya memiliki otak yang encer dan bakat dalam berbisnis. Namun menginjak usia perusahaan yang ke-100, Marcus tiba-tiba menjual bagiannya pada Nathanael tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Menghargai keputusan Marcus, Nathanael pun membeli bagiannya dan menjadikan N. Axelle menjadi pemilik tunggal NAMAC Inc. sampai dengan sekarang.