Madness

Madness
Chapter 29


__ADS_3

Setelah itu, keduanya pun terlihat duduk bersisian. Saling bergenggaman tangan.


"Aku akan benar-benar bisa bertemu dengannya?"


Lin tampak masih belum bisa percaya, bahwa akhirnya selama 45 tahun hidupnya, ia akhirnya akan bisa bertemu dengan ayah kandungnya.


"Ya."


Benak Nate berputar. Ia juga sangat ingin tahu mengenai alasan Johan sampai mau meninggalkan anaknya selama ini.


Dan juga, ia ingin membereskan urusannya yang masih tertunda dengan pria tua itu. Ia ingin memastikan bahwa perselisihannya dulu tidak berdampak pada hubungannya dengan Lin.


"Nate." Panggil Lin.


Kepala pria itu menoleh padanya. Padangannya terlihat bertanya.


"Kamu benar-benar akan menemaniku kan?"


Mata Lin terlihat bergerak-gerak. Kecemasan dan kurangnya kepercayaan diri tampak jelas dari sorot kedua matanya.


Pertanyaan itu membuat senyum Nate terbit. Ia meremas lembut kedua tangan mungil yang ada dipangkuannya.


"Tentu saja, Lin. Aku akan menemanimu nanti."


Lin terlihat lega. Ia mengeluarkan nafasnya dengan perlahan dan mengangguk.


Menatap Nate lagi, Lin bertanya, "Jadi, kapan rencananya kita akan bertemu?"


Pria itu kembali meremas tangan Lin.


"Besok malam, jam 21.00. Kalau kamu mau, aku akan menjemputmu di apartemen nanti."


Mata Lin mengerjap. Ia cukup terkejut karena tidak menyangka akan secepat itu.


"Bagaimana?" Pandangan Nate menyelidiki raut muka wanita di depannya.


Akhirnya Lin pun mengangguk dan mengangkat kepalanya kembali.


"Ya. Aku setuju."


Saat ini, Lin sudah berada dalam tahap harus berani menerima kenyataan yang sebenarnya. Ia sudah tidak mau bertanya-tanya lagi dan siap untuk mendengar realitanya.


"Bagus."


Nate kembali mengalihkan pandangannya. Benaknya tampak mulai berkecamuk.


Ia menyadari bahwa akan ada kemungkinan kalau Johan tidak akan setuju jika puterinya bersama dengan dirinya. Apa yang akan dilakukannya nanti?


Nate pernah menjadi seorang ayah. Ia cukup tahu apa yang ada di benak seorang ayah jika mendapati anak gadisnya dekat dengan seseorang yang sangat membencinya dulu.


Apakah ia akan bisa mempercayai nasib anaknya untuk berada di tangan lelaki semacam itu?


Di satu sisi, Nate ingin agar Lin dapat segera bertemu dengan ayahnya dan segera fokus pada hubungan mereka berdua.


Tapi di sisi lain, ia juga mulai merasakan kekhawatiran mengenai kemungkinan penolakan Johan yang keras terhadap dirinya sebagai pendamping anaknya.


Nate tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sementara Lin yang berada di sampingnya, berkesempatan mengamati profil muka pria yang tampak sedang berfikir itu.


Pria di sampingnya benar-benar memiliki wajah yang sangat ningrat. Dan kali ini setelah Lin memiliki perasaan yang berbeda, ia baru menyadari kalau Nate ternyata sangat rupawan.


Semua yang ada di tubuh Nate sangat sempurna. Selain fisiknya yang menjadi dambaan semua pria di luar sana, secara materi pun ia akan sangat sulit untuk ditandingi.


Mata Lin mengerjap cepat, saat baru menyadari bahwa akan ada banyak saingannya yang mungkin muncul di luar sana.


Meski Nate mengatakan kalau ia tidak tahan dengan bau manusia, tapi bagaimana dengan wanita dari kaumnya sendiri?


Apakah Nate pernah berhubungan dengan salah satu dari mereka?


Ia pasti sudah sering bertemu dengan para wanita V, yang mungkin saja jauh lebih cantik dari diri Lin mengingat masa usia pria itu yang cukup panjang.


Nate pastilah seorang pria yang sangat berpengalaman. Apakah Lin akan mampu untuk mengimbanginya nanti?

__ADS_1


Rasa minder perlahan mulai merayapi hati Lin. Meski ia tergolong wanita yang memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi, namun minimnya pengalaman berhubungan dengan lawan jenis membuatnya mau tidak mau memiliki perasaan seperti itu.


Perilakunya pada Nate yang tergolong agresif adalah ketika ia berada dalam kondisi tidak sadar. Lin sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam berhubungan fisik dengan para pria.


Nate adalah satu-satunya orang yang pernah dicium dan dijamahnya selama ini.


Berdehem pelan, Lin dengan perlahan menarik tangannya dari pegangan Nate.


Hal yang dilakukan Lin, tampak membuat Nate tersadar dari pikirannya.


"Lin?"


Wanita yang disampingnya tampak gugup. Lin menggosok-gosokkan kedua tangan yang ada di pangkuannya.


"Hem, Nate? Apakah- Apakah kamu pernah memiliki pacar sebelumnya?"


Pertanyaan itu membuat dahi Nate mengernyit. Pacar? Bagaimana ia bisa memiliki seorang pacar jika sama sekali tidak pernah tertarik pada perempuan sebelumnya, sampai ia bertemu dengan Lin.


"Pacar? Seingatku tidak."


Jawaban yang terdengar acuh itu membuat kepala Lin menoleh.


"Lalu bagaimana- Bukannya kamu punya kebutuhan untuk-"


Nate terlihat masih kurang paham mengenai hal yang ditanyakan oleh Lin. Tampaknya sudah terlalu lama hidup selibat, membuat otaknya sedikit karatan bila berhubungan dengan topik terkait wanita dan semacamnya.


"Aku tidak mengerti maksudmu, Lin."


Mata Lin membesar. Jangan katakan kalau Nate memperoleh kepuasan lahiriah dengan menggunakan cara yang lain.


Ia yakin kalau pria dengan fisik seperti Nate, pasti memiliki kebutuhan yang cukup besar untuk dapat melepaskan hasrat badaniahnya.


Atau, jangan-jangan dia itu... Lin cukup ngeri hanya dengan membayangkannya saja.


Mata Lin perlahan mengarah ke bawah, ke area pribadi Nate.


"Nate. Jangan bilang kalau kamu..."


"Apakah kamu mau tahu?"


Nate mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum nakal. Ia merasa gembira kalau ternyata Lin-lah yang pertama kali membuka tentang topik ini.


Dengan cepat, Nate mengarahkan tangan Lin yang sedang dipegangnya menuju area pribadinya yang tadi dipandang oleh wanita itu.


Sedikit lengah, Lin hampir saja memegang area itu tapi segera menghentikannya.


"Apa yang kamu lakukan, Nate!?"


Muka Lin memerah. Ia sama sekali tidak menyangka dengan tindakan Nate.


Pria itu ternyata punya sisi vulgar yang baru diketahuinya, padahal tadinya Lin menganggap Nate sebagai pria yang sangat sopan dan beretika.


"Bukannya kamu mau tahu?" Nate memandangnya dengan tatapan yang terlihat polos.


Terjadi tarik menarik kembali di antara keduanya. Hanya saja kali ini, Nate-lah yang memaksa Lin untuk menyentuhnya. Ia tampaknya mulai ketagihan dengan sentuhan wanita itu.


Posisi tangan Lin yang sedang terbuka, membuatnya tidak berani untuk menutup tangannya. Ia benar-benar takut kalau tidak sengaja menyentuh area tersebut.


Posisinya benar-benar sangat dekat dengan area pribadi Nate. Tangannya mulai gemetar.


"Lepaskan, Nate." Lin berusaha untuk menarik tangannya yang masih dipegang Nate.


"Kamu benar-benar tidak mau tahu, Lin?"


Tangannya hanya beberapa inchi lagi akan menyentuh bagian itu, membuat muka Lin semakin memanas. Ia benar-benar merasa sangat malu kali ini.


Mereka masih saling tarik menarik ketika tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dan Marcus tampak masuk ke ruangan.


Interupsi yang mengagetkan itu, membuat Lin kehilangan fokus dan Nate yang sedang menariknya membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.


Tangan Lin yang sedang terbuka, mendarat tepat di area pribadi Nate dan tidak sengaja meremas benda yang dipegangnya.

__ADS_1


"Ugh."


Wajah Lin yang tertelungkup di dada Nate, dapat mendengar jelas geraman tertahan pria itu. Lin pun berusaha menarik tangannya tapi ditahan oleh tangan Nate dengan kencang.


"Jangan. Di situ saja dulu." Nate berbisik pelan di telinganya.


Perlahan, Nate menoleh pada asistennya. Tangannya yang bebas memeluk tubuh Lin dengan erat, mencoba menyembunyikan posisi salah satu tangan Lin yang cukup memalukan.


"Ada apa, Marc?"


Posisi kedua orang di depannya yang terlihat intim, membuat Marcus mengerjapkan matanya tapi ia tidak berekspresi apapun.


"Maaf mengganggu, Tuan. Tapi ada sesuatu yang ingin saya diskusikan dengan Anda."


Nate mengangguk. "Beri aku waktu 10 menit, Marc."


Mendengar hal itu, Marcus mengangguk dan langsung undur diri. "Baik Tuan."


Setelah Marcus keluar ruangan, Lin kembali menarik tangannya tapi tetap ditahan oleh Nate.


"Nate. Lepaskan."


Lin merasa sangat malu dan tidak nyaman dengan posisi ini. Ia ingin segera melepaskan benda yang ada di tangannya.


"Sebentar Lin."


Masih tertelungkup di dada Nate, Lin mendengar debaran jantung pria di bawahnya semakin cepat dan kuat. Ia juga merasakan tarikan nafas pria itu yang mulai pendek-pendek.


Telapak tangannya juga mulai merasakan suhu benda yang dipegangnya mulai memanas dan terasa berdenyut. Benda itu seperti hidup. Oh Tuhan!


Tangan Nate mulai mengarahkannya untuk mengelus benda itu secara perlahan.


"Nate..." Lin mulai merengek. Situasi ini benar-benar tidak diinginkannya.


"Sebentar Lin..." Suara Nate mulai terdengar mendesah dan berat.


Menutup matanya erat, Lin menggigit bibirnya kuat. Ia merasakan bagian itu mulai membesar dan suhunya benar-benar panas di balik kain celananya. Nate seperti sedang demam.


Setelah beberapa lama, terdengar perintah Nate. "Remas."


"Tidak mau."


"Remas, Lin. Atau aku tidak akan melepaskanmu."


Ancaman Nate membuat Lin menuruti perintahnya. Ia takut kalau pria di bawahnya ini akan memaksanya melakukan hal-hal yang lebih vulgar lagi.


Dengan perlahan, Lin meremas bagian yang sedang dipegangnya. Melakukan hal yang sangat memalukan ini, membuatnya semakin memejamkan matanya. Tangannya terasa gemetar.


"Hmmh. Lagi."


Lin melakukannya beberapa kali, sampai tiba-tiba Nate menarik tangan wanita di atasnya dari area tersebut.


Nate menoleh dan memandang wanita di bawahnya. Aliran nafasnya terasa panas, dan ia sedikit mendesah saat berbicara pada Lin.


"Bagaimana? Kamu sudah puas?" Suara Nate terdengar serak.


Mendengar pertanyaan tersebut, membuat Lin langsung mendorong dada Nate dan bangun dari posisinya.


Lin segera menjauh dari pria di depannya dan mengambil tasnya yang ada di sofa.


Tanpa sengaja saat berbalik, mata Lin langsung melihat bagian tubuh Nate yang tadi disentuhnya. Matanya melotot melihat bagian itu tampak sudah membesar dan menonjol.


Tenggorakan Lin benar-benar kering saat ini.


"A- A- Aku pulang." Ia pun terbirit-birit menuju pintu keluar.


Terkekeh, Nate yang masih dalam posisinya berujar enteng, "Besok malam, aku akan menjemputmu di apartemen."


Lin masih sempat mendengar perkataan Nate sebelum akhirnya ia membanting pintu di belakangnya. Entah siapa yang dilecehkan kali ini, pria itu atau justru dirinya sendiri?


Nate pun akhirnya dengan perlahan bangkit dari duduknya dan langsung menuju kamar mandi. Ia harus menuntaskan urusannya dulu sebelum bertemu Marcus nanti.

__ADS_1


Senyum yang sangat lebar tampak terpatri di bibirnya. Lin benar-benar bisa membangkitkan sisi liar dari dirinya yang sebelumnya tidak pernah Nate ketahui dimilikinya.


__ADS_2