Madness

Madness
Chapter 41


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu pikirkan, Nathanael?"


Teguran dari Johan membuat Nate menoleh pada pria tua itu. Ia baru sadar kalau dari tadi ia sama sekali tidak menyimak pembicaraan dua orang di depannya.


Sejak tadi, ia hanya sibuk mengotak-atik ponselnya. Beberapa kali ia mengirim chat pada seseorang dan menunggunya tanpa hasil. Tanpa hasil dari kemarin.


Saat ini, mereka bertiga sedang berada di kamar Johan. Pria tua itu tampak terduduk di tempat tidurnya.


Melihat anak muda di depannya, dalam hatinya Johan bersorak gembira. Baru kali ini semenjak mengenal Nathanael, ia melihat pria muda itu terlihat kalut dan galau. Diam-diam, ia merasa bangga pada puterinya.


"Kalau kamu tidak berminat pada pembicaraan ini, lebih baik kamu keluar saja dari sini."


Ketus, Johan mengusir Nate. Saat ini, pria tua itu memang ingin fokus pada pria dingin yang sedang duduk di depannya.


Nate mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar tidur dengan lesu. Ini adalah sudah kesekian kalinya ia mendapat teguran dari orang-orang terdekatnya. Hal ini membuat pria itu sedikit kehilangan kepercayaan dirinya.


Berada di lorong, Nate menyenderkan punggungnya di dinding dan menghela nafas berat.


Ia menutup kedua matanya dengan tangannya yang masih bebas. Suasana hatinya beberapa hari ini benar-benar kacau. Ia benar-benar kacau saat ini.


Nate kembali melihat ponselnya, dan baru mengetik beberapa nomor ketika mendengar namanya dipanggil.


"Nathanael."


Suara Felix tiba-tiba terdengar dari ujung ruangan.


Mendengar panggilan itu, Nate menoleh dan melihat Felix sedang berdiri di ujung lorong. Tampak menunggunya.


"Apakah kau ada waktu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Secara pribadi."


Melihat raut muka Felix yang cukup serius, membuat pria bermata kelabu itu mengangguk dan berjalan menghampiri. Nate menyimpan kembali ponselnya dalam saku ke celananya.


Ketika ia sudah berada di depan pria berambut pirang itu, Felix pun mengarahkannya pada salah satu kamar yang ada di sana.


"Ada seseorang yang ingin kupertemukan denganmu. Mari masuk."


Kedua pria itu pun masuk ke kamar yang dituju oleh Felix dan di dalam ruangan, Nate melihat ada sosok seorang pria tegap sedang membelakangi mereka. Posisinya menghadap jendela besar di kamar itu. Ia sama sekali belum pernah melihat pria asing itu.


"Master Laurent. Perkenalkan, Nathanael Axelle."


Mata Nate melotot mendengar perkataan Felix. Pria di depannya ini adalah salah satu dari The Masters?


Pria di depannya berbalik, memperlihatkan seraut wajah yang terpahat sempurna seperti patung dewa Yunani. Rambutnya berwarna coklat tua, dan tubuhnya sangat bugar. Ia terlihat seperti baru berumur di awal 40 tahunan.


Hal yang mungkin menjadi kecacatannya adalah kedua matanya yang berwarna putih. Pria itu ternyata buta, yang sedikit mempengaruhi kesempurnaan fisiknya.


"Nathanael Axelle."


Suara pria itu terdengar dalam dan sangat berwibawa. Ia terlihat mengulurkan tangannya.


"Master Laurent. Suatu kehormatan bagi saya." Berhasil mengatasi kekagetannya, Nate balas menyapa pria asing itu.


Kedua pria itu saling berjabat tangan erat.


Setelah ketiga pria itu duduk di sofa dan merasa nyaman satu sama lain, Felix akhirnya membuka suaranya.


"Nathanael. Master Laurent adalah penciptaku."


Kepala Nate menoleh pada Felix. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pencipta Felix memiliki perawakan yang masih sangat muda.


Raut wajah pria itu membuat Felix tersenyum.


"Jangan tertipu dengan penampilannya. Beliau telah berumur lebih dari 2000 tahun."


Kembali menatap pria yang sedang duduk di depannya, Nate memandangnya tanpa berkedip.


Benar-benar belum ada kerutan yang berarti di wajahnya yang sangat tampan dan sempurna. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda telah memiliki usia yang sangat panjang.


"Kalau kamu bertanya-tanya, usia saya dengan Alexander hanya terpaut 100 tahun. Saya lebih tua dari Alexander. Tapi, saya tidak akan pernah bisa mengalahkan kebijaksanaannya."


Hal ini membuat Nate kembali terkejut.


"Anda tahu kalau pencipta saya adalah Master Johan?"


Laurent terlihat tersenyum simpul.


"Maaf kalau saya lancang. Tapi Felix telah menjelaskan sedikit mengenai latar belakangmu."


Nate menegakkan tubuhnya di sofa. Sebenarnya untuk apa Felix mempertemukannya dengan pria ini? Ia melirik Felix yang duduk di sebelahnya.


"Maksud saya ingin bertemu denganmu sebenarnya terkait dengan Dominic Allard."


Mendengar nama pria bangsat itu, membuat Nate kembali menoleh pada Laurent.


"Pencipta Dominic Allard adalah Master Laurent juga."


Felix yang duduk di sampingnya menjelaskan pelan. Pria itu tidak memandang Nate.


"Terus terang, saya tidak mengerti mengapa Anda mau menemui saya terkait dengan hal ini."


Suara Nate terdengar kaku. Topik ini membuat rasa marahnya kembali muncul.


"Ada hal yang harus kamu ketahui tentang anak itu. Apakah kamu mau sedikit bersabar dan mendengarkan cerita saya?"


Laurent menyenderkan tubuhnya ke sofa. Salah satu kakinya ia topangkan ke kaki lain. Pria itu tampak anggun dan memiliki pembawaan klasik.


Berusaha untuk mengontrol emosinya, akhirnya Nate mengangguk. Bagaimana pun, ia telah dibesarkan dan dididik untuk bersikap sopan selama hidupnya, terutama pada yang lebih tua.


"Baiklah. Saya akan mendengarkan cerita Anda."


Kepala Laurent sedikit menengadah. Pria itu menutup matanya dan menarik nafas dalam.


"Terima kasih. Saya berusaha tidak mengambil banyak waktumu dan hanya akan menceritakan kejadian setelah dia melakukan kejahatan di rumahmu, Nathanael. Karena itulah awal mula pertemuan saya dengannya."


Kedua tangannya berada di pangkuannya. Pria tampan itu pun memulai ceritanya.

__ADS_1


Flashback lebih dari 400 tahun yang lalu.


Setelah menghabisi seluruh keluarga Axelle, Dominic langsung melarikan diri dari estate keluarga Nathanael.


Langkah kaki pria itu tidak menentu, akhirnya ia mengarahkan kudanya ke salah satu daerah hutan yang memiliki danau besar terbentang di tengah-tengahnya.


Tidak banyak orang mengetahui lokasi danau ini, dan Dominic biasanya akan datang ke sana bersama sahabatnya, Nathanael.


Mereka berdua adalah teman dekat sejak kecil dan bersama-sama, mereka pun masuk ke dalam kesatuan yang sama meski berbeda pimpinan.


Kesatuan Nathanael dipimpin oleh Alexander Johan, sedangkan kesatuan Dominic dipimpin oleh seseorang yang bernama Otto Wolfee.


Keluarga Wolfee sebenarnya adalah pelarian dari Jerman dan akhirnya setelah lahir dan dibesarkan di Prancis, Otto pun dapat diterima dan membangun karir perangnya.


Satu-satunya yang dianggap pria itu sebagai penghalangnya untuk mencapai posisi yang lebih tinggi adalah Nathanael Axelle. Meski masih muda, tapi pria itu memiliki otak yang brilian dan membuatnya mampu untuk mencapai posisi puncak dengan sangat cepat.


Pria itu juga memiliki kemampuan berperang yang sangat luar biasa, membuatnya tidak mudah untuk dirubuhkan oleh sembarang orang.


Otto sangat menyadari, kalau secara fisik dan potensi otaknya, ia tidak akan bisa mengalahkan Nathanael dengan jujur. Hal ini membuat pria yang memang serakah itu berusaha untuk mencari jalan lain untuk dapat memuaskan obsesinya.


Memanfaatkan posisi jabatannya, Otto pun berusaha mencari tahu kelemahan Nathanael dan menemukan, kalau ternyata pria itu sangat mempercayai sahabatnya, Dominic Allard.


Beberapa kali kesatuan mereka berkolaborasi membuat strategi perang, yang kesemuanya dipimpin langsung oleh Nathanael. Dan semua rencana pria itu memiliki keberhasilan hampir sempurna, membuat Otto semakin lama semakin geram pada saingannya tersebut.


Suatu malam, Otto memanggil Dominic untuk datang ke ruangannya.


"Tuan Otto." Dominic sedikit menunduk ketika menyapa atasannya.


Berusaha melupakan masa lalunya, Otto meminta setiap orang untuk memanggilnya dengan menggunakan nama depan dibanding nama belakangnya.


"Allard. Apakah kau tahu kenapa aku memanggilmu?"


Mengerjapkan matanya, pria berambut merah itu menggeleng pelan. "Tidak Tuan."


Melirik sekeliling ruangan yang tampak sepi dan tidak ada orang, Otto bangkit dari duduknya dan menghampiri Dominic yang masih berdiri di tengah ruangan.


Ia berhenti tepat di samping Dominic. Sedikit menelengkan kepalanya, Otto berbisik pada bawahannya itu.


"Aku punya misi rahasia untukmu."


Kepala Dominic sedikit menoleh pada atasannya. Selama ini, Otto memang kerap mempercayakan beberapa misi rahasia pada Dominic, dan kesemuanya melibatkan pembunuhan beberapa tokoh penting yang dianggap dapat membahayakan negara.


Selama ini, Dominic selalu menuruti perintah atasannya karena semuanya tertera secara tertulis dan resmi. Perintah langsung dari raja. Biasanya, ia juga akan dipanggil secara resmi, dan perintah itu disaksikan oleh keseluruhan pimpinan pasukan.


Adanya misi rahasia yang juga disampaikan secara personal seperti ini, membuat Dominic mengerutkan keningnya.


"Misi rahasia?"


"Ya. Apakah kau mau dengar?" Senyum miring terlihat di bibir Otto.


Memandang senyum licik yang terpatri di bibir atasannya, membuat Dominic tidak mau mengambil resiko lebih jauh. Ia memutuskan untuk memilih mundur.


"Maaf, tapi sepertinya saya akan melewatkan misi ini, Tuan. Saya permisi."


"Yakin tidak mau dengar? Meski keluargamu taruhannya?"


Perkataan Otto mengenai keluarga kecilnya membuat kaki Dominic langsung berhenti. Perlahan, pria itu membalikkan tubuhnya, menghadap kembali pada atasannya.


"Apa maksud Anda mengenai keluarga saya?"


Jantungnya mulai berdebar keras. Dominic sangat paham kalau atasannya adalah seorang yang sadis dan tidak sungkan mengambil langkah kotor untuk mencapai keinginannya.


Pria itu sebenarnya sudah merencanakan untuk pensiun dini beberapa hari lagi. Ia masih menunggu, karena permintaan dari isterinya yang ingin agar suaminya memikirkan kembali keputusannya untuk mengakhiri karir perangnya.


Salah satu tangan Otto menepuk bahu Dominic keras dan meremasnya cukup kencang.


"Kalau kau masih belum mengerti, maka aku akan membuatmu mengerti dengan cepat, Allard. Aku tunggu jawabanmu dalam 2 hari."


Setelah itu, Otto langsung meninggalkan Dominic yang membeku di tengah ruangan. Keringat dingin mulai bermunculan di alis pria itu.


Dengan panik, ia pun langsung berlari dan segera mengarahkan kudanya menuju ke estate keluarganya yang terletak di pinggir kota.


Sesampainya di estate keluarganya, pria itu langsung menuju ke ruangan keluarga dan membuka kamar tidur yang ada di sana, satu demi satu. Ia sama sekali tidak menemukan keluarganya.


Kebingungan mencari keberadaan keluarganya, ia pun bertanya pada para pelayan yang ada di sana dan tidak menemukan sama sekali jawabannya.


Tiba-tiba, ia mendengar suara kereta kuda yang mendekat, membuat pria yang sedang panik itu segera menuju ke halaman depan untuk melihat siapa yang datang.


Tampak isteri dan puterinya turun dari kereta. Pakaian keduanya terlihat berantakan dan bagian kerah baju isterinya tampak robek.


"Celine! Dominique!"


Pria itu langsung memeluk keluarganya dengan erat dan mencium kening keduanya.


Ia langsung meneliti kondisi keduanya. "Apa yang terjadi?"


Celine, isterinya tampak menggeleng kepalanya pelan. Sedangkan puterinya masih memeluk pinggang ayahnya dengan kencang.


"Aku tidak tahu, Dom. Saat kami dalam perjalanan, tiba-tiba ada orang mabuk yang memaksa masuk ke kereta. Philip sampai berdarah karena dipukul oleh pria gila itu."


Philip, kusir kuda mereka terlihat menghampiri Tuannya. Kondisinya cukup menyedihkan.


"Philip, cepat kamu obati lukamu dan segera beristirahat."


Kusir malang itu menganggukkan kepalanya dan segera undur diri. "Terima kasih, Tuan."


Mencengkeram bahu isteri dan puterinya dengan kuat, pria itu mengarahkan keluarganya untuk masuk ke dalam rumah.


Pria itu meminta agar keluarganya tidak keluar rumah terlebih dulu selama beberapa hari. Dominic sangat sadar kalau kejadian ini direncanakan oleh Otto.


Ia segera merencanakan untuk mengungsikan keluarga kecilnya ke tempat aman, namun tetap saja ia masih perlu waktu untuk mempersiapkan pelarian mereka.


Dan sebelum ia sempat melarikan keluarganya, kejadian yang sama terjadi kembali keesokan harinya ketika ia sedang bertugas.


Terdapat dua orang mabuk yang menerobos masuk ke dalam estate-nya dan mencoba menyerang keluarganya. Untungnya saat itu, para pelayan masih belum pergi ke perkebunan dan segera membantu majikannya melakukan perlawanan.

__ADS_1


Yang membuat Dominic sangat geram adalah salah satu dari pria itu masuk ke dalam kamar puterinya dan sempat melecehkannya. Meski tidak sampai menyakiti anaknya, namun tetap saja hal ini sudah dianggapnya keterlaluan.


Dengan marah, pria itu masuk ke dalam ruangan Otto dengan tanpa permisi dan langsung menunjuk muka atasannya yang saat itu sedang duduk bersama pimpinan lain.


"Kau! Apa maumu sebenarnya! Jangan pernah kau ganggu keluargaku!"


Melihat keributan ini, membuat beberapa prajurit langsung berusaha mengamankan pria yang terlihat lepas kontrol itu.


Beberapa dari mereka pun kaget, karena sebelumnya Dominic sama sekali belum pernah berbuat onar. Pria itu biasanya patuh dan akan selalu melaksanakan perintah yang diberikan padanya, apapun resikonya.


Otto pun akhirnya bangkit dari duduknya dan meminta anak buahnya untuk melepaskan pria itu. Ia juga mengibaskan tangannya, menyuruh semua orang untuk keluar dari ruangan, meninggalkannya hanya berdua dengan pria yang sedang emosi itu.


Yakin bahwa mereka hanya tinggal berdua, Otto menghampiri pria di depannya yang tampak masih berusaha mengontrol emosinya.


Muka Dominic memerah dan hidungnya kembang kempis, mencoba menahan diri untuk tidak menyerang pria di depannya ini. Kedua tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.


Kepala Otto menoleh padanya sedikit dan bibirnya menyunggingkan senyum sinis.


"Jadi, apa jawabanmu, Allard?"


Dominic memicingkan matanya ke arah Otto.


"Apa maumu sebenarnya?" Ia akhirnya bertanya dengan geram.


Mata Otto menajam dan senyum pun hilang dari wajahnya.


"Aku mau kau menghabisi keluarga Nathanael Axelle. Sampai ke akar-akarnya."


Kata-kata Otto perlahan mulai masuk ke benak Dominic, membuat muka pria itu perlahan memucat dan tanpa sadar kakinya mundur selangkah.


"Kau gila." Ia berkata pelan.


Kepalanya menggeleng berkali-kali, tidak percaya sama sekali kalau ia akan pernah mendengarkan permintaan semacam ini dari atasannya sendiri.


"Aku tidak akan pernah melakukannya."


Berbalik, ia pun berniat pergi meninggalkan Otto ketika atasannya kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku tidak akan pernah membunuh keluargamu. Tapi aku berjanji akan membuat isteri dan puterimu menderita seumur hidup, sampai mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi kau tahu? Aku tidak akan pernah membiarkannya semudah itu."


Perkataan dingin pria itu membuat langkah Dominic terhenti di tengah jalan. Ia sangat sadar kalau ancaman Otto bukanlah omong kosong. Pria itu benar-benar akan melakukannya.


Masih belum berbalik dan juga tidak bisa pergi, Dominic mendengar gemerincing gesekan benda tajam dari arah belakangnya.


Di depan matanya, tampak sebilah pisau panjang yang tertutup sarung. Bagian gagangnya dihiasi batu-batu kecil yang menandakan kalau itu adalah pisau buatan khusus.


"Aku ingin kau membunuh pria itu dengan menggunakan ini."


Itu adalah pisau dari salah satu keluarga bangsawan. Pisau itu dipesan khusus oleh keluarga Allard untuk anak lelaki terakhir mereka, Dominic Allard.


Otto menyukai nilai sentimentil dalam melakukan sesuatu. Sungguh ironis, pria yang sentimentil ternyata dapat melakukan hal sesadis ini.


Tidak sabar, Otto menggoyangkan pisau itu di depan mata Dominic. Menyuruh pria itu untuk mengambilnya.


Terpaksa, Dominic pun mengambil pisau itu dan memandangnya dengan nanar.


"Aku menunggu kabar baik darimu maksimal besok. Setelah itu, aku tidak akan pernah mengganggumu dan keluargamu."


Otto memandang pria di depannya dengan senyum puas. Ia puas dapat menuntaskan dendamnya, mengunakan tangan dari orang yang sangat dipercaya oleh pria yang dibencinya.


"Kau jangan khawatir. Aku telah menyiapkan beberapa anak buah untuk membantumu. Mereka telah siap sedia di lokasi."


Setelah mengatakan itu, Otto pun meninggalkan pria itu di tengah ruangan. Yang tampak masih termangu dan menunduk menatap benda yang ada di tangannya.


Tampak setetes air mata mengalir di salah satu pipinya.


"Maafkan aku, Nathanael."


Dominic kemudian langsung pergi ke luar dan memacu kudanya menuju tujuannya. Ia harus melakukannya malam ini, karena tahu kalau sahabatnya sedang tidak berada di rumah.


Ia juga harus melakukannya malam ini, sebelum keberaniannya menciut nanti.


Saat ini, pria itu lebih memilih keluarganya dibanding sahabatnya. Ia sangat mencintai isteri dan puterinya. Ia tidak akan sanggup bila harus kehilangan keduanya.


Dominic sangat sadar kalau sebagai prajurit, ia telah menjadi seorang penghianat. Tapi yang bisa dilakukannya sekarang adalah menjalankan perannya sebagai seorang suami dan juga ayah. Yang memang bertugas untuk melindungi keluarganya.


Hatinya sakit. Hatinya benar-benar merasa sakit dan sedang menangis saat ini.


Misi malam itu yang telah dijalankannya dengan sukses, membuat Dominic ahirnya langsung melarikan diri dan memilih tempat yang hanya diketahui oleh dirinya dan sahabatnya.


Sesampainya di sana, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke hamparan tanah di sekitar danau.


Menunduk dalam, pria itu memukul-mukul dengan keras permukaan tanah di bawahnya.


Pria itu menangis dan berteriak keras. Ia berteriak sangat keras, berusaha mengeluarkan rasa frustasi yang dirasakannya saat ini.


Ia telah menghianati sahabatnya sendiri, dan juga pasukannya.


Ia juga telah menjadi manusia yang sangat hina, membuatnya tidak memiliki muka untuk kembali pada keluarganya lagi.


Mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku celananya, ia menggenggam pisau itu dengan gemetar di tangannya.


Perlahan, pria itu meletakkan bagian yang sangat tajam di lehernya sendiri.


Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Pria itu menangis tersedu-sedu.


"Maafkan aku, Nathanael."


Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum ia akhirnya menyayat lehernya sendiri dengan sangat kencang, membuat tubuhnya sedikit berputar sebelum akhirnya jatuh ke tanah.


Darah terlihat mengalir deras dari lukanya yang menganga lebar. Cairan itu mulai membasahi permukaan tanah di bawahnya, menciptakan genangan berwarna merah.


Ia masih sempat menatap ada sepasang kaki yang menghampirinya, sebelum akhirnya menutup kedua matanya yang masih mengalirkan air tanpa henti.


Maafkan aku, Nate... Maafkan aku...

__ADS_1


__ADS_2