Madness

Madness
Chapter 68


__ADS_3

Dini hari, H+1 setelah kecelakaan. Jam 02.30.


Selama 16 jam kemudian, Nate masih berada di samping Lin. Pria itu secara konstan mengganti handuk yang membalut isterinya karena pendarahan, dan baru bisa benar-benar lega ketika ia melihat bahwa pendarahannya sudah berhenti setelah Lin mendapatkan transfusi darah dari kantong yang ke-3.


Tangan pria itu terlihat gemetar, ketika dengan perlahan ia mengganti kantong transfusi isterinya. Itu adalah kantong ke-5, kantong terakhir yang dimilikinya dan isinya pun tidak penuh. Pria itu sudah menguras darahnya sendiri sampai tetesan terakhir.


Dengan lemah, Nate pun akhirnya duduk di samping isterinya.


Beberapa waktu lalu, Marcus mengabarkan kalau ia sedang dalam perjalanan kembali namun itu pun akan memerlukan waktu lebih dari 8 jam, karena pria dingin itu terpaksa mengambil supply darah dari negara lain. Persediaan darah B+ saat ini sedang menipis karena cukup langka dan darah itu sedang banyak digunakan untuk pengobatan.


Menoleh pada isterinya, ia masih cukup beruntung memiliki golongan darah yang sama dengan isterinya. Nate sama sekali tidak mau mengambil resiko memberikan transfusi sembarangan pada isterinya, karena tidak tahu efeknya.


Kaum V memang dapat mengkonsumsi darah dari tipe golongan apapun, tapi memberikannya melalui jalur transfusi tentu berbeda cerita. Ada kemungkinan darah yang bercampur dapat menimbulkan penolakan bila tidak memiliki tipe yang sama, terutama karena Lin sendiri masih keturunan manusia.


Dengan sedikit terengah, pria itu mengkonsumsi kantong terakhir yang diambilnya dari lemari pendingin dan meletakkan kantong yang telah kosong itu ke meja samping tempat tidurnya.


Meski sudah 'makan' dari 7 kantong, tapi pria itu sudah tidak merasakan efeknya di tubuhnya. Saat ini, ia merasa sangat pusing dan juga lemah. Badannya gemetar dan kulitnya mulai mengeluarkan keringat dingin.


Nate tahu, kalau ia harus segera tidur dan berhibernasi agar 'makanan' yang dikonsumsinya dapat memberikan efek yang maksimal pada tubuhnya. Ia juga tahu, kondisinya semakin melemah karena ia sudah mengambil darahnya cukup banyak untuk diberikan pada isterinya.


Namun saat ini, pria itu sangat mengkhawatirkan isterinya. Ia takut terjadi sesuatu pada Lin ketika ia tertidur nanti, membuatnya berusaha membuka matanya meski ia sudah merasa sangat lelah dan pusing.


Perlahan pria itu membaringkan tubuhnya menyamping, menghadap isterinya. Ia pun beringsut mendekat dan meletakkan tangannya yang mulai mendingin ke atas perut Lin.


Dengan lembut, Nate meletakkan kepalanya di dada isterinya. Hatinya merasa damai, ketika dapat mendengar detakan jantung Lin yang terdengar lebih menguat dan konstan.


Ia menundukkan kepalanya dan mendekatkan telinganya ke atas perut Lin yang sedikit membuncit. Pria itu tersenyum saat tahu kalau detakan jantung calon bayinya pun menguat, sama seperti ibunya. Tangan besar pria itu mengelus-elus perut isterinya dengan lembut.


Selama beberapa saat, pria itu menyurukkan wajahnya ke leher isterinya dan menghirup aromanya dalam. Ia benar-benar menyukai dan jatuh cinta pada wangi isterinya sendiri.


Merasakan aliran nafasnya yang mulai tercekat, Nate kembali ke posisi berbaringnya. Kedua kakinya yang bebalut celana tidur, terasa mulai kesemutan dan kebas.


Jantungnya berdegup kencang, ketika ia menyadari sesuatu.


Pria itu menolehkan kepalanya pada isterinya yang belum sadar. Matanya terlihat panik.


Tidak! Tolong. Jangan sekarang!


Sementara itu di belahan dunia yang lain, tampak Marcus duduk dengan gelisah di pesawatnya. Pria dingin itu memegang erat ponsel di tangannya. Beberapa kali ia barusan menghubungi atasannya, tapi Nate sama sekali tidak memberikan respon.


Kepala pria itu menoleh ke samping, dan menatap kotak berpendingin khusus yang berisi darah golongan B+. Mati-matian, pria itu berusaha mencari supply darah yang tiba-tiba habis itu, membuatnya harus berkeliling ke cabang RS. Alexander Johan di seluruh dunia.


Menghela nafas, Marcus kembali menghadap ke depan dan pikirannya menerawang. Bebannya setidaknya berkurang dan tidak seberat pagi tadi. Ia akhirnya berhasil dengan cepat membereskan pria pengacau yang sudah mengakibatkan terjadinya tragedi ini.


Pagi hari, hari-H kecelakaan. Jam 07.30.


Dave Matthews adalah seorang broker saham yang cukup sukses di New York. Ia berasal dari kalangan keluarga terpandang dan lahir dengan 'sendok perak di mulutnya'.

__ADS_1


Hidup pria itu bergelimang dengan harta dan juga wanita. Pria itu merasa hidupnya telah sempurna, sampai beberapa waktu yang lalu akhirnya ia mendapatkan kesialan.


Entah bagaimana caranya, salah satu wanita yang menjadi teman kencannya melakukan penipuan, menyebabkan kerugian yang tidak terhingga untuk pria itu.


Dave terpaksa harus mengganti kerugian para kliennya, yang mengancam untuk menguras hampir seluruh kekayaan yang telah dikumpulkannya selama ini, termasuk aset warisannya. Hal ini membuatnya dari seorang milyader, menjadi pria miskin hanya dalam tempo semalam.


Saat ia berpaling pada keluarganya, orangtuanya sama sekali tidak mau memberikan bantuan. Mereka sudah tidak mau tahu dengan kehidupan anaknya yang glamor dan tidak bertanggungjawab.


Beberapa kali, Dave berurusan dengan pihak kepolisian karena kasus pelecehan dan juga kekerasan, yang semuanya dapat ia selesaikan dengan bantuan uang dan juga backing dari orangtuanya. Namanya pun sering dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang.


Untuk kali ini, orangtua Dave sama sekali sudah muak dengan kelakuan anaknya dan memutuskan tidak akan mau terlibat dan mengancam mengeluarkan pria itu dari akta keluarga, jika ia masih tetap memaksa.


Pagi itu saat bertemu dengan Lin, Dave baru saja menerima notifikasi dari pihak bank bahwa mereka akan melakukan penyitaan benda-benda berharga miliknya, untuk membayar hutang-hutangnya. Dan salah satunya adalah mobil sport kesayangannya.


Hal ini membuat pria itu sangat marah, dan berusaha melampiaskannya ke sembarang wanita yang ditemuinya. Kebetulan Lin adalah wanita yang cukup cantik tapi sederhana, membuat Dave memperlakukan Lin seperti wanita-wanita murahan yang mungkin membutuhkan uang.


Meski menyadari kalau tindakannya salah, tapi pria itu sama sekali tidak bisa menahan emosinya ketika mendapatkan penolakan yang memalukan di muka umum.


Pria itu terbiasa untuk dilayani dan dihormati. Ia menganggap kalau seluruh wanita di dunia, akan dengan mudah tunduk pada harta yang dimilikinya.


Hal yang lebih menyakiti harga dirinya adalah ketika Lin melukai wajah yang dibanggakannya, dan juga berani membanting tubuhnya di depan orang lain.


Kemarahan dan rasa malu yang berkumpul di dadanya, membuat pria itu gelap mata.


Dengan kobaran api di tubuhnya, ia mengikuti mobil Lin dengan pelan di belakangnya.


Saat mengetahui kalau mobil wanita itu akan berbelok memasuki gedung perkantoran di depannya, tanpa bisa ditahannya, kaki pria itu menginjak pedal gas dengan dalam.


Belum puas melihat mobil mungil itu dengan sangat mudah oleng karena kelakuannya, pria itu memundurkan mobilnya dan kembali menabrakannya ke arah mobil wanita itu.


Sepersekian detik sebelum tabrakan, pria itu baru kembali ke kewarasannya ketika melihat tatapan wanita itu yang membelalak. Kesadaran pria itu datang terlambat, karena ia sudah tidak mampu menghindari tabrakan maut yang terjadi di depannya.


Dave ketakutan saat melihat mobil wanita itu yang terbalik beberapa kali. Sejenak, ia hanya bisa terpaku memandang rongsokan mobil di depannya dan baru tersadar, ketika ada dua orang pria yang tengah memandang ke arahnya dengan tajam.


Tangannya dengan gemetar berusaha membuka pintu mobilnya, yang ternyata macet karena tabrakan itu. Ia sangat ketakutan saat melihat salah satu dari pria itu yang dengan cepat mendekati mobilnya yang sedang berhenti.


Dengan pasrah, Dave menerima kemarahan pria itu karena ia juga merasa bersalah dan menyadari, kalau ia tidak memiliki kekuatan yang setara dengan pria yang sedang marah itu.


Ia hanya mampu terdiam dan membeku, saat melihat bogem pria itu teracung ke atas dan siap untuk menghancurkan wajahnya.


Dan entah teriakan dari siapa, membuat pria bermata kelabu itu menghentikan aksinya dan ia pun merasa tubuhnya remuk, saat dibanting kembali ke atas kap mobilnya.


Tanpa pria bermata kelabu itu memberikan bogem mentahnya, Dave sudah merasakan tulangnya patah di beberapa tempat.


Ia tidak mampu untuk berdiri dan hanya dapat memandang ketakutan saat kedua pria yang terlihat sama itu berjalan menjauhi dirinya, bersama dengan wanita yang tadi ditabraknya.


Hatinya kembali mencelos, saat menyadari sirene petugas polisi dan ambulan yang telah berhenti di dekatnya. Wajahnya memucat ketika mengenali salah satu petugas berpakaian preman yang terlihat menghampiri dirinya saat ini.

__ADS_1


"Wow-wow. Lihat siapa ini, Nick. Dave Matthews, dari keluarga Matthews yang terkenal."


Petugas polisi itu mendekatkan wajahnya dan menyeringai, memperlihatkan giginya.


"Kali ini, aku akan memastikan kalau kau akan membusuk di penjara, Matthews. Kali ini, aku akan memastikan kalau CCTV di jalan raya, berfungsi dengan baik. Dan kali ini, aku juga akan memastikan kalau keluarga korban menuntutmu, sampai kau merangkak memohon ampun."


Siang hari, hari-H kecelakaan. Jam 11.30.


Kantor kepolisian heboh di pagi menjelang siang itu. Selain karena kecelakaan yang melibatkan putera salah satu keluarga terpandang di kota itu, orang yang menjadi korban dalam kecelakaan itu pun menghilang tanpa bekas.


Para saksi hanya mengatakan kalau mereka melihat dua orang pria yang terlihat membopong korban wanita, dan membawanya entah kemana.


CCTV yang diperiksa oleh polisi, tidak memberikan petunjuk yang jelas. Mereka hanya dapat mengenali salah satu pria bernama Marcus, yang merupakan salah satu petinggi di perusahaan raksasa di negara itu. Sedangkan pria lainnya, sama sekali tidak teridentifikasi.


Mereka hanya dapat mencatat pernyataan salah satu saksi yang mengatakan mendengar pria bernama Marcus itu menyebut nama seseorang pada pria yang belum teridentifikasi itu.


"Axel? Aksel? Excel?"


Kening Tom berkerut dalam. Mulutnya komat-kamit ketika membaca keterangan saksi itu.


"Apa yang kau lakukan, Tom?"


Rekannya Nick, mulai merasa terganggu mendengar ocehan Tom yang tidak jelas.


Menghela nafas, Tom menatap Nick.


"Saksi ini. DIa menyebutkan suatu nama yang terdengar aneh. Masalahnya, ia juga tidak yakin dengan nama itu. Sepertinya nama orang asing."


"Hmm. Nama?" Nick tampak mulai tertarik.


Tom melemparkan foto seorang pria yang tertangkap CCTV jalan raya pada rekannya.


"Aku sedang mencari nama pria misterius ini. Sepertinya ia kenal dekat dengan korban. Aku mau menghubunginya untuk menjadi saksi dalam kasus ini."


Nick memperhatikan foto itu yang memperlihatkan sosok pria tampan yang berambut hitam. Tubuhnya tinggi dan besar, hampir mirip dengan Marcus yang berada di sisinya.


"Ini Marcus dari perusahaan NAMAC, Inc. kan?"


Alis Tom terangkat dan menatap Nick yang sedang melihat foto di tangannya dengan intens.


"Kau tahu? Ya. Salah satunya adalah Marcus dari NAMAC Inc. Masalahnya, kita sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai pria di sebelahnya, padahal pria itulah yang sepertinya kenal dekat dengan si korban."


Tom menghela nafasnya dengan lelah dan menghisap rokoknya yang tinggal setengah.


"Sepertinya aku harus menghubungi Marcus dulu untuk mencari tahu mengenai pria itu. Kita membutuhkan seorang saksi kunci, untuk memastikan kalau Dave Matthews benar-benar tamat saat ini."


"Aku akan melakukannya."

__ADS_1


Tom kembali mengangkat alisnya tinggi. "Kau? Kau mau melakukannya?"


Nick menyeringai pada rekannya. "Tentu saja. Lagipula, kebetulan aku juga harus ke perusahaan NAMAC Inc. untuk mengunjungi seseorang di sana."


__ADS_2