
Ekspresi sang ayah membuat Lin mengerutkan keningnya.
"Ayah tahu tentang Dominic?"
Johan menyenderkan tubuhnya kembali ke kursi. Posisi badannya terlihat kaku.
"Kalau yang kamu maksud Dominic Allard, tentu ayah sangat tahu siapa dia."
"Dominic Allard? Allard?"
Tiba-tiba Lin teringat tentang kartu nama yang pernah diberikannya pada Nate dulu. Ia juga masih ingat raut muka pria itu yang masam dan dengan kasar melempar kartu itu di meja.
Jangan-jangan Dominic dan pemilik Allard Corp. adalah orang yang sama? Benak wanita itu penuh dengan pertanyaan sekarang.
"Kenapa kamu menanyakan mengenai itu, Lin?"
Suara ayahnya memecah lamunan Lin. Wanita itu menengadah dan memandang wajah ayahnya yang terlihat keras dan tidak ramah.
"Aku ingin tahu, apakah benar... Apakah benar kalau pria itu yang membantai keluarga Nate?"
Tangan Johan meremas kencang pegangan kursinya. Jika saja ia masih punya kekuatan, ia akan menghajar Dominic dengan tangannya sendiri meski tidak bisa membunuhnya langsung.
"Ya. Dia pria yang membantai Nathanael dan keluarganya."
Jantung Lin berdebar keras. Pria berambut merah itu ternyata mengungkapkan kebenaran.
"Apa alasannya?"
Kepala Johan menggeleng kaku. Hal ini juga masih menjadi pertanyaan dirinya sendiri.
"Tidak ada yang tahu pasti. Setelah membantai Nathanael dan keluarganya, dia tiba-tiba menghilang dan tidak diketahui bagaimana nasibnya."
Informasi ini membuat Lin mengernyit. Ada yang sedikit aneh dari cerita ini.
"Maksud ayah, Dominic benar-benar menghilang setelah dia melakukan kejahatan itu?"
"Ya. Setahu ayah, bahkan keluarganya pun mencari-cari dimana pembunuh itu berada. Karena kejahatannya, hal ini mencoreng nama baik keluarga Allard yang cukup terpandang."
"Apa yang terjadi saat itu?"
Johan menggeleng pelan. "Ayah tidak tahu pasti. Yang jelas setelah kejadian itu, keluarga Allard akhirnya memutuskan untuk pindah dari kota dan mengungsi. Dan ayah pun tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka, mengingat mereka pun tidak tahu keberadaan pria itu."
Terlalu banyak hal yang masih belum jelas dalam cerita ini. Tapi saat ini, ia hanya ingin mengetahui satu hal dulu tentang Nate.
"Ayah. Benarkah selama ini Nate memang berniat untuk mati?"
"Benar. Seumur hidupnya, anak itu berniat mati menyusul keluarganya. Ia sangat membenci ayah, ketika tahu kalau dia telah berubah dan tidak bisa mati sesuai keinginannya lagi."
Mencoba menguatkan hatinya, Lin bertanya kembali pada ayahnya.
"Ayah. Apakah Nate sangat mencintai isterinya? Apakah dia benar-benar mencintai isterinya sampai ingin ikut mati?"
Pertanyaan Lin membuat dahi Johan berkerut.
"Apa yang kamu pikirkan, Lin? Anak itu ingin mati karena dia telah kehilangan keluarganya sekaligus. Menurutmu bagaimana perasaannya saat itu?"
Hati Lin yang sedang cemburu, membuatnya kurang mampu melihat realita sesungguhnya.
"Apakah Nate memang sangat mencintai isterinya?" Nada Lin sedikit tinggi saat bertanya.
"Lin? Kamu tidak dengar yang ayah bilang tadi? Seumur hidupnya, Nathanael tidak punya hak untuk memilih. Ia menikahi isterinya karena memang sudah menjadi kewajibannya."
"Tapi bisa saja... Bisa saja, setelah mereka menikah baru ia mencintai wanita yang sudah menjadi ibu dari anaknya."
Kepala pria tua itu kembali menggeleng, dan gelengannya terlihat tegas. Ia cukup terkejut melihat anaknya yang terlihat cukup emosional saat ini.
"Setahu ayah tidak. Saat melihat mereka bersama, yang bisa ayah lihat hanyalah rasa hormat yang besar satu dengan lainnya. Tidak ada yang lain. Tapi-"
Pria tua itu menjauhkan tubuhnya dari anaknya dan tersenyum bijaksana, ketika akhirnya menyadari alasan dari perilaku puterinya yang cukup aneh.
"Tentu saja yang bisa menjawabnya hanya Nathanael sendiri, Lin. Dan apa yang telah kamu rasakan sendiri setelah selama ini bersamanya."
Kata-kata dari ayahnya membuat Lin tiba-tiba terdiam. Tampaknya Johan cukup berhasil membuatnya tersadar mengenai betapa konyol dirinya tadi. Ia mengusap mukanya.
__ADS_1
Lin menghela nafasnya dalam. Berusaha untuk mengontrol sisi emosionalnya yang sering kali muncul bila sudah menyangkut Nate.
"Ayah benar. Maafkan aku. Seharusnya aku memang menanyakan langsung mengenai hal ini pada Nate."
Dalam hati, Johan merasa gembira. Puterinya ternyata sudah menunjukkan kepemilikan pada Nathanael. Anak itu akhirnya ada yang ingin mengklaimnya.
"Saran ayah, dari pada kamu berkutat dengan mempertanyakan masa lalu, lebih baik kamu berusaha untuk melihat masa sekarang dan yang akan datang."
Lin mengerjapkan matanya dan menatap wajah ayahnya yang tersenyum.
"Kalau kamu mau bertanya, tanyalah bagaimana perasaan pria itu padamu sekarang. Dan apakah dia mau menghabiskan masa hidupnya bersama dengan dirimu nanti."
Perkataan ayahnya membuat wanita itu berfikir. Ia mencoba untuk menggunakan logikanya saat ini dan mencoba menyingkirkan kecemburuannya sebagai seorang wanita.
"Masa lalu Nathanel akan tetap menjadi bagian dari dirinya. Itu tidak akan bisa diubah atau dihilangkan begitu saja. Tapi masa depannya, dapat kalian berdua tentukan dan buat sendiri."
Kata-kata ayahnya tampak membuat Lin terpekur.
Benar. Apapun yang telah terjadi di masa lalunya, akan tetap menjadi bagian dari diri Nate. Ia tidak akan bisa mengubahnya.
Bila Nate memang pernah mencintai isterinya di masa lalu, maka Lin hanya bisa mencoba untuk menerimanya dengan hati yang lapang.
Yang bisa dilakukannya adalah, bagaimana agar sekarang pria itu mau memandang dirinya dan hanya dirinya seorang.
Mulut Lin menyunggingkan senyum kecil. Ia sedikit merasa malu telah bersikap kekanakan sebelumnya, mengingat usianya yang sebenarnya sudah sangat matang.
"Terima kasih ayah. Aku merasa lega telah berbicara mengenai hal ini padamu."
Johan menarik kepala puterinya lembut, dan mencium dahinya dengan penuh kasih sayang.
Perlahan pria itu menarik mulutnya dan ia mengerjap ketika teringat sesuatu.
Sedikit menjauh, ia menatap anaknya kembali. Pandangannya penuh tanda tanya.
"Kamu belum menjelaskannya tadi, Lin. Bagaimana kamu bisa tahu mengenai Dominic Allard? Kejadian itu sudah sangat lama sekali."
Lin membuang nafasnya kasar. Ia benar-benar semakin tidak suka pada pria itu.
"Aku baru tahu kalau namanya Dominic Allard. Dia adalah tetangga baruku, yang menempati ruangan di depan apartemenku." Wanita itu memulai ceritanya.
"Ayah! Ayah kenapa?"
Melihat ayahnya yang kesulitan, membuat Lin mulai merasa panik.
Gemetar, jari-jari Johan menekan sebuah bel yang berada di samping kursinya. Tidak lama, tampak Felix yang terburu-buru masuk ke ruangan.
Pria tinggi itu langsung membopong Johan ke kamarnya.
"Ayah!"
Lin berusaha untuk mengikuti mereka, tapi pria tinggi itu menghalangi langkahnya.
"Lebih baik, Anda menunggu di ruang tamu saja Nona Alina. Saya akan segera kembali."
Setelah itu, Felix menutup pintu di belakangnya dan suasana pun sunyi kembali.
Apa yang telah terjadi dengan ayahnya?
Beberapa saat kemudian, pria berambut pirang itu pun keluar dari kamar.
Wanita itu langsung melonjak dari duduknya dengan terburu-buru.
"Tuan Felix. Bagaimana ayah?"
Setelah menutup pintu kamar dengan pelan, pria itu berbalik menghadap wanita di depannya sambil tersenyum samar.
"Beliau tidak apa-apa, hanya sedikit lelah. Lebih baik, kita biarkan dia beristirahat lebih dulu."
Sedikit berdebar, Lin bertanya kembali.
"Tuan Felix. Sebenarnya, berapa lama waktu ayah?"
Felix memandang wanita yang tampak kalut itu. Ia pun akhirnya mengarahkan mereka untuk duduk di sofa kembali.
__ADS_1
"Nona Alina. Master Johan hanya memiliki waktu kurang dari 3 bulan. Hal yang bisa memperpanjang atau pun memperpendek usianya adalah kondisi psikisnya saat ini."
"Kondisi psikis?"
Mengangguk, Felix melanjutkan kembali.
"Semakin beliau merasa stress, maka fisiknya akan semakin drop dan memperpendek usianya. Sebaliknya, saat ia merasa bahagia maka rentang hidupnya setidaknya masih bisa sedikit diperpanjang meski tidak lama."
Informasi ini membuat Lin menatap nanar pada kedua tangan di pangkuannya.
"Jika ada apapun permintaan beliau yang bisa Anda kabulkan, maka saran saya berikanlah. Setidaknya, ia akan merasa sangat bahagia saat harus meninggalkan dunia nantinya."
Felix menatap wanita yang sedang membisu di depannya ini.
"Sebenarnya, apa yang tadi kalian sedang bicarakan? Tidak pernah saya melihat Master Johan terlihat shock seperti tadi."
Mengerutkan dahinya, Lin berusaha menahan air matanya. Ia juga sama sekali tidak mengerti.
"Terus terang, saya juga tidak mengerti. Tadi kami sedang mendiskusikan sesuatu dan semuanya berjalan lancar. Tapi tiba-tiba, ayah merasa sesak nafas dan membuat saya panik."
"Beliau sakit setelah Anda mengatakan apa, kalau saya boleh tahu?" Felix bertanya hati-hati.
Lin memegang keningnya yang terasa sakit. Ia berusaha mengingat-ingat kejadian tadi.
"Kalau tidak salah setelah saya mengatakan mengenai Dominic Allard."
Mata Felix sedikit membola mendengarnya. "Dominic Allard?"
Menengadah karena mendengar nada yang terkesan familiar itu, Lin bertanya.
"Anda kenal dia?"
Pria itu mengangguk. "Tidak secara personal. Tapi saya cukup tahu cerita tentang pria itu."
"Ayah tiba-tiba merasa sesak ketika tahu kalau pria itu ternyata tinggal di depan apartemen saya." Lin akhirnya mengingat potongan persitiwa yang baru saja terjadi.
Mendengarnya, Felix terdiam. Nama Dominic Allard cukup menarik, karena dirinya memang ada kaitannya dengan pria itu. Ia juga pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, ia hanya pernah mendengar desas-desus tentang Dominic, pada saat melakukan pencarian fakta untuk kliennya. Ketika itu, ia tidak peduli dan hanya menganggapnya berita sambil lalu. Tapi peristiwa hari ini, membangkitkan minat Felix lebih jauh.
Sepertinya, memang ada hal-hal yang perlu untuk dikonfirmasinya lebih lanjut. Mumpung berita ini masih hangat-hangatnya.
"Dominic Allard tinggal di depan apartemen Anda?"
Menarik nafas, Lin menatap pria tinggi itu. "Ya. Dia baru pindah beberapa hari lalu."
Wanita itu ragu-ragu ingin menceritakan lebih jauh, tapi ia ingin mencoba untuk sedikit menggali dari Felix.
"Apakah Anda tahu sesuatu tentang dia?"
Mata wanita itu yang besar memancarkan harapan dan rasa ingin tahu ke Felix, membuat pria itu tersenyum samar.
Ia sebenarnya ingin membantu LIn dalam mendapatkan informasi, tapi informasi terkait dengan pria yang ditanyakannya cukup confidential dan ia terikat kode etik yang sangat kuat.
Lin sendiri tidak memiliki bargaining power untuk dapat membuat Felix mengungkapkan kebenaran secara tidak langsung, seperti yang pernah dilakukannya untuk Nate dulu.
Dalam hatinya, Felix menyesali posisinya saat ini.
"Yang bisa saya katakan adalah bahwa kadang apa yang kita lihat, ternyata bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Hal yang paling baik dalam mendapatkan suatu fakta adalah dengan menanyakannya langsung ke sumbernya."
Kata-kata bijaksana Felix yang hampir mirip dengan perkataan ayahnya, membuat Lin tertegun. Apakah ia memang harus menanyakan langsung pada mereka untuk mengetahui kebenarannya?
Setelah beberapa lama Lin pergi, Felix masih duduk termenung di sofanya. Perlahan, pria itu membuka pintu kamar tidur, tempat Johan terbaring.
Melihat kalau pria tua itu sudah tampak tenang dan sepertinya tidak akan terbangun untuk beberapa waktu, Felix pun menutup pintunya kembali dan keluar dari kamar itu.
Sampai di lorong, Felix mengarahkan kakinya ke salah satu kamar yang terletak di ujung. Ia pun mengetuk pintunya pelan sebelum masuk ke kamar tersebut.
Sampai di kamar, ia langsung berhadapan dengan seorang pria sebayanya yang memandangnya dengan tatapan kosong.
"Felix?" Suara yang dalam dan berwibawa terdengar dari mulut pria itu.
Tersenyum, Felix berjalan perlahan menghampiri pria yang buta tersebut.
__ADS_1
"Master Laurent. Ada yang perlu saya bicarakan dengan Anda."