
"Master Johan ingin pergi ke Lofoten? Salah satu pulau di Norwegia?"
"Apakah kau tahu tempat itu?" Felix mengangguk pada Nate.
Ketiga pria itu sekarang sedang duduk di ruang tamu, sedangkan Lin berada di kamar tidur bersama dengan ayahnya.
Felix menyenderkan tubuhnya pada sofa di belakangnya. Ia sebenarnya sangat ingin menghisap cerutu, tapi hal itu tidak mungkin mengingat ia tidak berada di kantornya sendiri.
"Aku tahu, karena dulu pernah mengantarkan Master Laurent ke sana. Beliau juga mengatakan ingin mati di sana bila masa usianya telah habis nanti."
Pria berambut pirang itu terdiam sambil merenung. Tatapannya sedikit melamun.
"Pulau itu adalah tempat yang benar-benar indah untuk mati." Akhirnya ia berkata.
Kepala pria itu menoleh pada Nate yang sedang duduk di sampingnya.
"Kapan kalian berencana ke sana?"
Nate menggeleng pelan. "Kami belum tahu. Tapi yang pasti secepatnya. Sepertinya waktu Master Johan sudah tidak lama lagi."
Mendengar itu, Felix menganggukkan kepalanya.
"Kau benar. Waktunya memang tidak lama lagi."
"Sebenarnya, berapa lama lagi waktunya?"
Kali ini Marcus yang bertanya. Suara serak pria itu terdengar sangat kering.
Felix mengalihkan pandangannya pada Marcus yang terlihat duduk di seberangnya.
"Kalau dari perhitunganku dan kecepatan anfalnya, sepertinya usia beliau tidak akan lebih dari 2 minggu lagi."
Mata Marcus membola mendengarnya. "Secepat itu?"
Pria di seberangnya mengangguk. Pandangannya terlihat muram.
"Secepat itu. Semakin lama, jeda anfalnya semakin singkat. Hari ini saja, ia sudah kambuh dua kali. Untungnya ia sudah sadar ketika kalian tiba pagi tadi."
Informasi ini membuat ketiganya terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Pada saat itulah terdengar suara pintu kamar tidur yang terbuka. Dari dalam, terlihat Lin yang keluar dari kamar dan sedang menutup pintunya pelan.
Ketika isterinya berbalik, Nate dapat melihat kedua mata Lin yang terlihat memerah.
Wanita itu meletakkan kedua tangannya di depan perutnya. Tubuhnya sedikit gemetar.
"Sayang." Kedua tangan Nate terbuka, meminta isterinya untuk datang padanya.
Perlahan, Lin melangkah ke suaminya dan duduk di sampingnya. Wanita itu pun menyurukkan kepalanya di leher suaminya, berusaha menyembunyikan tangisnya.
Kedua tangan Nate memeluk isterinya erat. Ia dapat merasakan kesedihan isterinya, karena mereka sudah terikat saat ini.
__ADS_1
Tidak lama, alis pria itu sedikit berkerut ketika samar-samar ia merasakan suatu perasaan lain dari wanita itu. Tapi saat ini, ia tidak mau bertanya lebih jauh.
Pemandangan ini membuat Felix menghela nafas. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri jendela besar yang ada di ruangan itu. Tidak lama, pria itu berbalik dan menghadap tiga orang yang ada di depannya.
"Aku tahu kalau aku hanyalah pihak luar di sini. Tapi, mengingat bahwa akulah pemilik tempat ini dan juga orang yang telah merawat Master Johan selama beliau berada di sini, maka aku rasa aku memiliki hak untuk berbicara."
Nate sedikit menoleh pada pria bermata biru terang itu. Kepalanya mengangguk.
"Silahkan Felix. Kau berhak untuk mengutarakan pendapatmu di sini. Ini adalah tempatmu."
Mendapat kesempatan itu, Felix menarik nafasnya dalam sebelum berbicara.
"Aku rasa, kalian sebaiknya segera pergi ke Norwegia dalam waktu 2 hari ke depan. Kita tidak tahu bagaimana dampak perjalanan jauh bagi Master Johan. Tapi menurutku, semakin cepat hal ini dilakukan maka akan semakin baik, sebelum kondisinya menjadi semakin memburuk."
"Sejujurnya, aku sangat setuju denganmu Felix. Lebih cepat, lebih baik. Bagaimana menurutmu, Lin?"
Pandangan Nate beralih pada isterinya. Pria itu mengusap-usap punggung isterinya untuk memberikan kekuatan pada wanita itu.
Pertanyaan dari suaminya membuat Lin sedikit menjauh dari tubuh suaminya. Ia sudah terlihat tidak menangis, meski mukanya masih memerah dan matanya sembab.
"Aku setuju dengan kalian berdua. Sebaiknya, ayah memang secepatnya pergi ke Norwegia sebelum semuanya terlambat."
Suara Lin terdengar pelan, tapi mantap.
Senyum samar terbit dari bibir Nate ketika melihat bahwa isterinya tegar dalam menghadapi situasi ini. Ia bangga pada wanita itu.
"Bagus. Biar Marcus yang akan mengurus cutimu nanti pada Robertus-"
Lin segera menggelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan suaminya. "Tidak."
Mata suaminya mengerjap cepat. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau isterinya akan menyanggah perkataannya.
"Aku tidak akan ikut dengan kalian ke Norwegia."
Dahi Nate mengernyit dalam. Kedua tangannya meremas bahu isterinya dengan lembut.
"Apa maksudmu kamu tidak ikut, Lin? Tentu saja kamu harus ikut. Dia ayahmu."
Kepala Lin menggeleng pelan. "Ayah sendiri yang tidak ingin aku ikut, Nate."
"Tapi, kenapa?"
"Ayah hanya mengatakan kalau ia tidak ingin aku melihatnya sekarat dan hilang menjadi debu. Ia ingin agar aku mengingat kenangan yang indah tentang dirinya untuk terakhir kali."
Wanita itu tampak sedikit menghindari pandangan suaminya, membuat Nate sedikit curiga. Kali ini, pria itu benar-benar yakin ada yang disembunyikan oleh isterinya tapi tidak tahu apa.
Ia baru akan mencecar isterinya, ketika melihat air mata Lin turun. Hatinya berdenyut sakit saat merasakan kembali kesedihan wanita itu yang sangat dalam.
"Apakah kamu yakin, sayang?"
Isterinya hanya mengangguk dan kembali memeluk tubuh suaminya dengan erat.
__ADS_1
Nate menghela nafas pelan. "Baiklah kalau kamu yakin. Aku tidak akan memaksamu."
Pria itu memandang asistennya yang selama ini terdiam.
"Marc. Bagaimana menurutmu?"
Pria dingin itu hanya mengangguk kaku. Matanya terlihat sedikit nanar tapi pandangannya kembali seperti semula dalam sekejab.
"Saya akan segera mengurus semuanya, Tuan. Kita akan bisa berangkat ke Norwegia dalam waktu 2 hari ke depan."
Nate mengangguk. "Terima kasih, Marc."
Ia kembali menoleh pada Felix yang masih berdiri.
"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu selama ini, Felix. Sepertinya, aku memang banyak berhutang padamu akhir-akhir ini."
Mendengar hal itu, membuat Felix tersenyum.
"Khusus untuk Master Johan, aku akan berusaha untuk membantu kalian karena beliau juga adalah sosok yang aku hormati selama ini. Sedangkan untuk hal yang lain, aku akan menagihnya di saat waktu yang tepat, Nathanael."
Perkataan itu membuat Nate sedikit tertawa, memperlihatkan giginya yang rapih.
"Aku sudah menduga kalau kau akan menagihnya suatu saat nanti."
"Tentu saja, Nate. Aku akan selalu menagih pembayaran dari jasa yang sudah aku berikan. Kalau begitu, sebaiknya dari sekarang aku sudah mempersiapkan keperluan Master Johan untuk perjalanan ini."
Pria itu mulai melangkah ke arah pintu dan menoleh pada tamunya.
"Sebaiknya, kalian berdua ikut dengan aku. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua terkait hal ini. Anda tidak apa-apa kami tinggal di sini, Nona Alina?"
Kepala Lin menggeleng, menjawab pertanyaan dari Felix.
"Saya tidak apa-apa Tuan Felix. Saya akan menunggu kalian di kamar ayah nanti."
Ketiga pria di depannya menggangguk, dan dengan perlahan Nate pun melepaskan pelukannya setelah mencium kening isterinya.
"Aku tinggal dulu. Kalau ada apa-apa, kamu tinggal meneleponku."
Refleks, Lin mencium bibir suaminya dengan cepat, membuat pria itu sedikit terkejut.
"Aku akan baik-baik saja. Kalian pergilah."
Wajah Lin terlihat tersenyum. Perasaan aneh itu kembali dirasakan oleh Nate, tapi pria itu akhirnya memutuskan akan menanyakannya nanti pada isterinya saat mereka hanya berdua.
"Oke. Kami pergi dulu."
Setelah itu, Lin pun ditinggal sendirian di dalam ruang tamu itu.
Wanita itu masih dalam posisi duduknya semula. Tapi kali ini, ia terlihat memegang perutnya.
Lin menghela nafas, berusaha menata hatinya agar suaminya tidak curiga. Tapi ia juga tidak yakin, akan sampai kapan hal ini dapat disembunyikannya.
__ADS_1
Kedua tangan yang ada di pangkuannya saling menggenggam erat. Pandangannya mengarah pada pintu kamar tidur yang tertutup rapat.
Ia mengingat perkataan ayahnya tadi dan akhirnya memutuskan, bahwa akan membicarakan mengenai masalah ini saat semuanya sudah beres. Lin tidak mau membebani pikiran suaminya yang sudah cukup banyak saat ini.