
Nate baru saja kembali dari kamar mandi dan duduk di kursinya, ketika ketukan terdengar lagi. Menengadah, ia melihat Marcus memasuki ruangan.
Pria dingin itu memandang ke sekeliling ruangan.
"Dia sudah pergi, Marc." Terkekeh, Nate menjawab pertanyaan tidak terucap dari asistennya.
Asistennya hanya mengangguk sekali. Sepertinya hubungan mereka berjalan lancar.
Tidak mau membuang waktu, Marcus pun langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Tuan, terkait dengan kejadian tadi pagi..."
"Duduklah dulu, Marc."
Nate meminta asistennya untuk duduk lebih dulu, ketika melihat bahwa Marcus masih berdiri di depannya.
Setelah asistennya duduk, Nate langsung mengeluarkan sebuah kartu yang tadi didapatnya dari Lin. Ia menyorongkannya pada Marcus di atas meja.
Mengernyit, Marcus dengan sigap mengambil kartu itu dan membacanya.
Perlahan, ia melihat kembali ke atasannya. Kenapa bisa kebetulan seperti ini?
"Apa ini yang mau kamu bicarakan?"
Marcus meletakkan kartu itu kembali ke atas meja dan mengangguk singkat.
"Ya. Sebagian."
Atasannya kembali mengambil kartu di depannya dan memutar-mutarnya di tangannya.
"Apalagi?"
"Tadi saya mendapatkan telepon dari Donald, yang mengatakan bahwa perwakilan dari meraka ingin bertemu dengan saya."
"Apa jawabanmu?"
"Saya meminta Don untuk mewakili, dan menyelidiki siapa pemilik Allard Corp."
Pria di depannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Nate kemudian menoleh ke samping, ke jendela yang memanjang di ruangan itu. Matanya terlihat kosong.
"Apa yang Anda pikirkan, Tuan?" Tanya Marcus ingin tahu.
Melirik pada asistennya, Nate malah balik bertanya dengan muram, "Bagaimana denganmu, Marc? Apa yang ada di pikiranmu?"
Marcus terdengar membuang nafasnya cukup kasar.
"Saya hanya bisa berharap kalau perkiraan saya salah, Tuan. Kita sama sekali tidak membutuhkan masalah seperti itu, untuk saat ini dan seterusnya."
Nate mengepalkan salah satu tangannya di atas meja. Rahangnya tampak mengeras. Ia pun membuang kartu itu ke tong sampah dengan kasar, setelah meremasnya menjadi bola kecil.
"Aku juga berharap seperti itu, Marc. Tidak di saat aku baru mau mulai melangkah kembali."
Jawaban pria di depannya membuat Marcus cukup terkejut. Akhirnya setelah sekian lama, Nate terlihat memiliki tujuan untuk hidup lagi.
Marcus menganggukkan kepalanya. Ia harus menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin.
"Anda jangan khawatir, Tuan. Saya akan segera menyelesaikan hal ini."
"Aku mengandalkanmu, Marc."
Keduanya pun terdiam. Pandangan Nate masih mengarah ke jendela di sampingnya.
"Kapan Donald akan bertemu dengan mereka?" Akhirnya Nate kembali bersuara.
__ADS_1
"Saya meminta agar pertemuannya dipercepat menjadi besok."
"Bagus." Semakin cepat mereka tahu informasi tambahan ini, maka akan semakin baik.
Nate kembali memandang pria di depannya.
"Marc. Aku dan Lin akan bertemu dengan Master Johan besok malam."
Setelah terdiam sebentar, Marcus akhirnya memberikan respon. "Nona Alina bersedia?"
"Dia setuju, Marc."
Marcus mengangguk dan sedikit menurunkan pandangannya.
"Aku minta maaf, Marc. Sepertinya aku belum bisa membawamu untuk bertemu dengan pria tua itu. Aku akan meminta Tuan Felix mengatur waktu untuk pertemuan lain."
"Saya mengerti, Tuan."
Tentu saja ia sangat paham. Masalah antara atasannya dan juga Nona Alina jauh lebih penting untuk segera diselesaikan, dibanding keinginannya untuk bertemu dengan penciptanya itu.
Kembali kedua pria itu terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apakah saya boleh menanyakan sesuatu yang sifatnya pribadi, Tuan?"
Suara serak Marcus akhirnya memecahkan keheningan itu.
"Tentu saja, Marc. Kalau bisa, tentu aku akan menjawabnya."
Marcus menatap mata atasannya dalam. Ia benar-benar penasaran mengenai hal yang satu ini, apalagi tadi ia sempat menyaksikan adegan yang sama sekali tidak pernah disangkanya.
"Bagaimana kemajuan hubungan Anda dengan Nona Alina?"
Mendengar pertanyaan itu, perlahan senyum samar terbit di bibir Nate.
Jawaban yang sangat tegas itu membuat Marcus terdiam. Matanya sedikit membesar.
"Apakah Anda yakin, Tuan?"
"Apakah kamu pernah meragukan keputusanku, Marcus?"
Atasannya terlihat menatapnya dengan pandangan yang sangat tenang. Pandangan yang selalu dilihatnya sebelum mereka berangkat berperang dulu.
Kaku, Marcus menggeleng. "Sama sekali tidak pernah, Tuan."
"Kalau begitu, jangan pernah meragukan keputusanku untuk yang satu ini."
Keduanya memandang dalam diam. Mereka telah menjalin hubungan antara atasan-bawahan yang sangat kuat selama ini. Marcus percaya, bahwa atasannya sudah mengambil keputusan yang sangat tepat.
"Baik Tuan. Saya mengerti."
"Saat aku sudah menandainya, tolong perlakukan Lin sama seperti kamu memperlakukan aku selama ini, Marc."
Pria dingin itu tersenyum sangat-sangat samar. "Tentu saja, Tuan."
"Terima kasih banyak, Marc."
Dua pria itu telah bersama selama sekian ratus tahun, membuat masing-masing dapat saling memahami tanpa harus berbicara terlalu banyak.
Keesokan harinya, Lin baru selesai membuang sampah di basement dan akan masuk ke apartemennya kembali ketika ia mendengar sapaan yang cukup asing.
"Selamat pagi."
Saat menoleh, Lin melihat seorang pria yang baru pertama kali ditemuinya sedang berdiri di depan pintu, tepat di seberang apartemennya.
__ADS_1
"Selamat pagi."
Wanita itu berusaha membalas sapaannya dengan sopan, dan akan langsung masuk ketika pria itu lagi-lagi mengucapkan sesuatu yang membuat langkah Lin terhenti.
"Kenalkan. Saya tetangga baru Anda."
Lin sebenarnya cukup kesal dengan sikap pria ini, yang tampaknya tidak cukup sensitif untuk dapat menangkap bahwa, wanita di depannya sebenarnya tidak suka untuk berbasa-basi dengan orang yang tidak dikenal.
Mencoba mengatur ekspresinya agar tetap terlihat netral, Lin pun kembali berbalik.
"Selamat datang kalau begitu." Ujar Lin sambil tersenyum kaku.
Tidak disangka, pria di depannya terlihat tersenyum dengan sangat lebar. Ia memiliki susunan gigi kelinci, dengan dua gigi taring yang cukup terlihat. Hal ini justru membuat senyum pria itu terlihat memikat bagi orang lain.
Mencoba membalas senyumnya dengan cukup sopan, Lin memperhatikan bahwa pria di depannya ini memiliki postur badan yang hampir mirip dengan Nate, meski ia tampaknya sedikit lebih pendek dari pria yang sedang memenuhi benaknya saat ini.
Pria itu memiliki tubuh yang terlihat berotot di balik kaos pas badannya yang berlengan panjang. Dada dan bisepnya terlihat terbentuk. Tipikal seorang pria yang tampak senang untuk berolahraga.
Rambut pendeknya berwarna merah dengan jambang tipis yang menghiasi dagunya. Pria itu juga memiliki sepasang mata berwarna biru elektrik yang cukup menghipnotis.
Secara umum, ia memiliki gambaran fisik yang mungkin dapat dikatakan tampan bagi wanita lain. Masalahnya, hal itu tidak memiliki pengaruh sama sekali bagi Lin.
Satu-satunya yang menurut wanita itu tampan hanyalah pria berambut hitam dan bermata kelabu muda. Tapi tentu saja, Lin tidak akan pernah mengakuinya pada pria tersebut.
Pria berambut merah itu mengamati wanita yang sedang berdiri di depannya. Sejak awal, wanita ini menarik minatnya. Ia mencoba untuk menampilkan senyumnya yang terbaik, yang biasanya dapat memikat para wanita.
"Apakah kita boleh berkenalan?"
Masih sambil tersenyum manis, pria itu mengulurkan tangan pada wanita itu.
Lin memperhatikan tangan dan jari-jemari pria itu yang tampak panjang dan kuat. Entah kenapa, ada perasaan kurang nyaman ketika memandang tangan pria itu.
Ragu-ragu, Lin mengulurkan tangan menyambut tangan yang sedang menunggu itu.
Tampak lega, pria itu menggenggam tangan wanita di depannya dengan erat. Ia menyukai rasa wanita itu di permukaan kulitnya.
"Siapa namamu?"
Alis Lin sedikit mengernyit, ia cukup tidak suka ketika pria itu tiba-tiba menjadi sok akrab dengan dirinya. Ia mencoba mengatur emosinya yang perlahan mulai naik ke permukaan.
"Alina." Wanita itu menjawab kaku.
Lin berusaha untuk menarik tangannya, tapi pria di depannya ternyata masih menahannya.
Wanita itu benar-benar mulai merasa habis kesabarannya dan bersiap mengambil ancang-ancang kalau pria itu mulai mencoba berbuat macam-macam padanya.
"Alina. Nama yang indah. Boleh aku memanggilmu 'Lin'?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Lin menarik tangannya dengan cukup kasar.
"Tidak. Saya harap Anda akan tetap memanggil saya dengan nama 'Alina'."
Jawaban yang sangat ketus dari wanita itu justru membuat pria di depannya tersenyum miring. Pria itu malah merasa mendapatkan tantangan. Selama hidupnya, ia sama sekali belum pernah mendapatkan penolakan dari wanita mana pun.
Lin langsung berbalik dan membuka pintu apartemennya dengan cepat.
Sebelum ia menutup pintunya, Lin masih sempat mendengar perkataan terakhir pria itu.
"Senang berkenalan denganmu, Alina. Namaku Dominic."
Setelah itu, Lin pun langsung membanting pintunya dengan keras di depan hidung pria bermata biru tersebut.
Ia benar-benar tidak menyukai pria yang baru ditemuinya itu.
__ADS_1