
Nate dan Lin saat ini tengah berada di ruang tamu. Wanita itu terlihat memandang pria itu yang sedang berdiri di depan jendela yang memanjang sambil menerima telepon.
Mengingat yang sudah terjadi beberapa jam sebelumnya, membuat Lin menggelengkan kepalanya. Pria itu ternyata benar-benar ketagihan dengan apa yang sudah wanita itu pernah lakukan dulu, saat ia masih dikuasai oleh naluri liarnya.
Mematikan teleponnya, Nate pun langsung berbalik dan duduk dengan rapat di samping Lin. Ia mengangkat tubuh wanita itu ke pangkuannya dan memeluknya erat seperti boneka.
Salah satu tangan Lin memegang pipi pria itu dan merasakan suhunya yang kembali normal.
"Kamu benar-benar sudah sehat, Nate?"
Tersenyum, pria itu mengangguk. "Ya. Karena kamu."
Alis wanita itu terangkat. "Karena aku?"
Pria itu mencium kening wanita itu dengan dalam.
"Apa yang kamu lakukan tadi membuatku sembuh lebih cepat, sayang."
Panggilan baru itu membuat Lin mengerjap dan pipinya memanas. "Oh. Begitu."
Terkekeh, pria itu menyentil hidung Lin yang mungil.
"Jadi, kamu sudah tahu harus melakukan apa kan kalau hal itu sampai terjadi lagi?"
Perkataan mesum pria itu, membuat Lin memukul dadanya dengan keras.
"Jangan bercanda, Nate. Tadi kamu benar-benar sempat pingsan, membuat aku dan Pak Marcus sangat khawatir."
"Lin. Aku sama sekali tidak bercanda."
Mendengar suara Nate yang terdengar serius, membuat kepala wanita itu mendongak untuk memandangannya.
"Aku benar-benar membutuhkanmu, Lin. Apakah kamu tahu itu?"
Ia terlihat merogoh sesuatu dari kantong celananya, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Jantung Lin berdebar kencang. Selama ini, ia hanya pernah melihat adegan seperti ini di film atau pun buku yang pernah dibacanya dulu.
Sama sekali tidak pernah menyangka kalau akan mengalaminya sendiri.
Pria itu perlahan membuka kotaknya dan memperlihatkan sebuah cincin bermata hijau terang yang dihiasai butir-butir berlian kecil di sekelilingnya.
Cincin yang sangat indah dan Lin tidak bisa membayangkan berapa harganya.
"Ini adalah cincin warisan keluarga D'Axelle, yang turun-temurun di serahkan pada para wanita di dalam keluarga. Dan karena aku anak tunggal, maka ibuku hanya bisa memberikannya padaku."
Salah satu tangan Nate mengusap-usap kepala wanita yang berada di pangkuannya.
"Saat menerimanya, aku memutuskan akan memberikannya pada wanita yang kucintai."
Bibir pria itu mencium kening Lin dalam dan lama. Nate kembali menatap wanita itu.
"Lin. Aku ingin memberikannya padamu. Apakah kamu mau menerimanya?"
Kata-kata pertanyaan dari pria itu terasa bagai mimpi untuk Lin. Pernyataan cinta Nate membuat wanita itu tidak mampu berkata-kata untuk sesaat.
Kedua mata Lin terasa memanas ketika mendengar kelanjutannya.
"Lin. Maukah kamu menikah denganku?"
Wanita itu menurunkan pandangannya ke dada pria itu.
"Apakah kamu yakin Nate? Kamu berasal dari kalangan bangsawan, sedangkan asal-usulku tidak terlalu jelas. Kamu mungkin bisa memilih wanita lain yang lebih-"
Mendengar wanita itu mulai tidak percaya diri, membuat Nate langsung menciuminya dengan agresif. Ia tidak suka Lin membicarakan dirinya dengan cara seperti itu.
Setelah melepaskan bibir wanita itu, Nate menatapnya dengan marah.
"Aku tidak suka kamu membicarakan dirimu seperti itu Lin. Aku mencintaimu karena dirimu. Hanya karena dirimu, bukan yang lain. Kamu mengerti itu?"
Air mata wanita itu akhirnya meleleh di pipinya, pelan ia mengangguk.
Mengusap-usap pipi wanita itu yang basah, pria itu bertanya lagi.
"Jadi, apakah kamu bersedia menjadi pasangan hidupku untuk selamanya?"
Tanpa bersuara, Lin langsung memeluk sangat erat kedua bahu pria di depannya. Ia meremas rambut pria yang sedang dipeluknya. Pria inilah yang telah berhasil membuatnya keluar dari rasa kesepiannya. Betapa ia sangat membutuhkan orang ini dalam hidupnya.
"Ya Nate. Aku mau menikah denganmu."
Tersenyum, Nate mencium pipi wanita di pelukannya. Hatinya lega ketika Lin akhirnya mau menerima perasaannya.
"Mana tanganmu. Aku akan memasang cincin ini di jarimu."
Mengambil tangan wanita itu, perlahan Nate menyematkan cincin bermata jamrud itu ke jari manis Lin yang secara ajaib, sangat pas di tangannya.
Pandangan pria itu tampak takjub melihat betapa indah dan pasnya jari Lin ketika mengenakan cincin keluarganya. Wanita ini memang jodohnya.
Meneliti cincin di tangannya, alis Lin mulai berkerut membuat Nate bertanya-tanya. Apakah Lin tidak menyukai cincinnya?
__ADS_1
"Ada apa? Kamu tidak suka cincinnya, Lin? Ya, memang sedikit kuno tapi-"
Tidak enak, wanita itu mengibaskan kedua tangannya.
"Oh. Bukan. Bukan itu Nate. Cincin ini sangat indah. Hanya saja..."
Wanita itu tampak ragu-ragu mengutarakan pikirannya. Ia sama sekali tidak mau membuat pria itu tersinggung. Apalagi ia baru saja dilamar olehnya.
Mengacak-acak rambut wanita itu, Nate tersenyum. Ia sangat menyukai rambut wanita ini.
"Katakan saja Lin. Apa yang membuatmu khawatir?"
Terlihat wanita itu mulai menjauhkan tangannya yang mengenakan cincin. Mencoba mengamatinya dari kejauhan.
"Cincin ini terlalu mencolok untukku, Nate. Aku tidak mungkin memakainya ke kantor nanti."
Kata-kata itu membuat mata pria itu sedikit melebar.
"Kamu akan tetap ke kantor Lin? Kamu tidak jadi resign?"
Pertanyaan itu membuat Lin mengangguk dan tersenyum.
"Ya. Sepertinya, untuk sementara aku masih akan tetap bekerja dulu di sana. Tadi aku sudah bilang ke Pak Robertus. Terus terang, aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi Nate. Paling tidak, aku tetap bisa berada di dekatmu."
Penjelasan wanita itu membuat Nate menutup kedua matanya dan memberikan kembali ciuman yang lama di kening Lin. Betapa ia sangat mencintai wanita ini.
Pria itu kemudian terkekeh, dan mengambil tangan wanita itu.
"Aku akan segera membelikan cincin baru untukmu. Jadi bisa kamu pakai tiap hari nantinya."
"Yang biasa saja ya Nate. Supaya tidak mencolok nantinya."
Memikirkan kalau wanita itu mengenakan barang yang akan menunjukkan kepemilikannya, membuat hati pria itu bergetar bahagia.
Selama beberapa lama, mereka hanya saling terdiam. Pria itu menimang-nimang wanita di pelukannya sambil mengusap-usap punggungnya pelan. Ia tampak melamun.
"Oh ya, Nate. Sebenarnya ada yang mau kubicarakan denganmu."
Perkataan Lin tampak memutus lamunan pria itu. Kepalanya menoleh pada Lin.
"Tentang apa, Lin?"
Ragu-ragu, akhirnya Lin menjawab sambil menunuduk. "Tentang Dominic."
Mata pria itu memicing memandang wanita itu. Lin berani bicara tentang pria lain?
Perlahan, Nate meletakkan kembali tubuh Lin di sofa. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke depan jendela, tampak menjauhi wanita itu.
"Ada apa dengan Dominic?"
Suara Nate terdengar dingin. Pria itu bahkan tidak mau menoleh padanya.
Jantung Lin mulai berdebar. Ia sadar bahwa ini menyangkut topik yang sangat sensitif untuk pria itu. Tapi, hal ini perlu untuk dibicarakan secara serius. Nate perlu tahu kebenarannya.
Perlahan, wanita itu menyusul pria itu dan berdiri di belakangnya. Ragu-ragu, ia meraih bagian belakang kaos Nate dan sedikit menarik-nariknya pelan.
"Aku tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua. Dominic telah menceritakannya padaku."
Pria di depannya masih membisu dan tidak membalikkan badannya.
"Apalagi yang dia ceritakan?" Akhirnya pria itu bertanya.
"Dia tidak menjelaskan secara rinci, tapi hanya mengatakan kalau ia terpaksa melakukannya. Saat itu, keluarganya diancam dan ia tidak sanggup bila harus kehilangan mereka."
"Tapi dia kemudian tega menghilangkan keluarga orang lain, Lin."
Kedua mata Lin berkaca-kaca. Ia sangat sadar bahwa kehilangan pria itu tidak akan bisa diukur dengan apapun.
"Aku tahu, Nate. Tapi dia mengatakan sudah membayarnya dengan nyawanya. Saat sudah berubah pun, ia tidak pernah bisa bertemu dengan keluarganya. Terus terang, aku kasihan padanya, Nate."
"Kamu kasihan padanya?" Pria itu sedikit menoleh, dan nada suaranya sedikit tajam.
"Dia harus menyaksikan kematian isterinya karena penyakit tua. Dan ia juga harus melihat puterinya disiksa oleh suaminya karena dianggap berasal dari keluarga seorang pembunuh."
Pria itu terdiam. Informasi ini sama sekali belum diketahuinya.
"Aku sama sekali tidak bisa membayangkan perasaannya Nate, ketika ia juga harus melihat cucunya sendiri dibuang ke panti asuhan karena ayahnya tidak mau mengakuinya. Untungnya nasib baik masih berpihak di buyutnya, ketika akhirnya dia baru berani mencari mereka."
Wanita itu menengadah, menatap bagian belakang kepala pria yang sedang berdiri itu.
"Nate, apakah kamu masih belum bisa memaafkannya? Setidaknya mencoba untuk mengerti alasannya melakukan itu padamu dulu?"
Tangan Lin semakin menarik-narik kaos Nate tanpa sadar.
"Ehem, Lin. Apakah kamu mau mencekikku?"
Berbalik, Nate memperlihatkan kalau kerah kaosnya telah mencapai batas lehernya dan sedikit menekan jakunnya, karena ditarik dengan kuat oleh wanita itu tadi.
"Oh! Maaf Nate." Lin langsung melepaskan tangannya dari kaos pria itu.
__ADS_1
Bisa bernafas lega, Nate membenarkan letak kaosnya kembali. Pria itu berdehem.
"Aku sudah berbicara dengan Dominic kemarin."
Mata wanita itu membola. "Kalian sudah berbicara?"
Pria itu sedikit menyender ke jendala, membuat wanita itu refleks menarik tangan pria itu.
"Berbahaya Nate."
Pria itu malah terkekeh. Ia sangat senang melihat kalau wanita itu mengkhawatirkannya.
Memegang pinggang wanita itu, Nate tersenyum.
"Aku sudah tahu alasan dia melakukannya. Aku sudah memaafkannya, Lin."
Sumringah, senyum wanita itu terlihat lebar. Memperlihatkan deretan giginya yang kecil-kecil dan terlihat rapih.
"Oh. Syukurlah Nate. Aku senang mendengarnya!"
Nate memegang kedua sisi wajah Lin dan menciumnya. Ia kemudian mundur dan mengernyitkan dahinya.
"Kenapa kamu bisa berbicara dengannya, Lin? Bukannya kamu tidak suka padanya?"
Tanpa rasa bersalah, wanita itu terkekeh.
"Kemarin dia memberikan kue bolu yang lain Nate. Rasanya sangat enak. Ternyata Dominic berencana untuk membuka toko kue kecil di seberang apartemen. Padahal tadinya aku kira, dia adalah pemilik Allard Corp."
"Dia memang tadinya pemilik Allard Corp."
Konfirmasi dari pria itu membuat Lin menutup mulutnya. Matanya terlihat bersinar dan mulutnya mengeluarkan suara tawa tidak percaya.
"Wow! Ternyata benar dia adalah pemilik perusahaan besar itu? Aku sama sekali tidak mengira. Padahal tampangnya berandalan seperti itu. Dan aku sama sekali tidak menyangka kalau dia juga ternyata sangat pintar membuat kue dan masakan lain."
Entah mengapa, Nate tidak suka melihat Lin terlihat kagum untuk pria lain.
"Kamu menyukainya?"
Polos, Lin mengangguk. "Iya. Aku sangat suka."
Jawaban itu membuat kedua mata Nate melotot. Kedua tangannya mencengkeram pinggang Lin yang sedang dipegangnya dan sedikit menjauhkan tubuhnya.
"Kamu menyukainya, Lin?" Nada suaranya sedikit meninggi.
Pria itu sangat jarang marah, membuat wanita itu cukup terkejut ketika melihat Nate sedikit kehilangan kendali diri. Bingung, Lin hanya bisa mencicit.
"Iya Nate. Apakah aku harus tidak suka? Rasanya sangat enak. Kalau kamu tidak percaya, kamu harus memintanya membuatkan untukmu."
Mata pria itu terlihat mengerjap dengan cepat. Ia baru tersadar maksud wanita itu tadi.
Apa yang telah dilakukannya? Hanya gara-gara masalah kue, emosinya langsung naik seperti itu. Apakah ia cemburu?
Melihat ekspresi Lin yang sedikit cemas, membuat Nate menarik wanita itu ke pelukannya.
"Maaf Lin. Aku cemburu tadi. Aku tidak suka kamu menyukai pria lain."
Mendengar kata-kata Nate, membuat Lin justru mendorong pria itu menjauh. Kedua matanya terlihat menyipit.
"Apa maksudmu aku menyukai pria lain? Kamu menuduhku selingkuh, Nate?"
Reaksi wanita itu yang tidak diduga, membuat pria itu terkejut.
"Bukan itu maksudku, Lin. Aku hanya-"
"Mungkin, aku memang harus mengundang Dominic untuk makan malam di tempatku."
Kata-kata Lin yang mengandung ancaman, membuat Nate mendorong Lin sehingga wanita itu terjatuh ke sofa, dengan tubuh Nate menghimpit di atasnya.
"Aku tantang kamu Lin. Coba katakan sekali lagi?" Mata pria itu memicing.
Alis mata wanita itu terangkat dan dagunya menantang.
"Aku akan mengundangnya makan malam di tempatku, Nate."
Menggeram, pria itu mulai mengelitiki perut wanita di bawahnya membuat Lin kegelian. Tidak mau mau kalah, wanita itu melakukan hal yang sama.
Beberapa saat, mereka saling menggelitiki dan akhirnya tertawa bersama. Mereka pun memeluk satu sama lain di sofa sempit itu.
Saat itu, Lin yang sedang menutup mata tiba-tiba membelalak.
"Nate, kita melupakan sesuatu yang penting."
Kepala Nate yang sedang tenggelam dalam rambutnya yang tergerai hanya berguman malas. Tangan pria itu sedang asyik memeluk tubuh lembut yang merapat padanya.
"Nate!"
Wanita itu segera bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk.
Pria yang sedang malas itu hanya mengusap-usap rambut Lin yang terburai di punggungnya. Tangan lainnya ia letakkan di belakang kepalanya, matanya tertutup dan tampak tidak tertarik untuk berbicara serius.
__ADS_1
"Memang kenapa, Lin?"
Lin menoleh pada pria yang terbaring itu. "Nate. Kita harus meminta restu pada ayahku."