Madness

Madness
Chapter 53


__ADS_3

"Lin."


Panggilan itu membuat Lin menengadah dari komputernya dan terlihatlah wajah Lucy yang ceria dari balik kubikalnya.


"Hai, Luce. Makan siang sekarang?"


"Iya. Ada yang mau aku ceritakan padamu."


Tersenyum, Lin mengambil dompet dan ponselnya.


Tidak lama, keduanya sudah berada di kantin kantor. Dan setelah memesan makanan, Lucy pun menumpukan kedua tangannya ke meja dan posisinya mendekati Lin.


"Apa yang mau kamu ceritakan, Luce? Sepertinya kamu sedang senang."


Temannya terkekeh dan matanya menerawang.


"Aku bertemu dengan seorang pangeran, Lin."


"Siapa lagi kali ini, Luce?" Lin bertanya sambil meminum air dari botol.


Beberapa minggu lalu, Lin akhirnya mengakui kalau pria berambut hitam yang disukai Lucy adalah suaminya. Dan bahwa pria itu adalah orang yang pernah melecehkannya dulu.


Berita ini cukup mengejutkan dan membuat Lucy sempat marah. Tapi ia langsung mundur teratur, setelah Lin menjelaskan kalau ia sengaja merahasiakan hal ini dari orang kantor dan ingin menjaga privacy suaminya yang merupakan orang cukup penting di perusahaan.


Lucy sangat menghargai ranah pribadi Lin, karena wanita itu juga dapat menjaga rahasia Lucy dengan baik dan tidak membocorkannya pada orang kantor.


Dan setelah pengakuan dari Lin, Lucy sama sekali tidak pernah bertemu lagi dengan pria asing itu satu kali pun, sampai sekarang.


Meski cukup patah hati karena ternyata pria yang ditaksirnya ternyata sudah ada yang punya, tapi Lucy cukup tahu diri untuk tidak mengganggu rumah tangga temannya sendiri.


Hal ini membuat Lucy beberapa kali gonta-ganti pasangan kencan untuk mengobati patah hatinya, terutama karena pengadilan pun sudah memutuskan resmi kasus perceraiannya dengan Mark Adler.


Lin sebenarnya tidak setuju dengan kelakuan temannya, tapi hanya bisa mengingatkan agar Lucy tidak sampai kebablasan. Ia masih memiliki putera yang harus diurusnya kelak.


"Dia pemilik toko kue di dekat apartemenmu yang dulu, Lin."


Mendengar hal itu membuat Lin terbatuk-batuk saat ia menenggak air mineralnya.


"Kamu kenapa Lin?" Lucy menepuk-nepuk pelan punggung temannya.


"Tolong jangan bilang kalau pria itu berambut merah dan bermata biru."


Mata Lucy melotot. "Kamu kenal dengannya?"


Lin mengusap wajahnya frustasi. Kenapa temannya ini selalu saja menyukai orang yang salah? Pertama ia menikahi seorang pem-bully, kedua menyukai suami orang lain dan sekarang?


Nate telah memberi peringatan keras pada isterinya agar tidak terlalu dekat dengan Dominic. Meski pria itu sahabatnya, tapi ia dikenal sebagai seorang casanova. Seorang perayu wanita.


Satu-satunya wanita yang bisa membuatnya bertekuk lutut adalah isterinya sendiri yang sudah lama meninggal. Dan sampai detik ini, Dominic sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan berubah.


Menghela nafas, Lin memandang temannya dengan sedih. Padahal ia bekerja di area HC, tapi temannya ini ternyata sama sekali tidak bisa membaca karakter orang dengan baik.


"Ya, Luce. Aku cukup kenal dengannya. Bahkan sebenarnya, dia adalah tetangga seberang apartemenku dulu."


"Dia tetanggamu? Siapa namanya?" Lucy terlihat bersemangat.


"Namanya Dominic. Dan aku sama sekali tidak menyarankan kamu untuk dekat dengannya."


Tubuh Lucy mundur mendengar hal ini. Raut mukanya terlihat kecewa. "Kenapa, Lin?"


"Dominic mungkin orang baik, tapi dia bukan pria yang bertanggungjawab. Sepanjang aku menjadi tetangganya dan itu cukup singkat, aku sudah beberapa kali memergokinya membawa wanita menginap dalam apartemennya."


"Mungkin itu pacarnya." Lucy berusaha membela dengan suara lirih.

__ADS_1


"Ya, mungkin itu pacarnya. Kalau dia memang senang bergonta-ganti pacar. Hanya dalam waktu 1 minggu, aku pernah melihat pria itu membawa 5 wanita yang berbeda, Luce."


Lin menjeda ceritanya ketika pesanan makanan mereka datang.


Melihat kekecewaan yang cukup besar terlihat di muka Lucy, membuat Lin sedih.


"Aku hanya bisa menceritakan apa yang aku tahu, Luce. Selanjutnya terserah dirimu, karena ini hidupmu sendiri. Aku hanya bisa berpesan, hargailah apa yang sudah kamu miliki saat ini."


Kata-kata Lin mengarah pada putera semata wayang Lucy.


Memiliki anak merupakan sebuah anugerah dalam kehidupan, dan Lin sendiri tidak yakin akan dapat memilikinya dengan Nate. Pertama karena ia dan suaminya bukan manusia biasa, dan kedua sampai sekarang pun Lin tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.


Kaum V tidak memiliki periode mensturasi yang normal seperti manusia biasa, dan Lin yang telah mencapai usia matang sudah hampir tidak pernah mengalaminya lagi.


Meski Lin ras campuran, tetap saja akan ada keterbatasan. Tidak mungkin ia akan dapat hamil saat usianya sudah mencapai kepala-4 seperti saat ini. Apalagi mengingat resikonya yang sangat tinggi bila seorang wanita manusia hamil dari benih pria V.


Lin yakin, Nate tidak akan setuju kalau sesuatu yang berbahaya seperti itu tumbuh dalam rahim isterinya. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya jika hal itu sampai terjadi.


"Kenapa aku selalu sial kalau berhubungan dengan pria, Lin?"


Kata-kata Lucy membuat Lin sangat sedih. Ia memegang tangan temannya yang terkepal.


"Jangan bicara seperti itu, Luce."


"Tapi memang benar kan? Aku menikah dengan Mark yang ternyata berselingkuh berkali-kali di belakangku. Dia juga tega memukuliku selama kami menikah. Yang kedua, aku bahkan menyukai suamimu sendiri. Kemudian sekarang. Apa yang salah dengan aku, Lin?"


Kedua mata Lucy mengeluarkan air yang cukup deras mengalir di pipinya.


Lin segera mengeluarkan tisu dan menyeka pipi temannya.


"Coba ambil hikmahnya, Luce. Dengan menikahi Mark, kami memiliki Scott. Atau kamu menyesal telah memiliki Scott?"


Mendengar hal itu membuat Lucy mengerjapkan matanya dengan cepat. Ia menggeleng kuat.


"Sama sekali tidak. Aku menyayangi Scott, Lin. Aku tidak pernah menyesal memilikinya, meski dia adalah anak dari si bangsat itu."


"Bagus. Itu yang aku harapkan darimu. Sekarang, apa tujuanmu untuk hidup Luce? Apa prioritasmu? Apakah Scott atau untuk mencari pria lain, yang masih belum jelas?"


Pertanyaan Lin membuat Lucy terpekur.


"Kamu mungkin bisa berganti pria mana pun yang kamu sukai, Luce. Kamu cantik, sukses dan masih cukup muda. Tapi Scott? Kamu hanya memiliki satu Scott dalam hidup ini, Luce. Apa yang akan kamu lakukan kalau sampai kehilangan dia?"


Lin meremas tangan Lucy. Ia mengingat masa-masa kecilnya yang kelam dan tidak mau temannya sampai menjadi orang tua yang seperti ibunya dulu.


"Aku tidak mau mencampuri hidupmu, Luce. Ini adalah ranah pribadimu, privacy-mu. Tapi aku benar-benar tidak mau kalau tindakanmu sekarang, akan dapat memberikan dampak negatif untuk perkembangan anakmu di masa mendatang. Coba pikirkan baik-baik hal itu, Luce."


Lin kembali meremas tangan Lucy, sebelum akhirnya meraih sendoknya dan mulai makan.


"Lebih baik kamu mulai makan sekarang. Waktu istirahat kita sebentar lagi habis."


Kembali ke ruangannya, Lin menyenderkan tubuhnya ke kursi. Hari ini ia merasa sangat lelah, terutama saat menghadapi Lucy tadi.


Menatap perutnya yang rata, Lin mengusap-usapnya pelan.


Anak. Tentu saja Lin menginginkan seorang anak, apalagi bila itu berasal dari pria yang dicintainya. Tapi saat ini? Rasanya itu hanya menjadi mimpi di siang bolong.


Termenung sejenak, ia pun mengambil ponselnya dari atas meja. Ia membuka aplikasi chat-nya dan mengetik sesuatu.


'Nate. Kamu sedang apa?'


Beberapa detik menunggu, Lin pun baru akan meletakkan ponselnya kembali ketika ada notifikasi pesan masuk.


'Ada apa, Lin? Kamu sedang sedih?'

__ADS_1


Pertanyaan suaminya membuat alis Lin berkerut. Tahu dari mana Nate kalau ia sedang sedih?


'Kamu tahu kalau aku sedang sedih? Kamu mengintipku, ya?'


Lin sengaja membuat pertanyaannya seperti bercanda, tapi ia sebenarnya ingin mengetahui apakah Nate memata-matai pergerakannya selama di kantor. Kalau memang benar, ia akan meminta suaminya untuk menghentikannya. Ia tidak suka terlalu dikekang seperti itu.


'Tidak juga. Tapi karena aku sudah menandaimu, kita jadi memiliki koneksi. Aku jadi sedikit banyak bisa merasakan perasaanmu.'


Membacanya, Lin tersenyum lega. Ia menyenderkan badannya kembali ke kursi.


'Mau main kesini? Mumpung Marcus tidak ada.'


Lin tersenyum semakin lebar. Ia langsung menegakkan tubuhnya yang tadinya lemas.


'Oke. Sebentar lagi aku kesana.'


Dengan gembira, Lin meminta izin pada Pak Robertus untuk pergi sebentar dan wanita itu pun langsung melesat masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai 60.


Sampai di ruangan 'Private', Lin mengetuk pintunya pelan. Ia masuk saat mendengar suara Nate yang dalam dan halus menjawabnya.


Saat masuk ke ruangan, ia melihat sosok Nate yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Pria itu masih mengenakan kacamata bacanya di hidungnya yang mancung.


Masih belum beranjak dari tempatnya, kepala Lin celingak-celinguk.


"Marcus tidak ada di sini. DIa sedang meeting di luar." Suaminya tertawa di ujung ruangan.


Mendengar itu, Lin segera menutup pintu di belakangnya. Tidak lupa, ia menguncinya.


Wanita itu melepas sepatu haknya dan dengan ringan berlari-lari kecil ke arah suaminya, membuat rambut panjang dan roknya melambai-lambai.


Tingkah Lin membuat Nate tersenyum semakin lebar. Angin mulai membawa aroma isterinya yang memabukkan ke hidungnya yang tajam, membuat kedua matanya mulai menghitam.


Sampai di depan suaminya, Lin langsung melompat ke pangkuan Nate dan mengangkangi tubuh pria itu. Kedua tangannya memegang wajah suaminya yang mulus tercukur. Kedua tangan Nate pun berada di bokong Lin, menahan agar isterinya tidak jatuh.


Suami-isteri itu memandang dan saling tersenyum.


"Jadi, apa rencanamu siang ini?"


Suara Nate terdengar serak, dan tangannya yang nakal mulai meremas bokong isterinya.


Jari-jemari Lin mengusap dan memijat pelan kulit kepala Nate, membuat pria itu terpejam.


"Banyak sekali, sayangku. Tapi sekarang, aku berencana untuk memperkosamu dulu."


Terkekeh, salah satu tangan suaminya menampar bokong isterinya cukup kencang. Pria itu menengadahkan kepalanya, sengaja memperlihatkan lehernya yang terbuka.


"Oh! Aku sudah tidak sabar. Ayo. Lakukan sekarang juga. Aku pasrah berada di tanganmu."


Dan kedua insan itu pun melakukan hal yang ingin mereka lakukan siang itu. Tubuh keduanya terlihat menempel satu dengan yang lainnya.


Sama sekali tidak peduli pada salah satu pria malang yang saat ini sedang terjebak macet.


"Berapa lama lagi, Henri?"


"Saya kurang tahu, Pak. Sepertinya kecelakaan di depan cukup parah."


Dengan kesal, Marcus menyender kembali ke kursi mobilnya.


Ia baru saja pulang dari meeting yang rencananya hanya berlangsung 1 jam, tapi mereka sudah terjebak dalam kemacetan lebih dari 2 jam.


Marcus tadi sudah mencoba menghubungi Nate untuk memberitahukan keterlambatannya, tapi atasannya sama sekali tidak menjawab teleponnya.


Tadinya ia nekad ingin turun dan memutuskan untuk berjalan kaki, tapi lokasi mereka di jalan bebas hambatan membuatnya harus terjebak dalam situasi ini.

__ADS_1


Pria dingin itu cukup khawatir kalau atasannya marah padanya. Ia sama sekali belum pernah terlambat dan peristiwa hari ini, telah mencoreng sejarah hidupnya yang sempurna.


Ia benar-benar merasa sial hari ini.


__ADS_2