
Malam itu, Nate dan Lin makan malam bersama untuk pertama kalinya sejak mereka menikah. Biasanya keduanya akan menjalani hari dengan hanya saling memeluk sebelum pergi ke kantor dan juga saat bertemu di rumah.
Suaminya tidak memiliki kebutuhan besar untuk makan makanan manusia, membuat Lin pun berusaha untuk menyesuaikan gaya hidupnya. Wanita itu akan makan, di saat ia sedang sendiri dan ketika suaminya belum pulang.
Pertama kalinya mereka makan bersama, membuat Lin sangat bahagia. Ia memandang raut suaminya yang terlihat menikmati makanan yang disajikannya, membuat wanita itu puas.
Setelah meminum cairan bening dari gelasnya, Lin meletakkan gelas tingginya dengan pelan ke atas meja. Suaminya pun melakukan hal yang sama ketika melihat isterinya sudah siap untuk memulai pembicaraan mereka.
"Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan padaku Lin?"
Suaminya bertanya dengan lembut, dan dengan perlahan mengusap tangan Lin yang tertangkup di atas meja. Jari-jemari pria itu yang kuat, meremas jari-jari isterinya yang mungil.
Dengan perlahan, Lin melepaskan tangannya dan ia pun meraih sesuatu dari bawah meja. Wanita itu mengulurkan sesuatu pada suaminya dengan jantung yang berdebar.
"Aku ingin memberitahukan soal ini padamu."
Pelan-pelan, tangan Lin terangkat dari benda yang sedang dipegangnya dan memperlihatkan sebuah foto kecil.
Lin melihat dahi suaminya yang berkerut. Pria itu terlihat sama sekali tidak mengerti hal yang dibicarakannya, membuat wanita itu semakin gugup.
Tangan Nate akhirnya meraih foto itu dan memandangnya. Ia masih belum mengatakan apapun. Pria itu pun menatap isterinya dengan pandangan bingung.
"Aku masih tidak mengerti. Apa ini, Lin?"
Kedua pipi isterinya terlihat merona merah dengan cantik. Jantung Nate pun ikut berdebar kencang, ketika dapat merasakan perasaan isterinya yang meluap-luap.
"Aku sedang hamil, Nate. Usianya sudah 8 minggu."
Flashback 2 minggu yang lalu.
Ketika Nate dan Marcus selesai berbicara dengan ayahnya, ketiga pria itu pun memutuskan untuk berbicara di luar kamar tidur. Lin pun memilih untuk masuk kembali dan menemani ayahnya, dibanding ikut mendengarkan pembicaraan para pria di luar.
"Lin, kemarilah."
Mendengar suara ayahnya yang serak, membuat Lin pun menghampiri Johan yang sedang terbaring cukup lemah di tempat tidur.
Setelah pertemuannya dengan Nate dan Marcus, kondisi pria tua itu tampak semakin memburuk. Dan Lin tahu, kalau kondisnya akan semakin memburuk tiap harinya.
"Tolong bantu ayah untuk duduk, Lin."
Dengan hati-hati, Lin mengatur bantal ayahnya dan membantu pria tua itu untuk bersandar dengan nyaman dalam posisinya.
"Terima kasih..."
Johan meraih tangan puterinya dan menggenggamnya erat. Tiba-tiba, dahi pria tua itu berkerut dalam ketika memegang tangan anaknya.
Salah satu tangan Johan memegang perut Lin, membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Ayah?"
"Diam sebentar."
Pria tua itu menutup kedua matanya dan tampak berkonsentrasi dengan hal yang sedang dilakukannya. Ketika membuka matanya kembali, ia tampak menarik nafas tajam.
"Demi pencipta segala semesta..." Suara Johan terdengar lirih dan takjub.
Ayahnya memandang puterinya dengan pandangan bertanya-tanya. Suaranya sedikit tercekat dan bergetar.
"Lin. Apa yang sedang kamu rasakan sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Lin bingung. Matanya mengerjap memandang ayahnya.
"Rasakan? Memangnya, aku harus merasakan apa?"
"Puteriku. Apakah kamu benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi di tubuhmu?"
__ADS_1
Wajah Lin perlahan memucat. Ia mulai berfikir hal-hal yang mengerikan di benaknya.
"Apa maksud, ayah? Ayah benar-benar membuatku takut saat ini."
Jari-jari Johan meremas tangan anaknya yang berada di pangkuannya.
"Kamu sedang hamil, Lin. Kamu mengandung seorang anak saat ini. Apakah kamu tidak sadar sama sekali?"
Kata-kata dari ayahnya terdengar seperti sambaran petir di siang bolong bagi Lin. Wanita itu benar-benar terkejut, membuat tubuhnya membeku dan mulai gemetar tidak terkendali.
Melihat puterinya yang syok, membuat Johan sangat khawatir. Ia memegang bahu anaknya dan sedikit meremasnya.
"Lin. Lin. Tenanglah. Tolong duduk dulu."
Sedikit sulit untuk bernafas, Lin pun akhirnya meraih kursi tunggu di dekat tempat tidur dan duduk di atasnya. Ia memegang dadanya yang saat ini berdegup kencang.
Sedikit tenang, ia menolehkan kepala pada ayahnya yang masih menatapnya cemas.
"Ayah. Apakah ayah sedang bercanda saat ini? Sama sekali tidak lucu. Aku-"
"Ayah sama sekali tidak bercanda, Lin. Apalagi untuk soal yang satu ini. Kamu benar-benar tidak tahu kalau kamu sedang hamil saat ini?"
Kedua mata Lin memerah, dan dengan perlahan wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku sama sekali tidak tahu. Tapi, itu tidak mungkin ayah."
"Apakah selama kalian berhubungan, Nate pernah menggunakan pengaman?"
Puterinya menutup mukanya dengan frustasi. Mukanya mulai memerah, dan perasaannya benar-benar campur aduk saat ini.
"Kami tidak pernah menggunakan pengaman. Aku pun merasa kalau kami tidak akan pernah memiliki anak. Mensturasiku sudah berhenti sejak 10 tahun yang lalu, jadi aku merasa tidak pernah memerlukan pengaman atau apapun itu selama kami berhubungan."
"Apakah kalian sama sekali tidak pernah membicarakan kemungkinan ini?"
Lin menarik nafasnya dalam dan suaranya terdengar bergetar.
Wanita itu membentuk kepalan dari kedua tangannya dan menumpukan kepalanya di sana.
"Aku juga manusia keturunan seorang V, yang sama sekali tidak akan pernah bisa memiliki keturunan selama hidupnya."
Akhirnya kedua mata Lin mengeluarkan air mata. Entah air mata kesedihan atau kebahagiaan. Kepalanya menoleh memandang Johan yang masih menatapnya dengan intens.
"Apa yang sebenarnya terjadi, ayah?"
Kepala Johan menggeleng pelan. "Ayah juga tidak tahu, Lin."
"Apa yang harus aku lakukan, ayah? Bagaimana kalau janin ini-"
Lin tidak sampai hati mengata-ngatai calon anaknya, apalagi calon itu berasal dari benih pria yang sangat dikasihinya. Tangannya terangkat dan mengelus perutnya lembut.
"Apakah kamu benar-benar tidak merasakan apapun?"
Puterinya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan frustasi.
"Sama sekali tidak ada perubahan yang aku rasakan. Semuanya biasa saja."
Sejenak keduanya terdiam. Johan akhirnya menarik nafas kembali dan memandang puterinya. Pria tua itu menepuk-nepuk tempat di sebelah tempat tidurnya.
"Kemarilah, Lin."
Sedikit gemetar, Lin akhirnya menghampiri dan duduk di samping ayahnya. Tangan tua pria itu memeluk pinggang anaknya dan mengelus perutnya.
"Di sini, sedang tumbuh cucu ayah."
Kata-kata ayahnya membuat Lin menoleh pada Johan. Pria tua itu memandang puterinya sambil tersenyum.
__ADS_1
Johan meraih kedua tangan anaknya dan menimangnya.
"Lin. Ayah yakin kamu tahu benar resikonya memiliki seorang anak dari kaum V. Dan ayah yakin, kamu tahu apa hukumannya untuk suamimu kalau sampai terjadi sesuatu padamu karena hal ini. Tapi-"
Pria tua itu memandang tangan anaknya yang halus dan lembut. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap anaknya dengan pancaran yang tegas.
"Ini adalah keputusan kalian berdua. Kalian telah menjadi suami-isteri sah dan telah terikat, baik dari mata hukum manusia maupun hukum kaum V. Tidak akan ada yang dapat dilakukan oleh The Masters yang lain, kalau keputusan ini menyangkut keputusan bersama antara pasangan hidup. Kamu harus tahu itu."
Kedua mata ayahnya terlihat mulai berkaca-kaca. Pria tua itu sama bingungnya dengan anaknya tapi hanya memikirkan kemungkinan memiliki cucu, membuat Johan lebih memiliki semangat untuk hidup.
"Jika kamu memutuskan untuk mempertahankan anak ini maka pesan ayah, jagalah dirimu dengan baik dan akan ada kemungkinan, kamu membutuhkan banyak asupan darah secara langsung. Hal inilah yang ingin ayah bicarakan lebih dalam, denganmu sekarang."
Kembali ke masa sekarang.
"Nate?"
Lin memanggil suaminya, ketika pria itu tampak masih terpaku di duduknya sambil memandang foto yang ada di tangannya. Wajah pria itu memucat saat informasi dari isterinya secara perlahan-lahan, mulai memasuki otaknya.
"Tidak." Suara Nate terdengar kaku ketika akhirnya pria itu berbicara.
Mata Lin mengerjap cepat. "Nate?"
Tangan suaminya meletakkan foto itu di atas meja dengan sedikit membantingnya. Wanita itu membeku saat melihat ekspresi suaminya yang terlihat dingin ketika memandang dirinya.
Ia tampak seperti pria yang berbeda, dari yang baru saja tersenyum hangat padanya.
"Gugurkan kandungan itu, Lin. Dia tidak boleh dibiarkan hidup."
Kedua mata Lin melotot mendengar ucapan suaminya yang terdengar sangat dingin dan tidak berperasaan. Tidak bisa ditahannya, wanita itu berdiri dari duduknya dengan kasar sampai menggulingkan kursi di belakangnya.
"Nate!?"
Tubuh Lin gemetar hebat. Ia mengepalkan kedua tangannya saat melihat Nate yang masih duduk, hanya menatapnya dengan ekspresi dingin dan kaku.
"Nate. Kamu tidak serius mengatakannya, kan?"
Baru kali ini sepanjang mengenal pria itu, Lin melihat mata kelabu Nate bersinar mengerikan. Pria itu seperti bukan manusia ketika menatapnya dengan matanya yang hampir berwarna putih, dengan pupil berwarna hitam yang tampak menojol.
"Aku sama sekali tidak bercanda. Gugurkan kandungan itu, atau tanganku sendiri yang akan melakukannya."
Mata Lin memandang pria itu dengan nanar. Bagaimana mungkin Nate tega mengatakan itu pada calon anaknya sendiri? Ia akan membunuhnya dengan tangannya sendiri?
Tanpa disadarinya, kedua mata Lin mengalirkan air mata kemarahan dan kekecewaan pada pria yang telah dicintainya ini.
"Aku benar-benar membencimu, Nathanael Axelle."
Setelah mengatakan itu, Lin masuk ke dalam kamar tidur dan membanting pintunya dengan kencang. Ia benar-banar sangat kecewa pada suaminya saat ini.
Setelah isterinya masuk ke kamar tidur, pria itu memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Sambil mengurut pelipisnya, Nate melirik pada foto kecil yang masih tergeletak di atas meja makan.
Tangannya sedikit gemetar ketika meraihnya dan memandangnya kembali.
Meski tidak memahami sama sekali gambar yang ada dalam foto USG itu, tapi Nate tahu kalau itu adalah foto calon anaknya.
Mata pria itu berair. Perasaannya benar-benar tidak karuan saat ini.
Awal mendengar berita kehamilan isterinya, ia merasakan rasa bahagia yang sangat membuncah di hatinya. Tapi begitu menyadari apa artinya, kebahagiaan itu padam dan tergantikan rasa takut yang amat sangat.
Selama menjalani hidupnya sebagai kaum V, pria itu sudah menerima kalau ia tidak akan pernah mendapatkan keturunan. Dan sama sekali tidak pernah berfikir akan mendapatkan kesempatan itu dari hubungannya dengan isterinya.
Nate memegang foto itu gemetar dan meletakkannya kembali di atas meja. Tangannya menutup kedua matanya yang mulai mengalirkan air di salah satu sudutnya.
Saat ini, Nate merasa telah menjadi orangtua yang sangat jahat pada anaknya. Ia juga merasa sebagai seorang suami yang telah gagal melindungi isterinya.
Tapi sekarang, bagi pria itu yang terpenting adalah keselamatan Lin. Isterinya adalah satu-satunya orang yang pernah ia cintai dan ia miliki dalam hidupnya.
__ADS_1
Jika sampai harus kehilangan isterinya, maka Nate memilih tidak akan pernah hidup lagi.
Ia akan tetap menggugurkan calon anaknya, bila itu bisa menyelamatkan nyawa Lin. Meski isterinya akan membenci dirinya, sampai ia mati nanti.