
'Lin, malam ini kita tetap akan bertemu, kan?'
Sudah beberapa menit, Lin menatap layar ponselnya. Pertanyaan dari Nate belum ia jawab dari tadi. Ia sangat bingung saat ini.
Bila ia menjawab ya, wanita itu pun tidak tahu bagaimana reaksi tubuhnya nanti pada pria itu. Sejujurnya, ia cukup takut kalau kejadian di apartemennya akan terulang kembali.
Tapi bila ia menjawab tidak, berarti ia memperlihatkan sifat pengecutnya untuk pertama kalinya pada seorang pria. Dan masalahnya, Lin bukanlah seorang pengecut selama ini.
Wanita itu menyenderkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Ia menatap layar monitornya yang terlihat kosong dan berwarna hitam.
Ia sebenarnya telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya sekitar 1 jam yang lalu. Ketika ia baru berniat untuk kabur, chat dari Nate tiba-tiba masuk dan membuatnya tidak jadi pulang.
Pria itu sepertinya tahu kalau Lin memang ingin menghidar untuk menemuinya malam ini.
Memutuskan sesuatu, Lin akhirnya mengetik di ponselnya.
'Kalau aku lihat, kamu sepertinya sudah tidak membutuhkan bantuanku, Nate. Jadi aku pikir, kita tidak usah bertemu lagi.'
Balasan dari pria itu cukup lama.
'Aku tahu kalau kamu menghindar untuk bertemu denganku, Lin. Tapi ada sesuatu yang penting ingin kubicarakan denganmu malam ini.'
'Kamu bisa mengatakannya lewat chat, Nate. Kita tidak usah bertemu.'
Lin masih mencoba bersikap keras kepala pada lelaki itu. Ia tidak mau sampai memperkosa Nate hanya karena tidak mampu mengendalikan dirinya nanti.
'Maaf, Lin. Tapi aku tidak bisa mengatakannya lewat chat. Ini menyangkut kejadian beberapa malam lalu di apartemenmu.'
Deg!
Kata-kata Nate seolah menusuknya. Saat ini, pria itulah korbannya dan ia penjahatnya.
Lin menutup matanya yang mulai memerah. Hal yang dilakukannya pada Nate meski sama dengan yang pernah dilakukan lelaki itu padanya, tetap terasa lebih berat bebannya.
Setidaknya saat Nate menyerang dirinya, ia masih bisa menunjukkan sedikit perlawanan diri. Tapi saat kejadian yang sama menimpa lelaki itu?
Nate sebenarnya bisa melawan dirinya, bahkan menyakitinya. Tapi pria itu malah berusaha untuk diam dan cenderung pasrah, meski Lin tahu kalau hal itu tidak diinginkannya.
Mata Lin terasa basah. Pertama kalinya ia dapat merasa nyaman bersama dengan seorang pria, untuk pertama kalinya juga ia menyakiti pria yang sama.
Setidaknya Nate berhak untuk mendapatkan keadilan. Paling tidak, itulah yang bisa Lin berikan padanya. Sama seperti yang Nate telah berikan padanya dulu.
'Baiklah. Aku akan menemuimu 30 menit lagi.'
'Oke Lin. Aku akan menunggumu di tempat yang sama.'
Tiga puluh menit kemudian, Lin telah berdiri di depan pintu ruangan Nate. Bolak balik, wanita itu maju dan mundur. Beberapa kali ia juga bergerak untuk mengetuk pintu tapi tidak jadi.
Sambil mematung di depan pintu, Lin mulai menggigiti jarinya. Mungkin lebih baik ia tidak usah datang. Nanti ia akan memberikan alasan yang masuk akal pada pria itu.
Lin baru akan berbalik untuk pergi, ketika pintu tiba-tiba terbuka.
Kepala Nate tampak menongol dari dalamnya. Wajahnya terlihat cerah.
"Lin. Masuklah. Aku sudah menunggumu."
Nate membuka pintunya lebih lebar, mempersilahkan wanita di depannya untuk masuk.
Sebenarnya Nate sudah bisa mendengar keberadaan Lin di depan pintunya. Namun, ia mau menunggu sejauh mana wanita itu akan berani masuk. Ketika merasa kalau Lin akan mundur, barulah ia keluar untuk menyambutnya.
Sedikit ragu, Lin akhirnya mulai memasuki ruangan. Sedapat mungkin ia menjauhkan tubuhnya untuk bersentuhan dengan Nate.
__ADS_1
Dengan canggung, Lin berdiri di tengah ruangan sampai Nate mempersilahkannya untuk duduk di sofa panjang.
Lin saat itu baru duduk dan akan mulai berbicara, ketika tiba-tiba Nate memutuskan untuk duduk di sebelahnya.
Kaget, Lin pun langsung berdiri dan memilih salah satu sofa tunggal di ruangan itu.
Kelakuan wanita di depannya ini hanya membuat pria itu tersenyum simpul.
Tidak mau berbasa-basi, Lin langsung memulai pembicaraan mereka malam itu.
"Nate, sekali lagi aku ingin meminta maaf padamu. Aku benar-benar tidak tahu mengapa aku sampai melakukan hal itu padamu."
Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah, ketika mengingat ia pernah berniat jahat untuk membalas perbuatan Nate. Upayanya tidak pernah berhasil, sampai kejadian malam itu di apartemennya.
"Jika kamu... Jika kamu memutuskan ingin mengambil jalur hukum, maka aku bersedia untuk menerimanya."
Lin bukan seorang pengecut. Ia bersedia menerima apapun konsekuensinya.
Ekspresi pria di depannya tampak cukup bingung, ia mengerjapkan matanya.
"Sejujurnya, aku sama sekali tidak pernah berniat mempermasalahkan hal itu Lin. Karena aku juga pernah melakukannya padamu. Jadi menurutku tidak ada gunanya untuk mengungkit mengenai masalah itu lagi."
Dahi Lin mengernyit mendengarnya. "Tapi bukannya kamu mau bertemu karena-"
"Apakah kamu sama sekali tidak mau tahu mengenai penyebabnya, Lin? Penyebab kenapa kamu bisa sampai melakukan hal itu? Sama seperti aku waktu itu?"
Pandangan mata Nate tampak tajam dan menghujam dirinya. Menuntut jawaban wanita itu.
Darah di wajah Lin perlahan menyurut. Dalam benaknya, ia berfikir kalau pria itu sudah mulai mencurigai dirinya.
Melihat pandangan Nate yang tidak bergeming, Lin menjadi yakin seratus persen kalau Nate sudah tahu 'apa' dirinya.
Masih tidak mau mengaku dan berusaha menghindar, Lin menolak untuk memandang Nate.
"Aku akan menggunakan kata-katamu yang dulu Lin, hentikan omong kosong itu. Aku yakin kamu sudah tahu apa yang aku maksud tadi."
Kata-kata itu membuat Lin terdiam. Ia mendongak memandang pria itu, dan berusaha menelan cairan dalam tenggorokannya yang terasa sangat kering.
"Bagaimana kamu tahu?" Akhirnya wanita itu bertanya.
Mata pria di depannya sama sekali tidak ada ekspresi menghakimi. Malah cenderung datar.
"Aku melihat perubahanmu saat itu. Sama sepertiku, kedua matamu menghitam dan taringmu terlihat memanjang. Tanda-tanda yang sudah sangat jelas sekali."
Perkataan Nate sedikit membuat Lin terkejut. Ia sama sekali tidak menyadari adanya perubahan itu.
Dahi Nate mengernyit, saat mengamati wajah wanita di depannya yang terlihat sedikit kaget.
"Kamu sama sekali tidak menyadarinya?"
Wanita itu menggeleng pelan. "Sama sekali tidak."
Nate menyenderkan punggung ke sofa di belakangnya sambil menyilangkan tangan. Salah satu kaki panjangnya ia tumpangkan dengan rapih ke kaki lainnya. Ia tampak berfikir.
"Aneh sekali. Setidaknya saat aku mulai merasa lepas kontrol, aku dapat merasakan ada sesuatu yang aneh dan menyadari adanya perubahan dalam tubuhku."
Pria itu sedikit memajukan badannya dan meletakkan salah satu tangannya di dagunya yang bersih tercukur. Jari-jemarinya tampak mengetuk-ketuk dagunya pelan.
Melirik pada wanita di sampingnya, Nate bertanya kembali, "Apakah kejadian ini pertama kalinya untukmu?"
Lin menoleh, memandang Nate tepat di kedua matanya. "Ya. Ini pertama kalinya."
__ADS_1
Menganggukkan kepalanya, Nate bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju pantry pribadinya. Tampak membuat sesuatu di sana.
Tidak lama, pria itu kembali membawa dua buah cangkir dengan asap putih yang mengepul.
Ia meletakkan salah satu cangkirnya di hadapan wanita itu.
"Racikanku sendiri. Cobalah." Pria itu tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya.
Melihat cangkir teh hijau di depannya, Lin mengerjapkan matanya cepat. Ia tidak menyangka kalau pria itu ternyata menyukai minuman yang sama dengan dirinya.
Rasa teh itu cukup kuat, menandakan ciri khas pria itu. Tapi setelah beberapa saat, rasanya sedikit melembut dan membuat perut Lin terasa rileks dan tenang.
Ekspresi Lin yang tampak takjub, membuat senyum terbit dari bibir Nate. Ia pun baru meminum teh dari cangkirnya sendiri dengan khidmat.
Setelah perutnya merasa nyaman, Lin menoleh kembali pada Nate dan terdiam. Ia melihat pria di depannya sedang menjilati sedikit sisa teh di bibirnya sendiri dengan perlahan.
Jantung Lin tiba-tiba berdetak lebih kuat.
Tanpa diinginkannya, matanya mulai menelusuri jari-jemari Nate ketika pria itu meletakkan cangkirnya di atas meja. Wanita itu tidak sadar jika matanya mulai menghitam.
Sambil menghela nafasnya pelan, pria itu menoleh ke arah Lin dan mulutnya terasa kelu.
Pemandangan di depannya membuat dadanya berdebar. Mata Lin terlihat menghitam dan pandangan wanita itu fokus pada tangan Nate yang sedang berada di pangkuannya.
Secara perlahan, mata Lin pun mulai menelusuri tubuh pria itu dan berhenti pada mulutnya. Nate menelan ludahnya dengan susah payah, yang ternyata pergerakan jakunnya pun tertangkap oleh wanita di depannya.
"Lin?" Pelan-pelan Nate memanggil wanita di depannya.
Mendengar panggilan itu, mata Lin mengerjap cepat.
"Lin? Kamu tidak apa-apa?" Nate bertanya kembali dengan nada lebih lembut.
Pertanyaan yang diucapkan dengan lembut itu, tampaknya sedikit menyadarkan Lin.
Kedua mata Lin mulai berubah warna kembali, meski pupilnya masih tampak membesar dan mengecil dengan cukup cepat. Seperti kebingungan.
Ketika akhirnya pupilnya berhenti pada ukuran yang masih cukup besar, wanita itu mengangkat kepalanya. Memandang pria di depannya.
"Hem... Ya?"
Pandangan Nate terlihat intens, saat bertanya kembali, "Kamu tidak apa-apa?"
Mata Lin bergerak-gerak kebingungan. Tapi akhirnya, akal sehatnya tampak mulai mengambil alih, membuat pupil dan warna matanya kembali normal.
"Ya. Aku tidak apa-apa, Nate." Ekspresi wanita itu seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Lelaki itu sedikit mengeluarkan nafas yang ditahannya tadi dengan perlahan. Ia merasa lega.
"Oke. Melanjutkan pembicaraan yang tadi. Aku masih penasaran, apakah benar kejadian denganku adalah yang pertama kalinya untukmu?"
Lin menghembuskan nafasnya. Tampaknya, ia harus mulai lebih jujur pada lelaki di depannya ini. Pria ini benar-benar orang yang pantang menyerah dalam mencari informasi.
"Ya, Nate. Seperti yang aku bilang tadi, ini adalah yang pertama kalinya untukku. Karena sama sepertimu, aku pun tidak tahan bila terlalu berdekatan dengan seorang pria."
Mata pria itu sedikit membulat. "Maksudmu..."
"Meski tidak separah dirimu, tapi aku juga akan muntah bila terlalu dekat dengan mereka."
Entah mengapa, hati Nate membuncah mendengar kenyataan ini.
Wanita itu berarti merasa cukup nyaman berada di dekatnya, sampai bisa menyerang dirinya. Dan itu terjadi sampai dua kali dalam waktu yang berdekatan.
__ADS_1
Setelah berfikir sejenak, pria itu pun menoleh pada Lin kembali. Ia mengajukan pertanyaan berikutnya dengan hati-hati.
Apakah kamu tahu mengenai asal usulmu, Lin?"