
Selama beberapa waktu, Lin hanya bisa terpaku pada sosok suaminya yang masih terbujur dengan kaku dan seperti patung. Wanita itu bingung harus melakukan apa dan hampir menangis, ketika tiba-tiba terdengar deringan dari ponsel suaminya.
Memeriksa ID si penelepon, Lin pun mengangkat telepon itu.
"Halo."
Mendengar suara si penerima, si penelepon terdengar terdiam di seberang sana.
"Halo, Pak Marcus? Anda masih di sana?"
Akhirnya pria dingin itu tersadar dan sedikit berdehem, untuk menghilangkan kekagetannya.
"Ya, Nyonya. Saya masih di sini. Anda sudah sadar rupanya."
Dahi wanita itu berkerut dalam. Sadar? Apa maksudnya?
"Memangnya ada apa dengan saya, Pak Marcus? Kenapa Anda berkata seperti itu?"
Kembali Marcus terdiam, sebelum akhirnya ia menjawab dengan tenang.
"Saya sedang menuju ke rumah Anda dan Tuan. Sepuluh menit lagi saya akan sampai di sana."
Marcus sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, membuat Lin bingung.
"Oh? Oh, baik kalau begitu."
"Nyonya?"
"Ya?"
Pria dingin itu menutup kedua matanya sebentar. Ia sama sekali tidak mau berfikir buruk, tapi tahu kalau hal itu sedang terjadi saat ini.
"Apakah saya bisa berbicara dengan Tuan Axelle sekarang?"
Pandangan Lin beralih menatap suaminya, yang sama sekali tidak sadar saat ini.
"Maaf, sepertinya tidak bisa Pak Marcus. Nate... Tampaknya Nate sedang tidur..."
Marcus dapat menangkap suara Lin yang terdengar tercekat. Jantung pria dingin itu berdebar dengan mengerikan, membuat telinganya berdenging saat ini.
"Baik, Nyonya. Saya akan segera ke sana."
Setelah pria itu menutup teleponnya, Lin kembali menatap sosok suaminya yang sama sekali tidak berubah. Wanita itu dengan pelan mencium dahi suaminya yang terasa sangat dingin.
Berusaha mengumpulkan kesadarannya, Lin akhirnya bangkit dan menuju kamar mandi. Ia harus mengangganti bajunya dengan pakaian yang lebih sopan. Wanita sadar kalau ia terbangun hanya berbalut handuk dan jubah mandi suaminya yang kebesaran.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, bel pintu berbunyi nyaring. Tergesa, Lin membuka pintu dan langsung menatap sosok Marcus yang terlihat tegang. Pria itu terlihat membawa kotak pendingin di tangan kirinya.
"Selamat siang, Nyonya. Tuan ada di mana sekarang?"
"Di kamar tidur."
Pria dingin itu tampak tergesa menuju kamar tidur mereka, tapi langkahnya tiba-tiba berhenti di depan kamar itu. Kepalanya menoleh pada wanita yang sedang menghampirinya.
"Maaf, Nyonya. Saya..." Tangan pria itu mengarah pada gagang pintu dengan ragu.
"Langsung masuk saja, Pak Marcus. Nate ada di dalam."
Kepala pria itu mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi."
Dengan cepat, pria itu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, yang diikuti oleh Lin di belakangnya.
Tubuh Marcus terlihat seperti papan saat akhirnya ia berdiri di sebelah atasannya yang tampak terbujur kaku di tempat tidur.
Lin dapat melihat tangan pria dingin itu terlihat gemetar, ketika dengan perlahan ia meletakkan kotak pendingin itu di lantai kayu.
Saat berbicara, Lin dapat mendengar suara pria itu yang lebih serak dari biasanya.
"Sejak kapan Tuan seperti ini?"
__ADS_1
Refleks, kepala Lin menggeleng pelan meski tahu Marcus berdiri membelakanginya.
"Saya tidak tahu. Saya juga baru saja terbangun beberapa menit lalu."
Wanita itu tidak dapat melihat ekspresi Marcus, tapi menyadari kalau pria dingin itu sedang meletakkan tangannya di dahi pria yang sedang tertidur itu.
Perlahan, Lin pun memutar tempat tidur dan berdiri berseberangan dengan Marcus yang sedang berada di samping suaminya. Wanita itu sedikit terkejut melihat ekspresi pria dingin itu yang baru pertama kali dilihatnya.
Pandangan pria dingin itu terlihat nanar dan tidak percaya dengan pemandangan yang sedang dilihatnya. Kepalanya tampak menggeleng pelan.
Menelan ludahnya dengan susah payah, Lin akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Pak Marcus. Apakah Anda tahu apa yang sedang terjadi dengan Nate saat ini?"
Menjawab pertanyaannya, kepala Marcus hanya terlihat menggeleng pelan berkali-kali. Ketika akhirnya menengadah dan memandang wanita di depannya, hal yang dilihat Lin membuat wanita itu mundur dengan cukup syok.
Salah satu mata Marcus mengeluarkan air mata, yang dengan pelan menuruni pipinya.
"Saya terlambat. Saya telah terlambat, Nyonya. Saya telah gagal melindungi Tuan."
Mata Lin memandang nanar pria di depannya. Tadinya ia berusaha menata emosinya, tapi hal yang dikatakan oleh Marcus membuat pertahanannya pecah berkeping-keping.
"A- Apa maksudmu, Pak Marcus? Apa maksudmu telah gagal melindungi Nate? Nate akan terbangun, kan?" Wanita itu mulai sedikit histeris saat ini.
Kening pria dingin itu berkerut dalam. Tampak tangan besarnya memegang jari-jemari Nate yang kaku dan meremasnya kuat.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Saat ini yang saya bisa katakan, Tuan sedang dalam kondisi yang sangat kritis. Tuan akan memerlukan waktu untuk pemulihan, yang saya sama sekali tidak tahu berapa lama."
Jawaban dari Marcus, sama sekali bukan jawaban yang diharapkan oleh Lin. Kepala wanita itu menggeleng, menolak keras perkataan yang disampaikan oleh pria dingin itu.
"Tidak! Nate pasti akan terbangun! Dia hanya menjalani proses hibernasi, kan? Nate pernah mengatakan akan tidur hibernasi setelah dia 'makan'. Jadi dia pasti akan bangun, kan?"
Marcus akhirnya melepaskan genggamannya dari tangan Nate, dan tubuhnya kembali tegak seperti biasanya saat memandang wanita itu. Ia juga sebenarnya sangat bingung bagaimana menjelaskan mengenai hal ini, tanpa harus membuat isteri atasannya panik dan histeris.
"Saya akan menjelaskannya pada Nyonya, tapi bolehkah saya ke kamar mandi sebentar?"
Pertanyaan yang tidak diduga itu membuat mata Lin mengerjap cepat.
Sedikit membungkukkan tubuhnya, Marcus terlihat mengambil kotak pendingin yang tergeletak di sampingnya dan menunjukkannya pada Lin.
"Saya harus segera menyimpan benda ini di sana. Kalau tidak, mereka akan rusak."
"Apa itu?"
Marcus menghela nafas dalam. Pria itu sedikit menunduk.
"Ini supply darah yang diminta oleh Tuan. Dan saya terlambat memberikan padanya."
Masih dalam kondisi bingung dan tidak mau bertanya lagi, Lin akhirnya mengangguk.
Wanita itu mengikuti Marcus masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat pria itu menekan salah satu dinding kaca yang akhirnya membuka, memperlihatkan tempat penyimpanan khusus yang berpendingin.
Tampak ada beberapa kantong kosong dan jarum-jarum untuk keperluan infus dan memompa darah tergantung di dalamnya. Masih terlihat sisa jejak darah berwarna hitam di salah satu jarum yang menghubungkannya ke alat pompa.
Sedikit menggeser tubuh Marcus yang menutupinya, Lin meraih jarum yang masih basah itu dan menyadari kalau jejak darah itu adalah darah suaminya sendiri.
Tangannya gemetar ketika meletakkan kembali jarum berukuran besar itu ke dalam lemari.
"Sebenarnya, apa yang telah terjadi Pak Marcus?"
Menggantungkan kantong darah terakhir di dalam lemari khusus itu, Marcus pun akhirnya menutup dinding kaca itu dengan pelan.
"Sebaiknya kita berbicara di luar, Nyonya. Saya tidak mau Tuan marah pada saya, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nyonya nanti."
Wanita itu menutup matanya erat dan mengangguk. Ia pun akhirnya mengikuti pria dingin itu ke sofa tengah, dan membiarkan pintu kamar tidur Nate sedikit terbuka.
Marcus meminta Lin untuk duduk dan memberikan secangkir teh hangat pada wanita itu.
"Terima kasih."
__ADS_1
Meski tidak memiliki selera untuk basa-basi, tapi wanita itu butuh untuk menenangkan diri. Ia pun dengan perlahan meminum teh yang diberikan Marcus. Kehangatan dari cairan itu menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya menjadi lebih tenang dan fokus kembali.
Ia meletakkan cangkirnya yang hampir kosong di meja, dan melihat kalau Marcus pun melakukan hal yang sama. Ekspresi pria itu terlihat keruh, sama seperti dirinya.
Mengepalkan kedua tangannya, pandangan Lin tajam menatap pria di depannya.
"Tolong jelaskan pada saya, Pak Marcus. Apa yang telah terjadi? Dan tolong jangan menyembunyikan apapun dari saya."
Bibir pria dingin itu tampak tersenyum samar. Ia akhirnya dapat membayangkan, kalau hal inilah yang dihadapi oleh atasannya setiap hari ketika bersama dengan isterinya.
"Apakah Anda masih ingat kejadian yang menimpa Anda, Nyonya? Pagi, di saat Anda sedang mengemudi menuju ke kantor?"
Wanita itu mengangguk. "Ya. Saya masih mengingatnya."
"Boleh Anda ceritakan? Secara detail."
Tampak wanita itu menghela nafasnya dalam. Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa dan tangannya terangkat untuk memijat pelipisnya.
"Terus terang, mengingat kembali hal itu membuat saya sangat marah."
Mengerjapkan mata, Marcus bertanya kembali dengan pelan.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa Anda merasa marah?"
Pria dingin itu sedikit was-was kalau yang akan diceritakan oleh wanita itu terkait dengan masalah pribadinya dengan suaminya. Ia baru merasa lega, ketika Lin ternyata menceritakan kejadian yang sangat berbeda.
"Saya baru saja selesai membayar tagihan bahan bakar untuk mobil saya, ketika pria ini tiba-tiba menyapa dan bersikap kurang ajar."
"Bisa Anda gambarkan pria itu seperti apa?"
"Pria perlente. Rambutnya berwarna pirang kecokelatan dan matanya biru gelap. Ia mungkin berusia sekitar 30-an awal. Tubuhnya tidak setinggi Nate, tapi tampaknya ia cukup senang berolahraga di gym. Badannya cukup atletis, menurut ukuran saya. Oh! Dan dia membawa mobil ferrari berwarna merah keluaran terbaru. Saya masih mengingat nomor polisinya."
Mata Marcus mengerjap cepat. Ia memang baru kedua kali ini bercakap-cakap serius dengan isteri atasannya, dan akhirnya semakin paham kenapa atasannya bisa sangat mencintai isterinya. Wanita ini adalah wanita yang tegas dan juga cerdas.
Gambaran dari Lin sangat mendeskripsikan pria bernama Dave Matthews dengan sangat akurat. Tidak ada yang salah dari penjelasannya.
"Apa yang telah dia lakukan pada Anda?"
"Dia menepuk bokong saya, Pak Marcus. Begitu saya menamparnya, pria itu malah menarik rambut saya, membuat saya harus membantingnya ke lantai."
Keterangan dari Lin membuat Marcus mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa sangat marah saat ini, dan cukup bersyukur kalau atasannya tidak bisa mendengarnya. Pria itu yakin kalau Nate akan mencari dan membunuh orang yang telah berani melecehkan isterinya.
"Kemudian, apa yang terjadi?"
Lin kembali mengeluarkan nafasnya dari hidung. Peristiwa pagi itu benar-benar tidak pernah ia bayangkan selama hidupnya.
"Saya kira masalah itu sudah selesai. Dia melecehkan saya, dan saya sudah memberikan hukuman padanya. The end. Tapi ternyata tidak semudah itu."
Wanita itu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ketika saya hampir berbelok ke kantor, pria itu dengan gila menabrakkan mobilnya ke mobil saya. Dan dia melakukannya dua kali, membuat saya dapat melihat plat nomornya dengan jelas. Pria itu benar-benar gila. Saya harap dia dihukum dengan seberat-beratnya."
Suara Marcus yang serak dan berat terdengar sangat dingin ketika menjawab Lin.
"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Saya pastikan, kalau pria itu akan membusuk di penjara."
Informasi ini membuat Lin terkejut dan menatap Marcus.
"Anda sudah tahu siapa orang itu?"
"Polisi sudah menangkap dan menjebloskannya ke penjara. Meski masih dalam proses, tapi saya jamin kalau dia tidak akan dapat keluar dari sana dalam jangka waktu yang cukup lama."
Kepala Lin pun mengangguk-angguk. Wanita itu puas karena ternyata pria itu telah mendapatkan hukuman yang setimpal.
"Apakah Anda ingat kejadian setelah tabrakan itu?"
Wanita itu menggeleng. "Hal terakhir yang saya ingat adalah ketika ia akan menabrakkan mobil untuk yang kedua kalinya, dan setelah itu saya tidak mengingat apapun. Saya baru tersadar sudah ada di rumah ketika bangun beberapa waktu lalu."
Setelah selesai bercerita, kepala Lin menoleh pada Marcus dan menatapnya tajam.
__ADS_1
"Sekarang, giliran Anda Pak Marcus. Anda harus menceritakan dengan detail, apa yang sebenarnya telah terjadi pada suami saya."
Tuntutan dari Lin sudah bisa diduganya. Tapi tetap saja, Marcus masih cukup bingung untuk memulai dari mana. Pada akhirnya, pria dingin itu pun membuka mulutnya dan memulai penjelasannya.