Madness

Madness
Chapter 57


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Nate memperhatikan isterinya dan Johan saling berpelukan erat. Mereka tampak bercakap-cakap sebentar dan sesekali terlihat tersenyum.


Pikiran pria itu sedikit kalut karena ia harus meninggalkan isterinya entah sampai kapan. Meski hanya terpisah beberapa hari, namun hati pria itu sedikit cemas. Entah karena apa.


Ia juga menyesali bahwa tidak memiliki waktu untuk bertanya lebih jauh pada isterinya mengenai hal yang dirasakannya beberapa hari lalu, karena terlalu sibuk mengurus keperluan Johan dan juga permasalahan di kantor yang cukup menyita waktunya.


Setiap pulang ke rumah, ia hanya sempat berpelukan dengan Lin dan mereka akan langsung tidur karena isterinya yang memang membutuhkan istirahat. Tidak mungkin ia memaksa isterinya bergadang hanya untuk membicarakan kecemasannya yang masih belum jelas.


Dan sekarang, ia harus menunggu entah berapa lama sampai memiliki kesempatan untuk dapat berdua dengan isterinya dan membahas keresahannya beberapa hari ini.


"Nathanael." Suara Johan membuyarkan lamunan pria itu mengenai isterinya.


"Mas- Ayah."


Perlahan, ia mendekati ayah-anak itu dan secara refleks, tangannya memeluk pinggang isterinya dengan erat.


Tangan kanan Johan terulur padanya, membuat Nate otomatis menjabatnya.


"Terima kasih telah menerima puteriku. Tolong, jagalah Lin dengan baik."


Kepala Nate mengangguk mantap. "Tentu saja, ayah. Anda tidak perlu khawatir."


Tangan kiri Johan terangkat dan menangkup kedua tangan mereka yang masih berjabat erat. Pria tua itu meremasnya dengan cukup kencang.


"Apapun yang terjadi, kamu harus ingat kalau ini adalah keluargamu, Nathanael. Kamu harus menjaga mereka dengan taruhan nyawamu."


Mereka?


"Saya kurang-"


"Master Johan. Semua sudah siap. Sebaiknya, kita berangkat sekarang sebelum cuacanya mulai berkabut."


Perkataan Felix memutus pertanyaan Nate yang sudah berada di ujung lidahnya, membuat Nate langsung melupakan niatannya.


Johan menengadah memandang anaknya, dan mereka kembali berpelukan.


Ketika melepas pelukannya, pria tua itu memegang kedua tangan anaknya dengan erat.


"Alina Johan. Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Terima kasih telah menjadi puteriku. Dan terima kasih telah memberikan kebahagiaan padaku. Ayah harap, kamu tidak pernah menyesal telah menjadi puteri ayah."


Kedua mata Lin berair dan tanpa bisa ditahan, air itu mengalir di kedua pipinya.


"Aku tidak akan pernah menyesal telah menjadi puterimu, ayah. Aku akan selalu bangga telah menjadi puteri dari seorang Alexander Johan."


Pria tua itu memejamkan kedua matanya yang memanas. Ia berusaha untuk tidak menangis di hadapan anaknya. Ia ingin agar Lin dapat melihatnya pergi dengan tersenyum dan bahagia.


Dengan penuh perasaan, Johan meremas kedua tangan puterinya yang masih berada di genggamannya.


"Ingat Lin, ayah benar-benar sayang padamu. Dan kini, percayalah pada suamimu. Dia pasti akan menjagamu, seperti aku akan menjagamu dulu kalau aku punya kesempatan."


Puterinya mengangguk. Ia sedikit terisak tapi tatapannya terlihat tegar.


"Ya, ayah. Aku tahu."


Kepala Johan mengangguk pelan. Ia tidak ingin pergi, tapi ia harus pergi. Ia tidak ingin anaknya melihat penderitaannya lebih jauh lagi.


"Ayah harus pergi sekarang. Tolong ingatlah ayah sebagai sebuah kenangan yang indah, Lin."


Mendengar permintaan itu, membuat Lin kembali memeluk ayahnya erat.


"Tentu saja, ayah. Aku akan selalu mengingat ayah sebagai kenangan yang indah. Dan ayah tidak perlu khawatir, telah ada Nate yang akan selalu menjagaku."


Setelah membalas pelukan anaknya, kursi Johan pun akhirnya didorong oleh Felix untuk memasuki pesawat pribadi yang telah menunggu mereka.


Tangan Nate terlihat memegang kedua bahu isterinya yang sedikit bergetar, dan akhirnya menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Tolong jaga ayah selama di sana, Nate. Tolong..."


Lin meremas punggung suaminya dengan erat. Ia tahu kalau ia tidak akan pernah bertemu dengan ayahnya lagi nanti.


"Kamu jangan terlalu khawatir, sayang. Aku akan menjaga ayahmu selama di sana."


Dagu pria itu menumpu pada kepala isterinya yang menunduk. Ia mencium ubun-ubun isterinya dan menghirup aromanya untuk terakhir kali.


Pria itu menengadahkan kepala Lin dan perlahan mencium bibir isterinya. Awalnya lembut, tapi ia kemudian mulai ********** dengan sedikit bern*fsu.


Nate melepas ciumannya dan mempertemukan kedua kening mereka. Pria itu sedikit terengah dan menarik nafas dalam.


"Aku akan sangat merindukanmu nanti di sana."


Lin meremas pinggang suaminya dengan kencang. Ia terbayang malam-malam dingin yang akan dilaluinya tanpa suaminya nanti. Ia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran pria itu.

__ADS_1


"Aku juga akan merindukanmu."


Dengan cepat, Nate mencium dahi isterinya dan melepaskan pelukannya. Semakin lama ia menyentuh isterinya, akan semakin sulit baginya untuk pergi dari sisinya.


"Aku pergi sekarang. Jaga dirimu."


Saat melihat suaminya perlahan meninggalkan dirinya dan melangkah ke pesawat, Lin tiba-tiba memanggil pria itu.


"Nate!"


Panggilan Lin membuat langkah Nate terhenti dan ia menoleh pada isterinya yang terlihat masih berada di posisi tempatnya meninggalkannya tadi.


"Aku-"


Mata isterinya terlihat bergerak-gerak kalut. Perlahan tapi pasti, Nate mulai dapat merasakan perasaan yang sedang dirasakan oleh isterinya saat ini.


Pria itu tersenyum pada wanita yang masih membisu di depannya.


"Aku akan segera kembali. Aku mencintaimu, Lin."


Pipi isterinya terlihat merona. "Segeralah kembali. Aku menunggumu."


Suaminya melambaikan tangan pada dirinya dan dalam sekejab, pintu pesawat pun menutup di depannya.


Dengan perlahan, pesawat itu mulai bergerak dan dalam tempo yang singkat, melakukan take-off dengan sangat lancar di udara.


Pandangan Lin masih setia mengarah ke burung besi yang sedang membawa keluarganya ke sebuah negara asing, sampai benda itu tidak terlihat lagi.


Wanita itu terlihat memegang dadanya yang berdegub kencang.


"Aku mencintaimu, Nathanael Axelle. Segeralah kembali ke sisiku."


Lin akhirnya mampu mengucapkan kata-kata itu, meski ia masih belum bisa melakukannya di hadapan suaminya.


Setelah beberapa saat, wanita itu pun berbalik dan mengarahkan langkahnya ke parkiran mobil di bandara pribadi itu.


Sampai di mobil, ia mencengkeram kemudinya erat-erat dan tangannya terlihat sedikit gemetar. Lin memandang cincin di jari manisnya yang berkilat terang.


Benda yang telah melingkari jarinya beberapa bulan ini tampak memberinya kekuatan lebih. Dengan mantap, Lin menghidupkan mesin mobilnya dan ia pun mengarahkannya ke luar bandara menuju tempat yang memang harus ditujunya saat ini.


Nate. Aku akan menunggumu. Cepatlah pulang, sayang.


Sedangkan di dalam pesawat, keempat orang yang sedang duduk itu terdiam seribu bahasa. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri, tapi satu hal yang yang bisa terlihat adalah bahwa mereka berempat tampak berwajah muram.


"Apakah Anda mau minum atau makan, Tuan-tuan?"


"Berikan saya whiskey." Suara serak Marcus terdengar di keheningan itu.


"Kalau begitu, berikan saya anggur terbaik kalian."


Kali ini pria asing yang berambut pirang bersuara.


Pramugari itu hanya bisa tersenyum kecut dengan permintaan para tamunya. Setelah beberapa kali melakukan perjalanan bersama dengan Marcus, ia sudah cukup paham dengan kebiasaan bos besarnya itu yang memang selalu meminum minuman keras tanpa makan dulu.


Cekatan, pramugari itu memberikan pesanan sesuai dengan permintaan tamu-tamunya.


Perlahan, ia mengalihkan tatapannya pada Nathanael dan juga Johan yang masih terdiam.


"Bagaimana dengan Anda, Tuan-tuan?"


Ia tahu bahwa pria bermata kelabu di depannya bernama Nathanael, tapi tidak pernah tahu kenapa pria itu selalu berada di sisi Marcus tiap kali pria dingin itu dinas ke luar negeri. Sedangkan, pria tua di sampingnya belum pernah ia temui sebelumnya.


"Kami berdua tidak minum. Terima kasih."


Baru kali ini, paramugari itu mendengar suara Nate yang dalam dan halus. Selama ini, pria itu selalu tampak membisu dan baru berbicara dengan Marcus ketika mereka sudah ditinggalkan dalam kondisi hanya berdua.


Suara pria itu yang sopan dan berwibawa, membuat pipi pramugari itu sedikit memerah. Meski tahu kalau pria itu sudah beristeri karena sempat melihatnya tadi tapi tetap saja, pesonanya membuat wanita itu tersipu malu.


"Baik Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Dengan perlahan, wanita itu melangkahkan kakinya ke arah kokpit dan menutup pintunya dengan rapat. Ia pun duduk di belakang pilot dan co-pilot yang sedang sibuk memperhatikan layar dan juga pandangan di depannya.


Helaan nafas wanita itu membuat co-pilot sedikit mengalihkan pandangannya.


"Kenapa, Stace?"


"Aku benar-benar tidak paham John, kenapa aku harus diikutkan dalam penerbangan ini. Setiap kali pergi dengan Pak Marcus, aku tidak punya kerjaan apa-apa."


Co-pilot yang dipanggil John hanya tertawa, yang disambut dengan tawa pilot di sampingnya. Mereka berdua telah bekerja lebih dari 5 tahun di bawah Marcus dan hal ini selalu terjadi tiap kali ada seorang paramugari/ pramugara yang baru ditugaskan.


"Jangan terlalu dipikirkan, Stace. Yang penting, kau tinggal menjalankan tugasmu saja."


"Oh ya, apa kalian tahu siapa pria yang selalu berada di samping Pak Marcus? Pria yang bernama Nathanael itu?"

__ADS_1


Perubahan topik yang tiba-tiba ini, membuat kedua pria di depannya tampak terdiam.


"Sebenarnya, aku juga tidak tahu Stace. Aku telah bekerja dengan Pak Marcus selama lebih dari 5 tahun, dan aku juga tidak tahu apa-apa tentang pria itu selain namanya."


Stacey menyilangkan tangan di depan dadanya, dahinya berkerut dalam.


"Aneh sekali. Bagaimana dengan dirimu, Kapten Kevin? Apakah Anda tahu sesuatu tentang pria itu?"


Pria lebih tua yang dipanggil Kevin terlihat diam saja. Ketika akhirnya bersuara, jawaban pria itu sedikit mengejutkan kedua orang yang lebih muda di sampingnya.


"Akan lebih baik kalau kalian tidak bertanya apa-apa tentang pria itu. Dan kalau kalian masih ingin tetap bekerja di sini, jangan pula pernah mencoba mencari tahu tentang dirinya."


"Kenapa, Kapten? Kalau saya boleh sedikit bertanya?"


John akhirnya memberanikan dirinya untuk mengutarakan pikirannya, yang sebenarnya telah mengusiknya 5 tahun terakhir ini.


Kapten Kevin menarik nafasnya dalam. Ia telah bekerja selama 8 tahun di NAMAC Inc. dan telah menjalani profesinya lebih dari 15 tahun. Dan selama ia bekerja, baru kali inilah ada perusahaan yang benar-benar menghargai kerja kerasnya.


Di sisi lain, seiring berjalannya waktu, ia juga sadar bahwa ia akan membawa banyak tamu-tamu penting dan mungkin rahasia, yang tidak dapat diceritakannya pada orang lain. Dan tugasnyalah untuk dapat memberikan briefing ini pada krunya setiap kali mereka terbang.


"Saya tadinya mengira, kalau kalian sudah memahami resiko dari pekerjaan ini terutama kamu John, yang telah menjalaninya lebih dari 5 tahun."


"Anda jangan salah sangka, Kapten. Saya menjalani pekerjaan ini dengan serius. Tapi bukan berarti kalau saya dapat tutup mata dengan semua hal yang terjadi dalam pesawat ini. Dan sejujurnya, saya juga cukup penasaran dengan kata-kata Anda tadi, Kapten."


"Sudah saya bilang tadi, sebaiknya kalian-"


Perkataan Kapten Kevin terputus ketika tiba-tiba saja terdengar ketukan keras di pintu kokpit yang membuat ketiganya kaget. Ketukan itu terdengar sangat marah.


Stacey segera membuka pintu kokpit dan terlihatlah sosok Marcus yang kaku, sedang berdiri menjulang dalam diam di depan mereka.


Wajah pria itu sangat dingin dan matanya dengan perlahan mengarah pada Kapten Kevin yang terduduk membeku di tempatnya.


"Apakah ada masalah, Kevin?"


Suara Marcus yang serak dan berat, entah mengapa menimbulkan suasana yang mencekam dalam ruangan yang sangat sempit itu.


"Ti- tidak ada masalah, Pak Marcus."


Mata cokelat pria itu pun beralih ke arah John yang terlihat mulai berkeringat dingin, dan juga Stacey yang tampak sedikit gemetar. Pria dingin itu kembali mengarahkan pandangannya ke Kapten Kevin.


"Bagus. Karena setahu saya, kita akan melewati Bergen. Kalau memang ada masalah, maka lebih baik tinggalkan saja di sana. Kau mengerti?"


"Ba- baik Pak. Saya paham dan sangat mengerti."


Setelah memberikan tatapan tajam dan juga aura yang mengintimidasi, Marcus pun membanting pintu kokpit itu di hadapan ketiganya.


"A- apa itu tadi?" Stacey gemetar dalam berdirinya. Baru kali ini ia melihat Marcus marah.


"Sudah saya bilang, lebih baik kalian fokus saja dengan tugas kalian kalau tidak mau kehilangan pekerjaan ini. Tiap orang yang bertanya seperti tadi, tidak akan pernah lagi diikutsertakan dalam penerbangan eksklusif ini. Apa kalian mau berakhir seperti itu?"


Kedua anggota timnya yang lebih muda sangat sadar, kalau penghasilan yang mereka dapat dari pekerjaan ini lebih besar tiga kali lipat dari pekerjaan mereka pada umumnya. Tentu saja mereka tidak akan mau kehilangan pendapatan ini.


Apalagi pekerjaan ini halal dan tidak melanggar hukum. Mereka hanya dituntut untuk menjaga kerahasiaan dan mulut mereka saja.


Dengan lesu, Stacey kembali ke posisi duduknya semula.


"Maaf. Saya tidak akan pernah mempertanyakan mengenai hal ini lagi."


"Saya juga. Maafkan saya, Kapten."


"Kalian salah. Keputusan itu bukanlah di tangan saya. Kalau kalian tahu, keputusan untuk mengikutsertakan atau tidak seorang kru adalah berasal dari pria yang bernama Nathanael itu. Jadi, jangan pernah macam-macam dengannya, apalagi bertanya apapun tentang dirinya."


Informasi itu membuat kedua orang itu terdiam seribu bahasa. Mereka pun dengan cemas menanti nasib mereka yang saat ini berada di ujung tanduk.


Sementara itu di dalam kabin, Marcus telah duduk di depan atasannya.


"Anda sudah bisa tenang, Tuan."


"Terima kasih, Marc."


Felix menghembuskan nafasnya keras dan menggeleng.


"Aku benar-benar heran dengan kemampuanmu ini yang sepertinya kurang berguna, Nate."


"Jangan menghinanya, Felix. Kemampuan Nathanael sangat berguna saat ia berada di medan perang. Tidak seperti dirimu, ia mampu untuk menghabisi lawannya hanya dengan sekali tebasan tanpa harus melihatnya secara jelas."


Perkataan Johan yang jelas-jelas membela Nate membuat Felix terdiam, dan menerbitkan senyuman puas di bibir Marcus.


Setelah itu, keempat pria itu dengan tenang menikmati sisa perjalanan mereka.


Sambil memperhatikan pemandangan gelap di jendelanya, Nate sedikit menyayangkan kalau ia tidak bisa menggunakan kemampuannya selama berada di bangunan milik Felix.


Pria itu memang sengaja membuat bangunannya sangat kokoh dan dapat menghilangkan kemungkinan digunakannya kemampuan para kaum V yang cukup bervariasi.

__ADS_1


Hal ini membuat Nate kesulitan untuk mendengarkan pembicaraan antara isterinya dengan Johan beberapa hari yang lalu, membuatnya sangat penasaran dan galau saat ini.


Sekembalinya ia dari perjalanan ini, pria itu bertekad akan segera menuntaskan keingintahuannya nanti ketika bertemu dengan isterinya lagi.


__ADS_2