
Ini hanyalah sebuah karya fiksi. Nama, tokoh, cerita/peristiwa merupakan unsur fiktif belaka, yang diciptakan oleh "saya" selaku penulis cerita.
Warning! Cerita ini dibuat hanya sebagai sarana hiburan, tidak untuk dipraktikkan atau pun dicontoh beberapa unsur di dalamnya.
Noted: Berdasarkan banyak alasan saya mengubah seluruh isi cerita dari yang pernah diterbitkan sebelumnya. Terima kasih.
...
...Once Upon A Time...
..
..
Suatu hari terbesit dalam kepala. Ungkapan tanya yang diutaran di depan fabrik tak bernyawa.
"Apa kematian itu menyakitkan?" Kemudian kulihat seulas senyum terbit di wajahnya. Dia menggelengkan kepala dan menggumamkan beberapa kata yang tidak mampu kudengar. Sebelum akhirnya dia menjawab, "Kenapa tidak kau coba saja."
Lantas senyumnya menular padaku. "Kau benar," kataku. "Jadi, mari kita mencobanya...."
Mengambil c*tter milikku dari laci lemari dan kembali ke tempatku semula. Kami berhadapan dengan c*tter masing-masing berada dalam genggaman. Dia tersenyum ke arahku, begitupula aku, lalu saat ia g*reskan cutter-nya di antara urat lehernya. Aku pun mengikutinya. Dan rasanya ... sangat menyenangkan.
Darah merembes di antara luka sayatan yang semakin dalam, mengalir turun seperti tetesan air hujan. Hanya saja, dengan warna yang lebih indah. Merah dan terasa hangat lelehannya.
"Na, ya, bagaimana menurutmu?" Ia bertanya dengan suara serak yang seperti tercekik. Di antara rasa sakit yang mendera, aku mengangkat wajah untuk balas menatap padanya tanpa menjawab tanya yang ia utarakan.
Kulihat raut kesakitan tampak di wajah yang pucat itu.
Menekan ujung pisau semakin dalam, hingga tajamnya terasa baru saja memotong sesuatu. Matanya tiba-tiba saja terbelalak dan mulutnya terbuka lebar sebelum akhirnya dia menyunggingkan senyum padaku.
Aku membalasnya.
Kemudian kami sama-sama terjatuh. Air hujan menyembur deras, ciptakan genangan.
__ADS_1
Pelan pandanganku memburam.
"Jadi ... seperti ini."
Bayanganku di cermin menatapku dengan sayu.
*Setidaknya, tidak akan ada lagi hal menyakitkan setelah ini. Ya, mungkin.
Jika Tuhan mau berbaik hati memaafkan kesalahan fatal ini*.
End.
Edited. 30821
🌸
..
...
🌸
Wajah ini yang membuatku dijauhi.
Mereka bilang aku cacat, jelek, buruk rupa. Yang kemudian kusadari bahwa mereka benar.
Aku Cacat!
Aku jelek!
Aku buruk rupa!
Mama bahkan menjauhiku karena tahu aku berbeda. Ayah, kakak, dan semua saudaraku... mereka semua selalu memalingkan muka dariku. Mereka jijik! Benci! Tidak mau melihatku.
__ADS_1
Aku cacat!
Aku jelek!
Aku buruk rupa!
Kutatap lekat pantupan wajahku di kaca. Dua mata, hidung ramping yang tinggi, bibir tipis berwarna merah, dan wajah kecil yang lembut.
Mengerikkan!
Monster apa sebenarnya aku ini?
Betapa menakutkannya. Pantas saja mereka menjauh. Memang aku pantas dibenci. Dijauhi. Diburu!
Cyclopsy saudariku beserta anggota keluargaku yang lain memiliki satu mata di tengah-tengah dahi, hidung bulat besar dengan mulut lebar. Besar dan tinggi mereka bahkan tiga kali lipat dariku, tapi mereka tidak pernah menyakitiku. Mereka selalu berusaha menjagaku. Sebaik mungkin dengan tidak membiarkanku ke luar rumah sama sekali.
Ya, meskipun baru-baru ini, saat aku menyelinap keluar tampa sepengetahuan siapa pun, ada fakta yang kuketahui.
Aku... bukan bagian dari mereka.
Menyakitkan memang.
Dan, kembali ke rumah saat itu terasa menakutkan. Seolah kuserahkan diri dengan sukarela untuk dijadikan hidangan.
Namun...
Aku masih anggota keluarga, mereka tidak akan memakanku.
Ya, kuharap mereka tidak sedang memeliharaku untuk kemudian melahapku.
...August, 30 21...
Ica Kaula
__ADS_1