Madness

Madness
Chapter 76


__ADS_3

"Pa-pa?"


Suara kecil itu kembali terdengar di sampingnya, membuat pria itu perlahan mulai menolehkan kepalanya untuk melihat asal suara itu.


Ia bersitatap dengan sepasang mata kelabu muda besar yang tampak sedang memandang dirinya dengan ingin tahu. Mata itu sangat identik dengan miliknya sendiri.


"Nic-"


Nate baru saja akan mengucapkan nama anak lelakinya yang telah tiada, ketika ia menyadari kalau anak di depannya sama sekali bukan anaknya yang telah tewas dulu.


Anak di depannya tampak baru berusia sekitar 1 tahun. Rambutnya ikal berwarna cokelat kemerahan. Wajahnya bulat dan tembem, dengan pipi yang juga merona sehat. HIdungnya bangir dan mulutnya kecil sedikit tebal di bagian atasnya.


Posisi anak itu yang tadinya sedang duduk bersila memandangnya, tampak mulai merangkak mendekati pria yang masih berbaring itu.


Tangan kecil anak itu menyentuh pipinya lembut dan anak itu tiba-tiba tertawa lebar, memperlihatkan deretan gigi susunya yang kecil-kecil dan imut.


"Pa-pa. Ang-un!"


Tanpa diduganya, anak itu memeluk lehernya dengan sangat erat masih sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas tadi. Kepalanya yang mungil, ia benamkan ke leher pria itu.


"Pa-pa. Ang-un!"


Kedua tangan Nate otomatis memeluk anak yang ada di atasnya, dan hidungnya mencium aroma familiar dari tubuh anak itu. Aroma anak ini asing, sekaligus sangat dikenalnya.


Dengan perlahan, pria itu mulai bangkit dari posisi berbaringnya dan masih sambil memeluk anak itu. Membenarkan posisi anak di pelukannya, Nate memandang wajah anak itu yang masih berseri-seri menatapnya.


"Pa-pa."


Refleks bibir Nate membentuk senyuman. Tangannya dengan lembut mengelus pipi anak itu yang mulus dan tembem. Pipi yang mengingatkannya pada seseorang.


"Siapa namamu, sayang?"


"Namanya Nathalina." Terdengar suara wanita yang menjawabnya dengan tercekat.


Jawaban yang tidak terduga itu membuat Nate mengangkat kepalanya dan ia berhadapan dengan sosok Lin yang terlihat berdiri di depan pintu kamar tidurnya.


Wajah wanita itu terlihat sedikit syok melihat pemandangan di depannya, namun dengan cepat berganti dengan raut kebahagiaan yang tidak terkira. Tubuhnya sedikit bergetar ketika ia akhirnya dapat melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat tidur.


Merasa kakinya lemas seperti agar-agar, Lin akhirnya berhasil duduk di sisi suaminya. Ia menatap teduh pada pria yang masih betah memandangnya lekat tanpa berkata-kata.


Salah satu tangannya diletakkan di paha suaminya dan ia pun meremasnya pelan. Wanita itu akhirnya dapat merasakan kehangatan dan kelembutan dari tubuh suaminya kembali.


"Namanya Nathalina Axelle. Dia puteri kita, Nate."


Kedua mata Nate memandang isterinya dengan takjub. Bibirnya terlihat mulai bergetar.


"Puteri?"


Pria itu hanya bisa membeo, otaknya masih mencoba memproses keadaan yang cukup membingungkan ini.


Terkekeh pelan, Lin semakin beringsut mendekat setelah ia dapat meredakan dentuman jantung dan emosinya yang memuncak.


Tangannya melingkari pinggang suaminya dan ia pun mendekatkan wajahnya pada pria itu.


Perlahan, Lin mencium bibir suaminya, hidung, kedua mata dan terakhir keningnya dalam. Kedua matanya terlihat basah, tapi air matanya tidak lagi menetes. Ia sangat bahagia saat ini.

__ADS_1


Hal yang dilakukan oleh isterinya, membuat salah satu tangan pria itu yang bebas otomatis meraih pinggang isterinya dan meremasnya pelan.


Mereka saling berpandangan dan isterinya tampak tersenyum cantik pada dirinya.


"Puteri kita berdua. Selamat datang kembali, Nate. Kami merindukanmu selama ini."


Ucapan itu akhirnya membuat tangan Nate meraih wajah isterinya dan ia pun mencium isterinya dengan dalam. Ciumannya penuh dengan kerinduan yang amat sangat pada seseorang yang sangat dicintainya.


"Pa-pa."


Pasangan itu menghentikan kegiatan mereka ketika mendengar interupsi itu. Keduanya menoleh pada anak kecil yang masih menatap ayahnya dengan ekspresi ingin tahu. Mata besarnya beralih memandang ibunya, dan ia kembali memperlihatkan senyum lebarnya.


"Ma-ma. Pa-pa ang-un."


Tertawa, Lin mengusap kepala anaknya yang berambut ikal seperti dirinya.


"Benar, Nat. Papa memang sudah bangun. Beri papa ciuman selamat datang, Nat."


Sambil mengeluarkan kekehan anak kecil, Nat memeluk erat leher ayahnya dan mendaratkan ciuman basah pada pipi pria itu. Ia mengeluarkan suara ciuman yang keras dan membuat kedua orang tuanya tertawa.


Semakin erat memeluk anak di pangkuannya, Nate pun mencium leher anaknya dan menghirup wanginya. Aroma anaknya campuran antara dirinya dan juga isterinya.


Gesekan bakal jenggot Nate di pipi anaknya, membuat puterinya terkekeh geli dan menjerit nyaring. Anak itu memegang wajah ayahnya dan menarik-narik rambut di pipi pria itu.


Lin pun duduk semakin merapat pada suaminya. Tangannya melingkari bahu suaminya erat dan suaminya pun memeluk pinggangnya yang ramping. Keduanya saling tersenyum.


Isterinya kembali mendaratkan ciuman sayang di kening suaminya, membuat Nate menutup kedua matanya. Pria itu menghela nafas lega saat memandang isterinya.


Mengusap rambut suaminya dengan sayang, ketiganya kembali berpelukan membentuk potret keluarga kecil yang bahagia.


Keduanya baru saja mengantarkan kepergian Dominic yang mengunjungi Nate, dan terkejut ketika mengetahui sahabatnya telah terbangun. Mereka pun bercakap-cakap sebentar sebelum akhirnya pria itu berpamitan pulang, memberikan waktu bagi pasangan itu.


Terlihat Nat yang mengantuk dan mulai tertidur di atas karpet. Tangan kecilnya masih memegang boneka beruang yang berpita merah terang di kepalanya.


Melihat puterinya yang telah tertidur, pasangan itu saling menatap dan tertawa geli.


Lin meraih tangan Nate yang mengenakan cincin dan mengusap-usapnya di atas pangkuannya. Ia kemudian meremas tangan itu kuat, dan menengadah menatap suaminya.


"Aku benar-benar merindukanmu, Nate. Syukurlah kamu akhirnya terbangun juga."


Pria itu mengelus rambut Lin, dan menyelipkan helaiannya yang terlepas ke balik telinganya. Jari-jarinya mengelus pipi wanita itu.


"Aku juga merindukanmu, Lin. Aku sangat rindu padamu."


Merasakan dorongan hasrat yang mulai naik, keduanya memandang dengan mata yang perlahan menghitam. Pandangan pria itu turun ke mulut isterinya yang terbuka sedikit.


Nate tampak menelan ludahnya dengan susah payah melihat pemandangan di depannya. Entah mengapa sejak melihat Lin kembali, pria itu merasa tubuh isterinya semakin seksi. Wanita itu terlihat berisi di tempat-tempat yang membuat otaknya mulai berfikiran mesum.


"Lin..."


Suara dalam pria itu berubah serak dan terdengar penuh hasrat. Kepalanya mulai mendekat pada wajah isterinya yang masih berada di genggaman tangannya.


Mulut pria itu perlahan membuka, mengarah pada mulut isterinya yang tepat ada di depannya. Ia pun mulai mengeluarkan ujung lidahnya dan bersiap ******* benda lembut yang hampir disentuhnya, ketika tiba-tiba terdengar deringan dari bel pintu.


Tubuh keduanya membeku, dengan ujung bibir yang hampir saling menyentuh.

__ADS_1


Lin dapat merasakan deruan nafas suaminya yang keluar dari hidung dan juga mulutnya. Angin yang keluar terasa sangat panas, membuat wanita itu pun mengusap-usap kepala suaminya dan mencium keningnya. Mencoba menenangkannya.


"Mungkin itu Pak Marcus. Aku akan melihatnya dulu."


Kepala Nate mengangguk kaku, dan pria itu membiarkan isterinya berdiri untuk membuka pintu. Jantungnya berdebar kencang karena sedang dikuasai oleh n*fsu dan juga rasa marah. Ia pun mengepalkan kedua tangannya, mencoba untuk menenangkan dirinya.


Sudah cukup lama ia tidak menyentuh isterinya, membuat pria itu sedikit sulit untuk meredakan hasratnya saat ini.


Ketika akhirnya berhasil mengontrol dirinya, dengan perlahan ia pun mulai bangun dari duduknya dan langsung berhadapan dengan asistennya yang tampak syok.


"Tu- Tuan..."


Bibir Nate membentuk senyuman ketika akhirnya ia bersitatap dengan asistennya.


"Marcus."


Pria dingin itu melangkah dengan cepat dari balik pintu dan langsung memeluk tubuh atasannya dengan erat.


"Tuan. Akhirnya Anda terbangun juga."


Menutup kedua matanya, Nate pun membalas pelukan Marcus.


"Terima kasih, Marcus. Karena telah menjaga keluargaku selama ini."


Marcus akhirnya melepaskan pelukannya dan sedikit mundur. Kepalanya menggeleng pelan.


"Tidak Tuan. Jangan berterima kasih. Sudah kewajiban saya untuk melayani Nyonya, seperti saya melayani Tuan selama ini."


Tangan Nate menepuk bahu Marcus dan sedikit meremasnya.


"Tetap saja. Aku harus berterima kasih padamu, Marcus."


Pria itu pun meraih pinggang isterinya yang terlihat mendekatinya. Ia mencium keningnya dengan rasa sayang yang sangat besar.


"Kamu telah menjaga mereka yang sangat berharga bagiku. Tentu aku berhutang padamu."


Mendengar perkataan itu, asistennya terdiam dan terlihat sedikit menelengkan kepalanya.


"Anda yakin, Tuan?"


Pertanyaan itu membuat Nate mengalihkan pandangannya kembali pada Marcus.


"Anda yakin ingin berhutang pada saya? Karena tidak seperti Felix, suatu saat saya pasti akan menangih hutang Anda itu, Tuan."


Sebelum Nate dapat memberikan respon pada kata-kata Marcus yang terdengar bersayap itu, tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang mereka.


"Mak-us!"


Serentak ketiganya menoleh ke belakang. Tampak Nat baru bangun dari tidurnya dan anak itu pun membuka kedua tangannya lebar, sambil menggenggam erat boneka beruangnya.


Wajahnya cerah ceria dan mulutnya tersenyum dengan sangat lebar.


Nate baru akan menghampiri anaknya ketika terdengar kembali kata-kata yang mengejutkan, membuat kedua matanya membola.


"Mak-us! Nat ma-u Mak-us!"

__ADS_1


__ADS_2