Madness

Madness
Chapter 42


__ADS_3

Mendengar cerita dari Laurent, membuat Nate menatap nanar kedua tangan yang berada di pangkuannya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar versi yang berbeda dari cerita yang telah dipercayainya selama ratusan tahun ini.


Benaknya sedikit sulit untuk menerima hal ini. Ia pun mengangkat mukanya menatap Laurent.


"Anda tidak..."


Hampir saja ia mengatakan sesuatu yang tidak sopan pada pria di depannya ini. Untungnya ia masih bisa menahan lidahnya.


Laurent tersenyum maklum. Tanpa harus dikatakan, ia sangat tahu apa yang menjadi pertanyaan dari pria muda di depannya ini.


"Kalau kamu mau tahu, saya tidak berbohong. Saya tidak pernah berbohong, terutama untuk hal-hal yang memang penting seperti ini."


Tidak percaya, Nate memandang Felix di sebelahnya. Tampak Felix menganggukkan kepalanya dalam diam, membenarkan perkataan Master-nya.


Menatap kembali pada Laurent, Nate mencoba untuk bertanya.


"Tapi kenapa- Apa yang-"


Lidah Nate terasa kelu. Pria itu menunduk memandang lantai. Ia merasa bingung, dan sama sekali tidak tahu harus bertanya mulai dari bagian yang mana.


"Masih ada kelanjutannya. Apakah kamu masih mau mendengarkannya?"


Pertanyaan itu membuat Nate kembali memandang pria buta itu.


"Ya." Suaranya sedikit serak ketika berkata.


"Selang beberapa ratus tahun setelah itu, Dominic berusaha untuk tidak muncul sama sekali ke hadapan keluarganya. Ia takut Otto masih mengancam keluarganya, sehingga pria itu menganggap dirinya sudah mati dan memang seharusnya mati."


Kenyataan ini menghantam Nate. Dominic ternyata memiliki kesedihan yang sama. Pria itu ternyata seumur hidupnya memiliki tujuan untuk mati seperti dirinya dulu.


Baru kemudian, pria itu tersadar akan sesuatu.


"Otto seorang kaum V? Dan Dominic tahu?"


Mata Nate membola. Ia sama sekali tidak tahu mengenai hal ini dan Johan pun tidak pernah memberitahukannya.


"Ya. Dan saya orang yang bertanggungjawab menciptakan monster itu. Entah apa yang saya pikirkan ketika bersedia untuk mengubah pria serakah itu. Saya menceritakan hal ini pada Dominic setelah saya mengubah anak itu."


Laurent terlihat mengambil nafas dalam. Peristiwa ini benar-benar membekas dalam hatinya.


"Saya sebenarnya sudah lama mengincar Otto, tapi pria itu sangat lihai. Ia tidak pernah mempergunakan tangannya sendiri untuk melakukan kejahatan pada manusia, membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa."


Kedua tangannya terlihat terkepal dan bibirnya menipis.


"Sejak kejadian dengan Dominic, saya memutuskan tidak akan pernah lagi menciptakan seorang kaum V. Anak itu adalah kaumku yang terakhir."


Laurent menunjuk kedua matanya yang buta, menandakan bahwa ia sudah melakukan sesuatu pada indera penglihatannya sebagai hukuman bagi dirinya.


Setelah menarik nafasnya pelan, pria tampan itu melanjutkan ceritanya kembali.


"Baru beberapa puluh tahun yang lalu, suatu kejadian membuat Dominic mulai berani untuk mencoba mencari keluarganya lagi."


Nate mengerjapkan matanya. Ia teringat informasi yang disampaikan oleh Marcus kemarin.


"Apakah kejadiannya 30 tahun yang lalu?"


Laurent mengangguk. "Ya. Tepatnya, 32 tahun yang lalu."


"Apa yang terjadi?"


"Karena keserakahannya, Otto menghamili seorang manusia dan menyebabkan kematian wanita itu. Saya yakin kamu pernah mendengar cerita tentang seorang V yang kelaparan, dan baru mati setelah menjalani 10 tahun masa hidup yang menderita."


Terdengar tarikan nafas Nate yang cepat. Pria itu menoleh pada Felix yang tampak masih belum memandangnya.


"Ya. Saya pernah mendengar tentang ini, tapi tidak pernah tahu kalau itu adalah Otto."


Pria tampan di depannya mengangguk sekali.


"Pria itu adalah Otto Wolfee. Satu-satunya kaum V yang pernah berani mencoba menghamili seorang wanita manusia dan dihukum untuk menjalani periode kelaparan, sampai ia mati."


"Apakah selama ini benar-benar belum pernah ada yang mencobanya?"


Laurent menggeleng. Pandangannya menerawang.


"Desas-desus dari jaman dulu membuat banyak yang berfikir ulang untuk melakukannya. Apalagi bau manusia bukanlah selera dari kaum V sendiri. Untuk apa mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang jelas-jelas hanya mendatangkan resiko?"


Perlahan, pria itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendala besar yang ada di kamar itu. Tubuhnya tampak menghadap jendela dan kedua tangannya berada di sakunya.


Bertanya-tanya, Nate menatap pada Felix yang saat itu ternyata tersenyum memandangnya.


"Master Laurent memang buta, tapi beliau tetap masih dapat berjalan dan melakukan segalanya dengan menggunakan inderanya yang lain. Beliau hanya tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang sedang dihadapinya."


Informasi ini membuat Nate mengganggukkan kepalanya. Ia cukup kagum pada pria yang baru pertama kali ditemuinya ini.


"Nathanael Axelle." Terdengar suara Laurent yang dalam.


Pria itu membalik badannya dan menghadap Nate kembali.


"Saya sudah menuntaskan tugas untuk menjernihkan masalah di antara kalian. Sekarang, tinggal kalian berdua sendiri yang harus menyelesaikannya."


Nate pun bangkit dari duduknya, sadar bahwa pembicaraan ini sudah mendekati akhirnya.


"Saya berharap kamu dapat menjadikan informasi ini sebagai pertimbanganmu nantinya. Anak itu, Dominic. Sifat alaminya sama sekali tidak jahat."

__ADS_1


Pria muda itu mengangguk. Tentu saja hal ini akan menjadi pertimbangan Nate nantinya.


"Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Anda, Master Laurent. Kalau saya tidak bertemu Anda, mungkin seumur hidup saya tidak akan pernah mengetahui mengenai kebenaran ini."


Laurent menggeleng pelan. Sorot matanya meski kosong tapi raut mukanya terlihat sedih.


"Tidak. Justru saya yang harus meminta maaf padamu, Nathanael. Karena kecerobohan saya, kemalangan ini terjadi pada dirimu dan juga Dominic. Maafkan saya."


Pria itu mengulurkan tangan pada Nate yang kemudian disambut pria muda itu. Ia menggenggam tangan hangat itu, masing-masing saling meremas. Menguatkan.


Tersenyum, Nate pun beralih memandang Felix yang juga telah berdiri dari duduknya.


"Felix, aku mengucapkan terima kasih juga padamu. Aku tidak akan pernah melupakan ini."


Ia mengulurkan tangannya pada pria berambut pirang itu.


Tersenyum, Felix membalas uluran tangannya.


"Sama-sama Nathanael. Kau harus ingat, bahwa aku mungkin akan menagih pembayarannya suatu saat nanti."


Terkekeh, Nate pun mengangguk dan akhirnya berpamitan.


Saat ia keluar dari kamar itu bersama Felix, Nate melihat kalau Marcus juga ternyata baru saja menutup pintu kamar Johan.


"Tuan Axelle." Pria dingin itu segera menghampiri dirinya.


"Marcus. Apakah pembicaraanmu dengan Master Johan sudah selesai?"


Marcus mengangguk pelan. Wajah dinginnya terlihat lega.


"Ya. Beliau saat ini sedang istirahat di kamarnya."


Marcus memberitahu pada Felix yang mengangguk, dan kemudian langsung masuk ke dalam kamar Johan.


Tinggal berdua, Marcus memandang wajah atasannya yang terlihat jauh lebih cerah dari pada tadi. Hal ini membuat rasa penasaran pria itu muncul.


"Anda sebenarnya dari mana, Tuan?"


Tersenyum samar, Nate menggeleng pelan.


"Ada sesuatu yang harus kulakukan tadi. Maaf Marc, aku belum bisa mengatakannya sekarang, karena aku harus mengkonfirmasinya lebih dulu."


Marcus mengangguk singkat. "Kita pulang sekarang, Tuan?"


Benak Nate berfikir. Rencana awalnya adalah pergi ke apartemen wanita yang sangat dirindukannya. Dan seharusnya dengan perhitungan waktunya, Dominic pun sudah mulai pulih dari masa hibernasinya.


Informasi yang diterimanya dari Laurent tadi, entah mengapa membuat hatinya menjadi lebih ringan dan jauh mengurangi rasa ketakutannya untuk mulai berkomitmen lagi.


Ia juga merasa lega, kalau ternyata sahabatnya tetap merupakan pria yang baik dan tidak akan pernah mengkhianatinya dengan sengaja.


Semua hal ini, tampak mengurangi rasa bersalahnya pada keluarganya yang tadinya masih bercokol di hati terdalamnya. Membuatnya tidak berani untuk melangkah maju.


Menoleh pada asistennya, Nate berkata mantap.


"Kita ke apartemen Lin sekarang, Marc."


Mengangguk singkat, Marcus tersenyum sangat samar. "Baik, Tuan."


Di mobil, kedua pria itu tampak tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Tidak ada yang saling bersuara dan tanpa terasa mobil yang dikendarai oleh Marcus sudah memasuki area parkiran apartemen Lin.


Atasannya tampak masih duduk di dalam mobil. Ia terlihat berfikir sejenak dan mengarahkan pandangan pada bangunan yang ada di depannya.


"Tuan?"


Menatap asistennya dari kaca spion, Nate kemudian berkata pelan.


"Hari ini, kamu langsung pulang saja Marc. Tidak usah menunggu aku."


Mata Marcus sedikit membesar, tapi ia memutuskan tidak akan menanyakan apapun pada atasannya ini. Bibirnya sedikit terangkat.


"Baik Tuan. Saya mengerti. Saya akan menghubungi Anda kembali besok."


Nate menarik nafas dalam, ia terlihat sedikit gugup. Pelan, ia menepuk bahu asistennya.


"Terima kasih, Marc."


Setelah itu, Nate pun keluar dari mobil dan dengan mantap memasuki bangunan di depannya.


Ia memutuskan tidak akan pernah menoleh lagi ke masa lalunya.


Pria itu sudah merasa mantap dengan keputusannya. Ia akan mengklaim wanita itu sekarang.


Sesampainya di lantai yang dituju, Nate baru melangkah ke arah kamar Lin ketika melihat pemandangan di depannya yang membuat matanya sakit.


Lin terlihat berjalan bersisian dengan seorang pria berambut merah. Keduanya tampak mengobrol dengan akrab.


Hal ini membuat Nate merasa sangat cemburu, terutama karena sudah beberapa hari ini ia tidak bisa menghubungi wanita itu.


Benaknya mulai terselimuti oleh kabut kemarahan dan kedua tangannya mengepal erat.


Nate baru mulai berjalan menghampiri keduanya ketika tanpa diduga, kaki Lin tersandung ubin lantai yang terlihat terbuka. Tubuh Lin yang hampir jatuh membuat pria di sebelahnya otomatis mengulurkan tangan untuk memeluk pinggangnya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?"


Wanita itu tersenyum dan mengangguk singkat. "Terima kasih, Dom-"


Sebelum kalimat Lin selesai, tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sangat dingin datang dari arah belakang.


"Lepaskan tanganmu darinya, Dominic."


Kedua orang yang ada di depannya otomatis menoleh ke belakang, dan terkejut ketika melihat sosok Nate yang kaku dan terlihat marah.


"Nate!" Cicit Lin. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu hari ini.


Respon yang berbeda diberikan oleh pria di sebelahnya. Tersenyum miring, Dominic malah makin mengeratkan pegangannya di pinggang Lin.


"Apa yang akan kamu lakukan Nathanael, kalau aku tidak mau?"


"Eh?" Mata Lin membola mendengar tantangan yang menurutnya tidak pada tempatnya itu.


Mendengar perkataan pria berambut merah itu, Nate tampak menggertakan giginya. Kedua matanya terlihat menghitam dan berkilat.


Dengan kecepatan luar biasa, Nate tiba-tiba mencengkeram leher kaos Dominic dan mendorongnya ke pintu apartemen pria itu dengan keras.


"Jangan menantangku, Dom. Kamu sudah tahu apa yang bisa kulakukan, kalau aku marah."


Nate mendesis pada pria di depannya. Memberikan ancaman yang berbisa. Nafasnya terdengar memburu karena kemarahan yang ditahan.


Dominic memicingkan kedua matanya. Bukan kemarahan pria di depannya yang membuatnya terdiam, tapi ia baru sadar kalau Nate ternyata telah memanggilnya kembali dengan nama kecilnya. Seperti dulu.


Tidak mau memancing keributan baru di depan Lin yang terlihat ketakutan, Dominic mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.


"Baiklah. Untuk kali ini aku akan mengalah padamu."


Perkataan Dominic membuat Nate perlahan melepaskan cengkeramannya.


Pria berambut merah itu pun segera menjauhkan diri dan membuka pintu apartemennya. Ia masih sempat menongolkan kepalanya dari balik pintu.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti, Nate. Masalah kita belum selesai."


Setelah itu, Dominic membanting pintunya dengan keras di depan muka Nate, hampir saja mengenai hidungnya.


Di balik pintunya, Dominic menyenderkan tubuhnya. Kepalanya menengadah ketika ia merasakan kedua matanya mulai mengalirkan air di pipinya. Bibirnya tampak tersenyum.


Selesai urusan dengan pria menyebalkan itu, Nate membalikkan tubuhnya menghadap Lin.


Wanita itu tampak gemetar dan dengan panik membuka pintu apartemennya.


Sebelum pintu itu dapat ditutupnya dengan sempurna, tangan besar Nate telah menahan pintu apartemen Lin.


"Mau kemana kamu?" Desis pria itu.


Baru kali ini, Lin melihat tampang Nate yang terlihat marah dan cukup bengis. Ketakutan, ia pun berusaha mendorong pintunya dengan sia-sia.


Dengan sedikit kencang, Nate mendorong pintu di depannya. Hal ini membuat Lin sedikit terhuyung karena terdorong mundur.


Berhasil masuk ke dalam, pria itu pun menutup pintunya pelan dan langsung menguncinya.


Perlahan, ia membuka jasnya dan melemparnya sembarangan di meja pantry. Rompi dan dasinya pun menyusul, menyisakan kemejanya.


"Jadi, ini yang kamu lakukan selama aku tidak ada? Bermain-main dengan orang baru?"


Mata Lin melotot dan ia segera mundur, menjauhi pria di depannya yang tampak seperti singa lapar yang ingin memangsa buruannya.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?"


"Ma- Mau apa kamu, Nate? Keluar sekarang! Atau aku akan melapor pada polisi!"


Meski wanita itu tahu bela diri, tapi ia sadar bahwa kekuatannya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pria di hadapannya ini.


Menoleh ke kiri dan kanan, ia berusaha mencari dan meraih apapun yang mungkin bisa dijadikan senjata.


Tanpa aba-aba, pria di depannya mengangkut tubuhnya seperti karung beras dan mengarahkannya ke kamar tidur. Ia juga membanting pintunya keras.


Sampai di dalam, Nate melemparkan tubuh wanita itu ke tempat tidur.


Masih kaget, Lin melihat pria di depannya sedang melepaskan ikat pinggang dan membuka kemejanya sendiri dengan tidak sabar, membuat kancingnya bertebaran.


Menelan ludahnya, wanita itu dapat melihat tubuh bagian atas pria itu yang sangat indah. Refleks, mulutnya terbuka dan naluri liarnya mulai terasa naik ke permukaan.


Tersadar dengan kelakuannya, wanita itu mengerjapkan mata dan segera berusaha turun dari tempat tidur tapi kakinya ditahan, dan ditarik kembali dengan kuat oleh pria itu.


"Nate! Lepaskan aku! Kalau tidak, aku akan melapor pada polisi!"


Tidak butuh usaha keras, Nate telah berhasil menahan kedua tangan Lin di sisi tubuhnya. Perlahan, pria itu menundukkan kepalanya dan memandang wajah wanita itu dengan intens.


"Kenapa kamu tidak membalas teleponku, Lin?"


Suara Nate terdengar lebih dalam dari biasanya. Nafas yang keluar dari hidung dan mulutnya terasa panas.


Kedua mata Lin memicing marah. "Bukan urusanmu!"


"Oh, begitu? Sepertinya, aku harus memberi sedikit pelajaran padamu agar kamu jera."


Setelah mengatakan itu, mulut Nate pun langsung menutup rapat mulut Lin. Pria itu mulai menciuminya dengan agresif.

__ADS_1


__ADS_2