
Pesawat pribadi itu mendarat dengan lancar pada tengah malam di bandara milik NAMAC Inc.
Segera setelah keluar dari pesawat, Felix undur diri dan langsung meninggalkan lokasi tanpa mengatakan apapun lagi. Pria itu benar-benar tampak sedang ada masalah.
Marcus pun pamit pada Nate, setelah mengantarkan atasannya ke rumahnya.
Masuk ke dalam penthouse, Nate melihat ruang tamu yang sudah gelap dan hanya sedikit cahaya yang masuk dari jendela yang terbuka.
Perlahan, ia membuka pintu kamar tidur dan terlihatlah isterinya yang tampak sedang tertidur dengan sangat pulas.
Tidak sabar, pria itu meletakkan kopernya di lantai dan mulai melepaskan seluruh pakaian yang sedang dikenakannya sembarangan.
Dengan tubuh yang polos, ia menyelinap ke dalam selimut dan memeluk tubuh isterinya erat. Ia mulai menciumi leher isterinya dengan lembut, sangat merindukan aromanya.
Perlahan, pria itu menarik kaos Lin ke atas, memperlihatkan dadanya yang polos. Tangannya mengusap-usap kedua benda itu dan dengan rakus menghisapnya penuh hasrat. Otaknya menangkap sesuatu yang berbeda, tapi n*fsunya sudah tidak tertahan saat ini.
"Hmmh..."
Saat kedua matanya terbuka karena terganggu, Lin pun kaget melihat pakaiannya telah berantakan dan tampak suaminya yang sedang menggerayangi tubuhnya dengan seenaknya.
"Nate!"
"Halo, sayang... Aku merindukanmu." Suaminya berbisik mesra.
Keduanya pun langsung berciuman dengan intens. Tangan mereka saling meraba dan mengelus di tubuh masing-masing.
Lin menjauhkan bibirnya, dan menatap wajah suaminya. Tangannya mengusap-usap pipi pria itu yang ditumbuhi jenggot berusia dua hari.
"Kamu tidak bercukur?"
"Belum sempat. Kamu keberatan aku berjenggot?"
Isterinya terkekeh dan memeluk leher pria itu erat. "Sama sekali tidak."
Mereka pun berciuman kembali dan malam itu, keduanya mencurahkan kerinduan masing-masing dalam percintaan yang hangat dan lembut.
Ketika saling merindukan, tidak akan ada yang mau melakukannya dengan cara yang kasar dan cepat. Ketika saling membutuhkan, mereka akan berusaha untuk menyalurkan rasa cinta mereka pada pasangannya dalam jangka waktu yang lama.
Malam itu, Nate merasakan rasa cinta dari isterinya untuk dirinya. Ia dapat merasakannya, meski isterinya sama sekali belum pernah mengatakannya.
Keesokan harinya, mereka berdua terbangun di waktu yang sama.
"Selamat pagi."
Bersender di atas dada suaminya, Lin tersenyum sambil mengelus bibir Nate yang juga melengkung, membalas senyum wanita itu.
"Selamat pagi juga."
Tangan pria itu mengusap-usap rambut panjang isterinya yang sangat ia rindukan selama sepuluh hari belakangan.
Jari telunjuk Lin menyentil ujung hidung Nate yang mancung. Salah satu matanya mengedip.
"Mau mandi bareng?"
__ADS_1
Suaminya tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang rapih. Pria itu pun tanpa harus disuruh, langsung menggendong tubuh isterinya seperti koala.
"Tentu saja."
Di dalam kamar mandi, Lin mengosok-gosok rambut Nate yang saat itu duduk di depannya, di dalam bathtub. Tubuh pria itu sedikit bersender pada isterinya dan kedua matanya menutup, menikmati pijatan wanita itu.
Dengan hati-hati, Lin menyiram air shower hangat ke atas kepala pria itu untuk membersihkan sisa-sisa shampo yang masih menempel.
Ia pun menyabuni tubuh Nate dan mengusapnya lembut dengan shower puff. Menatap punggung suaminya yang lebar, LIn pun tersenyum. Akhirnya ia dapat merasakan kembali keberadaan suaminya yang dapat menghangatkan hari-harinya yang sempat mendingin.
Selesai mandi, mereka pun langsung berpakaian dan bersiap untuk pergi ke kantor.
"Kamu mau ikut denganku hari ini?"
Lin menggeleng, menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Tidak. Hari ini, aku mau mampir ke supermarket dan membeli beberapa barang dulu. Sebaiknya, aku membawa mobil ke kantor."
Nate mengusap-usap pipi isterinya yang halus.
"Sebenarnya kamu bisa menitip barang-barang yang ingin kamu beli ke pengurus rumah, Lin. Jadi, kamu tidak repot-repot untuk berbelanja sendiri."
Memegang penggelangan tangan suaminya, Lin pun terkekeh.
"Justru aku lebih senang berbelanja sendiri, Nate. Cukup mengasyikkan ketika dapat memilih sendiri barang-barang yang ingin kita pakai nantinya."
Tahu isterinya cukup keras kepala, pria itu pun mencium dahi Lin lembut.
Lin mengangguk. Wanita itu meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
"Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan denganmu malam ini. Apakah hari ini kamu bisa pulang sedikit cepat?"
Melihat isterinya yang tidak seperti biasanya, membuat Nate sedikit bertanya-tanya. Tapi akhirnya, ia pun menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan wanita itu.
"Aku usahakan. Kamu ingin kita bertemu jam berapa?"
"Jam tujuh kalau bisa. Sambil makan malam, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Menelaah hatinya, Nate sama sekali tidak merasakan perasaan aneh dari isterinya. Ia bahkan hanya dapat menangkap letupan-letupan kebahagiaan dari wanita itu. Apa ini?
"Tentu, sayang. Kita akan bertemu jam tujuh nanti. Aku harap, kamu hanya memberikanku berita yang baik."
Kedua pipi isterinya terlihat merona merah mendengar perkataan suaminya.
"Berita ini sangat baik. Aku rasa, kamu pun akan menyukainya nanti."
Setelah itu, keduanya pun berciuman dan segera berangkat ke kantor dengan menggunakan kendaraan masing-masing.
Sementara itu di saat yang sama, Felix tampak sedang duduk di salah satu kamar di gedungnya. Wajahnya terlihat cukup muram, meski bibirnya tersenyum.
"Jadi, Alexander sudah pergi dengan tersenyum?"
"Benar, Master. Terlihat tidak ada penyesalan dari dirinya. Ia tampak bahagia dapat berkumpul kembali dengan pasangan hidupnya."
__ADS_1
Laurent mengangguk pelan. Pria tampan itu dapat membayangkan kalau seorang Alexander Johan memang tidak akan pernah menyesali apapun dalam hidupnya. Ia sudah menjalaninya dengan baik, dan juga meninggalkan kesan yang sangat baik bagi orang lain.
Kedua mata putih Laurent mengedip. Ia menoleh dan memandang lurus pada pria muda yang sedang duduk di depannya. Orang lain yang melihatnya, mungkin berfikir kalau pria itu dapat melihat, termasuk dengan Felix sendiri saat ini.
"Bagaimana kabar Rosaline?"
Pertanyaan itu membuat jantung Felix berdebar lebih kencang. Dan debarannya tambah lama tambah menguat, saat mengingat pertemuan terakhirnya yang sama sekali tidak menyenangkan dengan wanita itu.
"Dia baik-baik saja. Sama seperti terakhir kali kita menemuinya."
Dari pengalaman masa lalunya dan juga usianya yang sangat panjang, Felix dapat dengan cepat dan luwes mengontrol emosi dirinya termasuk suaranya.
Hal ini membuatnya mudah untuk berbaur dengan orang lain dan mengumpulkan informasi. Ia memang menjalani hidupnya sesuai dengan bakat alaminya.
Kejadian kemarin di pesawat adalah merupakan pertama kalinya Felix sama sekali tidak bisa mengontrol emosinya, membuat pria itu berusaha lebih menginstropeksi dirinya.
Tatapan Laurent yang masih mengarah pada dirinya, membuat Felix sedikit salah tingkah. Belum pernah Laurent memandangnya dengan tatapan menyelidik seperti itu.
"Bagaimana denganmu, Felix? Apakah kau baik-baik saja?"
Pertanyaan itu membuat Felix tertegun. Tanpa diinginkannya, ekspresinya mulai berubah dan ia merasakan tenggorokannya kering.
"Apakah kau baik-baik saja? Jawab aku."
Laurent mengulang pertanyaannya dengan nada lebih tegas.
"Saya-"
Ketika berbicara, Felix dapat mendengar suaranya sendiri bergetar. Pria itu terpaksa menutup mulutnya kembali karena ia sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini.
Menghela nafasnya pelan, Laurent mengalihkan pandangannya dari Felix, ke objek tidak kasat mata di depannya.
"Apalagi yang kau tunggu? Ini sudah 300 tahun, Felix."
Menyadari pria muda di depannya masih belum bisa menjawab, Laurent pun akhirnya berdiri. Ia berjalan ke arah jendela dan memasukkan kedua lengannya ke saku celananya.
"Sebenarnya, apa yang kau kejar dalam hidup, Felix? Uang? Tahta? Wanita?"
Laurent membalikkan badannya dan menatap Felix kembali.
"Ketiganya sudah kau dapatkan dalam hidupmu. Bahkan berlebih. Ketika aku merubahmu dulu, aku tahu kalau kau adalah orang yang selalu haus akan sesuatu. Kau tidak akan pernah puas, selalu mencari hal-hal yang baru. Membuatmu selalu mengambil resiko apapun."
Kepala Felix tertunduk dalam mendengar kata-kata Laurent yang menohok perasaannya.
"Kau adalah salah satu ciptaanku yang kubanggakan. Meski kontribusimu pada manusia dan juga kaum V sangatlah banyak, tapi aku tidak mau kau selalu mencoba meraih sesuatu yang pada akhirnya akan kau tinggalkan semua nantinya."
Pria itu menjeda ucapannya dan menatap Felix dengan sedih.
"Usiamu mungkin hanya tinggal dua abad lagi. Tidakkah kau ingin meraih sesuatu hanya untuk dirimu, Felix? Tidakkah kau ingin ada seseorang yang mengingatmu sebagai dirimu sendiri, dan bukan hanya akan dikenang sebagai Felixander Osborne yang brilian?"
Mata Felix yang sedang menatap lantai, dapat melihat kedua kaki Laurent yang ternyata berhenti di depannya. Pria itu menengadahkan kepalanya dan melihat Master-nya meletakkan salah satu tangannya di bahunya, menepuknya pelan.
"Kaum V sangat sulit mendapatkan pasangan dalam hidupnya. Ketika pada akhirnya dapat menemukannya, itu adalah suatu berkah. Jangan pernah membuang berkah itu, hanya karena kamu takut untuk meraihnya."
__ADS_1