Madness

Madness
Chapter 21


__ADS_3

Sesampainya di mobil, Nate menghempaskan tubuhnya ke dalam dan menghela nafas.


Kejadian hari ini membuatnya bingung. Tapi ia benar-benar bersyukur, dirinya sudah dalam fase dapat mengatasi naluri liarnya dengan sangat baik. Ia kembali menjadi dirinya yang terkontrol seperti biasanya.


Jika tidak, pria itu tidak berani membayangkan dampaknya bila hal tadi terjadi beberapa hari yang lalu. Sudah pasti ia dan Lin bakal melakukan sesuatu yang akan mereka sesali nantinya.


Marcus yang dapat merasakan kegelisahan atasannya, memandang dari kaca spion. Pria dingin itu dengan perlahan mulai mengarahkan mobil ke arah penthouse Nate.


"Anda tidak apa-apa, Tuan? Apa yang sebenarnya terjadi tadi?"


Nate memandang ke luar jendela, ke arah kegelapan malam. Ia menggeleng.


"Aku tidak tahu, Marc. Hari ini aneh sekali."


"Aneh?"


Asistennya mengernyitkan dahinya dalam, dan baru menyadari kalau ternyata atasannya tidak lagi memakai sweater yang sebelumnya dikenakannya.


"Baju Anda kemana, Tuan?"


Pria yang ditanya menunduk dan memandang kaos yang dikenakannya secara otomatis. Ia mendongak dan melihat Marcus lewat kaca di depannya.


"Bau wanita teler itu lengket, Marc. Aku-"


Nate terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan hal memalukan yang barusan terjadi padanya pada asistennya. Ia masih memiliki harga diri sebagai seorang atasan dan juga pimpinan.


Padangan asistennya yang di spion tampak bertanya, masih menunggu kelanjutannya.


"Hem. Intinya, baunya masih melekat di sewater-ku tadi."


Berusaha menggigit bibirnya tanpa kentara, Marcus mengangguk. Terkadang ia tidak habis fikir dengan penciuman Nate yang dianggapnya terlalu sensitif dengan bau wanita manusia.


"Anda membuangnya?"


"Ya. Aku meminta Lin untuk membuangnya. Baunya membuatku masih mual."


Marcus kembali mengangguk. Ia sebenarnya masih penasaran dengan yang terjadi tadi, tapi tidak mau memaksa atasannya untuk bercerita. Semua akan ada waktunya.


Setelah beberapa saat hening, suara dalam Nate tiba-tiba memecah keheningan.


"Marc. Apa yang biasanya terjadi saat kamu bertemu dengan wanita V?"


Pertanyaan itu membuat Marcus memandang atasannya lewat kaca spion. Pria di belakangnya tampak masih melihat ke luar jendela.


Mengarahkan kembali fokusnya pada jalanan di depannya, Marcus mulai bercerita.


"Sebenarnya sama seperti ketika pria dan wanita manusia bertemu. Akan ada saling ketertarikan. Nafsu, dan ujung-ujungnya terjadi kegiatan untuk menyalurkannya."


Ia sedikit menjeda ceritanya ketika mereka berhenti di lampu merah.


Sebenarnya waktu yang masih dini hari membuat jalanan sangat sepi, tapi pria itu tidak mau mengambil resiko tertangkap CCTV yang berpotensi menjadi masalah yang lebih panjang.


"Bedanya saat telah menjadi seorang V, hal itu terjadi dalam intensitas yang lebih besar."


Pria di belakangnya menoleh. Salah satu tangannya tampak mengusap-usap bibirnya.


Mata Marcus kembali memandang atasannya lewat kaca di depannya.


"Seringkali ketika itu terjadi, akan ada fase kegilaan. Membuat masing-masing tertelan dalam naluri liarnya dan melakukan hal yang umumnya tidak bisa diingat setelahnya."


"Kamu tidak pernah ingat ketika melakukannya dengan seorang wanita V?"


Lampu yang telah hijau, membuat pria dingin itu kembali menjalankan mobilnya dengan perlahan. Ia pun menyalakan lampu sign untuk berbelok.


Menjawab pertanyaan Nate, Marcus terlihat menggeleng. "Hampir tidak pernah."


Nate tampak menegakkan duduknya di kursi belakang. Informasi ini cukup menarik untuknya.


"Tapi aku hampir tidak pernah mendengar, kalau ada pasangan V yang melakukannya di sembarangan tempat, Marc."


"Memang betul. Fase kegilaan itu muncul, ketika pasangan V sudah melakukan kontak fisik yang cukup intim, seperti memeluk atau mencium. Jadi memang akan terjadi ketika mereka sudah berada dalam situasi dan tempat yang kondusif."


Atasannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak pernah mengetahui hal ini karena tidak pernah mengalaminya sendiri.


"Tapi kalau kamu tidak ingat melakukannya, bukannya akan menjadi aneh saat kalian bangun nanti?"


Mata pria dingin itu sedikit berkilat. "Tidak juga."


"Tapi bukannya kalian pada akhirnya akan tidur dalam satu tempat tidur yang sama? Untuk waktu yang cukup lama setelahnya?"


"Menurut Anda, berapa lama seorang V akan bisa tidur setelah melakukannya, Tuan?"


"Entahlah. Yang pernah aku dengar sekitar 1-2 hari."


Asistennya hanya menganggukkan kepalanya sekali.

__ADS_1


"Benar. Bila itu adalah pasangan suami-isteri atau setidaknya saling mencintai."


Alis Nate terangkat. Ia cukup terkejut dengan informasi ini.


"Jadi maksudmu ada perbedaan antara melakukannya dengan dan tanpa perasaan?"


"Benar kembali, Tuan. Kegiatan itu memang masih menjadi rahasia alam. Ketika seorang V mencintai pasangannya, tubuhnya akan jauh lebih rileks, membuat kegiatan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi mereka."


Marcus kembali menyalakan lampu sign-nya dan mulai mempercepat laju mobilnya ketika melihat jalanan di depannya benar-benar sepi dan tidak terlihat mobil satu pun.


"Saya bahkan pernah mendengar, kalau mereka pun dapat mengingat dengan jelas detail kegiatan yang telah mereka lakukan. Sama seperti manusia biasa."


"Dan ini berbeda kalau mereka tidak saling mencintai."


Pria yang sedang memegang kemudi itu kembali menganggukkan kepalanya.


"Betul kembali. Saya bahkan masih bisa kembali ke rumah setelah kegiatan itu dan hanya bisa beristirahat 2 jam setelahnya."


Mata Nate membulat mendengarnya. "Sesingkat itu?"


"Ya. Sesingkat itu. Jadi kegiatan itu bukan sesuatu yang terlalu efektif, selain hanya untuk pelampiasan n*fsu. Satu-satunya hal yang memang seharusnya dilakukan kalau kita mau beristirahat penuh adalah dengan 'makan' secara teratur."


Memang benar. Nate bahkan bisa berhibernasi selama 3-4 hari, tergantung dari berapa kantong 'makanan' yang ia konsumsi.


Meski tidak butuh tidur terlalu lama, tapi kaum V tetap membutuhkan istirahat atau masa hibernasi, setidaknya 7 hari dalam setiap 3 bulan masa terjaganya.


Dan Nate kerap melakukannya dengan terlambat, membuatnya harus menjadi kelaparan dan merasa kelelahan lebih dulu baru pria itu mau 'makan'.


Menelengkan kepalanya, Nate kembali bertanya dengan penasaran pada asistennya.


"Bagaimana dengan manusia, Marc? Bukankah kamu beberapa kali pernah melakukannya dengan mereka?"


Tanpa terasa, mereka telah memasuki area parkiran di basement penthouse Nate. Dengan ahli, Marcus memarkirkan mobilnya pada satu tempat yang bertanda khusus.


"Saya melakukannya dengan manusia, ketika saya hanya membutuhkan pelepasan yang sangat singkat, Tuan. Dan itu saya lakukan dengan sangat terpaksa."


Pria dingin itu juga sebenarnya tidak menyukai aroma manusia, tapi tidak seperti atasannya, ia masih bisa berinteraksi dengan normal dan bahkan dapat cukup intim dengan mereka.


Mematikan mesin mobilnya, Marcus memandang atasannya lewat kaca spion.


"Sebetulnya yang paling baik adalah, ketika seorang V dapat menemukan pasangan hidupnya. Oleh karenanya, banyak dari mereka yang akhirnya memilih untuk hidup soliter, hanya bersama dengan pasangannya sendiri sampai masa usia mereka habis."


Marcus mencengkeram kemudinya dengan cukup erat dan memandang ke arah depan. Tatapannya baru kali ini terlihat kosong.


Pernyataan terakhir Marcus membuat Nate tampak terpekur malam itu.


Beberapa jam kemudian di apartemen Lin, wanita itu sedang membereskan apartemennya ketika pintu kamar tamu terbuka. Memperlihatkan Lucy dengan mukanya yang cukup pucat.


"Luce, kamu sudah bangun. Kemarilah."


Lin mengajak Lucy untuk duduk di sofa dan memberikan secangkir teh hangat untuknya.


"Terima kasih, Lin."


Temannya langsung menenggak habis teh itu. Dan setelah meletakkan cangkirnya di meja, wanita itu mulai mengurut keningnya yang sedikit terasa sakit.


Ia memandang area apartemen Lin, dan ingatannya mulai sedikit kembali ke malam itu.


"Maaf Lin. Sepertinya aku merepotkanmu. Lagi."


Tersenyum, wanita itu hanya duduk di samping temannya. Ia menggenggam tangan Lucy.


"Tidak apa, Luce. Kamu ada masalah dengan Mark lagi?"


Mark adalah mantan suami Lucy. Sebenarnya masih suaminya, karena mereka sedang menjalani proses perceraian yang cukup alot. Terkait dengan masalah hak asuh anak.


Menggeleng, wanita di sampingnya hanya mulai menitikkan air matanya.


"Dia masih tidak mau melepaskan Scott, Lin. Padahal aku sudah tidak menginginkan apapun lagi darinya."


Permasalahan ini sudah berjalan berbulan-bulan, dan belum menemukan jalan tengahnya.


Kondisi yang tertekan seperti ini, kadang membuat Lucy melarikan diri pada minuman keras.


Satu-satunya teman yang dapat menjadi tempat curhatnya adalah LIn, karena ia tahu kalau temannya ini tidak akan menjadikan ceritanya menjadi bahan gosip di kantor nanti.


Mengambil tisu dari atas meja, Lin mengusap air mata temannya dengan lembut.


"Sebenarnya kenapa kalian bisa bercerai, Luce? Kamu tidak pernah mau menceritakannya padaku."


Pertanyaan itu malah membuat Lucy semakin menangis tersedu-sedu, membuat wanita di depannya menjadi tambah bingung.


Sebenarnya Lin sama sekali tidak tahu bagaimana cara menenangkan orang yang sedang sedih. Selama ini, ia selalu hidup sendiri dan tidak pernah dekat dengan orang lain.


Ia juga tidak pernah mau mengundang orang lain untuk datang ke rumahnya.

__ADS_1


Sejauh ini, hanya Nate dan Lucy-lah yang tahu dengan pasti dimana ia tinggal. Dan itu pun, karena ketidaksengajaan.


Mengingat hal yang dilakukannya secara refleks pada Nate tadi malam, ia pun memeluk Lucy dan mengusap-usap punggungnya dengan cara yang sama. Berusaha menenangkannya.


Tidak berapa lama kemudian, Lucy pun mulai tampak tenang.


"Sudah tenang, Luce?"


Temannya menganggukkan kepalanya. "Iya. Terima kasih, Lin."


"Sebentar, aku akan mengisi cangkirmu lagi."


Perlahan, Lin pun mulai membawa cangkir kosong Lucy ke pantry. Sambil mengisi cangkir temannya dengan teh, Lin mengamati wajah Lucy yang tampak masih menunduk tapi sudah terlihat lebih tenang.


Kembali ke sofa, Lin menyorongkan cangkir yang penuh itu ke hadapan temannya lagi.


"Minum lagi, Luce. Supaya kamu lebih tenang."


Lucy pun menuruti saran temannya, dan mulai meminum tehnya dengan pelan.


Meletakkan cangkir yang isinya tinggal setengah ke atas meja, Lucy menarik nafasnya dalam.


"Sebenarnya aku bercerai dari Mark karena dia berselingkuh, Lin. Dan si bangsat itu, melakukannya dengan wanita simpanannya di kamar tidur kami sendiri."


Cerita Lucy sama sekali tidak diperkirakannya, membuat Lin tidak bisa mengatakan apapun.


"Maaf Luce. Tapi sepertinya aku tidak bisa berkomentar apapun."


Temannya malah meremas lengan Lin yang ada dipangkuannya. Dan entah mengapa, perkatan Lin dapat membuatnya terkekeh pelan.


"Tidak apa, Lin. Kamu menjadi pendengar untukku pun, sudah lebih dari cukup."


"Jadi, apa rencanamu?"


"Saat ini, pengacaraku sedang mengumpulkan beberapa bukti yang menyatakan ketidaksetiaannya selama menjalani pernikahan. Aku berharap itu sudah lebih dari cukup untuk dapat melepaskan hak asuhnya pada Scott nanti."


Lin menepuk-nepuk tangan Lucy yang masih ada di pangkuannya.


"Pasti akan beres, Luce. Kamu jangan terlalu khawatir."


Wanita di depannya mengangguk. "Ya, aku tahu. Tapi perkataannya tadi malam yang mengancam akan membawa Scott pergi membuatku sangat merasa marah."


"Sekarang Scott kamu titipkan dimana?"


"Di rumah orang tuaku. Aku sudah menceritakan mengenai masalah ini pada mereka."


Mengangguk, Lin tampak menyetujui keputusan Lucy.


Kedua wanita itu pun terdiam beberapa saat, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Oh ya Lin. Tadi malam, bagaimana kamu membawaku? Terakhir aku merepotkanmu, kamu sampai harus membayar security dari lobby bawah."


Raut muka Lucy tampak khawatir. Ia benar-benar merasa telah merepotkan temannya.


Wanita di sampingnya hanya tersenyum.


"Kamu jangan khawatir. Temanku tadi malam yang membantu mengangkatmu."


Sekilas, Lucy mengingat tubuhnya yang memang terasa terayun-ayun dan kemudian sedikit di lempar ke tempat tidur. Ia memandang Lin kembali.


"Apakah badanku berat, Lin? Sepertinya tadi malam temanmu kesulitan untuk mengangkatku."


Terkekeh, Lin menjadi teringat raut muka Nate tadi malam. Cukup menghibur sebenarnya.


"Tidak kok. Hanya temanku memang agak kurang enak badan malam tadi."


"Kalau begitu, aku harus minta maaf padanya Lin. Karena sudah merepotkannya."


"Tidak perlu. Dia membantumu dengan ikhlas."


Penasaran, Lucy bertanya lagi. "Apakah aku mengenalnya, Lin?"


Menggeleng, Lin pun bangkit dari duduknya. Ia tidak mau memperpanjang masalah mengenai identitas Nate lagi.


"Sepertinya tidak Luce. Dia teman yang baru kukenal."


Ia pun dengan sengaja menyalakan kembali mesin penyedot debu yang tadi memang sempat digunakannya sebelum Lucy keluar dari kamar.


"Maaf, Luce. Tapi aku mau melanjutkan membersihkan apartemenku lagi. Kamu bisa menunggu di sana atau terserah dirimu saja."


Kegiatan Lin pun cukup dapat membungkam pertanyaan Lucy mengenai siapa yang membantunya tadi malam. Fokus Lucy yang mudah teralih, cukup menyelematkan Lin dari pertanyaan-pertanyaan temannya yang saat ini sama sekali tidak dibutuhkannya.


Selama membersihkan tempat tinggalnya itu, benak Lin berfikir keras, memikirkan cara bagaimana agar ia tidak harus bertemu dengan Nate besok.


Ia masih belum berani bertemu dengan pria itu. Ia masih merasa bersalah padanya.

__ADS_1


__ADS_2