
Seharian itu, Lin menghabiskan waktunya di salah satu cafe yang cukup dekat dengan apartemennya. Ia memerlukan suasana baru dan udara segar saat ini.
Bila bekerja di dalam rumahnya, mau tidak mau ia akan membayangkan saat Nate ada di sofa ruang tamunya. Kalau pun bekerja di kamarnya, pakaian pria itu pun tidak dapat ia singkirkan dari tempat tidurnya.
Berada di tempat yang baru, membuat pikirannya lebih jernih. Ia pun dapat menyelesaikan seluruh pekerjaannya dalam waktu yang singkat dan telah selesai berkoordinasi dengan Pak Robertus, atasannya di kantor.
Pria paruh baya itu sekali lagi mengharapkan agar ia mau mempertimbangkan keputusannya. Dan Lin berjanji akan memberikan jawabannya di akhir minggu nanti.
Melihat jam tangannya, wanita itu baru sadar bahwa ia telah menghabiskan waktu hampir delapan jam berada di cafe ini.
Menyender ke kursinya, ia pun akhirnya mengeluarkan ponselnya dari tas ranselnya.
Ketika ia menyalakannya, beberapa notifikasi mulai membanjiri inbox-nya. Terdapat beberapa pesan chat dari Nate, dan pria itu juga ternyata meneleponnya beberapa kali.
Tersenyum miring, Lin baru akan meletakkan ponselnya di atas meja ketika teleponnya tiba-tiba berdering.
Mengenali ID si penelepon, wanita itu pun langsung mengangkatnya.
"Nona Alina. Apa kabar?"
Suara hangat pria di seberangnya, mau tidak mau membuat Lin tersenyum.
"Kabar baik, Tuan Felix. Saya baru saja ingin menghubungi Anda kembali."
Terkekeh, pria diseberangnya mulai menjelaskan maksudnya menghubungi wanita itu.
"Kebetulan sekali. Apakah hari ini Anda ada waktu? Master Johan ingin bertemu kembali dengan Anda sore ini."
Tentu saja wanita itu ingin bertemu kembali dengan ayahnya. Ia sangat ingin mengetahui kabarnya sejak ayahnya terlihat sakit kemarin.
"Saya akan segera ke sana, Tuan Felix. Terima kasih telah mengabari saya."
Mereka pun berbincang sejenak dan saling berpamitan sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.
Membereskan semua barangnya, Lin pun bergegas menuju meja kasir untuk membayar pesanannya hari itu.
Ia pun terlihat terburu-buru keluar dari cafe dan tidak memperhatikan kalau ada sepasang mata biru elektrik yang telah memperhatikannya selama beberapa jam ini.
Pria berambut merah itu memperhatikan Lin yang masuk ke dalam mobilnya dari kaca jendela cafe dan terlihat segera tancap gas meninggalkan lokasi.
Menghela nafas, Dominic menyenderkan badannya di kursi. Ia mulai merasa bersalah terhadap wanita itu. Entah kenapa, Lin sedikit banyak mengingatkannya pada isterinya dulu.
Perkataannya yang cukup jahat beberapa hari lalu membuat pria itu tidak tenang.
Karena perkelahiannya dengan Nate kemarin, ia harus berhibernasi karena kekurangan darah. Dan rasa bersalahnya kembali muncul ketika ia bangun tadi pagi.
Setelah membayar pesanannya, pria itu pun keluar dari cafe, sama sekali tidak menyadari kalau ada beberapa pasang mata wanita terlihat melirik dan tertarik padanya.
Biasanya, Dominic akan menanggapi mereka dan sedikit bermain-main. Meski tidak terlalu menyukai bau wanita manusia, tapi pria itu sering menganggapnya sebagai selingan.
Sejak terpaksa berpisah dengan isterinya dulu, Dominic sama sekali tidak bisa terikat dengan satu wanita. Ia berpindah dari satu wanita ke wanita lain, karena ingin melupakan isterinya.
Ia sangat mencintai isterinya, membuatnya tidak mau dan tidak bisa memiliki komitmen baru dengan seseorang. Kematian isterinya juga membuat pria itu merasa sangat merasa bersalah dan menyisakan penyesalan yang dalam selama ratusan tahun.
Baru kali inilah, Dominic benar-benar merasa tertarik dengan seorang wanita. Dan sial bagi dirinya, wanita itu ternyata milik dari mantan teman baiknya.
Meski awalnya berniat membuat hubungan kedua orang itu sulit, tapi ia tidak akan mungkin mau bersaing dengan Nate, terutama karena ia jugalah orang yang bertanggungjawab telah menghilangkan kebahagiaan sahabatnya dulu.
Sampai di pintu apartemennya, Dominic melirik pintu apartemen Lin yang masih tertutup.
Ia memutuskan bahwa kesalahpahaman ini harus segera diselesaikan. Pria itu mulai merasa muak dengan berbagai julukan negatif yang selalu tersemat di namanya.
Saatnya ia membersihkan namanya yang sudah berlumur lumpur ratusan tahun ini, karena ulah seseorang yang serakah dan tidak bertanggungjawab.
Di tempat lain, setelah beberapa saat mengendarai mobilnya, Lin pun akhirnya sampai ke lokasi tujuannya.
Dengan segera, wanita itu langsung menuju kamar ayahnya dan tidak lama setelah ia mengetuk pintu, tampak sosok tinggi Felix yang menyambutnya.
"Nona Alina. Selamat sore."
Pria itu menyapa ramah dan mempersilahkan Lin untuk masuk ke ruangan.
Memasuki kamar yang sudah familiar itu, Lin langsung menemukan sosok ayahnya yang sedang menunggu dirinya di ruang tamu.
"Ayah!"
Refleks, Lin langsung menghambur dan memeluk tubuh ayahnya dengan kuat. Ia cukup takut akan kehilangan ayahnya, apalagi mengingat informasi dari Felix kemarin.
Melihat ayah-anak itu telah saling bertemu, Felix pun perlahan undur diri dari ruangan.
Johan memeluk puterinya dengan erat sambil tersenyum. Betapa bahagianya pria tua itu masih memiliki kesempatan bertemu dengan anaknya.
Saling menjauhkan tubuh, kedua orang itu tersenyum dengan gembira satu dengan lain.
"Duduklah Lin." Johan menepuk sofa yang berada di dekatnya.
Pria tua itu mengelus kepala anaknya sesuka hati. Dulu ia hanya sempat mengelus perut isteri manusianya selama beberapa bulan, sampai kemudian wanita itu tiba-tiba menghilang.
Sama sekali tidak ada kata-kata perpisahan dari isterinya, membuat Johan kelimpungan mencari mereka.
Ia telah menghabiskan waktunya berpuluh-puluh tahun untuk mencari mereka, dan akhirnya meminta bantuan Felix setelah sadar bahwa batas usianya sudah diujung tanduk.
Selama ini, Johan menghabiskan hidup dan waktunya untuk membantu orang lain. Ia banyak membangun rumah sakit dan berbagai yayasan penyakit yang ada di seluruh dunia.
Motivasinya yang cukup mulia itu ternyata memberikan cukup keuntungan padanya.
Ia menjadi memiliki akses untuk supply persediaan darah manusia. Yang tentunya merupakan penawaran yang tidak akan dapat ditolak oleh Felix.
Seumur hidupnya, pria tua itu menjamin tersedianya supply darah secara gratis untuk Felix, saat ia butuh untuk 'makan' dan sampai pria itu mencapai batas usianya nanti.
Dan secara diam-diam, Johan telah mengalihkan semua asetnya untuk puteri semata wayangnya. Ia hanya tinggal menginformasikan mengenai perjanjian ini padanya nanti bila waktunya sudah tiba.
"Ayah, apakah ayah benar-benar sudah tidak apa-apa?"
Tersenyum, Johan mengangguk. Ia sangat suka mengusap-usap kepala anaknya.
__ADS_1
"Ayah sudah tidak apa-apa, Lin. Kamu jangan khawatir. Ayo kita mengobrol lagi. Apalagi yang kamu ingin tahu dari ayah?"
Lin mengangguk pelan. Ia sebenarnya ingin menanyakan mengenai Dominic Allard pada ayahnya, tapi takut kalau pria tua itu akan kembali kambuh.
Mencoba mencari topik pembicaraan lain, akhirnya Lin memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam mengenai ibunya.
"Boleh aku menanyakan sesuatu tentang ibuku?"
Johan menarik tangannya dari kepala Lin dan menatapnya lembut. Ia mengambil kedua tangan anaknya dan menggenggamnya erat pada pangkuannya.
"Tentu. Tanyakanlah apa yang kamu mau ketahui, Lin. Bagaimana pun, dia adalah ibumu."
Sedikit ragu, akhirnya Lin pun mengungkapkan hal yang menjadi beban pikirannya sejak dulu.
"Kenapa kalian berpisah?"
Menganggukkan kepalanya, Johan sedikit menggigit bibirnya.
"Yang akan ayah katakan ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan, tapi ayah harap kamu bisa menerimanya dengan cukup bijaksana, Lin. Bisakah kamu berjanji?"
Lin menatap wajah ayahnya dan mengangguk mantap. Saat ini, ia sudah lebih siap untuk menerima informasi apapun, mengenai apapun.
"Ya. Aku berjanji."
"Baiklah."
Johan sedikit menarik nafasnya dengan panjang dan menjeda ucapannya.
"Sebenarnya ayah dan ibumu menikah bukan karena cinta. Ayah mengungkapkan ingin memiliki seorang anak dari ibumu, dengan imbalan kalau ayah akan melindunginya dari mantan pacar posesifnya yang ternyata adalah seorang polisi."
"Ibu mengalami kekerasan dari mantan pacarnya?"
Sedikit meremas tangan Lin, Johan bertanya hati-hati.
"Apakah kamu tahu apa pekerjaan ibumu, Lin?"
"Aku hanya tahu kalau dia seorang perawat. Sampai umurku 15 tahun, ibu masih aktif bekerja. Tapi setelah itu, ia jatuh sakit dan harus dirawat di rumah."
Kepala Johan mengangguk. Ibunya Lin adalah salah satu perawat di rumah sakitnya dulu. Ia tidak sengaja bertemu dengan wanita itu ketika berada di parkiran, dan melihatnya sedang ditampar oleh pacarnya yang posesif.
"Intinya, kami membuat suatu perjanjian. Ayah akan membiayai hdupnya sehingga ia tidak perlu bekerja lagi selama beberapa waktu, tapi ia harus memberikan seorang anak untukku."
Mata Lin terlihat mengerjap cepat. "Ibu menyetujuinya?"
Kepala Johan kembali mengangguk. "Ia terpaksa menyetujuinya. Pacarnya cukup berbahaya saat itu, sampai ibumu meminta surat perintah dari pengadilan. Ayah akhirnya membawanya ke rumah dan menikahinya, untuk membuat semuanya menjadi resmi."
"Kemudian apa yang terjadi?"
"Tidak sengaja ibumu bertemu kembali dengan mantannya saat ia datang ke rumah sakit. Mereka bertengkar di parkiran, dan entah bagaimana, pria itu membawa pisau lipat di sakunya. Ia hampir saja menusuk ibumu, tapi untungnya ayah datang dan pisau itu malah menusuk perut ayah dan menyebabkan pendarahan hebat."
"Lalu, apakah pria itu ditangkap? Dia sudah menusuk ayah."
Lin sedikit marah mendengar hal ini. Ada orang yang berani melukai ayahnya dengan sengaja.
"Tentu saja. Kejadian itu disaksikan oleh banyak orang, membuat pria itu dengan mudah diringkus dan ditangkap. Tapi ada hal lain yang sebenarnya lebih penting dari pada itu."
"Saat itu, ibumu terlihat panik dan tambah panik ketika tahu bahwa luka ayah telah sembuh sempurna. Saat itulah, ayah terpaksa sedikit bercerita mengenai diri ayah agar ibumu tidak menceritakan mengenai hal ini ke sembarang orang."
Kejadian ayahnya mengingatkan Lin pada masa kecilnya dulu, ketika ia sempat terluka parah.
Johan menatap anaknya dan pandangan matanya terlihat sedikit menyesal.
"Ayah sedikit mengancamnya. Kalau ibumu membocorkan mengenai hal ini ke orang lain, maka ayah akan menghisap darahnya sampai habis."
Mata Lin melotot mendengar hal itu. Wanita itu menutup mulutnya yang terbuka.
"Ayah! Ayah benar-benar akan melakukan itu?"
Menghela nafas kasar, Johan menggeleng.
"Tentu saja tidak, Lin. Selama ini pun, kaum V hampir tidak pernah mengkonsumsi darah dengan cara menggigit leher manusia secara langsung. Kami memilih untuk menyedotnya lebih dulu dari tubuh manusia dan meminumnya dari kantong darah."
"Oh, benarkah? Hal ini tidak seperti yang aku bayangkan dan tonton di film-film."
"Tontonan banyak merusak otak manusia Lin. Kami kaum yang beradab dan beretika. Banyak dari kami masih berasal dari jaman pertengahan. Tentu saja hal-hal yang seperti itu akan cukup menjijikkan bagi kami, terutama karena kami pun tidak menyukai bau manusia."
Tiba-tiba, ada sesuatu yang mengganjal di benak pria tua itu.
"Oh ya, Lin. Apakah selama ini kamu mengkonsumsi darah manusia juga?"
Tubuh Lin bergidik dengan otomatis mendengar pertanyaan itu.
"Tentu saja tidak. Mendengarnya saja membuatku sudah mual."
Namun tidak lama, wanita itu terdiam dan rona merah perlahan muncul di pipinya.
Menyadari perubahan rona anaknya, membuat Johan penasaran.
"Lin?"
Wanita itu benar-benar merasa malu untuk mengakuinya, apalagi pada ayahnya.
"Sebenarnya, aku pernah 'mencicipi' darah Nate. Sedikit."
Bola mata pria tua itu membulat sempurna. Pasangan kaum V akan saling 'mencicipi' darah masing-masing, ketika ketertarikan di antara mereka sangatlah kuat. Hal itu seolah telah menjadi ritual perkawinan bagi kaum mereka.
Biasanya saat itulah, seorang pria V akan menandai wanitanya sebagai pasangan hidupnya. Dan tanda itu tidak akan hilang sampai wanita itu mati, dan sang pria pada umumnya akan menyusul pasangannya tidak lama kemudian. Ini adalah salah satu cari kematian tidak langsung seorang kaum V. Mati karena patah hati.
Jantung Johan berdebar semangat. Ia sangat ingin tahu perasaan anaknya pada Nathanael.
"Apa yang kamu rasakan saat itu?"
Puterinya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, pikiranku kosong dan-"
Lin tiba-tiba terdiam ketika mengingat kejadian yang sangat memalukan di apartemennya.
__ADS_1
"Lin?" Johan menggenggam tangan anaknya, ia benar-benar sangat penasaran.
Menunduk dalam, wajah puterinya terlihat sangat memerah sampai ke telinganya.
"A- A- Aku hampir memperkosanya."
Dalam hati, Johan bersorak. Setengah mati, ia berusaha mempertahankan ekspresinya agar tidak terlihat terlalu gembira.
Puterinya ternyata memiliki ketertarikan yang sangat kuat pada Nate, dan itu tanpa disadarinya. Johan juga sangat yakin, kalau Nate memiliki perasaan yang sama. Ia dapat merasakannya ketika pria muda itu memucat saat Johan menolak dirinya.
"Kamu tidak jadi memperkosanya?"
Pertanyaan itu membuat Lin langsung menengadah dan merasa malu setengah mati, ketika melihat ayahnya sedang tersenyum memandangnya.
"Ayah!" Bibir Lin terlihat cemberut.
Terkekeh, sang ayah menepuk kepala anaknya dengan sayang.
"Kamu seharusnya memperkosanya saat itu, Lin. Jadi tugas ayah akan lebih mudah."
"Oh Tuhan!"
Lin menyembunyikan mukanya dalam dua tangannya. Ia baru kali ini mendengar ada seorang ayah yang terlihat senang, saat mengetahui kalau puterinya telah melecehkan seorang pria.
"Sudah, jangan dibicarakan lagi. Lebih baik, ayah meneruskan cerita kenapa bisa sampai berpisah dengan ibu."
Ketus, Lin berusaha mengarahkan pembicaraan mereka ke topik semula.
Mendengar hal itu, ayahnya terbahak-bahak. Baru kali ini, Johan merasa sangat gembira dalam hidupnya. Memilki seorang puteri benar-benar hiburan baginya.
Setelah meredakan tawanya. Johan pun menarik nafasnya kembali dengan panjang.
"Yah. Singkatnya setelah ayah mengancam ibumu, dia akhirnya menjadi lebih pendiam. Usia kandungannya saat itu sudah delapan bulan, ketika tiba-tiba kalian menghilang."
"Ibu sama sekali tidak bilang alasannya?"
"Sama sekali tidak. Ibumu bahkan tidak meninggalkan surat atau petunjuk apapun. Sampai sekarang, ayah benar-benar tidak mengerti kenapa ia pergi. Satu-satunya yang terpikirkan adalah bahwa ia takut ketika mengetahui siapa ayah sebenarnya. Dan mungkin saja ia ingin melindungimu dari ayah."
Wanita itu mengangguk pelan. Hal ini mungkin saja, tapi ia tidak akan pernah mengetahuinya.
Ia juga tahu kalau memang ibunya sejak awal tampak berusaha melarikan diri dari sesuatu, dan ternyata sesuatu itu adalah suaminya sendiri.
"Puluhan tahun ayah berusaha mencari kalian, tapi sangatlah sulit. Ibumu pintar untuk menyembunyikan diri, apalagi mengingat ia memiliki relasi di pemerintahan yang dapat membantunya. Pada akhirnya, ayah pun terpaksa meminta bantuan Felix untuk mencarimu."
"Kenapa tidak meminta bantuan Tuan Felix dari awal?"
Wanita itu tidak mengerti, kenapa sepertinya Nate dan ayahnya tampak sungkan untuk meminta bantuan pria berambut pirang itu.
Johan tersenyum bijaksana pada puterinya.
"Tidak semudah itu, Lin. Meminta bantuannya mungkin gampang, tapi sangat sulit untuk membayar jasa Felix. Dan harga jasanya tidak bisa diukur dengan uang semata."
"Aku masih tidak mengerti."
"Ayah pernah mendengar kalau ada kaum V yang harus merelakan darah pasangan hidupnya untuk 'dicicipi' oleh Felix. Apa kamu tahu seberapa tabunya hal itu bagi kaum V?"
Lin menggelengkan kepalanya pelan, membuat senyum Johan semakin melebar.
"Darah bagi kaum V adalah sesuatu yang sakral. Bisa dikatakan, itu adalah pengganti cincin pernikahan di dunia manusia. Seorang V yang mencicipi darah V lain, berarti menyatakan kepemilikan. Kamu mengerti sekarang?"
Informasi ini membuat benak Lin berputar. Berarti hal yang dilakukannya pada Nate saat itu adalah... Mukanya kembali memanas saat menyadari kenyataan ini.
Keduanya kembali terdiam, saat Lin tiba-tiba bertanya.
"Apakah ayah mencintai ibu?"
Johan menatap anaknya dengan sedih. Ia sebenarnya tidak ingin menjawab pertanyaan ini, tapi setidaknya sebelum ia mati, ia berusaha untuk jujur padanya.
"Tidak Lin. Ayah tidak pernah mencintai ibumu."
"Apakah ibu mencintai ayah?"
Ayahnya menggeleng pelan. "Ayah juga yakin tidak. Karena sepanjang pernikahan kami yang singkat, kami sama sekali tidak pernah tidur dalam satu kamar yang sama. Setahu ayah, ibumu masih mencintai mantan pacarnya yang posesif itu."
Pembicaraan mereka terputus ketika tiba-tiba terdengar deringan ponsel.
Setelah mendengarkan beberapa saat, Lin menyadari kalau deringan itu berasal dari tasnya.
Ia segera membuka tas ranselnya dan mengeluarkan ponselnya.
Dahinya mengernyit ketika melihat ID si penelepon, dan dengan pelan Lin pun me-reject panggilan tersebut.
Melihat kelakukan anaknya, Johan bertanya penasaran.
"Siapa, Lin?"
Sebelum puterinya dapat menjawab pertanyaannya, si penelepon belum menyerah dan ponselnya pun berdering kembali.
Kesal, Lin mematikan teleponnya dan menyimpannya kembali ke tas ranselnya.
"Siapa itu, Lin?" Ayahnya masih bertanya penasaran.
Menghela nafas panjang, Lin menjawab singkat. "Nate."
Sang ayah mengerjapkan matanya. "Kenapa kamu tidak mau mengangkatnya?"
Puterinya menopangkan dagu ke kepalan kedua tangannya. Bibirnya cemberut.
"Aku ingin menghukumnya. Biar dia bisa merasakan rasanya diabaikan. Sekali-kali, pria itu memang harus diberi pelajaran!"
Alis Johan naik dan bibirnya tersenyum kecil. Tampaknya, ia akan dapat menikmati sedikit drama sebelum menjemput ajalnya nanti.
Hati Johan tidak hentinya mengucap syukur telah diberikan kesempatan untuk dapat melihat anak-anak yang sangat disayanginya ini.
Tinggal satu orang yang ingin ditemuinya lagi.
__ADS_1
Marcus. Anaknya yang paling setia.