
Kedua pria tinggi itu baru kembali ke lantai 8, ketika pintu ruangan meeting terbuka. Lin tampak keluar dari ruangan dan rautnya tampak bahagia ketika melihat Nate.
"Nate!"
Sedikit berlari, Lin menubruk tubuh pria itu dan memeluknya erat.
Mendapatkan pelukan yang sangat dibutuhkannya saat ini, membuat Nate balas memeluk dengan erat. Ia membutuhkan kekuatan dari wanita di pelukannya ini.
Dalam diam, Felix perlahan masuk ke ruangan meeting yang masih terbuka dan keluar kembali tidak lama kemudian.
"Nathanael. Master Johan ingin bertemu denganmu."
Perlahan, Nate melepaskan pelukan dari Lin. Ia mengusap kepala wanita itu.
"Aku tinggal dulu."
Tersenyum lebar, Lin pun mengangguk. Ia memperhatikan Nate masuk ke ruangan itu dan menutup pintu di belakangnya.
"Nona Alina Johan." Suara yang dalam itu membuat Lin menoleh sambil masih tersenyum.
Melihat wanita di depannya, Felix akhirnya mulai paham kenapa Nate sampai bisa melupakan tujuan hidup sebelumnya hanya untuk wanita ini. Pria itu balas tersenyum.
"Mari ikut saya Nona. Dari pada kita bosan menunggu di sini, saya akan tunjukkan pada Anda betapa megah dan luar biasanya gedung milik saya ini."
Felix membentangkan kedua lengannya ke kiri dan kanannya. Wajahnya terlihat arogan, tapi pria itu mengedipkan salah satu matanya.
Terkekeh, Lin pun mengangguk. Ia cukup menyukai Felix.
"Silahkan Tuan Felix."
Mereka berdua pun akhirnya berjalan meninggalkan lantai 8, dengan Felix yang terlihat bercoleteh menceritakan mengenai sejarah bangunan yang dimilikinya ini.
Sementara itu di dalam ruangan, Nate dan Johan masih saling memandang dalam diam.
Pria tua itu telah duduk kembali di kursi rodanya.
"Nathanael. Bagaimana kabarmu?"
Suara Johan terdengar serak dan sakit. Berbeda jauh saat mereka terakhir kali bertemu. Sebelumnya, pria tua itu memiliki vitalitas dan semangat hidup yang selalu tinggi.
"Baik. Terima kasih."
Johan menganggukkan kepalanya pelan. "Mana Marcus?"
"Saya tidak membawanya sekarang, tapi dia ingin bertemu dengan Anda. Mungkin kita bisa mangatur pertemuan berikutnya di lain waktu."
Pria tua itu kembali menganggukkan kepalanya. Tangan di pegangan kursinya mengerat. Ia tidak punya banyak waktu lagi.
Mereka pun terdiam kembali.
Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakan Nate pada Johan, tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana.
"Nathanael." Suara Johan memecah keheningan.
Nate memandang pria tua di depannya. Sorot mata Johan terlihat tajam.
"Apakah Lin bersamamu?"
Pertanyaan yang sifatnya sangat langsung itu membuat Nate terdiam.
"Apakah kalian bersama?" Johan menuntut jawaban dari Nate.
Ragu-ragu Nate menjawab. "Saya tidak tahu."
Tanpa terlihat oleh Nate, Johan mengeratkan pegangannya kembali ke kursinya. Ia sudah tidak punya banyak waktu!
"Apa maksudmu, kamu tidak tahu?"
"Saya tidak tahu bagaimana perasaan Lin. Saya tidak mau memaksanya."
Nate dengan jujur mengungkapkan pikirannya.
"Sampai kapan kamu mau menunggu?"
"Sampai Lin siap."
"Dan kapan itu?"
"Saya tidak tahu. Itu semua tergantung pada Lin."
Johan mendengus dan membuang mukanya. Ia pun membalikkan kursinya dan perlahan mengarahkannya ke pintu keluar.
Melihat Johan yang akan keluar, membuat Nate sedikit panik. Ia sama sekali belum mengutarakan mengenai keinginannya untuk bersama dengan puteri dari pria tua itu.
Nate berencana akan menandai Lin lebih dulu, meski hubungan mereka masih belum jelas. Dan hal ini, mau tidak mau harus diketahui oleh Johan.
__ADS_1
"Tunggu Master! Mengenai hal ini-"
Johan menghentikan kursinya dan hanya sedikit menoleh.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian."
Perkataan Johan yang sangat tegas dan mutlak itu, membuat Nate tertegun dan mukanya memucat dengan cepat.
"Tunggu. Sebentar."
Nate segera mengejarnya dan berdiri di hadapan pria tua itu. Mencegatnya untuk keluar.
"Kenapa? Apa alasannya?"
Johan memandang pria muda di depannya dengan pandangan sinis.
"Kamu masih tidak tahu jawabannya?"
Mengerjapkan mata, Nate bertanya ragu-ragu. "Apakah karena saya membenci Anda?"
Johan mendengus sinis. "Hanya itu yang ada di pikiranmu?"
"Atau karena keinginan saya untuk mati sebelumnya?"
Mendengar itu, Johan menatapnya dengan marah.
"Aku tidak perlu mendengarkan omong kosongmu lagi, Nathanael! Seorang pria pengecut seperti dirimu, tidak pantas untuk mendampingi puteriku!"
Setelah mengeluarkan kata-kata kasar itu, Johan pun langsung mendorong kursinya kuat dan segera keluar dari ruangan. Meninggalkan Nate yang membeku di dalam.
Nate masih mematung di tempatnya, ketika ia akhirnya merasakan salah satu lengannya dipegang dengan lembut oleh seseorang.
"Nate?"
Menoleh ke sampingnya, Nate melihat Lin yang memandangnya dengan bertanya-tanya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Mengerjapkan matanya, Nate akhirnya sadar bahwa ia masih berada di tengah ruangan meeting. Johan ternyata telah meninggalkannya sendirian dari tadi.
"Ma- Mana ayahmu?" Suaranya sedikit tercekat ketika bertanya.
"Tuan Felix telah mengantarkannya untuk beristirahat tadi. Ayah terlihat capek sekali dan memintanya untuk diantar ke kamar."
"Master Johan menginap di sini?"
"Ya. Ternyata beberapa lantai dari gedung ini digunakan oleh Tuan Felix sebagai tempat penginapan bagi tamu-tamu khusus."
Lin mendapatkan informasi dari Felix langsung, bahwa pria itu menerima tamu-tamu khusus dari kaum V yang memang memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang hanya dapat diberikan oleh pria bermata biru tersebut.
Informasi ini membuat Nate sedikit lega. Setidaknya ia sudah tahu keberadaan pria tua itu, memungkinkannya untuk dapat bertemu kapan saja, yang tentunya dengan seizin Felix sebagai pemilik tempat.
Ia akhirnya memutuskan untuk menunda keinginannya mengkonfrontir perkataan pria tua tadi, yang sangat menyinggung harga dirinya hingga Nate tidak bisa berkata-kata.
Tidak pernah seumur hidupnya ia dipanggil sebagai seorang pengecut, dan ia pun tidak pernah menjadi pengecut. Dan ini dibuktikan dari karir perangnya yang cemerlang selama ini.
Menarik nafas panjang, Nate mencoba untuk mengatur emosinya.
Kata-kata Johan membuat hatinya sakit. Bagaimana pun bencinya ia pada Johan, pria tua itu adalah mentor dan sosok pengganti ayahnya selama ini.
Nate mencoba menelaah kekurangan dari dirinya, yang membuat Johan terlihat kecewa dan menganggapnya bukan pria yang tepat untuk puterinya.
Dari perkataannya tadi, tampaknya alasan Johan menolak dirinya bukanlah hal yang menjadi kekhawatiran Nate di awal, melainkan hal lain yang sama sekali belum dimengertinya.
Apakah fisiknya? Ataukah kekayaannya? Atau jangan-jangan, Johan sudah memiliki calon?
Pikiran-pikiran ini membuat emosi Nate sedikit tersulut, meski ia sebenarnya adalah orang yang sangat bisa mengelola emosinya dengan baik.
Sebagai seorang bangsawan, ia diajarkan untuk memiliki harga diri yang tinggi. Dan perkataan Johan tadi, sudah berhasil melukai harga dirinya hari ini.
"Nate?"
Wajah pria itu yang murung membuat Lin khawatir. Ia penasaran mengenai pembicaraan antara Nate dengan ayahnya tadi, tapi tidak mau mencampurinya. Untuk saat ini.
Menoleh padanya, tiba-tiba Nate mencium kening Lin cukup lama. Tangan hangat pria itu sedikit mengelus leher Lin. Setelah itu, ia menggenggam tangan wanitanya dengan erat.
"Kita pulang sekarang?" Nate tersenyum pada Lin.
Lega, wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Aku tadi sudah berpamitan dengan Tuan Felix, dan dia mengatakan kalau urusannya sudah selesai, kita boleh langsung pergi."
Nate mengusap kepala LIn. Ia tahu kalau Felix adalah pria yang sangat praktis dan tidak mau repot dalam menjamu tamunya. Kalau bisa, setelah urusan selesai maka pria itu pun akan langsung mengusir mereka dari tempatnya.
Bergandengan tangan, mereka pun berjalan menuju mobil Nate yang terparkir di basement.
__ADS_1
Setelah mereka berada di jalanan yang cukup sepi, Nate pun akhirnya sedikit menoleh pada wanita di sebelahnya.
"Jadi, bagaimana pertemuan kalian tadi?"
Wajah Lin berubah sumringah, kebahagian terpancar kuat dari seluruh tubuhnya.
"Sangat menyenangkan. Dia banyak menceritakan mengenai masa-masa di saat aku masih belum lahir, mengenai hal-hal yang dilakukannya saat itu. Dan aku ternyata sudah dapat merasakan dan mengingatnya sejak dalam kandungan."
Nate menoleh kembali ke arah jalanan, karena secara tiba-tiba ada pengendara mobil yang memotong jalur dengan seenaknya.
"Sejak di kandungan?" Akhirnya Nate bertanya setelah terdiam sebentar.
"Ya."
Pandangan Lin ke arah depan tapi matanya menerawang, mengenang kembali pertemuan dengan ayahnya tadi.
"Ketika aku bersentuhan dengannya, aku tiba-tiba mengingat semua perkataan yang pernah diucapkannya sejak aku belum lahir. Ternyata kata ayah, seorang bayi dari kaumnya sudah akan dapat merespon suara-suara dari luar sejak berumur kurang dari 2 bulan."
Tanpa sadar, wanita itu meletakkan salah satu tangannya di paha Nate. Ia meremasnya.
"Dia selalu menyenandungkan lagu-lagu untukku. Yah, meski suaranya tidak terlalu merdu."
Lin terkekeh ketika mengatakannya.
Pria yang sedang mengemudi itu menghentikan mobilnya ketika mereka akhirnya berada di persimpangan lampu merah.
Lin menoleh pada Nate tepat ketika pria itu melihat padanya. Mata wanita itu basah dan senyumnya tampak bahagia.
"Dia sangat sayang padaku, Nate. Dan selama ini, dia terus mencariku. Ayah memutuskan untuk menemui Tuan Felix karena waktunya yang sudah sangat terbatas."
Mata Lin bergerak-gerak ketika menatap wajah pria di depannya.
"Terima kasih Nate, telah mempertemukan aku dengannya."
Bertumpu pada tangannya yang sedang memegang paha pria itu, Lin mengecup pipi Nate dengan penuh perasaan. Hal ini membuat hati Nate terasa sedikit terobati.
Tangan Nate terangkat membelai kepala Lin. Ia pun mencium dahi wanita di depannya ini dengan penuh sayang. Betapa ia berharap Lin dapat segera membalas perasaannya.
Dalam hatinya, akhirnya Nate memutuskan akan membicarakan hal ini secara lebih serius dengan Lin. Minggu depan sepertinya waktu yang tepat. Ia akan mempersiapkan kejutan istimewa bagi wanita itu dan akan menjadikannya sebagai miliknya seorang.
Beberapa menit kemudian, mereka pun telah berada di lorong apartemen Lin. Nate berniat akan segera pulang setelah ia memastikan wanita itu sampai dengan baik di kamarnya.
Keduanya terlihat terkejut, ketika melihat ada sebotol anggur dan sebuket bunga mawar berwarna merah tergantung di pintu apartemen Lin.
Naluri liar Nate segera bangkit, membuat matanya menghitam. Ia mencium jelas aroma V yang datang dari kedua benda di depannya. Itu bau laki-laki yang sama seperti tadi sore.
Ia masih bisa mengontrol suaranya, ketika bertanya pada Lin yang juga tampak kaget.
"Dari siapa itu, Lin?"
Lin menarik kartu yang tersemat di buket bunga yang masih segar itu.
Dear Alina cantik,
Kapan-kapan aku ingin mengajakmu berkencan.
Love,
-D
"D? Dominic?" Sahut wanita itu pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Telinga Nate yang mendengarnya, membuat pria itu langsung menoleh dengan cepat.
"Siapa katamu tadi?"
Lin menoleh pada Nate yang berdiri di sampingnya. Wanita itu menunjukkan kartu yang sedang dipegangnya.
"Dominic. Tetangga baruku."
Dengan kaku, Nate mengambil kartu itu dari tangan Lin. Ini terlalu kebetulan.
Bersamaan, terdengar pintu yang terbuka di belakang mereka.
"Alina! Akhirnya kamu pulang juga."
Terdengar suara riang seorang pria. Suara yang sangat dikenali oleh Nate.
Pria berambut merah itu menyapa dengan gembira wanita yang sejak tadi ditunggunya, namun langsung terdiam ketika mencium aroma permusuhan dari kaumnya sendiri.
Waspada, ia meneliti pria berambut hitam yang sedang berdiri membelakanginya. Raut mukanya memucat, ketika ia mulai mengenali siapa pria di depannya itu.
Perlahan, Nate membalikkan badannya. Ia bertatapan dengan pria berambut merah dan bermata biru elektrik.
Seumur hidupnya, Nate tidak akan pernah melupakan wajah pria itu. Wajah orang yang telah merenggut dengan paksa nafas kehidupannya dulu.
__ADS_1
"Allard." Bisik Nate dingin.