Madness

Madness
Chapter 67


__ADS_3

Selama berada di dalam mobil, badan pria itu gemetar ketika menyadari kalau isterinya sama sekali belum berhenti pendarahan meski luka-luka di tubuhnya mulai menutup.


Mengikuti insting dirinya, Nate menelentangkan tubuh isterinya dan menyangga lehernya di pahanya, membuat wajah wanita itu tertengadah ke atas dan mulutnya sedikit terbuka.


Pria itu menggulung salah satu lengan kemejanya, dan dengan perlahan menggigit lengannya. Tampak darah hitam keluar dari lukanya yang terbuka.


Melihat dari kaca spion, Marcus sangat kaget melihat hal yang dilakukan oleh Nate.


"Tuan! Apa yang sedang Anda lakukan?"


"Kau diam saja, Marcus dan fokuslah menyetir."


Suara Nate yang dingin membuat Marcus menutup mulutnya. Baru kali ini, ia mendengar atasannya menggunakan intonasi seperti itu pada dirinya.


Memegang lukanya yang terbuka, Nate berusaha mengeluarkan darahnya dan mengucurkannya ke mulut isterinya yang terbuka.


Ia melakukan itu beberapa saat, dan baru berhenti ketika mulut isterinya sudah penuh. Pria itu mengatur posisi isternya agar darah itu dapat mengalir menuruni tenggorokannya.


Efek dari darah yang diberikan suaminya mulai terlihat, ketika pendarahan Lin tampaknya mulai berhenti dan tidak sederas sebelumnya.


Tangan pria itu gemetar saat mengusap perut Lin yang menonjol. Ia tidak tahu apakah calon anaknya dapat bertahan di dalam sana.


Pria itu menengadah ke arah Marcus yang menyetir di depannya.


"Marc. Tolong siapkan supply darah B+ dari Yayasan Alexander Johan atau dari Rumah Sakit mana pun. Dan cari darah yang masih murni, belum terproses."


Marcus menatap atasannya dari kaca spion, dan melihat raut Nate yang sama sekali tidak baik. Mata pria itu nanar dan pandangannya seperti orang gila.


Asistennya mengangguk pelan. "Anda tenang saja, Tuan. Saya akan segera mengurusnya."


Kepala Nate berpaling dan memandang isteri di pangkuannya yang terlihat tertidur tenang. Tidak seperti hatinya yang saat ini sangat gelisah, dan merasa takut.


"Terima kasih, Marc. Terima kasih..."


Suara atasannya yang melemah, membuat Marcus kembali memandang Nate dari kaca spion. Kepala pria itu terlihat tertunduk dalam sambil menatap isterinya.


Memegang kemudi di tangannya dengan erat, pria dingin itu semakin memacu mobilnya dan berusaha untuk segera sampai ke penthouse Nate secepat mungkin.


Sampai di penthouse Nate, Marcus pun segera pergi kembali, meninggalkan pria itu bersama dengan isterinya.

__ADS_1


Nate pun langsung membawa isterinya ke dalam kamar mandi, dan meletakkan tubuh Lin dengan sangat hati-hati di bathtub.


Ia membuka seluruh pakaian isterinya dan cukup lega, saat mengetahui luka-luka wanita itu yang mulai menutup seluruhnya, meninggalkan kulitnya yang mulus seperti semula.


Dengan perlahan, ia membersihkan darah dari tubuh isterinya dengan air shower hangat dan kembali terkejut saat mengetahui kalau masih ada darah yang keluar dari tubuh bagian bawah LIn. Wanita itu kembali mengalami pendarahan.


Selesai membersihkan tubuh Lin, suaminya langsung membungkus isterinya dengan handuk tebal dan memakaikan jubah mandinya. Ia lalu memangku hati-hati tubuh wanita itu dan membaringkannya di tempat tidurnya.


Pria itu pun langsung kembali ke kamar mandi dan beberapa waktu kemudian, ia keluar sambil membawa sebuah kantong yang berisi darah berwarna hitam. Terlihat ada peralatan infus yang ia bawa di tangannya.


Perlahan dan hati-hati, Nate menyuntikkan jarum infus yang tebal itu di lengan Lin dan mengatur kantong itu di atas kepala tempat tidurnya. Ia pun memastikan kalau darah itu mengalir dengan lancar ke dalam tubuh isterinya.


Setelah memastikan bahwa transfusi itu berjalan tanpa hambatan, pria itu perlahan membuka handuk yang menutupi tubuh isterinya.


Tampak masih ada sedikit bercak darah di bagian bawah tubuh wanita itu, tapi pria itu tahu kalau efek darah yang diberikannya membuat pendarahan isterinya dapat berhenti dengan sangat cepat.


Matanya memandang perut isterinya yang terlihat menonjol, dan ia pun meletakkan tangannya di sana, berusaha menyalurkan kehangatannya ke dalamnya.


Pria itu dengan perlahan meletakkan kepalanya di atas perut Lin dan menutup kedua matanya. Hatinya mulai merasa tenang, saat ia dapat mendengar degupan jantung kecil yang cukup teratur dari dalamnya. Tampaknya kondisi anaknya masih cukup aman meski degupannya tidak sekuat biasanya.


Penuh perasaan, Nate mencium perut isterinya dalam dan mengusap-usap lembut bagian itu.


Meski tahu kalau isterinya dapat menyembuhkan dirinya dengan cepat, tapi pria itu sangat sadar dengan kondisi Lin saat ini. Wanita itu akan sangat rentan, terutama karena sedang mengandung anak dari benih V yang juga mengkonsumsi darah.


Jika tidak diberikan asupan darah yang banyak dan cepat, tubuh wanita itu lama-lama akan melemah dan tidak mampu memperbaiki dirinya lagi. Tubuhnya akan semakin terkikis, dan darahnya akan segera dihisap habis oleh janinnya yang juga sedang kritis saat ini.


Nate pun bangkit dari duduknya dan baru menyadari kalau kemeja dan celananya telah basah dan kotor dari darah isterinya. Ia baru akan menuju kamar mandi ketika ponselnya terdengar berbunyi dari saku celananya.


Memandang isterinya sebentar, ia pun segera menuju kamar mandi dan menutup pintunya.


"Halo."


Ekspresi Nate terlihat kaku ketika mendengar penjelasan dari si penelepon. Pria itu mengurut keningnya yang terasa sangat sakit saat ini.


"Kamu atur saja, Marc. Pergilah ke sana dan dapatkan darahnya. Aku akan mengusahakan sesuatu agar Lin dapat tetap bertahan."


Pria itu menutup kedua matanya dan tersenyum saat mendengarkan ceramahan pria yang ada di seberang telepon.


"Jangan terlalu khawatir seperti itu, Marc. Lin sudah cukup baikan saat ini. Tubuhnya mulai menyembuhkan diri dan pendarahannya juga sudah berhenti. Kamu fokus saja untuk mendapatkan darahnya di sana."

__ADS_1


Tusukan rasa sakit di pelipisnya, membuat alis pria itu berkerut dalam dan ia mengurut keningnya kembali dengan kuat.


"Aku tahu, Marc. Aku akan 'makan'. Segeralah pergi sekarang dan dapatkan darahnya."


Sedikit tidak sabar, pria itu menutup teleponnya dan perlahan ponsel itu pun jatuh ke lantai.


Nate merasakan tubuhnya sempoyongan dan pria itu dengan cepat menyenderkan punggungnya ke dinding kamar mandi, mencegahnya untuk terjatuh.


Pria itu berusaha mengatur nafasnya dan setelah merasa lebih kuat, ia segera menuju salah satu dinding kaca yang ada di dalam kamar mandi yang luas itu.


Dinding kaca itu memantulkan bayangan dirinya yang berantakan. Wajahnya terlihat sangat pucat dan lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya. Bibirnya berwarna keabuan.


Menekan pelan tangannya di dinding kaca, perlahan benda itu terbuka dan menampilkan beberapa kantong darah yang telah disimpannya untuk malam nanti. Dinding kaca itu merupakan lemari pendingin khusus yang dibuat oleh Nate untuk menyimpan 'makanan'nya.


Tangan gemetar pria itu meraih salah satu kantong dan dengan perlahan ia pun mulai mengkonsumsinya langsung.


Membuang kantong darah yang telah kosong ke tempat sampah, pria itu merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia pun segera membuka bajunya dan membersihkan diri di bawah shower.


Kembali ke dalam kamar, pria itu menatap isterinya yang terlihat masih tertidur tenang.


Ia pun keluar kamar tidur sambil membawa kantong sampah yang berisi baju isterinya dan juga dirinya. Nate memilih untuk membuang baju-baju itu dibanding mencucinya. Ia tahu bekas darahnya tidak akan hilang meski diusahakan untuk dicuci bersih.


Memastikan semuanya telah beres, pria itu kembali ke kamar tidurnya dan memeriksa kondisi isterinya. Ia pun mengganti handuk yang membalut tubuh wanita itu dengan handuk bersih.


Sekuat tenaga Nate berusaha untuk tidak tidur karena ia tahu ketika ia menutup mata, maka ia akan langsung masuk ke dalam hibernasi. Ia tidak mau meninggalkan isterinya saat ini.


Informasi dari Marcus tadi membuatnya mengambil keputusan.


Ia akan menggunakan darahnya sendiri untuk memberikan transfusi pada isterinya, selama Marcus belum berhasil mendapatkan darah yang dibutuhkannya.


Tangannya menggenggam jari-jemari isterinya yang masih terasa dingin dengan erat. Ia tahu kondisi Lin akan berubah-ubah selama beberapa jam ke depan, membuatnya belum dapat tenang saat ini.


"Bertahanlah, sayang."


Pria itu mendekatkan kepalanya ke wajah isterinya yang terlihat damai.


"Kamu pasti bisa bertahan, Lin. Bertahanlah demi aku dan juga calon anak kita."


Nate mencium kening Lin dengan cukup lama. Tampak setitik air mata jatuh ke pipi isterinya.

__ADS_1


__ADS_2