
Terdengar suara tamparan keras yang menggema di ruangan yang luas itu.
Tamparan yang keras itu meninggalkan jejak berwarna merah di pipi seorang anak berumur 12 tahun, yang terlihat sedang berdiri dengan kaku di tengah ruangan.
Ekspresinya sama sekali tidak menampilkan apapun. Ia hanya menurunkan pandangannya dan terdiam seribu bahasa.
"Sudah mama katakan, jangan pernah bergaul dengan anak lelaki dari keluarga Allard!"
Melihat anak itu diam saja, wanita di depannya kembali melayangkan tamparan di pipinya, persis di tempat yang sama dan membuat sudut bibir anak itu pecah dan berdarah.
"Jawab mama, Nathanael!"
"Ya mama. Maafkan saya."
"Sekarang segera ke ruang belajar dan temui Tuan Oscar! Dia sudah menunggumu dari tadi."
"Tapi mama, saya baru saja pulang berlatih-"
Sebelum anak itu dapat menyelesaikan kalimatnya, ia kembali mendapatkan tamparan yang sama, di tempat yang sama kembali. Kali ini, bibirnya benar-benar robek.
Ketika kepalanya masih berpaling, mata anak itu nanar memandang lantai.
Sudah seharian ini, ia berlatih fisik bersama Johan. Ia juga belajar mengenai strategi dan taktik di medan perang. Tubuhnya benar-benar terforsir dan lelah. Dan sekarang ia masih harus belajar lagi di saat otaknya sama sekali sudah tidak bisa berfikir?
Tubuhnya penuh dengan lebam-lebam berwarna biru dan bagian bawah matanya sudah menghitam karena kelelahan amat sangat, yang harus ditanggung anak umur 12 tahun.
Ia tadi hanya berhenti sebentar dan menyapa Dominic ketika bertemunya di jalan. Sangat sial baginya, saat ibunya yang baru pulang dari kota melihatnya melalui jendela kereta kuda.
"Kamu tidak punya hak untuk memilih, Nathan! Kamu hidup hanya untuk keluarga D'Axelle! Jangan pernah mempermalukan nama keluarga. Ingat itu baik-baik."
Sepanjang hidupnya dari sejak ia kehilangan ayahnya 8 tahun yang lalu, Nathanael telah mendapatkan tamparan demi tamparan di wajahnya sampai ia sudah sangat terbiasa.
Sampai suatu ketika, ia benar-benar mendapatkan satu tamparan terakhir di hidupnya.
"Kamu benar-benar sampah, Nathan! Kamu telah mempermalukan nama keluarga D'Axelle!"
Baru kali inilah, seseorang yang bernama Nathanael akhirnya berani untuk mencoba menyuarakan pendapatnya pada ibunya.
"Mama. Apakah mama sama sekali tidak kasihan pada anakmu? Sayalah yang telah menjadi korban di sini. Coraline dan Nicholas adalah isteri dan anak saya sendiri! Kenapa mama-"
Kembali, pria itu merasakan tamparan yang benar-benar keras di pipinya. Ibunya bahkan kali ini dengan histeris meninju dan memukul badan anaknya sendiri.
Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu berdiri dengan nafas terengah-engah. Ia telah menghajar anak lelakinya, dan anak itu masih tetap berdiri di tempatnya dengan kaku dan terdiam seribu bahasa. Sama sekali tidak mengatakan apapun.
Luka-luka cakaran dari tangannya terlihat mengeluarkan darah kehitaman di wajah anaknya dan meninggalkan jejak darah di kemejanya yang berwarna putih.
Wanita itu akhirnya berbalik, sama sekali tidak mau memandang anak lelaki satu-satunya itu. Ia merasa jijik dengan anaknya sendiri, yang bahkan memiliki darah berwarna kehitaman.
"Pergilah Nathan. Kamu bukan keluarga D'Axelle lagi. Kamu sama sekali tidak berguna."
Perkataan dari ibunya membuat pria itu menutup kedua matanya. Kepalanya tertunduk dengan dalam. Akhirnya, ia pun membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Maafkan saya yang telah menjadi anak yang tidak berbakti. Saya akan pergi."
Itu adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan ibunya. Sejak saat itu, Nathanael pergi tanpa pernah menoleh lagi. Ia bahkan meninggalkan estate yang telah dibangunnya sendiri dengan tanpa membawa apapun dari sana.
Ia benar-benar pergi hanya dengan membawa baju yang sedang dipakainya saja. Dan kakinya pun berjalan entah kemana, sampai ia berhenti di suatu tempat.
Berdiri di padang rumput yang luas itu, Nathanael memandang kejauhan. Kakinya mulai melangkah ke depan, dan ia pun terlihat sedang berdiri di tepi jurang tidak berdasar.
Raut muka pria itu terlihat datar dan pandangannya kosong. Ia benar-benar tidak merasakan apapun saat ini. Ia hanya ingin mati, mati dan meninggalkan dunia.
Bukan hanya ingin menyusul keluarganya ke alam baka, tapi ia juga benar-benar ingin pergi meninggalkan dunia yang sangat dibencinya saat ini.
Selama hidupnya, ia merasa sebagai seseorang yang sama sekali tidak berguna. Tidak ada satu pun keberhasilan yang pernah diraihnya membuatnya merasa bahagia. Ia memperolehnya hanya karena ia memang dituntut untuk mendapatkannya.
Saat seseorang memberikan pujian untuknya, ia sama sekali tidak merasakan apapun. Hatinya telah mati dan membeku, karena orang yang ia harapkan memberikan apresiasi pada dirinya sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai seorang manusia.
Ia hanyalah alat yang digunakan keluarganya untuk mempertahankan nama besar D'Axelle yang agung selama ini.
Hal yang mungkin sedikit membuatnya bahagia adalah ketika ia dapat memiliki seorang anak dari isterinya. Mereka juga hidup dengan cukup harmonis. Setidaknya, pria itu merasa dapat berteman dengan isterinya dan bersiap menghabiskan sisa hidupnya dengan wanita itu.
Dan sekarang, ia pun telah kehilangan keduanya. Ia tidak memiliki apapun lagi di hidupnya.
Merasakan semilir angin menerpa wajahnya, pria itu menutup kedua matanya.
Keinginan untuk mati itu kembali datang, dan datang dengan sangat kuat. Kakinya pun semakin mantap mulai melangkah kembali untuk mendekati tepi jurang.
Nathanael.
Nathanael.
Kembali terdengar suara seseorang yang sama sekali tidak dapat dilihatnya. Suara itu terdengar sayup-sayup dan seperti suara seorang wanita.
"Coraline?"
Tiba-tiba, benaknya dipenuhi dengan bayangan-bayangan mengerikan ketika isteri dan anaknya dibantai di depan matanya sendiri.
Dengan mata membelalak dan tubuh yang tidak bisa bergerak, ia hanya bisa menyaksikan ketika leher isterinya disayat dan terjatuh dengan tubuh bersimbah darah.
Matanya pun terlihat nanar saat bayangan anak lelakinya yang terbujur kaku dan menatap dirinya dengan matanya yang berwarna kelabu. Mata yang sama sekali tidak terlihat hidup.
"Nicholas?"
Bayangan-bayangan itu dengan cepat mengelilingi dirinya, membuat pemandangan di sekitar pria itu berwarna gelap dan mulai membuat kepalanya terasa sakit.
"Tidak! Hentikan!"
Telinganya berdenging dan ia merasa mendengar anak dan isterinya berteriak menyalahkan dirinya sebagai seorang suami dan juga ayah yang sama sekali tidak berguna, karena tidak berhasil melindungi keluarganya sendiri.
Kedua mata pria itu mengeluarkan air mata. Raut mukanya terlihat kesakitan.
"Maafkan aku! Maafkan aku!"
__ADS_1
Pria itu akhirnya menjerit dan ia jatuh berlutut sambil memegang kepalanya.
Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dan pria itu menutup kedua matanya erat. Kepalanya benar-benar terasa sangat sakit dan akan pecah.
"Maafkan aku..."
Secepat datangnya, tiba-tiba bayangan-bayangan mengerikan itu menghilang dan ia merasakan sesuatu yang dingin mengalir di pipinya.
Refleks, ia mengusap pipinya dan melihat cairan berwarna bening di ujung jarinya. Air?
Nate.
...lah.
Kembali terdengar suara yang sayup-sayup itu. Hanya saja, kali ini ia terlihat berdiri di sebuah lapangan yang berwarna hijau dan sangat luas.
...ngunlah. Nate.
Lagi ia mendengar suara itu, tapi ia tidak bisa melihat seorang pun di sekitarnya.
Dari kejauhan, tiba-tiba ia mendengar suara tawa yang riang. Tawa seorang wanita dan anak kecil yang terlihat sedang duduk di hamparan rumput tebal yang luas itu.
Melihat pria itu yang sedang berdiri menatap mereka, wanita itu berhenti dari aktivitasnya dan memandang pria itu.
Nathanael tidak bisa melihat jelas wajahnya, tapi ia bisa melihat rambut wanita itu yang dikuncir kuda dan tampak melambai-lambai tertiup angin.
Ia melihat wanita itu melambaikan tangan dan bibirnya tersenyum padanya.
Bangunlah, Nate.
Suara itu terdengar semakin jelas, membuat pria itu kembali menolehkan kepalanya ke kiri dan kanannya, tapi sama sekali tidak menemukan apapun.
Ia kembali mengarahkan pandangannya ke wanita di depannya, yang kali ini tampak sedang memangku seorang anak perempuan kecil di tangannya. Wajah wanita itu samakin lama semakin jelas dapat dilihatnya. Ia masih tetap tersenyum padanya.
Aku mencintaimu.
Kedua mata pria itu terbuka lebar, ketika ia akhirnya dapat melihat seraut wajah seorang wanita yang entah mengapa membuat hatinya tiba-tiba terasa sangat hangat.
Dadanya dipenuhi oleh gelombang kebahagiaan yang tidak terkira. Baru kali ini sepanjang hidupnya yang terasa menyedihkan, pria itu dapat merasakan yang namanya bahagia.
Pria itu merasa telah menemukan belahan jiwanya. Ia akhirnya memiliki dorongan dan keinginan kuat untuk hidup, agar mendapatkan cinta dari seseorang. Dan hanya orang itu.
Bangunlah, Nate. Aku mencintaimu.
Air matanya kembali menetes. Kakinya baru mau melangkah mendekat, ketika pria itu merasakan cahaya di sekelilingnya bersinar hangat dan sangat menyilaukan, membuat kedua matanya otomatis menutup. Ia sama sekali tidak bisa melihat apapun saat ini.
Masih menutup matanya dengan rapat, ia merasakan kehangatan menerpa permukaan kulitnya. Samar-samar, ia juga dapat mencium wangi familiar di hidungnya.
Perlahan, pria itu membuka matanya yang berwarna kelabu muda dan mendengar suara kecil yang sama sekali asing di telinganya.
"Pa-pa?"
__ADS_1