
"Nate."
"Nate."
"Nate. Bangun."
"Hmmh..."
Dengan malas, mata Nate terbuka perlahan. Di depannya terpampang seraut wajah seorang wanita bermata besar dan berbibir sedikit tebal.
Tersenyum, pria itu meraih wanita yang sedang memandanginya dan mulai menciuminya.
"Lin..."
Mulutnya sibuk menciumi wajah wanita di bawahnya dan perlahan tangannya pun mulai memasuki pakaian wanita itu.
Menemukan yang dicarinya jari-jemari pria itu pun dengan lembut mengusap dan meremas benda itu secara konstan.
"Hmmh... Nate..."
Pria itu malah semakin menyurukkan kepalanya ke dada wanita itu dan mulai menciumi benda yang tadi dipegangnya dari balik baju wanita itu.
"Nate... Nate..."
Salah satu tangannya mulai merayap naik ke paha Lin dan dengan mantap menuju ke balik celana tidurnya, ketika tiba-tiba tangannya ditahan dan rambutnya ditarik.
"Nate!"
Menengadah, Nate melihat wajah Lin sudah memerah dan sedikit gemas ketika memandang pria di depannya.
Pakaiannya tampak basah dengan air liur di bagian yang tadi dicium pria itu, membuat bentuk benda di dalamnya tercetak jelas.
Melihat pemandangan yang seksi itu, tangan Nate otomatis terulur ingin menyentuhnya.
"Nate! Kamu jadi ke kantor tidak?"
Pertanyaan Lin membuat tangan pria itu terhenti di tengah jalan. Kesadaran lama-lama mulai masuk ke otaknya yang tadinya penuh pikiran mesum.
Mengerjapkan matanya, Nate melihat ke sekelilingnya. Ia baru tersadar kalau ia telah tertidur lagi tadi pagi ketika memeluk wanita itu.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam delapan lewat Nate. Tadi Pak Marcus sudah meneleponmu beberapa kali. Kamu jadi ke kantor tidak?"
"Eh? Jam delapan?" Pria itu mulai tampak bingung dan hanya membeo.
"Iya, Nate. Jam delapan. Kamu jadi ke kantor tidak? Pak Marcus sudah satu jam menunggumu di bawah."
Bersamaan, ponselnya berbunyi nyaring. Terburu-buru meraih ponsel di meja samping, membuat kaki pria itu sedikit tersandung meja.
"Aduh! Ya. Halo Marc! Tidak. Aku tidak apa-apa. Setengah jam lagi aku akan segera turun ke bawah. Maaf Marc, sudah membuatmu menunggu."
Rententan jawaban Nate memperlihatkan kalau pria itu saat ini sedang panik, membuat Lin langsung berusaha memotong aliran pikiran pria itu yang sangat ini terlihat kacau.
"Lebih baik, kamu mandi dulu Nate. Aku yang akan menyiapkan pakaian kerjamu."
Mendengar kata-kata yang tenang itu, membuat pikiran Nate langsung menjadi jernih.
"Ya. Kamu benar. Terima kasih Lin."
Mencium kilat bibir wanitanya, pria itu pun langsung melesat ke kamar mandi.
Tersenyum, Lin langsung mengeluarkan pakaian kerja Nate dari dalam tas pria itu. Ia juga menyiapkan pakaian dalam pria itu yang lupa dibawanya tadi ke kamar mandi.
Lin memutuskan akan menunggu Nate sambil melihat-lihat ponselnya di tempat tidur.
Tidak sampai 5 menit kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan masih basah. Handuk mungilnya tampak tidak terlalu bisa menutupi bagian tubuh mana pun dari pria itu.
Tidak tahu malu, pria itu membuka handuknya. Memperlihatkan tubuh polosnya di hadapan wanita yang sedang duduk di tempat tidur itu.
"Nate!" Refleks, Lin langsung menutup mata menggunakan kedua tangannya.
"Maaf, Lin. Aku sedang buru-buru sekarang. Lagi pula, kamu kan sudah melihat semuanya."
Dengan cepat, pria itu memakai pakaian dalam dan celana panjangnya.
Pria itu sedang sibuk mengancingkan kemejanya, ketika merasakan rambutnya sedang diusap-usap dengan handuk oleh wanita di depannya.
"Rambutmu basah. Nanti kamu bisa sakit."
Hal yang dikatakan wanita itu membuat Nate terkekeh. Wanita itu sepertinya lupa, kalau dia tidak pernah bisa sakit.
Membiarkannya, pria itu tampak menikmati momen kebersamaan mereka beberapa saat.
Ia baru selesai memasang dasi dan mengancingkan rompinya, ketika Lin pun akhirnya meletakkan handuknya di tempat tidur. Wanita itu menyisir rambut tebal Nate menggunakan jari-jemarinya.
"Masih sedikit lembab, tapi lumayan dibanding tadi."
Memegang pinggang wanita yang sedang berdiri di tempat tidur, dengan mantap Nate mengangkatnya dan memeluknya erat di tubuhnya.
__ADS_1
Ia pun memberikan ciuman panas pada wanita itu selama beberapa saat.
Kedua tangannya pun dengan tidak tahu malunya meremas apa yang bisa diremas, dan mengusap apa yang bisa diusap dari tubuh wanita itu.
Melepas ciumannya, pria itu pun berbisik di telinga wanita itu. Aliran nafasnya terasa panas.
"Aku menunggumu nanti malam di kantor, Lin."
Kembali mencium bibir wanita itu dengan agresif dan cepat, pria itu pun baru melepaskan pelukannya setelah memberikan remasan cukup kencang di salah satu dada wanitanya.
"Aku pergi dulu."
Sambil membawa jas dan ponselnya, Nate terlihat berlari-lari kecil meninggalkan wanita itu yang masih mematung di dalam kamar, dengan bibir membengkak dan muka memerah.
Wanita itu merasa dimanfaatkan saat ini. Pria itu benar-benar pintar dalam mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Oh! Dasar pria kurang ajar! Awas saja nanti!
Sesampainya di area parkiran, Nate langsung masuk ke dalam mobil yang terlihat sedang menunggunya.
"Maaf Marc. Kamu sudah lama menunggu?" Ia berbasa-basi.
Alis Marcus yang sedang duduk di balik kemudi terangkat sedikit tinggi.
"Dari sekitar jam 6 pagi, Tuan."
Terasa sindiran dari kata-katanya yang membuat Nate sangat merasa malu. Selama hidupnya, ia sama sekali belum pernah terlambat dalam melakukan apapun.
Ini adalah kedua kalinya, ia melakukan kelalaian dalam pekerjaannya.
"Aku benar-benar minta maaf, Marc."
Pria di depannya hanya menggangguk sekali.
"Tidak apa Tuan. Selalu ada yang namanya 'pertama kali'."
Kata-kata bijak itu kembali membuat Nate malu. Seharusnya sebagai orang yang lebih tua, ia dapat memberikan contoh yang baik bagi juniornya.
Tidak mau memperpanjangnya lagi, Nate mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Sebenarnya, ada yang saya khawatirkan kalau Anda terlambat datang ke kantor Tuan."
Menoleh, pandangan Nate bertanya-tanya. "Apa itu?"
"Anda akan lihat sendiri nanti di kantor."
Sampai di parkiran basement kantor, mulai terlihat para karyawan yang berseliweran di area parkiran maupun pintu masuk yang menuju lift.
Kerumunan orang-orang yang sedang mengantri lift, membuat mukanya sedikit memucat.
"Bagaimana ini Marc?" Pria itu menoleh pada asistennya. Meminta bantuannya.
"Tidak bagaimana-bagaimana, Tuan. Kita tetap harus keluar dari mobil, kalau Anda mau bekerja hari ini."
Marcus pun keluar dari mobilnya. Pria itu tampak menunggu atasannya yang dengan ragu-ragu keluar dan perlahan mengikuti langkah asistennya untuk mendekati kerumunan.
"Sebaiknya Anda tetap berada di belakang saya, Tuan."
Baru kali ini, Nate melangkah di belakang asistennya. Selama ini, ialah yang selalu berada di depan dan memimpin.
Nate menelan ludahnya dengan susah payah. Selama ratusan tahun, ia berusaha menghindari karyawannya dan menyembunyikan identitas dirinya.
Terkecuali saat di medan perang, sedapat mungkin Nate menghindari berada di kerumunan. Terutama dari para wanita manusia, yang baunya hampir tidak dapat ditoleransinya.
Harus berhadapan dengan banyak orang secara langsung, membuatnya cukup gugup saat ini.
"Selamat pagi."
Terdengar suara serak Marcus menyapa para karyawannya. Membuat satu demi satu orang yang ada di sana menoleh ke belakang, dan mulai memberikan jalan bagi pria besar itu.
Adanya kahadiran orang asing di belakang pria yang sangat disegani itu membuat banyak pasang mata bertanya-tanya, terutama para wanita.
Pemandangan yang baru mereka lihat, terutama yang indah-indah tentunya menjadi santapan lezat bagi mereka.
Pria yang berada di belakang Pak Marcus terlihat memiliki perawakan yang mirip dengan pria besar itu. Badannya tinggi dan terihat bugar. Sekilas, mereka terlihat seperti orang yang sama.
Tapi pria baru itu memiliki pembawaan yang anggun. Langkahnya terlihat tegap dan mantap, membuat banyak dari para karyawan yang mengira-ngira mengenai siapa pria itu.
Hal yang menarik perhatian banyak orang adalah wajahnya yang rupawan dan kulitnya yang pucat. Pria itu juga memiliki rambut hitam dan mata abu-abu muda yang terlihat menusuk.
Tidak banyak orang yang memiliki ciri-ciri fisik seperti pria itu, membuatnya mulai menjadi objek perhatian dan pembicaraan dari para karyawan yang ada di sana.
Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka sama sekali belum pernah melihat orang dengan ciri yang mencolok seperti itu di perusahaan.
Salah satunya adalah Lucy. Wanita itu terkejut ketika menyadari bahwa pria yang berjalan di belakang Pak Marcus adalah orang yang pernah dilihatnya bersama Lin waktu itu.
Saat melihat dengan jelas wajah pria asing itu, Lucy semakin yakin kalau pria itu adalah orang yang telah melecehkan temannya.
"Kau!"
__ADS_1
Tiba-tiba Lucy berteriak tanpa dapat ditahannya. Ia menunjuk muka Nate dan tanpa diduga langsung menyerang pria itu di tengah kerumunan orang.
Tidak yakin dengan yang harus dilakukannya, Nate hanya mampu diam ketika Lucy menampar wajahnya dan memukul dadanya. Marcus yang sedang berdiri di depannya terlambat sadar dan belum dapat melakukan sesuatu.
Kejadian itu langsung membuat kekacauan di ruangan kecil itu. Banyak orang mulai saling mendorong untuk mencoba melihat jelas peristiwa yang sedang terjadi.
"Kau orang yang telah melecehkan Lin, kan! Dasar brengsek!"
Lucy semakin agresif menendang tulang kering Nate dan memukul perutnya.
Kejadian itu membuat Marcus sempat membeku karena terlalu shock melihat atasannya yang biasanya gagah berani sedang menjadi bulan-bulanan teman kekasihnya.
Banyak di antara wanita yang berada di kerumunan menjerit dan para karyawan pria malah bersorak menyemangati Lucy.
Sebetulnya bukan karena pukulan wanita itu yang menyakitinya, tapi masalahnya Nate dengan cepat merasa mual saat mencium bau Lucy yang memang sangat tidak disukainya.
Mukanya langsung memucat dan pria itu memegang bahu Marcus, sambil sedikit menunduk. Keningnya terlihat berkeringat.
"Marc, tolong aku." Nate berbisik lirih.
Melihat atasannya yang tampak mau pingsan, langsung membuat Marcus tersadar dan mencengkeram tangan Lucy yang tengah melayang di udara, siap untuk mencakar Nate.
Kejadian ini menghebohkan ruangan yang cukup sempit itu, membuat Nate justru semakin dikerumuni oleh banyak orang termasuk para wanita yang terlihat kasihan melihatnya.
"Oh Tuhan..."
Nate tampak semakin terdesak ke pinggir tembok. Mukanya sudah seputih kertas ketika segala macam bau wanita manusia saling bercampur dengan aroma parfum mereka. Perutnya benar-benar bergejolak hebat saat ini, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Apa yang kalian lakukan! Minggir! Minggir!"
Saat pria itu sudah hampir pingsan, tiba-tiba ia menghirup aroma yang menenangkan datang dari arah depannya.
Dalam kesadarannya yang menipis, Nate dapat melihat sosok Lin yang terlihat berdiri di depannya. Mencoba melindunginya dari serangan para wanita yang kelaparan.
Sambil bersandar lemas di tembok, Nate langsung meraih pinggang Lin. Ia mencengkeramnya erat dan menundukkan wajahnya ke bahu wanita itu. Mencoba mencari perlindungan dengan aroma Lin yang disukainya.
"Lin..."
Untungnya lift direksi tepat berada di sebelah wanita itu. Mengeluarkan kartu akses yang pernah diberikan Marcus, Lin pun langsung membuka pintu lift yang tadinya tertutup.
"Teman-teman, tolonglah. Pria ini konsultan penting dari perusahaan kita dan dia sedang sakit. Kalian tidak lihat mukanya yang pucat?"
Wanita itu berusaha melindungi pria yang sebentar lagi akan roboh itu. Pegangan Nate mulai terasa mengendur di pinggangnya.
"Lin! Dia orang yang melecehkanmu kan? Rambutnya hitam dan matanya abu-abu!"
Tiba-tiba, terdengar teriakan Lucy dari tengah kerumunan. Tangan wanita itu terlihat masih dipegang oleh Marcus yang sebenarnya gatal ingin memukulnya.
"Luce! Sudah kubilang bukan dia orangnya! Kenapa kamu tidak percaya padaku!"
Mendengar balasan itu, membuat kepala semua orang menoleh pada Lin.
Lin sedikit marah pada temannya. Tadi ia sempat melihat temannya menampar Nate dan menendangnya dari area parkiran, membuatnya langsung lari menghampiri pria itu.
Jika tidak mengingat kalau Lucy adalah temannya dan wanita itu tidak tahu duduk perkara sebenarnya, mungkin Lin sudah akan membantingnya tadi.
"Tapi-"
"Hentikan!?"
Suara Marcus terdengar menggelegar di ruangan yang sempit itu, membuat semua orang otomatis terdiam dan langsung melihat ke arah sumber suara.
Dengan sedikit kasar, pria dingin itu menghempaskan tangan wanita yang tadi sedang dicengkeramnya. Hal ini membuat Lucy terhuyung mundur.
"Perlu saya tekankan, bahwa beliau adalah orang yang sangat penting di perusahaan. Siapa pun yang mengganggunya, akan berhadapan langsung dengan saya. Dan itu termasuk Anda, Nona Luciana Adler!"
Mata Lucy terlihat melotot ketakutan. Ia tidak menyangka kalau Marcus akan mengeluarkan ancaman semacam itu padanya secara langsung. Sepertinya ia memang sudah keterlaluan.
"Sekarang semuanya minggir! Biarkan kami lewat! Kecuali kalau kalian sudah tidak mau bekerja di perusahaan ini lagi!"
Perintah yang sangat menakutkan itu membuat semua orang bergeser dan tercicit ketakutan.
Tidak membuang waktu, Marcus langsung membantu atasannya untuk masuk ke lift khusus yang telah terbuka itu. Pria dingin itu memandang Lin yang mematung di depan lift.
Ketika melihat sosok wanita di depannya, Marcus segera sadar kalau atasannya ternyata telah menandai wanita ini. Dalam benaknya, ia tersenyum. Akhirnya.
"Nona Alina. Tolong ikut kami."
Sedikit ragu, akhirnya Lin ikut masuk ke dalam lift khusus itu. Meninggalkan para karyawan yang mulai bergosip mengenai kejadian menghebohkan barusan.
Dalam lift yang tenang, Marcus menoleh pada Nate yang tampak hampir tidak sadarkan diri.
Hatinya merasa bersalah pada atasannya. Ia sama sekali tidak mengira efek bau wanita manusia dapat membuat atasannya sama sekali tidak berdaya.
Akhirnya Marcus semakin paham, mengenai atasannya yang sama sekali tidak mau pergi sembarangan ke bar dan mencari pemuasan dari wanita manusia. Ternyata Nate sama sekali memang tidak bisa terlalu dekat dengan mereka.
Seharusnya tadi ia lebih memperhatikan atasannya dan memilih untuk menyuruhnya pulang dulu ke penthouse. Pria itu memang akan jauh lebih aman berangkat ke kantor dengan menggunakan helikopter dibanding mobil.
Beralih pada wanita di depannya yang terlihat khawatir, akhirnya Marcus memutuskan sesuatu. Ia tidak mungkin membiarkan atasannya berada di kantor dengan kondisi seperti ini.
__ADS_1
"Nona Alina. Sepertinya saya harus meminta tolong pada Anda."