
Ketukan pelan dari arah pintu, membuat Nate yang sedang menunduk, mendongak.
"Anda memanggil saya, Tuan?"
Marcus, asistennya yang setia, telah siap menjalankan tugas dari atasannya.
"Aku telah memikirkannya, Marc."
Alis Marcus terangkat sedikit, tapi pria dingin itu tidak mengatakan apapun.
Nate mengetuk-ketukkan dagunya pelan pada tumpuan tangannya di atas meja.
"Aku akan mencobanya. Aku akan mengikuti saranmu."
Bibir Marcus sedikit terangkat. Memperlihatkan senyum yang sangat samar. Senyum yang jarang ditunjukkannya.
"Apa yang Anda inginkan?"
Atasannya menghela badannya mundur, menyender pada kursi di belakangnya.
"Pertama-tama, aku ingin memperbaiki dulu hubunganku dengannya. Dua kali kami bertemu, dan aku sudah meninggalkan kesan tidak baik padanya."
Marcus mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Pria itu meletakkan sebuah amplop putih di atas meja.
"Keputusan Anda sangat tepat waktu, Tuan. Nona Alina Johan baru saja mengajukan surat pengunduran dirinya pagi ini."
Mata Nate memandang Marcus. Ia memperhatikan perubahan sapaan asistennya pada wanita itu. Hal ini membuat hati Nate sedikit bergetar. Ia tidak tahu penyebabnya.
Meraih surat itu, Nate pun membacanya sekilas dan memasukkannya pada laci mejanya.
"Marcus. Tolong atur pertemuanku dengannya."
"Anda ingin bertemu sebagai siapa, Tuan?"
Pria itu menatap bolpoin yang sedang digenggamnya di tangan kirinya.
Memandang asistennya, ia berkata mantap. "Sebagai diriku sendiri. Nathanael Axelle."
Saat itu, Lin sedang mengetuk ruangan kerja Lucy. Ia ingin meminta maaf pada wanita itu.
Memikirkan kembali perkataannya kemarin, Lin memang merasa bahwa dirinya sudah kelewat batas sehingga menyakiti temannya sendiri.
Setidaknya Lin ingin agar hubungannya dengan Lucy dapat meninggalkan kesan baik, meskipun nantinya mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Lucy adalah satu-satunya teman yang pernah dimiliki oleh Lin.
Tidak lama pintu terbuka, menampilkan sosok Lucy yang berwajah ramah.
Melihat siapa yang datang, wanita itu langsung cemberut dan menatap dingin.
"Ada keperluan apa datang kesini?"
"Bolehkah aku masuk?"
Tampak pergolakan di dalam hati Lucy. Di satu sisi, ia masih marah pada temannya. Tapi di sisi lain, ia juga ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh wanita di depannya ini.
Menghela nafas berat, ia bergeser ke samping. "Masuklah."
Perlahan, Lin memasuki ruangan kerja Lucy. Ia melihat beragam berkas yang ada di meja kerjanya, menandakan cukup sibuknya wanita itu saat ini.
"Terima kasih Luce, sudah bersedia-"
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
__ADS_1
Lucy membanting tubuhnya di salah satu sofa dan melipat kedua lengannya di depan dada.
Maklum dengan reaksi temannya yang masih marah, Lin mengambil posisi di seberang Lucy.
"Aku ingin meminta maaf karena perkataanku kemarin. Maaf telah menyakitimu, Luce."
"Tidak usah. Itu adalah masalahmu, privacy-mu. Aku memang tidak punya hak apapun untuk mencampurinya."
Perkataan Lucy yang membalikkan ucapannya, membuat hati Lin merasa tercubit. Ia akhirnya merasakan apa yang dirasakan Lucy kemarin.
"Aku benar-benar minta maaf, Luce. Aku tahu mungkin aku tidak pantas untuk kamu maafkan, tapi maukah kamu mendengarkan dulu penjelasanku?"
Wanita itu berniat untuk berkata jujur pada temannya, setidaknya sampai batas-batas tertentu yang dianggapnya masih aman.
Mendengar itu, mau tidak mau Lucy menatap ke arahnya. Pandangan matanya terlihat sedikit penasaran, tapi ia masih mempertahankan sikap bungkamnya.
Sebelum memulai ceritanya, Lin menarik nafas panjang.
"Tadi malam, aku sudah menemui Pak Marcus dan menceritakan semuanya. Beliau bersedia untuk membantuku untuk mencari tahu siapa pelakunya."
Alis mata Lucy terangkat. "Itu saja?"
"Aku tidak mau melibatkanmu Luce, karena ada kemungkinan kalau pelakunya orang yang sangat penting di perusahaan. Jangan sampai karena masalah pribadiku, kamu menjadi terseret dalam situasi yang tidak enak."
Kening Lucy berkerut mendengar penjelasan Lin. "Apa maksudmu?"
"Kalau sampai masalah ini tersebar luas di antara para karyawan, dengan melibatkan salah satu petinggi perusahaan. Apa yang menurutmu akan terjadi, Luce? Aku masih single, tidak menjadi masalah bila di pecat. Tapi bagaimana dengan kamu yang memiliki putra?"
Raut muka Lucy lama-lama menjadi memucat, ketika ia akhirnya menyadari betapa rumitnya masalah ini dan kemungkinan buruk yang mungkin menimpanya.
"Seperti yang kamu lihat sendiri, masalah pelecehan dengan Lionel sampai sekarang belum menemui titik terang. Tapi karena ia cuma karyawan biasa, aku hampir tidak merasakan dampak apapun meski pria itu sudah menyebarkan rumor yang tidak enak mengenaiku."
Memandang temannya, Lin melanjutkan ucapannya.
"Tapi untuk yang satu ini, aku tidak bisa mengambil resiko itu Luce. Bahkan Pak Marcus sendiri secara tidak langsung mengakui, bahwa ia mungkin tidak dapat melakukan apapun nantinya bila memang hal itu sampai terbukti."
"Kamu sekarang mengerti Luce? Kenapa aku bisa sampai semarah itu agar kamu tidak ikut campur, khusus untuk masalah ini?"
Wanita di depannya pun bangkit dan pindah ke samping Lin. Ia memeluk erat temannya sambil menangis.
"Maafkan aku Lin. Aku tidak tahu kalau kamu berfikir sampai sejauh itu."
Lin pun membalas pelukan temannya dengan erat. Ia merasa sangat lega saat ini.
"Tidak apa-apa Luce. Maafkan aku juga."
Saat ini, Lin masih belum mau mengungkapkan keputusannya untuk mengundurkan diri. Ia akan menceritakannya nanti di saat waktunya sudah lebih tepat.
Setelah itu, mereka pun saling berjanji untuk makan siang bersama. Dan Lin pun segera kembali ke ruangan kerjanya.
Tepat ketika memasuki kubikalnya, telepon di mejanya berdering nyaring.
"Halo." Terburu-buru ia mengangkatnya.
"Alina Johan?" Suara seorang pria asing menyapanya.
"Ya. Saya sendiri."
"Saya dengan Jon, sekretaris Pak Marcus. Beliau meminta untuk bertemu dengan Anda. Apakah Anda bisa untuk datang ke ruangannya sekarang?"
Jantung Lin berdetak lebih cepat. Apakah sudah ada petunjuk?
"Ya. Saya bisa datang ke ruangannya sekarang."
__ADS_1
"Baik. Kalau begitu, silahkan datang ke lantai 60. Saya akan menemui Anda di sana."
Mengucapkan terima kasih, Lin pun meletakkan gagang telepon pada tempatnya.
Wanita itu pun menemuinya atasannya sebentar untuk meminta izin dan langsung menuju lift yang akan membawanya ke lantai 60.
Sampai di lantai yang ia tuju, seorang pria perlente telah menunggunya.
"Alina?" Pria itu mengulurkan tangannya.
"Ya. Anda dengan Pak Jon?" Lin menyambutnya dengan erat.
Tersenyum, pria itu berkata, "Panggil saja Jon. Silahkan."
Menuju ruangan Marcus, Jon melirik wanita di sampingnya dengan sembunyi-sembunyi. Ia sudah mendengar kabar bahwa wanita ini pernah dikencani oleh Lionel.
Wanita itu memiliki badan yang proposional. Tidak pendek dan tidak terlalu tinggi. Ia juga memiliki leher dan kaki yang terlihat jenjang ketika mengenakan rok dan kemeja.
Mukanya sebenarnya biasa saja, dan dandanannya sedikit terlihat tebal untuk ukurannya.
Pakaian yang dikenakannya pun biasa saja, malah sangat sopan. Sama sekali tidak ada indikasi untuk mengundang pria hidung belang, untuk meliriknya.
Intinya, tidak ada yang terlalu istimewa pada perempuan ini. Tapi Lionel, kepala keamanaan yang juga dikenal sebagai playboy, sepertinya cukup tergila-gila padanya.
Apa dia hebat di ranjang? Kepala Jon dipenuhi berbagai pertanyaan yang sedikit mesum.
Tanpa disadarinya, wanita di depannya telah berhenti. Hampir saja pria itu menabraknya.
Pria itu kaget, ternyata Lin sudah mengetahui letak ruangan Pak Marcus.
"Anda sudah pernah ke sini sebelumnya?"
"Belum. Tapi saya pernah melewatinya ketika membawakan dokumen beberapa hari lalu."
Berusaha menetralkan dirinya, Jon mengetuk pintu di depannya perlahan.
Sayup-sayup, terdengar suara serak seorang pria. Suara Marcus. "Masuk."
Keduanya pun langsung masuk ke dalam ruangan yang besar tersebut.
Marcus tampak duduk di mejanya yang terletak di ujung ruangan, membelakangi jendela besar yang menampilkan pemandangan cakrawala.
Terlihat ada pria lain yang sedang duduk di kursi di depannya, membelakangi pintu masuk.
Jantung Lin sedikit berdetak lebih kencang, ketika merasa mengenali ciri-ciri fisiknya.
"Pak Marcus. Alina Johan."
"Baiklah. Kamu boleh keluar Jon."
Mata Marcus sedikit menyipit ketika melihat Jon masih mencuri pandang ke arah tubuh wanita di depannya.
Setelah pria itu keluar, Marcus langsung menghubungi seseorang melalui telepon.
"Hendrich. Saya minta ganti sekretaris. Mutasikan Jon ke cabang di luar negeri. Yang kecil."
Setelah memberikan instruksi itu, Marcus pun menutup teleponnya tanpa mengucapkan apapun lagi. Membuat Lin cukup bingung. Memangnya apa yang dilakukan Jon?
Marcus pun bangkit dari duduknya. Merapihkan jasnya, ia bersitatap dengan pria yang ada di seberangnya.
Perlahan, pria yang sedang duduk itu pun berdiri dari posisinya. Kedua pria itu benar-benar memiliki postur tubuh yang hampir mirip bila dilihat secara sekilas.
Ketika pria itu akhirnya membalikkan badannya, hati Lin benar-benar mencelos ke perutnya.
__ADS_1
Marcus berdiri di antara mereka berdua, memisahkan keduanya dalam jarak yang cukup jauh.
"Nona Alina Johan. Perkenalkan, Tuan Nathanael Axelle. Pemilik dari perusahaan ini."