
"Saya akan membantu Anda."
Perkataan Lin membuat dada Nate membuncah bahagia. Akhirnya ada sesuatu yang bisa mendekatkannya dengan wanita ini.
Berusaha mempertahankan eskpresi datarnya, pria itu bertanya, "Anda-"
Obrolan mereka tiba-tiba terpotong oleh deringan telepon yang tidak terputus.
Sedikit bingung, Lin merogoh-rogoh kantong roknya dengan cepat, dan tanpa disadari sedikit menyibaknya, memperlihatkan pahanya yang putih.
Wanita itu segera menjawab ponselnya, setelah meminta maaf pada Nate. Ia pun sedikit berbalik dari duduknya, menyembunyikan wajahnya agak kebelakang.
"Halo."
Sementara wanita itu menjawab ponselnya, mata Nate terarah pada pemandangan paha putih di depannya. Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah.
Ia menyadari pengaruh Lin yang ternyata sudah sangat besar pada dirinya. Baru kali ini, Nate mengalami ketertarikan yang sangat kuat pada lawan jenisnya.
Pria itu memegang erat-erat kedua lengan sofanya, berusaha untuk mengendalikan dirinya.
Ketika wanita itu sudah selesai dengan ponselnya dan berbalik, tiba-tiba ia menjerit kecil.
"Oh!"
Mengerjapkan matanya, Nate bertanya, "Kenapa?"
"Mata Anda. Sama seperti waktu itu."
"Mata..."
Saat itulah Nate baru menyadari, bahwa kedua matanya telah menghitam. Tertelan oleh pupilnya. Naluri liarnya muncul hanya karena memandang wanita itu.
Mata Lin menyipit. "Apakah Anda..."
Melihat arah pandangan mata pria itu, Lin baru sadar bahwa roknya tersingkap, memperlihatkan sedikit kulitnya.
Dengan marah, ia pun segera berdiri dari duduknya dan merapihkan pakaiannya.
"Anda ternyata tetap pria yang kurang ajar, ya. Padahal kita baru saja-"
"Sebentar. Sebentar."
Menyadari situasi yang mulai tidak enak, Nate pun segera bangkit dan berusaha menenangkan wanita di depannya. Ia tidak mau hubungan mereka menjadi buruk kembali, padahal baru beberapa waktu lalu mereka dapat mengobrol dengan normal.
"Tolong jangan marah. Ini bukan keinginan saya."
"Sebelumnya, Anda bilang bahwa hal ini terjadi karena Anda mencium bau saya. Tapi ternyata Anda memang hanyalah pria yang tidak bisa menahan hawa nafsunya cuma karena melihat perempuan!"
Tuduhan Lin membuat Nate merasa marah. Ia sangat merasa tersinggung. Seumur hidupnya, belum pernah ia direndahkan seperti ini. Pria itu mengepalkan kedua tangannya.
"Perlu Anda ketahui. Saya tidak serendah itu, Nona Alina!"
Nate tiba-tiba mengeluarkan aura wibawanya yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. Nada suaranya rendah dan tegas. Warna matanya pun perlahan kembali seperti semula.
Perkataan Nate, yang meski tidak diucapkan dengan keras, namun mampu membuat wanita itu bungkam. Ia cukup terkejut ketika menyadari kalau pria di depannya ini marah.
Sejenak keduanya terdiam. Masing-masing berusaha meredakan emosi yang dirasakan.
"Maaf. Saya tidak bermaksud membentak Anda. Hanya saja, seperti yang Anda lihat sendiri. Hal itu terjadi di luar kuasa saya."
Akhirnya Nate membuka suara. Ia berusaha untuk mengalah demi menjaga hubungannya dengan wanita di depannya ini.
Lin yang masih terkejut dengan keadaan ini, tidak mau memandang pria itu. Ia bingung dengan reaksi dirinya sendiri, kenapa ia mesti merasa kecewa hanya karena dibentak? Seharusnya, ialah yang marah pada pria itu dan bukan sebaliknya.
"Sepertinya saya sudah cukup lama di sini. Saya permisi."
Ia pun berbalik dan akan membuka pintu, ketika Nate tiba-tiba memanggilnya.
"Nona Alina."
Wanita itu terdiam di tempatnya. Tidak menoleh.
__ADS_1
"Anda akan tetap mau membantu saya, kan?"
Suara pria di belakangnya terdengar penuh harap dan permohonan.
Lin memandang jari-jarinya yang sedang memegang gagang pintu. Ia pun meremasnya sambil tersenyum penuh dendam.
Tadinya wanita itu benar-benar ikhlas ingin membantu pria tersebut, tapi kejadian ini membuatnya memiliki niatan lain. Lihat saja nanti!
"Tentu saja. Saya akan memikirkan caranya nanti."
Setelah itu, Lin pun keluar kantor meninggalkan Nate yang masih berdiri di tempatnya. Muka pria itu terlihat muram. Sepertinya perjuangannya akan penuh liku dan terjal nanti.
Di dalam lift, Lin menyenderkan tubuhnya ke dinding di belakangnya.
Menarik nafas, ia menyadari betapa anehnya situasi yang sedang dihadapinya ini. Hal yang dialami oleh pria itu bukanlah hal yang wajar terjadi.
Ada beberapa ciri yang membuat Lin mulai mencurigai identitas pria itu. Tapi mengingat pria yang dihadapinya bukanlah orang sembarangan, maka wanita itu memutuskan untuk bertindak hati-hati.
Tapi yang jelas, Lin bertekad akan memberikan pelajaran pada pria itu. Meski tahu bahwa ia tidak berniat jahat, namun tetap saja perilakunya sudah merugikan Lin.
Ia akan mencari cara untuk membuat pria itu menyesal telah meminta bantuannya.
Tidak lama, Lin pun sampai di kantin kantor. Lucy tadi meneleponnya, untuk mengingatkan bahwa mereka memiliki janji makan bersama siang ini.
"Luce!"
Keduanya saling melambaikan tangan. Lin pun segera duduk di depan temannya yang ternyata telah memesan beraneka macam makanan sebelumnya.
"Kamu memasan ini semua?" Tanya Lin cerah.
"Yep. Sebagai permintaan maafku, aku sudah memesan semua makanan kesukaanmu."
Keduanya pun tertawa gembira dan memulai ritual makan siang mereka.
Ketika Lucy tengah melap mulutnya, ia pun bertanya penasaran.
"O ya. Tadi kamu kemana saja? Aku ke ruanganmu tapi Pak Robertus bilang kamu dipanggil oleh Pak Marcus ke lantai 60."
"Apa ini mengenai kasusmu itu?"
"Benar. Dan aku bertemu dengan pria brengsek itu."
Informasi yang mengagetkan itu membuat Lucy menyeburkan air yang ada di mulutnya.
"Luce! Jorok ih!"
Lin mengelap jijik air yang sedikit mengenai lengannya. Lucy pun terburu-buru membantu temannya mengelap dengan menggunakan tisu kering.
"Maaf. Maaf. Aku kaget sekali tadi."
Memastikan tangan temannya telah bersih. Lucy pun memandangnya kembali.
"Apa maksudmu tadi kalau kamu bertemu pria brengsek itu?"
"Tidak ada maksud lain. Memang seperti itu artinya."
Lucy tertegun dalam duduknya. Mukanya menjadi sedikit pucat.
"Jadi maksudmu, pria itu adalah salah satu petinggi perusahaan?"
"Tidak-"
Lin hampir saja keceplosan mengatakan kalau pria itu adalah owner perusahaan tapi ia kemudian terdiam. Mengingat selama ini lelaki itu begitu erat menyembunyikan identitasnya, maka akan tidak etis rasanya kalau Lin membeberkan rahasianya begitu saja.
Ia memang tidak menyukai lelaki itu, tapi Lin masih berusaha untuk bersikap profesional. Berusaha memisahkan masalah personal dan masalah pekerjaannya, meski sulit.
"Tidak?"
"Tidak salah. Tapi dia orang luar perusahaan. Kamu tidak akan mengenalinya."
Temannya mengernyitkan dahi, tampak masih bingung.
__ADS_1
"Orang luar perusahaan, tapi petinggi perusahaan?"
"Semacam salah satu konsultan. Tapi yang terpercaya."
Lucy menutup mulutnya. "Oh tidak. Jangan-jangan konsultan-"
"Luce, jangan berasumsi apapun. Untuk masalah ini, aku pun tidak mau terlalu tahu mengenai identitas sebenarnya. Yang jelas, dia sudah meminta maaf padaku."
"Kamu semudah itu memaafkannya Lin? Dia sudah dua kali melecehkanmu."
"Aku tahu. Tapi dia sudah menjelaskan alasannya."
"Dan kamu menerimanya begitu saja?"
Alis Lucy terangkat naik. Ia cukup mengenal temannya yang pendendam ini.
Terkekeh, Lin menatap temannya. "Kamu cukup mengenalku, Luce."
"Aku yakin kamu pasti merencanakan sesuatu Lin. Karena tidak seperti dengan kasus Lionel, kamu sama sekali belum melakukan apapun pada pria ini."
Mata Lin terlihat berkilat. "Kamu benar Luce. Aku belum melakukan apapun padanya."
Beringsut mendekat, temannya berbisik, "Jadi, apa rencanamu?"
"Aku butuh bantuanmu..."
Kedua wanita itu pun saling berbisik-bisik di kantin kantor. Terkadang mereka berdua cekikikan yang membuat orang yang melihat merasa merinding. Keduanya seperti memiliki niat jahat pada seseorang.
Kembali dari makan siang, Lin menghabiskan setengah harinya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertunda. Ia bahkan merelakan waktunya untuk lembur, menggantikan waktunya yang tadi terpakai karena bertemu dengan Lucy dan Pak Marcus.
Ia baru tersadar kalau waktu sudah cukup malam ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi, menunjukkan notifikasi pesan masuk.
Meraih ponselnya, ia mengerutkan dahi ketika ada nomor tidak dikenal mengirim chat padanya. Siapa ini?
'Selamat malam, Nona Alina. Saya dengan Nate.'
"Darimana dia tahu-"
Lin menelan pertanyaannya sendiri, ketika menyadari kembali siapa pria itu.
'Selamat malam, Tuan Nathanael.'
'Tolong jangan panggil saya Tuan. Anda bisa memanggil saya Nate. Tentu bila Anda bersedia.'
Pria ini sangat sopan. Berbeda jauh dengan ketika ia sedang berada dalam fase kegilaannya.
'Kalau begitu, Anda juga bisa memanggil saya Lin. Tanpa embel-embel Nona.'
Wanita itu berusaha bersikap sopan, mengingat orang yang dihadapinya adalah owner. Balasan pria itu sedikit lebih lama dari pesan sebelumnya.
'Baiklah, Lin.'
Entah mengapa tulisan itu membuat pipi Lin sedikit merona. Selama ini, belum pernah ada satu pria pun ia ijinkan untuk memanggil nama kecilnya. Ada apa dengan dirinya?
'Kamu bisa menghubungiku di nomor ini, kalau kamu sudah menemukan cara untuk membantuku.'
Gaya bahasa pria itu yang otomatis berubah, membuat hati Lin menghangat. Belum pernah ia merasakan ini sebelumnya.
Tidak mau terbawa suasana, sambil tersenyum sinis, ia pun menjawab pesan itu.
'Saya sudah menemukan suatu cara. Saya bisa menemui Anda besok, kalau Anda senggang.'
'Tolong, jangan terlalu formal Lin. Anggap saja aku sebagai rekan kerjamu.'
Tidak lama datang balasan lagi.
'Kalau begitu, aku akan menghubungi kamu lagi besok. Sampai ketemu besok, Lin.'
'Sampai jumpa, Nate.'
Setelah itu, Lin pun meletakkan ponselnya di atas meja. Ia pun meraih sesuatu dari lacinya dan memandang benda itu dengan mata berkilat.
__ADS_1
Kita lihat, siapa yang akan tertawa di paling akhir, Nate. Bagaimana pun caranya, aku harus membalasmu.