Madness

Madness
Chapter 79


__ADS_3

"Aku telah melakukan yang kamu minta, Lin. Dan aku sebenarnya tidak menyukainya. Kamu harus dihukum. Jadi, naiklah sekarang atau kamu akan menerima akibatnya nanti di rumah."


Menutup panggilan teleponnya, Nate pun beranjak dari kursinya menuju lemari pendingin di ruangan itu. Ia mengeluarkan sebotol anggur berkualitas dan dua gelas tinggi dari lemari kaca.


Ia masih mengatur letak gelas-gelas itu, ketika terdengar bunyi ketukan dari pintunya.


Pria itu segera membuka pintunya dan tampaklah sosok isterinya yang sedang menggendong puterinya.


"Halo, sayang."


Nate mencium isterinya lembut, dan langsung meraih Nat yang tampak mulai mengantuk di pelukannya. Ia menimang anaknya hati-hati dalam gendongannya.


Lin pun masuk ke ruangan dan menutup pintunya pelan. Ia mengikuti suaminya yang sedang berjalan ke arah sofa di ruangan itu.


Setelah mengatur posisi tidur anaknya di sofa yang empuk, Nate membuka botol anggur dan menuangkan isinya ke gelas-gelas tinggi yang tadi dibawanya. Ia menyerahkan salah satunya pada isterinya yang terlihat duduk berselonjor di belakang sofa dan sedang meluruskan kakinya di atas karpet.


"Terima kasih." Lin tersenyum sambil menerima gelas anggur itu.


Mendentingkan gelas mereka, keduanya pun mulai menyesap anggur yang nikmat itu sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.


Posisi keduanya saling menempel, dan salah satu tangan suaminya mengusap-usap bahu Lin.


"Bagaimana pertemuanmu dengan Robertus dan tim tadi?"


"Berjalan lancar. Tidak ada masalah. Tinggal satu pertemuan lagi, dan semua pekerjaan di project ini akan segera beres."


Suaminya mengangguk-angguk dan kembali menyesap anggurnya pelan.


Lin menoleh dan memandang wajah suaminya yang terlihat menatap lurus ke depan.


"Kalau kamu sendiri? Bagaimana pertemuanmu dengan Pak Marcus tadi?"


Terlihat sedikit kesal, Nate menenggak anggurnya sampai habis dan meletakkan gelasnya yang telah kosong di atas karpet.


"Dia langsung menyetujuinya." Ia masih belum memandang isterinya.


"Pak Marcus langsung mau?"


Kepala suaminya mengangguk. Kedua alisnya berkerut dalam.


"Apa yang membuatmu marah, Nate?"


Pria itu tampak menggeleng dan lebih erat merangkul bahu isterinya.

__ADS_1


"Aku tidak marah, hanya tidak suka. Marcus langsung setuju untuk melepaskan diri dariku karena Nat, padahal dulu dia terlihat marah saat aku menyuruhnya untuk pergi dan mencari jalan hidupnya sendiri."


Isterinya terkekeh pelan ketika menyadari kecemburuan suaminya.


"Apakah kamu cemburu, suamiku?"


Nate menoleh pada isterinya dan bibirnya berkerut.


"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka. Dia berarti bukan pria yang konsisten, Lin."


Isterinya mengusap pipi suaminya pelan dan tersenyum lembut.


"Bagiku, itu hanya menunjukkan kalau dia mencintai puteri kita dengan sungguh-sungguh."


Mendengar perkataan isterinya, Nate kembali memalingkan wajahnya dan tangannya yang bebas pun mengurut pelipisnya.


"Kamu sakit kepala?"


Lin sedikit khawatir bila melihat suaminya mulai mengurut kepalanya. Peristiwa tahun kemarin, masih meninggalkan trauma bagi wanita itu.


Sadar dengan yang dilakukannya, Nate menolehkan kepalanya dan mencium kening isterinya.


"Tidak, sayang. Maafkan aku. Aku baik-baik saja. Hanya soal Marcus ini, memang membuatku sedikit sakit kepala."


"Suatu saat, kita memang harus melepaskan puteri kita, Nate. Dalam beberapa tahun mendatang, anak kita akan menentukan jalan hidupnya sendiri dan sebagai orang tua, kita hanya bisa mendukungnya dari belakang."


Suaminya terdiam mendengar perkataan isterinya. Ia pun ikut menatap pemandangan di depannya yang memantulkan bayang-bayang gelap di sekitar mereka. Tampak lampu-lampu di gedung sekitar mereka mulai dinyalakan.


"Tapi aku belum siap, Lin. Aku belum siap untuk melepaskan puteri kecil kita."


Kata-kata suaminya yang terdengar ketakutan itu akhirnya membuat Lin beringsut dan naik ke pangkuan suaminya. Kedua tangan pria itu memegang pinggul isterinya yang tengah mendudukinya.


Wajah isterinya terlihat gelap karena pantulan cahaya yang ada di belakangnya, tapi Nate dapat melihatnya dengan jelas melalui hatinya. Tangan pria itu mengelus pipi isterinya yang mulus dan bersih tanpa make-up. Lin akhirnya percaya diri untuk tampil tanpa make-up tebal seperti kebiasaannya dulu.


"Kamu cantik, Lin."


Tersenyum, Lin mengusap pipi suaminya yang mulai menggelap karena bakal jenggotnya. Rambut di pipi pria itu cukup cepat tumbuh, padahal baru tadi pagi ia mencukurnya.


"Kamu juga tampan."


Kedua alis suaminya terangkat, dan ekspresinya terlihat senang.


"Oh ya? Kamu menganggap aku tampan?"

__ADS_1


Menengadahkan kepala suaminya, Lin mencium bibir suaminya sambil tersenyum.


"Tentu saja kamu tampan di mataku karena kalau tidak, aku pasti tidak akan pernah mau menjadi isterimu."


Keduanya pun terkekeh pelan. Jari-jemari pria itu terbenam di rambut isterinya yang baru ia urai, dan mengelusnya perlahan.


"Aku suka rambutmu."


"Aku suka alismu." Lin mengecup alis Nate.


"Aku suka hidungmu." Suaminya menyentil hidung mungil Lin.


"Aku suka telingamu." Isterinya mulai menggigiti telinga Nate, membuat pria itu mengerang.


Wanita itu pun mencium ujung hidung suaminya dan mengelus dada pria itu pelan.


"Kita masih punya banyak waktu, Nate. Perjalanan kita bersama Nat masih cukup panjang. Bagaimana kalau kita nikmati saja kehidupan kita bersamanya, tanpa harus mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi?"


Menghembuskan nafasnya pelan, tangan Nate mengusap-usap punggung isterinya dengan lembut. Ia pun akhirnya mengangguk.


"Kamu benar. Kita masih punya waktu 20 tahun lagi sampai si brengsek itu datang dan mengklaim puteri kita."


Gerutuan suaminya membuat Lin tertawa. Nate ternyata punya sisi-sisi yang berbeda.


"Aku serius, Lin. Kalau Marcus datang, aku akan benar-benar mengujinya untuk melihat seberapa besar keseriusannya pada puteri kita."


"Ya. Ya. Ya. Aku yakin kamu pasti akan melakukannya, sayang."


Isterinya memeluk leher Nate erat, membuat suaminya pun mau tidak mau membalas pelukannya sambil tersenyum.


Pemandangan yang gelap di luar, membuat cahaya lampu di ruangan Nate menyala dengan otomatis dan menerangi seluruh sudut di ruangan itu.


Lin akhirnya dapat melihat wajah suaminya dengan jelas. Wanita itu menelusuri pipi suaminya dan berhenti di bibirnya. Kedua matanya menatap lekat mata suaminya yang saat ini masih berwarna kelabu muda.


Perlahan, ia mencium kening pria itu. Lin juga mengecup kedua matanya yang menutup, dan juga hidung suaminya yang sangat disukainya. Terakhir, ia mencium bibir Nate yang terbuka dan sedikit mengulumnya.


Wanita itu akhirnya menjauhkan wajahnya dan mengelus rambut suaminya yang tebal. Bibirnya tersenyum dengan sangat lembut dan memandang suaminya dengan penuh cinta.


"Nathanael Axelle. Aku sangat mencintaimu."


Tidak hanya karena kata-kata, tapi perasaan wanita itu pun tersalurkan melalui koneksi mereka. Hal ini membuat Nate merasa disirami oleh perasaan cinta yang melimpah-ruah dari wanita itu. Kedua matanya yang berkaca-kaca memandang wajah isterinya yang cantik.


Jika pria itu mati hari ini dan detik ini juga, ia tidak akan pernah merasa menyesal. Saat ini, ia telah merasakan kebahagiaan yang luar biasa besar, yang dapat menggantikan hari-harinya yang kelabu di kehidupannya sebelumnya.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu, Alina Johan. Hanya kamulah satu-satunya wanita yang pernah aku cintai selama hidup, dan sampai aku mati nanti."


__ADS_2