
Ini hanyalah sebuah karya fiksi. Nama, tokoh, cerita/peristiwa merupakan unsur fiktif belaka, yang diciptakan oleh "saya" selaku penulis cerita.
Warning! Cerita ini dibuat hanya sebagai sarana hiburan, tidak untuk dipraktikkan atau pun dicontoh beberapa unsur di dalamnya.
Noted: Berdasarkan banyak alasan saya mengubah seluruh isi cerita dari yang pernah diterbitkan sebelumnya. Terima kasih.
..
..
🌸 EVIL SON
Happy reading ~
"Jin, kau lihat Jimin tidak?"
Kim Nana menghampiri suaminya yang tengah sibuk berkutat dengan peralatan dapur.
Kim Seokjin, pria berusia 32 tahun itu bersikeras untuk memasak untuk makan malam mereka. Tak lupa juga pria itu melarang istrinya untuk memasuki area dapur yang sudah ia klaim sebagai miliknya saat ia tengah memasak. Seokjin tak suka diganggu.
Akan tetapi, Kim Nana tampaknya tak acuh dengan larangan Seokjin. Terbukti dengan kehadiran wanita itu di sini sekarang. Yang tengah menatap Seokjin tajam karena tak kunjung mendapat balasan.
"Jin." Nana memanggil, mulai kesal pada sang suami. "Kau lihat tidak?" Ia mengulang dengan intonasi kesal.
Meletakkan pisau daging yang tadi digunakannya, Kim Seokjin memutar badan untuk menatap wajah kesal sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan. Seokjin tampak begitu tenang, tidak terganggu dengan tatapan tajam dari wanita pujaannya itu.
__ADS_1
Mengukir senyum, Kim Seokjin berkata, "Memang dia belum kembali ke kamarnya?"
Nana menggelengkan kepala. Raut kesal itu kini berubah cemas. Nana sudah mencari Jimin ke tempat di mana anak itu biasanya berada, tapi nihil, ia tak kunjung menemukan puteranya itu. Jimin masih kecil, anak itu tidak pernah main terlalu jauh.
"Kau yakin tak melihatnya?" Kim Nana memastikan sekali lagi. Gurat lelah dan putus asa terukir jelas di wajahnya, membuat Seokjin merasa tidak tega.
Rasa sesal tiba-tiba menyelinap masuk, tetapi segera ditepiskan karena Seokjin tidak bisa membantu apa pun. Kim Jimin adalah putera mereka, namun bagaimana pun, Seokjin tak pernah dekat. Bahkan menjaga jarak, dari putranya itu. Ia dan anaknya, yang sekarang berusia 6 tahun, alih-alih akrab malah saling bermusuhan.
Nana bahkan sampai dibuat pusing oleh kedua orang yang sangat dicintainya itu. Di mana pun, setiap kali berhadapan, keduanya selalu terlibat pertengkaran. Alasannya sepele saja. Bahkan cenderung tak masuk akal. Seokjin yang selalu menempel padanya seperti perangko akan membuat Jimin kecil marah hingga menangis. Lalu saat Nana akan menenangkan dengan meraih Jimin ke dalam gendongan, Seokjin justru melarangnya. Pria itu akan marah, yang berakhir diabaikan oleh Nana.
Jimin adalah prioritasnya. Dan Seokjin harusnya paham.
"Kulihat tadi ia pergi ke belakang dengan mainannya." Seokjin menjawab beberapa saat kemudian, pria itu sepertinya baru mengingat sesuatu, "Mungkin di atas pohon." Seokjin tak acuh. Toh, apa pun yang anaknya itu lakukan ia tak peduli.
Berbeda dengan Nana yang langsung bergegas begitu mengetahui ke mana putranya pergi. Wanita berusia 23 tahun itu pergi dengan raut cemas. Seokjin yang melihat itu tak berkomentar apa pun, baginya itu sudah hal biasa. Nana selalu berlebihan dengan apa yang Jimin lakukan. Padahal sesuka Anak Iblis itu saja, Seokjin tak peduli.
Seokjin dia untuk sejenak, kemudian melanjutkan kembali kegiatan memasaknya. Nana memang sudah biasa menjerit seperti itu. Seokjin menebak, mungkin istri cantiknya telah menemukan sang anak dengan bangkai anjing atau kucing ã…¡yang entah didapat dari manaã…¡ terpotong-potong oleh pisau yang menjadi mainannya.
Hal biasa.
Namun, sepertinya Seokjin salah.
Di belakang rumah, berjongkok di bawah sebuah pohon besar yang batangnya rendah Kim Nana berada. Menangis histeris mendapati putera sematawayangnya tertelungkup di depannya. Ujung pisau tajam yang biasa ia bawa ke mana-mana, menembus tubuh mungilnya.
------☆
__ADS_1
Keluarga kecil itu berduka.
Kim Nana tidak bisa merelakan putranya. Bahkan hingga setahun kemudian, wanita itu selalu tampak sedih dan kesepian. Nana masih belum bisa menerima kenyataan pahit itu, tawa, senyuman, dan suara Jimin yang menggemaskan selalu ia rindukan. Dan bayangan tubuh mungil Jimin yang berlumuran darah selalu menjadi mimpi terburuknya.
Nana sangat mencintai Jimin.
Putranya yang berwajah manis, namun sering bermain dengan benda-benda tajam itu, terlalu berharga untuk Nana lupakan dan Nana merasa ia tidak akan pernah bisa melupakan Jimin sampai kapan pun. Hingga, malaikat kecil itu hadir di antara mereka.
Seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki dengan sepasang mata bulat kecil yang sama, rupa yang serupa dan tangisan yang sama, berhasil mencairkan kesakitan Nana. Kim Yoongi, nama bayi mungil itu. Kehadirannya membuat Nana bahagia. Dan Nana rasa, Yoongi adalah reinkarnasi dari putra pertamanya. Karena kemiripan yang ada padanya.
------☆ BESIDE STORY ------☆
Enam tahun kemudian
"Hentikan yang kau lakukan itu, Anak sialan!" Kim Seokjin menatap tajam. Tangan besarnya menekan bahu ringkih Yoongi kuat, ingin meremukkan.
"Kau pikir, aku tak tahu apa yang kau lakukan, hah?! Berhenti sekarang sebelum aku hilang kesabaran." Seokjin mengancam, tatapannya kian menajam yang dibalas dengan delikan sinis oleh Kim Yoongi.
"Memangnya kau tau apa, tua bangka sialan?" Bola mata kecil itu menyoroti dengan tak kalah tajam. Seokjin menjauhkan tangannyya dan mundur ke belakang.
Kim Yoongi tersenyum sinis, memainkan pisau dengan jemari mungilnya ia berkata, "Dan apa yang kau lakukan jika aku tidak mau melakukan yang kau minta. Menyingkirkanku seperti dulu?"
Yoongi tertawa. Sementara Seokjin membulatkan mata tak percaya.
...END....
__ADS_1
...181204...