Madness

Madness
Chapter 52


__ADS_3

Pintu depan yang tertutup dengan bunyi nyaring membuat Nate yang sedang duduk di tempat tidur memutuskan untuk keluar dari kamar.


Tapi baru saja kakinya melangkah keluar, tubuhnya sudah terdorong dengan keras membuat pria itu jatuh terlentang di tempat tidur.


Matanya mengerjap dengan cepat ketika melihat isterinya dengan buas melucuti bajunya sembarangan. Lin bahkan merobek kaos tidur yang sedang dipakainya.


Dengan baju yang compang-camping, Nate berusaha untuk beringsut mundur. Ia hanya tinggal mengenakan pakaian dalamnya, dan kaosnya sama sekali sudah tidak berbentuk. Celana pendeknya pun entah melayang kemana.


"Lin? Kamu kenapa?"


Raut muka Nate sangat bingung dan terkejut melihat kelakuan isterinya.


Kedua matanya melotot ketika melihat isterinya telah membuka pakaiannya sendiri, memperlihatkan tubuh seksinya yang hanya berbalut pakaian dalam.


Meski marah, isterinya terlihat sangat cantik sekarang dengan wajah yang sedikit memerah.


"Kamu nakal, Nate. Kamu nakal, dan aku akan menghukummu sekarang!"


"Memangnya aku nakal kenapa, Lin?" Suaminya bertanya bingung.


Ia sama sekali tidak mengerti mengapa isterinya terlihat begitu marah, padahal seharian ini mereka bahkan belum bertemu di kantor.


"Pokoknya, aku akan menghukummu sekarang juga!" Lin sedikit berteriak.


Isterinya langsung menerjang suaminya yang tidak berdosa dan masih terlihat bingung itu. Keduanya mulai bergelut di tempat tidur dengan buas. Wanita itu mengoyak sisa-sisa pakaian suaminya yang masih melekat di tubuh pria itu dengan kasar.


Beberapa kali Nate mengeluarkan suara jeritan dan erangan ketika isterinya melakukan sesuatu yang mengagetkan. Ia sama sekali tidak mengira kalau isterinya bisa sebuas ini kalau sedang marah. Sepertinya, ia cukup menyukainya.


Beberapa waktu kemudian, dari keduanya terdengar teriakan penuh kepuasan ketika mereka bersama-sama mencapai puncak yang luar biasa itu.


Tidak lama, pasangan suami-isteri itu terlihat sedang saling memeluk erat di tempat tidur. Keduanya berkeringat dan tampak puas.


Lin mengusap-usap data Nate yang polos dan sama sekali tidak berbulu. Ada sedikit bekas cakaran di sana yang perlahan mulai menghilang. Ia juga merasakan tangan besar suaminya yang mengelus rambut panjangnya, membuat Lin merasa tenang.


Ia merasakan bibir Nate mencium lembut keningnya yang berkeringat.


"Sebenarnya kamu kenapa, Lin? Apa yang terjadi tadi di kantor?"


Jari-jari Lin memainkan ujung dada suaminya. Sedikit mencubitnya. Muka wanita itu terlihat muram dan bibirnya cemberut.


"Lucy menanyakanmu tadi."


"Lucy? Memangnya dia bertanya tentang apa?"


Salah satu tangan suaminya menghentikan jari-jari Lin yang mulai menggodanya. Saat ini, ia sangat ingin tahu alasan isterinya marah padanya.


"Dia menanyakan namamu."


Wanita itu bangkit dari tidurnya dan menumpukan lengannya yang terlipat di dada suaminya.


Lin menatap tajam mata suaminya yang telah kembali berwarna kelabu muda.


"Dia sepertinya tertarik padamu, dan katanya ingin mendekatimu."


Nate terdiam mendengar perkataan Lin. Hatinya mulai melonjak gembira saat menyadari kalau Lin ternyata menunjukkan rasa cemburu padanya.


"Apa yang kamu katakan padanya?"


Wajah Lin mendekat padanya dan membenamkannya pada leher pria itu. Nate menutup kedua matanya ketika merasakan gigi-gigi isterinya menggelitiki telinganya yang sensitif.


Mengangkat wajahnya, Lin terlihat puas ketika melihat kedua mata suaminya yang kembali menghitam dan tampak penuh hasrat.


Emosinya menyurut saat menyadari kalau ia ternyata memiliki cukup pengaruh untuk Nate.


"Terus terang aku bingung mau mengatakan apa. Tadi, dia juga menanyakan tentang cincin yang aku pakai."


"Katakan saja kalau kamu sudah menikah, dan aku adalah suamimu."


Mendengar jawaban yang sangat lugas dan praktis itu, membuat kedua pipi Lin memerah. Wajahnya tertunduk ketika ia mengakui sesuatu.


"Aku memang mengatakan kalau sudah menikah. Tapi tidak mengatakan kalau kamu adalah suamiku."


Dengan lembut, Nate menggulingkan tubuh isterinya, membuatnya berada di atas tubuh wanita itu.


Tangan Nate dengan lembut mengusap-usap pipi mulus Lin. Pria itu mencium bibir isterinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Katakan saja kalau aku suamimu, Lin maka semua akan beres."


Lin mengusap bibir dan pipi suaminya yang mulai ditumbuhi bakal jenggot.


"Tapi kalau dia menanyakan namamu? Aku harus bilang apa padanya? Dia juga mengatakan ingin bertemu dan meminta maaf karena telah memukulmu waktu itu."


Dahi Nate mengernyit mendengar permintaan yang tidak masuk akal itu.

__ADS_1


"Untuk nama, katakan saja kalau kamu ingin merahasiakannya dulu. Kalau dia memang temanmu, maka dia tidak akan memaksamu untuk mengatakan sebenarnya. Sedangkan mengenai permintaannya untuk bertemu..."


Kedua tangan Lin tiba-tiba memegang sisi leher Nate dengan erat. Matanya memicing.


"Kamu tidak akan mau bertemu dengannya kan?"


Alis tebal Nate terangkat tinggi. Pria itu tersenyum miring dan mata kelabunya berkilat jahil.


"Apakah kamu cemburu?"


Salah satu tangan Lin mengarah ke bawah dan mulai memberikan remasan konstan, membuat suaminya mengerang dan menumpukan lengannya yang berotot di kedua sisi wajah isterinya. Kedua matanya memejam erat.


"Lin..."


"Kamu senang membuat aku cemburu, suamiku?"


Tangan Lin mulai bereaksi dengan lebih ganas di bawah.


"Ya... Ah! Maksudku, tidak..."


Nafas Nate mulai tidak teratur ketika Lin memberikan berbagai rangsangan yang kuat di bagian tubuhnya. Otak pria itu sepertinya tidak bisa berfungsi dengan baik saat sedang bersama dengan isterinya.


"Jangan membuatku cemburu, sayangku."


Mendengar kata-kata itu, Nate tiba-tiba meraup wajah isterinya dan menciuminya dengan ganas. Ia sama sekali tidak membiarkan Lin untuk bereaksi, membuat wanita itu cukup kaget dan menghentikan aktivitas tangannya.


Ketika akhirnya Nate mengangkat wajahnya, kedua matanya terlihat menghitam sempurna dan nafasnya memburu. Pandangannya memancarkan berbagai emosi.


"Kalau bisa melihatmu cemburu buta seperti ini dan membuatmu posesif padaku, maka aku akan melakukannya lagi dan lagi isteriku. Aku akan selalu membuatmu cemburu untukku."


Perkataan suaminya membuat kedua pipi Lin merona dengan sangat merah.


Setelah itu, Nate pun langsung membungkam mulut isterinya dengan ciumannya yang agresif.


Pasangan itu akhirnya menghabiskan malam itu dengan berdansa di atas tempat tidur, mengeluarkan energi mereka yang seperti tidak ada habis-habisnya. Keduanya baru berhenti ketika sudah menjelang dini hari.


Tempat tidur yang berantakan, tidak membuat keduanya terganggu sama sekali. Sepanjang malam mereka saling memeluk erat, tidak ada yang mau melepaskan.


Sebulan kemudian.


"Sudah semuanya?"


Lin menganggukkan kepalanya. "Ya. Ini yang terakhir."


Beberapa barang sudah Lin putuskan untuk dijual, dan sisanya akan ia sewakan bersama dengan kamarnya. Ia tidak mau melepaskan apartemen ini, bagaimana pun tempat ini adalah property pertamanya sejak ia pindah ke kota ini.


Terdengar bel pintu yang berbunyi nyaring dari arah depan.


"Biar aku yang buka."


Wanita itu baru saja membuka pintunya, ketika seorang pria berambut merah langsung menerobos masuk ke dalam. Bau wangi kue menyebar dengan cepat ke seluruh ruangan.


"Dom! Mau apa kamu ke sini?"


Melihat Dominic yang masuk begitu saja, membuat Nate merasa kesal. Apalagi ia tahu kalau temannya dulu pernah naksir pada isterinya.


Tamu tidak diundang itu dengan santai meletakkan kue yang dibawanya di meja pantry.


"Apa lagi ini, Dom? Kreasi barumu?"


Lin asal mencomot kue itu. Sama sekali tidak memperhatikan suaminya yang terlihat cemberut di ujung ruangan.


Terkekeh, Dominic mengeluarkan pisau dan mulai memotong-motong rapi kue di depannya.


Dengan lihai, Dominic memutar-mutar pisau panjang yang tajam di tangannya, membuat kegiatan memotong kue menjadi sebuah pertunjukan yang menegangkan. Tangan pria itu memang terlihat sangat ahli menggunakan pisau.


Sambil mengunyah, Lin bertepuk tangan dengan ceria, membuat suaminya yang berada di pojokan memutar matanya malas. Kalau cuma menggunakan pisau, ia juga adalah ahlinya.


"Enak tidak? Rencananya ini mau aku jual di tokoku besok."


Dominic telah membuka toko kuenya beberapa hari yang lalu di seberang gedung apartemen. Dan dalam waktu yang sangat singkat, toko itu sudah dibanjiri oleh para pelanggan.


Rasa kuenya yang sangat enak dan juga pemiliknya yang tampan serta ramah, tampak memiliki daya tarik tersendiri.


Pria itu tidak perlu repot-repot membuang uang untuk mempromosikan toko barunya. Kekuatan berita dari mulut ke mulut memang sangat mengerikan.


Dengan mulut penuh kue, Lin mengangguk semangat. "Enak sekali, Dom!"


Nate menyodorkan sebotol air mineral pada isterinya.


"Hati-hati makannya, nanti kamu tersedak."


Mengambil botol itu, Lin pun menegaknya sampai isinya tinggal setengah. Suaminya terlihat membersihkan sisa-sisa remahan kue dari pipi isterinya.

__ADS_1


Pemandangan ini membuat Dominic tersenyum. Meski iri, tapi ia senang karena temannya terlihat bahagia bersama dengan wanita di sampingnya. Akhirnya Nate dapat memilih dan memiliki wanita yang dicintainya.


Berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya, Dominic mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan.


"Kalian jadi pindah hari ini?"


"Ya. Sebentar lagi mobil ekspedisi akan datang membawa sisa barang-barang Lin di sini."


Dominic menghela nafas sedih.


"Kalian benar-benar pindah ya? Aku akan kesepian nanti."


Tersenyum sinis, Nate malah berkata, "Aku yakin kamu tidak akan pernah kesepian, Dom."


Dominic mengeluarkan kekehan licik. "Tentu saja, Nate. Aku kan tidak 'sesayur' dirimu."


Mendengar itu, Nate hanya tersenyum samar dan menyenderkan tubuhnya di pantry.


Pria itu menelengkan dan menumpukan kepalanya ke bahu isterinya yang tampak tidak memahami pembicaraan kedua pria di depannya. Kedua tangan Nate memeluk pinggang Lin dengan erat.


"Suatu saat, kamu akan kena batunya, Dom. Seperti dulu."


Dominic kembali terkekeh mendengarnya. "Aku tidak yakin, Nate."


"Apa sih yang kalian bicarakan?"


"Tidak ada, sayang. Jam berapa mereka akan datang?"


Nate mengalihkan pembicaraan. Dagunya yang berada di bahu Lin terlihat menengadah.


Lin melihat jam di pergelangan tangannya. "Seharusnya sekarang. Aku akan coba menelepon mereka lagi."


Setelah itu, isterinya pun melangkah ke kamar tidur setelah sebelumnya bokongnya ditepuk oleh Nate dengan gemas. Pria itu kemudian menoleh pada temannya yang sedang memegang pisau di tangannya.


"Sebelum aku lupa, ada hal yang membuatku sedikit penasaran, Dom."


"Apa itu?" Dominic terlihat sedang membersihkan pisaunya dari remah-remah kue.


"Apa kamu pernah mengenal pengacara bernama Mark Adler?"


Kedua alis Dominic berkerut, mencoba mengingat nama pria tambun itu.


"Ya. Sepertinya aku pernah tahu orang itu. Kenapa kamu bertanya tentang dia?"


Perlahan, Dominic menyarungkan kembali pisaunya yang telah bersih dan memandang Nate.


"Aku dengar, kalian memecat pria itu."


"Ah, maksudmu dia? Ya. Aku yang menyuruh Danielle untuk memecatnya. Bisa-bisanya bagian HC tidak mengecek latar belakangnya lebih dulu. Dia sudah melakukan penipuan di beberapa perusahaan sebelumnya, untuk membuat keuntungan yang kotor."


"Kalian memecatnya karena itu?"


"Ya. Aku juga sempat mendengar kalau dia sedang mengurus tuntutan ke salah satu perusahaan lain untuk kasus yang sangat tidak masuk akal bagiku."


Kepala Nate menganggu-angguk paham. Pria itu tersenyum samar.


"Ada apa kamu bertanya tentang dia? Bukannya tidak ada hubungannya denganmu?"


"Dia tadinya akan menuntut perusahaanku."


Informasi ini membuat pria di depannya terdiam.


"Kalau tahu itu adalah perusahaanmu, seharusnya aku membiarkan dia menghancurkanmu."


Kata-kata Dominic membuat Nate terbahak-bahak.


Pria itu menegakkan tubuhnya dan mengulurkan tangan kanannya pada Dominic.


"Mungkin kita akan jarang bertemu, Dom. Tapi aku akan selalu menyambutmu kalau kamu mau datang ke kantor atau pun rumah kami nanti."


Pria berambut merah itu sejenak terpaku melihat jari-jemari yang sedang terbuka itu.


Perlahan, ia melangkah maju dan memeluk dengan erat tubuh pria tinggi di depannya.


"Terima kasih banyak, Nathanael. Aku menyayangimu. Sebagai sahabat. Sebagai saudara."


Mendapatkan pelukan yang erat dari sahabatnya, membuat Nate menutup kedua matanya. Tangannya pun terangkat membalas pelukan Dominic. Ia menepuk pelan punggung pria itu.


"Aku juga Dom."


Lin yang melihat kejadian di ruang tamu, memutuskan untuk menunggu sebentar di kamar tidurnya. Bibirnya tersenyum dan matanya berair.


Akhirnya setelah sekian lama, kedua sahabat yang terpisah itu dapat bersatu kembali.

__ADS_1


__ADS_2