
Wanita di depannya memandangnya dengan intens. Matanya yang hitam mengerjap dan terlihat mulai menelusuri Nate dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Pria itu sedikit merasa terekspos saat ini, karena merasa menjadi sebuah objek di mata wanita itu.
Perlahan, Nate mulai sedikit beringsut untuk menjauhi wanita yang tampak sedang dipengaruhi naluri liarnya itu. Sedapat mungkin, ia menghindari gerakan yang tiba-tiba.
Secara mendadak, Lin mendorong dadanya dengan cukup kasar membuat Nate terlentang di sofa panjang itu. Dan sebelum ia sempat bangun, Lin telah menduduki perutnya. Posisi ini sama persis seperti dalam pertemuan kedua mereka.
Wanita itu menunduk dan membaui lehernya. Kedua tangannya mencengkeram dadanya. Mulai meremasnya cukup kencang, kuku-kuku pendek Lin terasa menusuk kulitnya.
"Ugh."
Pria itu mulai gemetar. Ia benar-benar berusaha mengendalikan kontrol dirinya saat ini mengingat wanita di depannya sedang berada dalam kondisi yang tidak sadar.
Dan sama seperti dirinya dulu, Lin menarik kaosnya ke atas untuk memperlihatkan tubuhnya dengan lebih terbuka. Wanita itu juga mulai menciumi area dada dan perutnya. Oh Tuhan.
"Li- Lin..."
Suara Nate bukannya membuat Lin berhenti, tangan-tangan wanita itu malah semakin liar menjamah tubuh pria di bawahnya.
Lelaki itu terlihat pasrah ketika kedua tangannya di tahan dan mulut Lin dengan bebas menyentuh bagian-bagian atas tubuhnya dengan cukup kasar.
Nate baru mulai panik ketika salah satu tangan Lin mengarah dengan cepat ke area pribadinya. Terburu-buru, ia berusaha untuk menahan pergelangan tangan wanita itu.
Pria itu tidak mau kejadian ini sampai melewati batas. Terjadi tarik menarik di antara keduanya. Salah satu dari mereka tidak ada yang mau saling mengalah.
"Lin, sadarlah..."
Suara pria itu terdengar memohon dan putus asa. Ia akhirnya menyadari bagaimana perasaan Lin saat ia berada dalam situasi yang sama.
Melihat pria di bawahnya tidak mau mengalah, wanita itu akhirnya menyurukkan kepalanya ke area leher pria itu dan menggigiti telinganya. Hal ini membuat Nate terkesiap, dan tanpa sadar melemahkan pegangannya pada tangan Lin.
Dan dalam kesempatan itu, Lin pun akhirnya berhasil mengelus area itu dan mulai meremasnya secara konstan, membuat pria itu kaget dan mengerang lirih.
Tubuh pria itu benar-benar gemetar hebat. Ia tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi ia juga tidak mau sampai menyakiti wanita itu dengan bersikap kasar.
Dengan segenap sisa kewarasannya, Nate memegang kembali pergelangan wanita itu dengan lebih erat. Berusaha menghentikannya dengan sia-sia.
"LIn. Lin. Tolong sadarlah." Nate benar-benar tercekik ketika mengucapkannya.
Wajah Lin tertelungkup di area jakunnya, menghisapnya. Saat ini, Nate benar-benar merasa kewarasannya berada dalam seutas benang yang sangat tipis.
Memalingkan wajahnya, ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. Berusaha membujuknya dengan sisa kesadarannya yang terakhir.
"Lin sayang... Sadarlah..."
Entah bagaimana, kata-kata pria itu tampaknya berpengaruh pada Lin. Wanita itu tiba-tiba berhenti dari kegiatannya dan secara perlahan mengangkat mukanya.
Lin tampak membeku ketika melihat pria di bawahnya tampak sedang menutup matanya dengan erat. Muka Nate terlihat berkerut.
Apa yang dilakukannya? Apa yang telah dilakukannya?
Secara perlahan, ia melirik pada tangannya yang sedang menggenggam dada telanjang pria di depannya. Ada sedikit bekas cakaran di sana. Lin tampak lebih shock, ketika menoleh dan menyadari kalau tangan lainnya sedang berada di area pribadi Nate.
"Oh Tuhan!"
Dengan cepat, Lin bangkit dari tubuh Nate dan segera menjauhi pria itu.
Nate yang menyadari Lin telah menjauhinya, secara perlahan mengangkat tubuhnya dan memperbaiki posisi duduknya.
Ia membenahi kaosnya yang telah tersibak dan sedikit memeluk dada serta area pribadinya yang telah habis dijamah oleh wanita di depannya. Matanya terlihat nanar.
__ADS_1
Keduanya kemudian saling memandang dalam diam.
Lin memang telah berhasil membalas dendam pada pria itu. Lelaki itu tampak cukup shock dengan kejadian yang baru menimpanya. Dan kesadaran itu pun menghantam wanita itu.
Oh Tuhan. Ia telah melecehkan pria itu!
Beberapa saat, keduanya terlihat canggung dengan situasi ini.
"Maaf Nate. Aku tidak tahu kenapa bisa sampai melakukan hal itu tadi."
Lin-lah yang pertama kali memecahkan keheningan itu. Ia sangat merasa bersalah pada pria itu, meskipun lelaki itu sebenarnya pernah melakukan hal yang sama padanya.
Nate hanya menggeleng pelan. Ia juga tampak bingung dengan peristiwa ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
LIn mengusap wajahnya dengan kasar dan menggeleng kuat. Mukanya memerah.
"Aku juga tidak tahu. Tadi aku sedang mengamati darahmu dan tiba-tiba pikiranku menjadi kosong begitu saja."
Nate mengingat perkataan Felix mengenai bahwa mereka berasal dari pencipta yang sama. Apakah Lin tertarik padanya karena darahnya?
"Tadi aku seperti mencium aroma tertentu dari darahmu dan entahlah, sepertinya tanpa sadar aku menjilatinya. Dan hal itu terjadi."
Mengerjapkan matanya, fakta ini tampak membuat pria itu tidak nyaman. Ia ingin agar Lin menyukainya apa adanya, dan bukan karena dorongan naluri liarnya semata.
Tampak masih bingung dengan situasi yang dihadapinya, pria itu mulai bangkit dari duduknya.
"Nate?"
Lin memandang pria itu, bertanya-tanya. Ia sama sekali tidak bisa membaca ekspresi Nate.
"Sebaiknya aku pulang sekarang."
Berjongkok, pria itu memanjangkan lengan untuk meraihnya. Ia baru saja berhasil mengambil benda itu ketika merasakan ada tangan yang menahan lengan atasnya dari belakang.
"Nate. Kamu marah padaku? Maafkan aku."
Tanpa menoleh, Nate hanya bisa tersenyum miris. "Tidak Lin. Aku tidak marah pada-"
Perkataan pria itu terhenti, ketika tiba-tiba tangan yang tadinya berada di lengannya berpindah dan mulai memasuki kaosnya.
Jantungnya berdebar dengan cepat, saat tangan-tangan mungil itu mengelus area perutnya yang berotot dan meremas dada liatnya kembali.
"Lin..." Suara pria itu mulai terdengar serak.
Wajah wanita itu berada di belakang kepalanya dan terasa menciumi area lehernya dengan intens. Membuat badan Nate mulai gemetar tidak terkendali.
Pria itu tidak melawan ketika salah satu tangan Lin kembali meraba area pribadinya dengan sesuka hati. Lelaki itu mulai kehilangan kewarasannya saat ini.
Ia bahkan hanya pasrah ketika tangan wanita itu mulai membuka reslitingnya dan secara perlahan menangkupkan tangannya ke area sensitif itu yang hanya ditutupi selembar kain.
Saat ini, Nate sudah tidak bisa berfikir jernih. Nafasnya mulai terengah-engah. Ia tahu yang dilakukan mereka salah, tapi ia sudah tidak punya kekuatan untuk melawan hasratnya sendiri. Ia juga menginginkan melakukan hal ini dengan wanita itu.
Jari-jari pria itu menggenggam sweater-nya dengan erat dan hampir merobeknya, ketika ia merasakan tangan Lin mulai merogoh untuk masuk ke area pakaian dalamnya. Sisa kesadaran di otaknya menjerit panik, tapi kabut hasrat mulai menutupi area itu.
Lin sudah hampir berhasil mencapai tujuannya ketika tiba-tiba deringan ponsel dari saku celana Nate membuatnya meraih kesadarannya kembali.
Sadar dengan yang sedang dilakukannya, wanita itu dengan cepat melepaskan tubuh Nate dan menarik tangannya dari dalam pakaian pria itu.
__ADS_1
Wanita itu berdiri dan dengan kalut berjalan mundur, menjauhi pria di depannya itu.
Matanya mulai berair. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
Sudah kedua kalinya dalam jarak yang sangat berdekatan, ia melakukan hal yang paling dibencinya pada pria di hadapannya ini.
Lin merasa bahwa ia telah menjadi seorang wanita murahan, yang sama sekali tidak bisa melawan hawa nafsunya hanya karena seorang pria.
Ia tidak ada bedanya dengan para pelaku pelecehan yang selama ini direndahkannya, termasuk pada Nate sendiri.
Berbalik, ia sama sekali tidak mau memandang pria tersebut.
"Kamu benar Nate. Sebaiknya kamu memang pulang."
Nate yang baru tersadar dari situasi ini, langsung berdiri dan mulai merapihkan pakaiannya yang tadi sempat terbuka. Badannya masih sedikit gemetar.
Deringan ponsel yang belum berhenti, membuat pria itu akhirnya mengangkatnya.
"Halo."
Mendengarkan sebentar, ia kembali menjawab dengan pelan.
"Ya Marcus. Aku akan turun sekarang." Setelah itu, Nate mematikan ponselnya.
Pria itu memandang wanita di depannya dengan sedih. Ia sangat tahu perasaan wanita itu, karena ia juga pernah mengalaminya sendiri.
Tidak mau mengganggu wanita itu, Nate pun memutuskan untuk berpamitan saat itu juga.
"Aku pulang dulu, Lin."
Saat pria itu akan membuka pintu depan, ia mencium bau sesuatu yang tidak disukainya dan baru sadar bahwa baunya berasal dari sweater yang sedang digenggamnya.
Berbalik, Nate terlihat ragu-ragu.
"Hem, Lin. Aku bisa minta tolong padamu?"
Lin hanya menoleh sedikit, tanpa mau memandangnya. "Apa itu?"
Pria itu mengulurkan sweater yang sedang dipegangnya pada wanita itu.
"Boleh tolong buang pakaian ini? Aku tidak bisa membawanya karena baunya."
Sedikit aneh, wanita itu pun menerimanya. Ia masih tidak mau memandang pria di depannya.
"Oke."
"Aku pulang dulu, Lin."
Nate pun akhirnya keluar dari apartemen itu, meninggalkan Lin yang masih mematung dengan sweater di tangannya.
Penasaran, wanita itu mengendus pakaian yang dipegangnya dan hanya bisa mencium sedikit bau Lucy yang tertinggal.
Perlahan, ia membalikkan sweater itu. Memperlihatkan bagian dalamnya dan mulai menciumnya kembali.
Dalam tarikan nafasnya yang dalam, Lin dapat mencium aroma Nate yang kuat di pakaian itu.
Ia memejamkan matanya, dan menghirupnya kembali. Berkali-kali.
Sedikit menjauhkan benda itu, Lin membuka matanya kembali. Keduanya tampak menghitam dengan sempurna.
__ADS_1
Tersenyum, ia mengusap benda di tangannya dan menciuminya kembali.
Aromanya membuatku gila.